
Di sebuah rumah yang nyaman, sepasang suami istri yang sedang menikmati waktu bersantainya dengan nyaman. Kenyamanan itu terusik ketika Harry menutup kembali halaman utama daily prophet yang baru ia buka. Pria itu
menghela napas sebelum melepas kacamatanya.
“Ada apa, Harry?” Harry menggeleng membuat istrinya -Ginny- tahu apa arti helaan itu. Sebenarnya wanita itu telah membaca daily prophet sebelum Harry membacanya. “Apakah kau khawatir mengenai Evelyn?”
“Tentu saja, mana ada ayah yang tak khawatir mengenai putrinya.” Harry meneguk kopinya dan meletakan cangkirnya kembali. “Kau tahu seharusnya ini telah berakhir, Ginny. Maksudku setelah peperangan itu selesai, seharusnya Malfoy tidak mendidik anaknya dengan mengganggu Albus dan Evelyn.”
Ginny mengangguk. Ia tahu jika Albus dulu pernah diganggu oleh Scorpius, dan sekarang, putri kecil mereka juga merasakan hal yang sama dengan bersaing bersama si bungsu Malfoy.
“Kurasa ini sebuah kesalahpahaman.” Jawab Ginny sembari mengaruk pelipisnya. “Tapi aku yakin, jika Ron-“
Brak
Pintu rumah mereka terbuka dengan lebar. Seorang pria paruh baya lainnya masuk sembari membawa dailyprophet. Pria bersurai merah menatap suami istri itu dengan pandangan menuntut kejelasan.
“Apa-apan berita ini.” Serunya dengan wajah memerah menahan marah. Bahkan ketika ucapan Ginny belum selesai, apa yang ia takutkan telah terjadi. “Apa benar Malfoy menganggu keponakan ku?”
Tersirat nada benci yang membuat pasangan suami istri itu menghela napas. “Ron, ini hanya masalah anak-anak, aku pikir-“
Pria itu -Ronald Weasley- melebarkan matanya tak percaya dengan ucapan adiknya yang seakan-akan tak menganggap hal itu penting, walau Hermione juga tak mempermasalahkannya. “Masalah anak-anak katamu?” terdengar nada tak setuju. “Dulu si sulung Malfoy mengganggu Albus dan Rose – anak tertua Ronald dan Hermione – sekarang menganggu keponakanku. Mau apa si Ferret itu?”
“Ron-“
“Aku yakin kedua anaknya bersikap seperti Malfoy di masa lampau.” Desis Ron memotong penjelasan Ginny.
Ginny memutar matanya menatap kakaknya yang masih bersikap bodoh. Ia masih mengingat bagaimana Ron menjelaskan pada Rose untuk menyaingi nilai-nilai Scorpius. “Ron mereka hanya bersaing dalam pelajaran dan-“
“Apa kau tak ingat bagaimana Malfoy mengganggu suamimu, dan sekarang anak-anaknya juga mengganggu anak-anak kita. Lain kali aku akan menyuruh Hugo untuk membantu Evelyn di Hogwarts.” Potong Ron.
Hugo, putra bungsu Ron pernah menjadi kakak tingkat Sean dan Evelyn saat di hogwarts. Sayangnya ketika Evelyn dan Sean berada di tahun pertamanya, Hugo telah berada di tahun terakhir.
Harry menaikan alisnya menatap Ronald dengan tatapan tak percaya. “Tak perlu, Ron. Jika seperti itu, kita hanya akan memperkeruh suasana dan berbagai macam berita akan muncul.”
Ginny mengangguk. “Ini hanya berita sensasi yang mengatakan bahwa Harry dan Malfoy mendoktrin mereka untuk saling bermusuhan.”
Kondisi di Burrow juga tak berbeda dengan di Malfoy manor, Draco dan Lucius yang terus membahas masalah daily prophet. Semua omong kosong yang dituliskan disana membuat Draco geram.
Malfoy merasa terhina.
Narcissa berusaha tak mempedulikan dua pria yang berada dihadapannya. Wanita tua itu lebih memilih untuk menikmati tehnya dari pada harus mendengarkan kedua pria yang terlihat seperti kebakaran jenggot.
Lucius membanting daily prophetnya ke atas meja makan membuat Astoria hampir menyemburkan tehnya karena terkejut. “Ini benar-benar keterlaluan, tak ada yang pantas menyetarakan Sean dengan yang lain, termasuk Potter.”
Draco mengangguk menyetujui ucapan ayahnya. “Aku akan mencari siapa yang sudah membuat berita konyol ini.”
Narcissa meletakan cangkir tehnya. “Sudah cukup, kita tak sebaiknya bermusuhan dengan keluarga Potter.” Wanita itu menatap putranya dengan pandangan tak setuju. “Bagaimana pun juga, dia pernah menyelamatkan mu saat-“
Draco menghela napasnya. “Aku tahu, Mother meminta tolong padanya untuk menyelamatku dari Lord Voldemort. Tapi, ini beda persoalan.”
Astoria tak banyak berkomentar bahkan hampir tidak pernah. Wanita itu hanya mengawasi bagaimana kedua putranya tumbuh dengan baik selama tak ada permasalahan yang sangat mencolok, ia tak akan ikut campur.
“Aku akan meminta bantuan Scorpius untuk menghilangkan berita mengenai Sean.” Desis Draco.
***
“Aku merindukanmu.” Sebuah suara berat nan serak datang dari belakangnya. Intonasinya membuat si gadis menoleh dan tersenyum menatap kehadiran laki-laki tersebut.
“Hey, Chris.” Jawabnya.
Wendy memutar matanya dengan malas. “Yah, banyak tugas yang harus kuselesaikan.”
Christian terkekeh geli lalu berkata dengan polos. “Bukankah kau sudah terbiasa dengan itu? Maksud ku, kau memang selalu
rajin sayang. Sangat rajin hingga mengabaikanku.”
Wendy tersenyum manis. “Kau tahu kan akhir-akhir ini sungguh banyak tugas. Bagaimana harimu, sayang?”
Senyuman Christian luntur, Wendy menatapnya dengan pandangan bingung. “Ada apa?”
“Sean.”
Wendy masih menaikan alisnya bingung. “Ada apa dengan Malfoy?”
Christian menggaruk pelipisnya. Pengikut Sean itu tak tahu harus bercerita dari mana. “Apa kau ingat mengenai berita Sean dan Potter di daily prophet?”
Wendy melebarkan mata dan menganggukan kepalanya dengan lucu. “Ah, aku ingat. Lalu, kenapa?”
“Nampaknya Sean agak sensitif akhir-akhir ini.” Jawaban Christian terdengar menggelikan di telinga kekasihnya. Bayangkan saja Malfoy yang terdengar angkuh, dingin dan arogan tiba-tiba berubah menjadi sensitif seperti gadis yang sedang datang bulan.
Christian mendekat ke arah Wendy, seringai muncul di wajahnya tapi matanya masih berkilauan dengan lembut. Christian meraih jemari Wendy dan mempererat genggaman tangannya. “Rasanya aku ingin membawamu ke asrama Slytherin saja.”
Wendy hampir tertawa ketika menatap prianya yang terlihat manja. “Dan membuatku kehilangan poin?” tanyanya menyakinkan. “Tidak, terima kasih.”
Christian menatap kekasihnya yang tak peka. “Aku merindukanmu. Harusnya kau tahu.” Wendy mengangguk. “Kenapa kau tidak terseleksi ke Slytherin saja?”
Wendy menggelengkan kepalanya mendengar ucapan konyol Christian. “Karena aku telah terseleksi untuk Ravenclaw.”
Di aula, Krystal hanya berdecak menatap bagaimana kelakuan Christian. Ketika Wendy tak ada, pria itu berubah menjadi seratus persen penuh kelicikan. Kai hanya terkekeh menatap kelakuan temannya.
“Aku heran mengapa gadis itu mau menjalin hubungan dengannya.”
Kai memutar matanya. “Well, cukup katakan jika cinta itu buta?” ujarnya dengan nada tak yakin.
“Kau sungguh menggelikan ketika mengatakan itu, Rogers.” Ucap Krystal menatap Kai dengan pandangan aneh.
Pembicaraan Krystal dan Kai tak mengganggu pikirannya, bahkan Sean terus menatap seorang gadis yang sedang memakan apel di meja asramanya. Ia terpaku saat menatap bagaimana cara gadis itu makan apel dan menyeka bibirnya yang berkilat lipgloss bening.
Setiap gerakan Evelyn selalu ia perhatikan. Gadis itu tahu jika awal kedatangannya ke aula untuk sarapan sudah di awasi oleh si bungsu Malfoy. Namun, desisan Sean tak sengaja membuat Krystal dan Kai menatapnya dengan heran.
Dari kemarin, Krystal merasa kesal ketika Sean dalam mood yang buruk. Ia tak ingin sahabatnya sembarangan melemparkan mantra kutukan kepada siapa saja. “Baiklah, ada apa denganmu, Sean?”
“Aku baik-baik saja.”
Ia mengalihkan pandangannya ketika beberapa gadis Gryffindor dan seorang pria yang ia kenal datang menghampiri Evelyn. Xanders Edmund.
Sean tahu jika pria itu adalah prefek Gryffindor yang baik dan ramah, mengingat sikap-sikap Xanders membuatnya tak berselera berteman dengan para singa. Entah darimana datangnya sebuah perasaan aneh menyusup ke dalam dirinya ketika melihat Evelyn tertawa riang bersama Xanders sementara gadis itu menjadi ketakutan saat ia
bersamanya.
Seharusnya itulah yang ditunjukan Evelyn kepadanya. Tapi, entah kenapa ia merasa tak begitu nyaman. Mengingat hal semalam juga membuatnya kesal, bunga lavender pemberiannya di tolak begitu saja.
Tidak ada yang pernah mengatakan tidak pada Sean Malfoy. Tidak ada yang pernah menolaknya, bahkan beberapa gadis Slytherin rela tidur dengannya tanpa di minta.
Evelyn White Potter adalah gadis pertama yang menolaknya.