
Telah menjadi rutinitas bagi Wendy dan Sandy yang selalu menyelesaikan tugas mereka tepat waktu, kedua murid
berprestasi itu melangkah menuju perpustakaan. Rencana mereka terhenti ketika mendapati Hagrid yang berlari melewati koridor.
Tak semestinya Hagrid berlari menyusuri koridor, Sandy mengernyitkan dahinya bingung. Biasanya ia akan
mendapati Hagrid menegur beberapa murid yang berlarian di tengah koridor. Tapi Sandy dan Wendy mematung sesaat menyadari apa yang membuat Hagrid begitu terburu-buru dengan wajah resahnya.
Dibelakang Hagrid, ada Fang yang berlari mengikuti si pemilik. Seharusnya Fang dilarang memasuki kawasan kastil, tapi nampaknya pria bertubuh tambun nan besar itu tak mempedulikannya.
Kondisi Mark terlihat buruk dan wajahnya yang pucat disertai beberapa luka.
“Hagrid-“
“Tidak sekarang, Grissham.” Potong Hagrid yang berlari meninggalkan keduanya tanpa permisi.
Wendy menatap kepergian Hagrid dengan tatapan khawatir, “Sandy, apa yang baru saja terjadi?”
Lelaki bersurai coklat itu menggeleng, “Entahlah, sebaiknya kita mengikuti Hagrid.”
Theo berdecak, laki-laki itu uring-uringan ketika Mark melewatkan kelas professor Slughorn. Ia telah mencari
keseluruh penjuru kastil hingga kakinya lelah. Namun, hingga saat ini Theo tak menemukan Mark dikamarnya sekalipun.
Tak biasanya Mark membolos. “Sial, gara-gara Mark. Aku tak mendapat outstanding dikelas ramuan.” Gerutu Theo saat mendudukan dirinya disalah satu kursi Gryffindor.
Saat ini Theo lebih memilih untuk menunggu Mark di aula besar. Laki-laki tersebut berniat untuk menyemburkan kemarahannya jika berhasil menemukan Mark.
Xander dan Bianca memandang Theo dengan heran. Tak biasanya Theo mengamuk jika bukan karena suatu hal yang penting. “Jadi, sudah berhasil menemukan Carlton?”
Theo menggeleng pasrah, “Aku hanya berharap dia tidak kabur karena tugas professor Slughorn.”
Evelyn mengerutkan keningnya, ia menoleh, “Tidak mungkin,” sahutnya pelan, “Kemarin lusa ia meminta bantuan ku untuk mengerjakannya.”
Mata Theo membulat, “Jadi dia sudah selesai mengerjakannya?”
Evelyn mengangguk mantap, “Tentu saja. Aku bahkan menghabiskan dua jam menemani Mark.”
Irene kini menghentikan suapannya saat mendapati tubuh jakung kekasihnya dibelakang jajaran para Gryffindor, ”Sandy?”
Laki-laki itu mendudukan dirinya sebelum membalas sapaan Irene, “Ada yang harus aku katakan.”
Theo menghela napas, “Bagus, prefek. Kali ini apa Mark membuat masalah?”
Sandy menggelengkan kepala prihatin, “Maaf, sobat. Kau harus melihat sendiri apa yang terjadi kepada Carlton di
ruang kesehatan. Di sana ada Hagrid dan kepala sekolah.”
Sesaat semua menghentikan aktifitasnya, “Apa yang sebenarnya terjadi?” Bianca menghentikan suapannya.
Sandy menatap mereka serius, “Sepertinya ada seseorang yang menyerang Carlton di hutan terlarang. Hagrid
menemukannya disana.”
Tanpa menunggu banyak waktu, Evelyn dan yang lainnya segera bangkit meninggalkan makan siang mereka yang belum habis. Berbeda dengan Irene, gadis itu memilih tak melakukan apapun dan menunggu reaksi kekasihnya.
“Kau tak ikut bersama mereka?” tanya Sandy heran.
Irene menggeleng, “Aku khawatir madam Pomfrey akan melarang kami semua untuk masuk.” Jelasnya singkat, “aku lebih baik menunggu kabar dari mereka.”
***
Kai menghela napasnya, setiap ia membaca daily prophet –entah kebetulan atau tidak- selalu menemukan berita mengejutkan. Kali ini berita kematian Molly Weasley beredar, laki-laki berkulit tan itu menatap ke arah meja Gryffindor.
Ia mencari sosok yang bersangkutan dengan keluarga Weasley. Tentu Kai tak melupakan fakta bahwa ibu Evelyn adalah salah satu anggota Weasley. Tapi ia tak menemukan sosok yang ia cari.
Kai meletakan daily prophet tersebut, “Kenapa akhir-akhir ini aku selalu menemukan berita mengejutkan.” Ucapnya asal.
Walaupun terdengar seperti bisikan tapi Christian masih bisa mendengarnya. Laki-laki menoleh menatap Kai, “Ada
apa?”
“Lihat saja pada halaman pertama di daily prophet, kau akan tahu maksudku.” Tunjuk Kai yang seraya memilih menu di meja makan.
Mendengar jawaban malas Kai, laki-laki itu menyambar daily prophet. Menatap judulnya saja Christian hanya mengernyitkan kening. “Oh.” Hanya itu yang ia ucapkan.
Ayolah, Christian tak sedekat itu dengan keluarga Potter. Ia tak perlu repot-repot mengucapkan bela sungkawa. Itu
hanya akan merepotkannya. “Molly Weasley meninggal?”
Krystal disebelahnya menghentikan kunyahannya dan menyambar daily prophet yang belum selesai dibaca oleh Christian. “Girl, behave please.” Katanya malas.
Si bungsu Griffitths tak mengindahkan ucapan Christian. Ia hanya mengangkat kedua bahunya acuh. “Well, ini akan menjadi berita yang besar.”
Salah satu gadis dari asrama Hufflepuff menghampiri Sandy dan Irene di bangku jajaran Gyrffindor. Gadis itu adalah Serin Thompson, ia meletakan sebuah daily prophet baru di atas meja. “Ucapkan pada Potter aku turut
berbela sungkawa.”
Serin, gadis bersurai hitam dan bermata sipit itu tersenyum sedih. Mendengar ucapan Serin, Sandy dan Irene
mendadak tersedak. “A-apa maksud mu, Miss Thompson?” tanya Sandy heran.
“Aku rasa kalian belum tahu.” ucapnya terkejut, “Sebaiknya aku permisi dan sampaikan salam ku pada Potter.”
Sepeninggal kepergian Serin, Sandy segera menyambar daily prophet yang tergeletak di atas meja. Mata pria itu membulat dan menatap halaman utama daily prophet dengan tak percaya.
“Sa-sayang?” Irene terlihat gugup, “Si-siapa yang dimaksudkan oleh Serin?”
Sandy menghela napasnya, “Molly Weasley.”
Irene menutup mulut dengan tangannya, gadis itu terlampau terkejut. Bahkan Irene masih mengingat kebaikan Molly ketika mereka berkunjung ke kediaman Weasley saat hari paskah.
***
Sean tak perlu mencari tahu apa yang diributkan oleh seluruh penyihir dikastil ini. Ia telah mengetahuinya tadi
pagi. Si bungsu Malfoy mengetahui berita kematian Molly Weasley, senyum terukir di wajahnya. Tak sia-sia, pikirnya.
Rencananya bersama Tiara berjalan lancar.
Matanya mendarat ke meja Gryffindor, tapi sosok yang ingin ia ketahui tak berada disana. Keningnya mengkerut, apa Evelyn telah mengetahui berita kematian keluarganya. Mungkin saja, bahkan ia telah mengetahui berita
tersebut begitu salah satu burung hantu mengantar daily prophet pagi ini.
Krystal berdeham, “Malfoy, apa kau sudah mendengar berita kematian Molly Weasley?”
Sean tersenyum simpul, “Tentu. Aku tak pernah meninggalkan daily prophet.”
Gadis itu mengangguk, “Lalu, bagaimana menurut mu?”
Sean menaikan alisnya, “Apa maksudmu, Krystal?” tanyanya heran, “Tentu saja itu bukan urusanku.”
“Oh, te-tentu, Malfoy.” Tapi Krystal menyadari jika Sean tersenyum mengenai pertanyaannya. Gadis itu memilih
melanjutkan makan siangnya dalam diam.
Saat itu pos tiba, Malfoy tersenyum menyeringai ketika lebih dari seratus burung hantu meluncur masuk ke dalam aula besar. Para burung hantu masuk mengitari meja-meja sampai mereka melihat pemilik mereka untuk menjatuhkan kiriman ke atas pangkuan.
Lalice tersenyum senang ketika sebuah paket cantik mendarat di pangkuannya. Tak perlu ditanyakan lagi, isinya adalah beberapa gaun cantik yang ia minta kepada ibunya. Sementara Kai berdecak melihat paket yang mendarat dipangkuannya.
Paket berwarna coklat usang tak sebesar punya teman-temannya, ia tak perlu menanyakannya apa isinya. Isinya
hanya beberapa buku yang dikirimkan ayahnya. Buku cara menjadi auror yang baik. Entah sejak kapan ayahnya menginginkannya menjadi auror.
Sean tak menatap seluruh siswa yang sibuk dengan bingkisan milik mereka, matanya mendarat pada sekotak kecil yang berada di atas meja dihadapannya. Kotak kecil yang ia yakini berisi cincin keturunan Malfoy.
Sudah lama ia menanti-nantikan cincin itu.
Cincin berlambangkan ular yang terbuat dari perak. Scorpius mendapatkannya saat ia berumur Sembilan belas
tahun. Sean tak peduli, ia hanya meminta haknya dan ayahnya setuju.
Dengan puas, Sean mengenakannya. Cincinnya begitu pas dijari manisnya. Ia hanya perlu satu barang lagi untuk
menyelesaikan misinya membuat Horcrux.
***
Gadis itu menyapukan pandangannya pada seluruh burung hantu yang terletak dikandang satwa. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan kepada Vernon, Tiara tak bisa menunggu waktu begitu lama. Beruntungnya, hari ini tak ada murid yang memiliki jadwal untuk pergi ke kandang satwa.
Tiara segera mengalihkan pandangannya begitu mendengar suara langkah kaki.
“Professor.” Sapa Vernon yang mendapat anggukan singkat.
“Bagaimana keadaan mereka saat ini?”
“Semuanya masih terkendali. Malfoy baru mendapatkan cincin miliknya.” Terangnya patuh, “lalu mengenai Carlton…”
Tiara tersenyum, “Ah, benar. Bagaimana keadaan laki-laki itu?”
“Nampaknya Carlton belum sadarkan diri. Mungkin besok atau lusa.” Katanya yang menimbulkan seringaian pada wajah Tiara, “Kepala sekolah berencana mencari tahu begitu Calton sudah bangun.”
“Tidak sulit, selama kalian melakukan pekerjaan dengan baik.” Ujarnya pelan, “Tak akan ada yang tahu, lagipula aku telah menghapus memori Carlton.”
Mata Vernon melebar, “Terima kasih atas kebaikan hati anda, Professor.” Vernon membungkuk singkat.
Tiara tak bergeming, ia menerawang. “Aku ingin Sean segera memulai upacara pembagian jiwa miliknya. Ia harus
secepatnya membuat Horcrux dan aku dengan mudah memperalatnya.”
Vernon tersenyum, “Tentu, Professor.”
“Jadi, aku bisa memanggil Delphi kemari setelah satu persatu dari Potter dan Malfoy hancur.“
Prang!
Tiara dan Vernon menoleh, tak sengaja menemukan Yocelyn, murid tahun ketujuh. Prefek Hufflepuff. Tiara menyeringai, “Tak baik menguping pembicaraan penting kami, Miss Cromwell.”
Yocelyn berdiri kaku, niatnya ingin memberi makan burung hantunya sirna saat mendengar ucapan Professor Lestrange. Ia tak percaya saat mendengar percakapan Tiara dengan Vernon. Bagaimana mungkin seorang professor melakukan rencana keji terhadap Malfoy dan Carlton.
“Professor-“
Tiara menggeleng saat Vernon menarik tongkatnya keluar dari balik jubah. “Tahan dirimu, Mr Dolohov.”
Professor Lestrange melangkah mendekati dimana Yocelyn berdiri. “Apa yang kau dengar Miss Cromwell?”
Lidah Yocelyn mendadak kelu. Ia tak bisa menjawab dan menggeleng, “Aku tidak mendengar apapun, professor. Sungguh.” Ujarnya menyakinkan.
Seringaian Tiara semakin lebar, ia tahu muridnya berbohong. “Sayang sekali, seandainya kau tak berada disini dan mendengarkan seluruh ucapan ku. Kau akan lulus dari Hogwarts tepat waktu.”
Jantung Yocelyn berdebar keras, gadis itu ketakutan ketika melihat Tiara mengeluarkan tongkatnya. Senyuman Tiara semakin melebar. Namun, langkahnya berhenti dan tersenyum. “Kali ini ku maafkan.” Ujarnya tegas, “Pergilah sebelum aku-“
“Ba-baik, Professor. Terimakasih.” Potongnya sebelum berlari meninggalkan kandang satwa. Tangan Tiara mengepal menahan amarah. Seharusnya ia merapalkan sebuah mantra agar tak ada seorang pun yang dapat menguping pembicaraannya.
Vernon tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan professor Lestrange. Ia baru saja melepaskan Yocelyn
begitu saja. “Professor, apakah ini baik-baik saja?”
Tiara terkekeh, “Tentu saja tidak.” Jawabnya enteng, “Mari kita adakan pertemuan.”