Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
04



Irene lagi-lagi mengerang karena tugas yang ia dapat dari pelajaran astronomi. Jika poinnya tidak tinggi, pasti ia akan mendapat tugas yang lebih banyak lagi. Bianca menatap Irene dengan heran. “Berhentilah mengeluh dan mulai mempelajari sesuatu.”


Irene mendongak menatap Bianca lalu mendengus. “Mudah jika mengatakannya tanpa ada usaha.”


“Nah, itu kau tahu sendiri.”


Bianca menoleh pada Evelyn yang sedari tadi terdiam. “Apakah kau ingin makan siang bersama kami, Lyn?” tanya Bianca Avalee, sambil memasukan buku-bukunya ke dalam ransel.


“Tentu saja.”


Ketiga gadis itu keluar dari kelas astronomi dan melangkah ke koridor. Ketiganya mulai membahas liburan natal nanti.


“Miss Potter?”


Evelyn membalikan tubuhnya saat mendengar seseorang memanggil namanya. Dia terkejut ketika mendapati seorang laki-laki bersurai platina berseragam hijau memanggil namanya.


Sean.


Laki-laki itu bersandar pada dinding koridor, menggengam seikat bunga berwarna ungu. Iya yakin jika itu adalah bunga lavender. Sean mendekati Evelyn dan mengabaikan tatapan terkejut dari Bianca dan Irene yang saling melirik.


Evelyn menelan ludahnya, ia mulai merasakan kupu-kupu kecil mulai berterbangan diperutnya saat Sean mendekatinya. Bibir laki-laki itu tersenyum tipis.


Entah ada angin apa, ia mengulurkan buket bunga lavender.


Evelyn membeku dan dengan hati-hati ia mengambil bunga itu menatap Sean dengan tatapan tajam. Irene dan Bianca merasa keduanya memiliki hubungan tak baik selama berada di hogwarts.


Potter dan Malfoy tidak pernah saling berbicara kecuali saat di kelas ramuan Profesor Slughorn.


“Hmm, Thank you Mr. Malfoy.” Evelyn berkata lembut, berusaha mengabaikan fakta bahwa Sean benar-benar menatapnya.


“Cukup panggil aku, Sean.”


Gadis itu mengangguk. “Sean. Yeah, terima kasih.”


Evelyn ingin sekali berteriak bahwa ini pasti salah. Bagaimana jika seluruh hogwarts tahu dan bagaimana jika seluruh keluarganya tahu. Ia tak berani membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya, jika paman dan ketiga kakaknya tahu.


Ia mengingat jika kakak laki-lakinya, Albus sering bercerita bahwa dirinya kesal dengan pria yang bernama Scorpius, kakak dari Sean Malfoy.


Kenapa laki-laki itu tak menyerahkan bunga lavender tersebut kepada Bianca atau Irene. Kenapa harus dirinya?


“Kupikir sebaiknya kita lupakan pemberitaan bodoh mengenai daily prophet itu. Aku mengakui bahwa kau juga sama pintarnya sepertiku.” Kata Sean, seolah-olah ia mengerti pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran Evelyn.


Evelyn mengangguk. “Aku sudah melupakannya,” ia tersenyum. “Ah, sekali lagi terima kasih untuk bunganya.” Jelas Evelyn.


Evelyn berbalik dan meninggalkan Sean. Bianca dan Irene yang sempat mematung mulai melangkah mengikuti temannya.


“Bi, bisa kau tampar aku?”


Tak lama Sean sedikit mengernyit menatap Avalee yang tiba-tiba menampar Russell sebelum meninggalkan koridor.


“Aw! Sakit.” Irene mengeluh memegangi pipinya yang memerah.


Bianca tersenyum jahil. “Kau sendiri yang memintanya.”


“Berarti kita tidak sedang bermimpi bukan?” Irene memperjelas pertanyaannya membuat Bianca mengangguk.


“I think so.”


“Lyn.” Bianca mendesis. “Ada apa dengan kalian berdua?”


Irene mengangguk. “Dia memberimu bunga dan kau langsung begitu saja meninggalkannya.”


“Ini kali pertama aku melihat Sean Malfoy mendekati gadis dan memberinya bunga.” Bianca menyuarakan pikirannya. “Apa dia menyukaimu?”


“Aku? I dont know. Aku tidak tertarik padanya.” Kata Evelyn dengan tegas.


“Why not?” Irene berseru dengan suara nyaring.


“Dia cukup tampan,” Evelyn menerawang. “Tapi dia terlihat sombong, angkuh, arogan dan sok berkuasa. Tidak akan menyenangkan jika menyukai laki-laki seperti dia.”


“Malfoy as always.” Bianca memutar matanya.


“Tapi ku pikir ia mulai tertarik kepadamu. Ayolah! Semenjak tahun pertama kalian selalu bersaing bahkan tak memberi celah untuk anak Ravenclaw dan Hufflepuff untuk bersaing kecuali Wendy ketika kalian berdua terlibat masalah.” Jelas Irene.


Evelyn tersenyum dan menggeleng. Ia mengambil tongkat dari jubahnya dan mengacungkan tongkatnya ke arah lavender pemberian Sean. Mata Bianca dan Irene sukses melebar ketika Evelyn merapalkan sebuah mantra yang melenyapkan lavender tersebut begitu saja.


“Kau menyeramkan, Lyn.” Kata Bianca yang membuat gadis itu tertawa.


***


Dia ditolak.


Itu belum pernah terjadi pada Sean Draco Malfoy. Bukan berarti dia berusaha terlalu keras untuk mendapatkan seorang gadis. Tapi, itu sama saja dengan penghinaan untuk seorang Malfoy.


Hal itu membuatnya marah dan ingin membalaskan dendam. Tidak seorang pun.


Tidak ada!


Tidak ada yang mengatakan tidak pada Sean Draco Malfoy.


Pada dasarnya itulah yang dilakukan oleh si bungsu Potter kepadanya. Dia telah menyerahkan bunga itu sebagai bentuk perdamaian. Tapi, Sean juga tidak menyesal bahwa ia telah memandang remeh gadis itu.


Sekarang, saat Sean duduk di meja Slytherin bersama kawan-kawannya untuk makan siang, dia melihatnya sedang duduk bersama gadis-gadis Gryffindor yang lain. Yah, Miss Russell dan Miss Avalee.


Di antara mereka tak ada satupun bau bunga lavender termasuk gadis yang sedang duduk ditengah-tengahnya. Evelyn. Sean berpikir apa gadis itu membuangnya atau melemparnya ketempat yang tak ia tahu.


Tapi itu tak penting, yang terpenting adalah dia menolak pemberiannya yang artinya menolak Sean Malfoy.


Sean membutuhkan taktik baru.


***


Terkadang jika Evelyn bermain ke tempat Hagrid, pria besar itu selalu menceritakan bagaimana ayah, ibu, paman dan bibinya semasa muda. Ia bahkan tak mengira jika ayahnya, paman dan bibinya adalah sahabat karib yang dijuluki trio golden.


Merasa waktu sudah malam, ia berpamitan kepada Hagrid dan kembali ke asramanya. Ia mulai mengantuk. Evelyn berjalan keluar ke koridor lantai dua dan menuju tangga spiral di sudutnya. Dia mulai memelankan langkahnya agar tak ketahuan.


Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat laki-laki itu di sana. Menuruni tangga bersama tongkatnya. Sean Draco Malfoy sedang berpatroli.


Akhir-akhir ini ia sungguh sial.


Ia lupa jika Sean adalah salah satu prefek Slytherin.


“Miss Potter,” panggilnya dengan suara serak seperti menahan sesuatu. Apa ia marah? “Mungkin kau lupa jika jam malam sampai jam sembilan. Kau tak seharusnya berjalan-jalan di koridor.”


Sean menatapnya dengan penuh kecurigaan.


Hey, ia hanya berjalan di jam malam bukan berarti Evelyn berniat mencuri.


“Aku tahu jam malamnya. Tapi, aku tak sengaja karena harus mengurus sesuatu dengan Hagrid. Jadi, ku mohon untuk tidak melaporkanku. Ini sebuah ketidak sengajaan.” Jelas Evelyn dengan wajah memelas.


Sean berdeham dengan membawa kepalan tangannya ke bibirnya. “Sebuah kesalahan. Tentu. Apa aku perlu mengantar mu agar kau benar-benar kembali ke asrama Gryffindor?”


Evelyn melebarkan matanya. Pertanyaan Sean terdengar bahwa ia sedang dituduh.


“Aku tahu jalannya.” Jawab Evelyn cepat. “Thanks.”


Evelyn masih menatap Malfoy yang menghalangi jalannya. “Aku akan pergi, selamat malam Mr. Malfoy.”


“Sean.” Laki-laki itu membenarkan kata Evelyn seperti yang dilakukannya saat memberi bunga Lavender di koridor. Sesaat Evelyn yakin jika Sean memandanginya dengan tajam karena bunga lavender yang ia lenyapkan.


“Aku- hmm- aku minta maaf atas perilaku ku tadi saat di koridor.” Sean menyeringai membuat Evelyn membeku. “Aku tak seharusnya melenyapkan lavender pemberianmu.”


Gugup.


Benar.


Evelyn gugup seperti ia bersalah karena menumpahkan susu coklatnya saat berumur lima tahun. Ia masih mengingat perasaan takut terkena marah dari ibunya.


Sean berdeham. Ia merasa terhibur melihat tingkah gugup Evelyn. “Well, sejujurnya aku tidak pernah memberi hadiah walau akan berakhir dengan penolakan, Miss Potter.”


“Evelyn.” Koreksi Evelyn. Akan sangat tidak sopan jika laki-laki dihadapannya ingin dipanggil dengan nama depannya dan dia tidak melakukan hal yang sama.


“Baiklah, aku permisi.” Dengan perasaan gugup, Evelyn memutuskan untuk terus melewati tangga dan Sean sendirian.


Malfoy, ah tidak. Sean terdiam beberapa saat sebelum prefek Slytherin tersebut mengangguk. “Bye, Sean. Terima kasih untuk hadiahnya.”


Evelyn kembali berbalik sebelum Sean mencekal lengannya. Sean menyudutkannya diantara dinding dan juga tubuhnya. Evelyn hampir saja menghentikan napasnya saat Sean menatapnya dengan tajam.


“Sebenarnya apa yang kau lakukan?”


“Excuse me?” Evelyn bertanya tak mengerti. Entah perasaan apa yang mulai menjalar ke dalam dirinya, yang jelas ia bisa merasakan hawa mengerikan terpancar dari tatapan laki-laki itu. “Aku tak mengerti maksudmu, Mr Malfoy. Aku bahkan tak ingin daily prophet selalu membahas omong kosong mengenai persaingan yang membawa masa lalu orang tua-“


“Bukan itu maksudku.” Sean menggeleng. Ia menatap mata Evelyn dengan tajam, seakan-akan bisa melubangi mata gadis cantik itu. “Kenapa aku mencium baumu di Amortentia.”


Evelyn melebarkan matanya, hampir berteriak dan mengacungkan tongkatnya jika ia tak ingat bahwa Sean yang telah menyudutkannya.


“Aku bersumpah bahwa aku tak mengerti apa yang kau maksud.” Evelyn menggelengkan kepalanya berharap bahwa laki-laki itu percaya. Tapi bukan Sean namanya, jika ia melepaskannya dengan mudah.


Ia masih bisa mengingat jika Sean tertarik dengan berbagai macam sihir hitam seperti- seseorang yang dikalahkan ayahnya dulu. Genggaman pada lengannya mengencang membuat Evelyn mengernyit menahan rasa sakit. “Please, let me go.”


Sean melepaskannya. Namun, tidak dengan tatapan yang masih mengintimidasinya. Evelyn yakin jika pertanyaan Malfoy seolah-olah menuduhnya jika ia memberikan laki-laki itu ramuan cinta.


‘Menghirup aroma ku?’ Evelyn masih terdiam menatap Sean yang menunggu jawaban darinya.


Namun jika menghirup aroma tubuhnya, mengapa Sean berbohong saat di kelas Profesor Slughorn. Ah, ia baru mengetahui fakta bahwa pria itu tak suka diketahui salah satu kelemahannya.


Tunggu, apakah itu berarti Evelyn sebuah ancaman untuknya?


Evelyn menatap Sean dengan takut. “Kau memberitahu pria tua itu bahwa kau mencium bau madu, lemon dan kayu,” Sean mengingatkannya. “Kau berbohong! Beritahu apa yang kau cium?”


“A-aku tidak berbohong.” Evelyn merasa dunianya runtuh. Sialan! Seandainya Albus di sini, ia yakin kakak kesayangannya itu akan dengan senang hati melemparkan sebuah kutukan pada Sean.


“A-aku tidak berbohong, Sean. Aku memang mencium bau madu, lemon dan kayu karena aku menyukai baunya.”


Sean semakin menatapnya dengan tajam. “Kau berbohong.” Desisnya. Entah dari mana Sean mengarahkan tongkatnya pada leher Evelyn. “Jadi, katakan yang sebenarnya. Evelyn.”


Evelyn berusaha tidak mengeluarkan air matanya walau matanya sudah berkaca-kaca saat Sean mengancamnya. Gadis itu memejamkan mata dan membiarkan air mata menuruni pipinya.


Si bungsu Malfoy hanya menyeringai menatap Evelyn yang tak berdaya di hadapannya. Ia menyukai ekspresi ketakutan gadis ini. “Katakan!”


Evelyn bergetar. “Ka-kau.”


Sean terperangah mendengar jawaban Evelyn. “Apa?” matanya berkedip menatap Evelyn yang terdiam memandanginya. “Apa maksudmu?”


“Aku mencium baumu. Bau apel, daun mint dan lavender.” Sean terdiam. Benar, ia berbau Lavender karena ibunya menanam bunga lavender di manor. Apel? Ia selalu menyukai buah apel yang berwarna hijau, tentunya.


He is Slytherin. Tak ada murid Slytherin yang tak menyukai warna hijau.


Sean menurunkan tongkat sihirnya, laki-laki itu menatap Evelyn dengan penasaran. “Apa kau bisa mencium baunya sekarang?”


Evelyn mengangguk tanpa menjawabnya.


Laki-laki itu tak tahu harus mengatakan apa, yang jelas ia cukup terkejut. Apakah ini pengaruh ramuan Amortentia atau memang ini khasiat lain dari ramuan sialan itu.


Sean menggeram membuat Evelyn terdiam. “Aku akan kembali, Sean. Semalam malam.” Evelyn pergi meninggalkan Sean yang masih berdiri menatapnya.