
Setelah mengantar ketiga murid tahun pertama ke asramanya masing-masing. Kepala sekolah menyuruh ketiga murid tahun ke enam masuk ke dalam ruangannya. Di sana ada professor Slughorn dan professor Abeforth yang
harus meminta maaf kepada kepala sekolah.
Professor Slughorn adalah guru yang menjabat menjadi kepala asrama Slytherin menggantikan mendiang professor Snape sedangkan Abeforth menggantikan kedudukan Mcgonagall sebelum menjabat menjadi kepala
sekolah.
“Hal seperti ini tidak bisa dihindari. Kedua murid tahun ke enam ini saling melontarkan mantra dan membuat murid tahun pertama ketakutan.”
Slughorn dan Abeforth sangat terkejut memandang murid asramanya tak percaya. “Aku sungguh sangat menyesal, mungkin di sini ada kesalahpahaman antara keduanya.” Kata Slughorn kembali menatap Mcgonagall.
“Mungkin, tapi tetap tak bisa membuatku untuk tidak memotong nilai asrama masing-masing lima puluh poin.” Kata kepala sekolah pada ketiga muridnya. “Dan selebihnya detensi akan dilakukan oleh kepala asrama masing-masing.”
Penjelasan kepala sekolah membuat Krystal dan Bianca saling menatap tajam.
“Girls, jaga perilaku kalian.” Ucapan kepala sekolah membuat kedua gadis itu saling melepas pandangan.
Abeforth mengangguk dan mengajak Bianca terlebih dahulu keluar dari ruangan kepala sekolah.
Sebaliknya Slughorn hanya tersenyum sembari mengantar kedua muridnya kembali ke asrama Slytherin.
Kedatangan professor Slughorn membuat seluruh murid bertanya-tanya kenapa kepala asrama mereka datang.
“Aku sangat kecewa.” Katanya professor Slughorn menyesal. “Tadinya kalian termasuk murid favoritku, mendengar apa yang kalian lakukan membuatku malu tak bisa mendidik kalian dengan benar.”
Pria tua itu duduk di kursi kebesarannya. “Kalian tak perlu mengatakan maaf, kalian memang harus menyesali perbuatan kalian. Selain nilai asrama yang diambil, aku juga tak bisa berlaku tak adil. Aku akan memberi kalian detensi selama seminggu tak dapat mengikuti pembelajaran.”
Kedua murid itu melebarkan matanya. “Dan, kalian harus membantuku dalam kelas ramuan.”
“Ku harap, kalian tak mendebatku kali ini. seharusnya jika kalian terpaksa melakukannya, kalian bisa melakukannya di luar hogwarts bukan dihadapan murid tahun pertama. Bagaimana mungkin kalian bisa membuat murid tahun pertama menjadi ketakutan seperti itu.”
Tak lama setelahnya, Sean masuk ke dalam asrama dan menemukan Christian dan Krystal yang menunduk atas ucapan-ucapan Slughron. Sluggy tua itu lagi-lagi berpidato panjang lebar, batinnya.
Professor Slughorn bangkit dari kursi berlengan dan mengucapkan selamat malam sebelum keluar dari ruang rekreasi.
“Apa yang kalian lakukan?” tatapan tajam Sean membuat Krystal dan Christian menegang.
“Aku tak suka cara kalian yang terlalu gegabah.” Sean duduk ditempatnya. “Apa aku yang menyuruh kalian melakukan hal itu?”
“No.” Jawab Krystal yang hampir berbisik.
“Lalu kenapa kalian melakukannya?” tanya Sean menuntut. “Aku tak suka memiliki pengikut yang tak bisa di atur. Aku tak peduli tentang apa yang kalian lakukan, bahkan aku tak peduli jika kalian membunuh orang lain. tapi gunakan cara yang bersih.” Jelasnya dingin.
“Ba-baik, Malfoy.”
Sean mengangguk. “Kumpulkan anggota besok, aku akan mengenalkan seseorang pada kalian.” Jelasnya singkat.
***
Murid tahun pertama itu menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya. Termasuk apa yang dilakukan Bianca.
Bianca yang baru saja masuk ke dalam asrama menghampiri murid tahun pertama, “Apakah aku menakutimu di koridor tadi?” Gadis kecil itu mengangguk mendengar jawaban dari Bianca. “Maafkan aku, seharusnya kau tak melihat itu.”
Beberapa murid Gryffindor lainnya terkejut mengenai detensi yang akan dilakukan Bianca nantinya. Evelyn tak percaya, jika sahabatnya berduel di koridor sepi bersama Griffiths dan Mayer. Setidaknya ia bersyukur, Malfoy si kekasihnya tak ikut andil dalam hal ini.
Semua murid memberi Bianca respon iba kecuali Mark yang semakin heboh. “Woh, kau hebat, Bi. Seharusnya kau kutuk saja mereka. Antek-antek Malfoy itu benar-benar perlu mendapatkannya.”
Xanders menggeleng mendengarnya. “Jika Bianca melakukannya, poin asrama kita berkurang banyak.”
Mark menggeleng, tak peduli. “Aku tak peduli dengan poin asrama. Aku tak suka mereka bersikap bahwa mereka adalah penguasa hogwarts.” Jelasnya yang membuat beberapa murid lainnya mengangguk.
Walaupun mereka ditakuti, tapi tak mengelakan jika banyak gadis yang menginginkan Malfoy bahkan Mayer. Irene tersenyum sedih. “jadi, kau tak akan mengikut kelas selama seminggu?”
Bianca mengangguk, ia menghela napas. “Ini benar-benar kesalahanku, seharusnya aku sabar menghadapi mereka yang tiba-tiba menghadangku.”
“Nah!” Mark berseru. “Mereka itu curang. Jika aku jadi kau, aku akan-“
“Kau akan lari.” Sambung Theo kesal. “Aku hafal bagaimana dirimu.”
Perkataan Theo membuat beberapa murid lainnya tertawa.
***
Sean bertemu dengan anggotanya di kamar rahasia. Tentu saja tanpa adanya basilisk. Ruangan peninggalan Salazar Slytherin itu tak memiliki banyak perubahan hanya tanpa basilisk dan beberapa reruntuhan. Sean menatap pengikut-pengikut setianya satu persatu.
Jason Elwood.
Christian Mayer.
Kai Rogers.
Krystal Griffiths.
Lalice Mucliber
Levone Avery
Vernon Dolohov
Ke tujuh pengikut setianya berdiri dengan tatapan penuh hormat. “Aku ingin kalian mengenal satu anggota baru kita.”
Suara sepatu heels membuat wajah ke tujuh penyihir itu menoleh dan menatapnya terkejut. Seorang gadis yang mereka tahu sebagai guru mereka bergabung dalam kelompok khusus yang Sean bentuk.
Tiara lestrange.
“Tiara akan menjadi kaki tangan ku mulai saat ini.” jelasnya membuat ke tujuh penyihir itu menahan napas.
Christian menatap Tiara penuh ragu. “Tapi bukankah professor Lestrange adalah seorang guru.”
Sean menatap keraguan Christian dengan datar. “Apa kau meragukan pilihanku, Mayer?”
Christian menggeleng. Namun Levone memilih untuk tetap bertanya walau takut Sean akan mengutuknya. “Bagaimana jika- bagaimana jika professor Lestrange melaporkan kami?”
Tiara berdiri di samping Sean dengan tertawa sinting. “Aku benar-benar menyukai pengikutmu, Sean.” Katanya menusuk. “Jangan khawatir, kalian akan aman jika patuh kepadaku.”
Sean mengangguk. “Mulai saat ini Tiara akan mengajarkan beberapa mantra sihir gelap kepada kalian.”
Ketujuh penyihir itu menatap Sean dengan pandangan berbinar. “Namun, jika kalian tak patuh atau mencoba membocorkan rahasiaku, maka-“
Sean berdiam dan berdesis.
Desisannya membuat tongkat Sean bergetar, sebuah cahaya putih keluar dari tongkatnya.
Ke tujuh penyihir itu menahan napas melihat makhluk apa yang keluar dari tongkat Sean. Sebuah ular berwarna putih yang lumayan besar, tubuhnya dipenuhi oleh beberapa garis yang membentuk gambar bintang dan beberapa pentagram lainnya.
Sean mendekati sosok itu dan mendesis. “Ini adalah Phyton, ia adalah kesayanganku mulai saat ini. sebenarnya Python sangat lapar, ia bercerita jika ia sangat menyukai daging.” Ke tujuh penyihir itu menahan napasnya.
‘Bolehkah aku memakan salah satu dari mereka’
Sean menoleh menatap ke tujuh pengikutnya. “Tidak sekarang, mereka masih berguna.”
Tiara di sana hanya tersenyum geli menatap bagaimana takutnya ke tujuh muridnya. Ah, rasanya ia ingin bersorak karena rencananya berjalan dengan lancar.
Hanya tinggal menyusun satu persatu rencana yang lain. Gadis itu berdeham, “Mari kita mulai sesi pelajaran rahasia kita.”
***
Irene benar-benar melenguh lelah karena tugas-tugasnya yang kian lama menjadi banyak. Tentu saja sebentar lagi mereka akan mendekati tahun ketujuh.
“Aku benar-benar tak kuat mengerjakan tugas-tugas ini.” keluhnya yang membuat Evelyn tersenyum singkat. “Kau tahu, aku ingin membeli tinta ajaib itu.”
Evelyn menaikan alisnya. “itu namanya curang, Irene.”
Gadis itu menghela napas. “Aku tahu, hanya saja itu terlalu banyak kau tahu.”
Evelyn benar-benar menggeleng tak percaya ketika Irene berencana membeli tinta ajaib, tinta yang bisa menjawab pertanyaan soal-soal dengan jawaban yang benar. “Kenapa kau tidak beristirahat saja dan mengerjakannya nanti?”
Irene mendongak dan menatap Evelyn berbinar. “Ah, kau benar. Kenapa itu tak terpikirkan olehku.” Kekasih Sandy segera membereskan buku-bukunya. “Apa kau tak apa-apa jika ku tinggal sendirian?”
Evelyn tersenyum mengangguk.
“Baiklah, sampai jumpa, Lyn.” Irene bergegas pergi meninggalkan perpustakaan.
Setelah Irene pergi, putri Harry Potter masih berusaha mengerjakan beberapa tugasnya sebelum menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Ia mengeluh sebentar, kepala terasa pusing. Jika Albus -kakak kedua- nya tahu, sudah dapat dipastikan akan memarahinya.
Berbeda dengan James dan Lily yang tak pernah mempersalahkan jam belajarnya.
Di saat kepalanya terasa pusing, ia merasakan seseorang sedang mengusap kepalanya. Evelyn mendongak dan melebarkan matanya melihat pelakunya.
Itu Sean, kekasihnya.
Sean hanya tersenyum dan duduk dihadapannya. Evelyn yang menatap Sean hanya bisa memperbaiki posisi duduknya senyaman mungkin.
“Ku lihat kau sedang tak bersemangat.”
Evelyn mengangguk. “Aku hanya merasa pusing.”
Sean mengeluarkan tongkat dan mengayunkannya. Seketika rasa pusing yang ada dikepalanya menghilang. “Sudah lebih baik?”
Evelyn tersenyum. “Terima kasih, aku tak tahu kau begitu mahir dengan mantra nonverbal.”
Sean menyeringai. “Seharusnya kau tak meremehkanku, Miss Potter.”
“Baiklah, Malfoy. Aku mengakuimu.” Sean tersenyum mendengar ucapan kekasihnya. “Bagaimana kau tahu aku ada diperpustakaan?”
Pria itu hanya tersenyum. “Apa kau percaya jika aku telah memberimu ramuan pengikat?”
Evelyn terkekeh. “Aku yakin kau bercanda.”
Sean ikut tertawa. “Tentu saja, itu adalah ramuan bodoh setelah Amortentia.” Sean kembali menatap kekasihnya. “Apa kau sudah tahu jika hukuman kita dibatalkan?”
Evelyn mengangguk. “Tentu saja, itu sangat menyenangkan.”
Sean berdecak. “Ku pikir kau akan senang terjebak bersamaku. Berdua.”
Evelyn memutar matanya. “Ayolah, walaupun aku kekasihmu. Tapi menghabiskan waktu berdua denganmu dan menjalani hukuman bersama itu bukan hal yang romantis.”
Sean tertawa bangga. “Kau kekasihku yang sangat pintar.”
Evelyn mencibirnya. “Seolah-olah kau punya banyak kekasih saja.”
Sean mengusap rambutnya. “Well, aku tidak menyangkal jika banyak gadis yang menginginkanku.”
“Dasar Malfoy.”
“Jangan lupa, kau kekasih dari Malfoy.” Sean tersenyum melihat Evelyn mengerang. “Aku akan mengirimkanmu surat saat liburan natal nanti.”
Evelyn mengangguk patuh.
***
Liburan natal telah tiba, para guru mempersilahkan seluruh murid untuk berkemas dan pergi ke Hogsmade. Di sana
Hogwarts express telah menunggu untuk mengantarkan para siswa dan siswi kembali ke peron 9 ¾.
Sebelum pergi menuju stasiun, Evelyn dan Sean berjanji untuk saling bertemu. Keduanya bertemu secara sembunyi-sembunyi diruang kebutuhan tanpa siapa pun.
“Sean.”
Sean tersenyum mendengar suara merdu kekasihnya. “Aku akan merindukanmu.”
Evelyn mengangguk dan memeluknya. Ia merasa senang ketika pria itu membalas pelukannya. “Aku juga. Hmm, Sean.”
“Ya?”
“Apakah kita bisa saling mengirim surat?”
Sean menyeringai. “Apakah kau akan sangat merindukanku jika aku tak mengirim surat?”
Evelyn melepas pelukannya dan menatap kekasihnya dengan kesal. “Kalau kau tak mau, tak apa.”
Pria itu tersenyum geli menatap sifat Evelyn yang berubah setelah menjalin huhungan dengannya. Evelyn tak lagi bersifat cuek, keras dan ia sudah tak mendapat tatapan benci dari gadis itu.
“Jangan marah.” Sean mengecup bibirnya singkat. “Aku pasti akan mengirimkan sebuah surat untukmu.”
“Tapi, bagaimana jika ketahuan?”
Sean menggeleng. “Tenang saja, aku akan memberi mantra pengikat dan hanya kau yang bisa membuka surat itu.”
Evelyn mengangguk semangat.
Para orang tua telah menunggu kedatangan putra atau putrinya di peron 9 ¾, mereka tak sabar untuk menyambut buah hati mereka yang tak berada dirumah selama berbulan-bulan, termasuk Harry dan Ginny yang ditemani oleh Albus, putra kedua Harry.
“Kenapa lama sekali?” Ginny membuka suara sembari merapatkan jaket yang membalut tubuhnya. Udara di bulan desember begitu dingin hingga menusuk tulang-tulangnya.
Harry tersenyum. “Mungkin sebentar lagi.”
Bunyi peluit terdengar membuat Albus mendongak, hogwarts express telah terlihat di ujung rel yang membuat senyum Harry melebar.
Albus melangkah mendekati rel menanti kehadiran adik kecilnya. Hogwarts express telah berhenti dihadapannya.
“Albus!”
Mendengar seruan itu membuat Harry dan Ginny ikut menatap kemana suara itu berasal. Evelyn turun dari kereta dengan menenteng tua koper dan sebuah sangkar burung hantunya.
“Biar ku bantu.” Albus segera mengambil alih kedua koper tersebut.
“Hi, sweetheart.” Harry menyapa putrinya yang membuat Evelyn berlari menghamburkan tubuhnya kepelukan sang ayah.
“Oh, aku sungguh merindukan kalian.” Ucap Evelyn lirih.
“Kami juga merindukanmu, sayang.”
Evelyn melepas pelukannya dan memeluk tubuh ibunya. Wanita itu adalah satu-satunya yang membuat Evelyn ingin bercerita banyak.
Albus menatap mereka dengan dengusan. “Jadi, kau tak merindukanku?”
Melihat ekspresi Albus membuat Harry dan Ginny tertawa. Evelyn segera mengurai pelukannya dan menatap kakaknya dengan geli. “Kau tetap dihatiku, tenang saja.”
Albus memutar matanya. “Sebaiknya kita segera pulang sebelum James dan Lily meneriaki ku menggunakan alat komunikasi muggle itu.”
Harry mengangguk. “Lets go home, Lyn.”