
Jumat malam, Irene dan Evelyn bersiap untuk menghadiri pesta dibantu oleh Bianca. Gadis itu berniat membantu persiapan kedua sahabatnya sebelum pergi ke hogsmade. Bianca meminjamkan kedua gaun cantiknya kepada Irene dan juga Evelyn.
Irene awalnya mendapatkan gaun merah. Namun, ia menggeleng membuat Bianca menatapnya bingung.
“Ada apa?”
Irene berbisik. “Sandy akan marah kepadaku jika aku menggunakan gaun berdada rendah seperti ini. Terlalu seksi.”
Bianca tertawa. “Baiklah, kau bisa menukar itu kepada Evelyn.”
Irene menatap Evelyn dengan pandangan berharap.
Evelyn tersenyum. Lagipula tak akan ada yang marah kepadanya. Ia perempuan single. “Sure.”
Bianca membaca majalah witch weekly miliknya sembari menunggu kedua temannya berganti. Irene keluar terlebih dahulu. Ia menggunakan gaun hitam yang terlihat begitu pas di tubuhnya.
“Sandy harus membayarku untuk ini.” Gumam Bianca yang membuat Irene tertawa.
Evelyn melangkahkan kakinya keluar dengan malu-malu. Bianca bersiul sementara Irene menatapnya takjub. “Mereka akan menganggapmu cantik.” Ujar Irene yang di tatap heran oleh Bianca.
“Mereka?”
Irene mengangguk. “Malfoy dan Xanders.”
Bianca menggeleng. “Aku sebenarnya tak tahu apa yang ada di balik otakmu, Irene.” Bianca menatap Irene dengan pandangan yang sulit di artikan. “Kau terlihat mendukung Evelyn untuk berkencan dengan Malfoy.”
Irene nampak berpikir dan mengangguk. “Sebenarnya sih iya.”
Bianca memutar matanya dan menatap diamnya Evelyn. “Tenang saja, aku yakin Malfoy tak akan mengganggumu ketika kau datang bersama Xanders.”
“Malfoy?” Evelyn bingung. “Malfoy ada di sana?”
Kedua sahabatnya mengangguk. “Kau tidak lupa kan jika Malfoy adalah pria yang di idamkan-idamkan banyak gadis, terlebih lagi ia juga pintar.”
Bianca berdecak. “Sebenarnya aku benci untuk mengakui itu.”
Evelyn tak memperhatikan percakapan kedua sahabatnya. Ia memilih pergi ke meja riasnya dan memakai parfum miliknya. Namun, ia tiba-tiba berhenti melakukannya.
Ia teringat perkataan Sean.
‘Aku mencium aroma tubuh mu pada Amortentia.’
Evelyn mendesah pelan dan kembali menggunakan parfumnya. Bagaimana pun ia tak tahu jika Sean benar-benar mencium aroma tubuhnya.
***
Sean duduk di salah satu meja profesor Slughorn bersama dengan Christian dan juga kekasihnya.
Wendy terbiasa. Sangat terbiasa ketika ia harus bergabung dengan para Slytherin lainnya. Terkadang Christian tak memperbolehkannya untuk duduk dengan murid lainnya jika tak membawa keuntungan.
Gadis cantik itu menoleh ke kanan dan kiri mengamati pesta dan beberapa orang yang berdatangan. Ia yakin jika sahabatnya, Sandy belum datang bersama Irene.
Wendy terlihat cantik malam ini membuat Christian terus menyeringai menatap dirinya. “Kau tidak terus menerus menatapku seperti itu kan?”
Christian tersenyum. “Bahkan aku bisa menatapmu seharian, kau terlihat cantik malam ini.”
Pipi Wendy merona.
Sean tidak merasa terusik selama keduanya tak bercumbu di depannya. Bukannya ia merasa iri, hanya saja ia jijik dengan orang-orang yang tak tahu tempat.
Tatapannya terhenti ketika profesor Slughorn berseru. “Selamat datang, Miss Potter... Mr Edmund.” Pria tua itu menyapa keduanya dengan tampang sumringah sebelum menyapa Sandy dan Irene.
“Oh couple berlian ku.” Sapanya pada Sandy dan Irene. “Miss Russell dan Mr Grissham.”
Ke empatnya memasuki ruang pesta. Xanders dan Sandy menarik kursi untuk pasangan pesta mereka. Di sana Wendy tersenyum menatap Evelyn dan Irene. Setidaknya ia tak akan bosan ketika ada para gadis yang ia kenal.
Evelyn mendadak terkejut ketika melihat Sean menatapnya. Sean selalu datang sendiri ke pesta profesor Slughorn. Tentu saja ia tak ingin menyia-nyiakan waktunya dengan gadis yang tak berharga. Sebenarnya mudah baginya untuk mengajak seorang gadis datang ke pesta bersama, namun Sean lebih memilih untuk datang sendiri.
Ia bisa saja mengajak Evelyn. Namun ia juga kesal ketika membayangkan Evelyn akan menolak ajakannya. Sean juga menatap Xanders dengan pandangan kesal. Bagaimana ia bisa mengiyakan ajakan Xanders. Tapi, ia tahu betul bahwa Evelyn akan menolaknya jika ia benar-benar mengajaknya.
Entah dari mana perasaan marah itu datang, Sean benar-benar merasa kesal. Apa yang bisa di lihat dari diri Xanders. Semua gadis mengakui jika ia adalah pria yang selalu di inginkan seluruh gadis kecuali dia.
Evelyn.
Profesor Slughorn menatap seluruh murid yang diundangnya dengan tatapan berbinar. Di sana ia juga membahas beberapa orang tua murid yang menjadi alumni hogwarts.
Sesekali pria tua itu membahas mengenai permainan quidditch bersama Christian karena ia adalah seeker handal.
Hogwarts pernah beberapa kali memenangkan pertandingin quidditch saat melawan dumstrang.
Percakapan itu membuat mereka bosan termasuk Irene dan Sandy yang memilih bercakap-cakap sendiri. Xanders, Christian dan beberapa murid lainnya tertarik dalam percakapan tersebut membuat Wendy sedikit berbincang-bincang kepada Irene dan Sandy.
Sean menatap Evelyn dengan saksama. Gadis itu tengah melahap sphagettinya dengan anggun. Mata Sean berkedip beberapa kali menyadari betapa cantiknya Evelyn dengan gaun merah dan berdada rendah itu.
Sean mengumpat dalam hati, bagaimana bisa Evelyn menggunakan pakaian seksi itu untuk umum. Xanders yang menyadari diamnya Evelyn tiba-tiba membisikan sesuatu yang membuat Evelyn tiba-tiba tertawa.
Evelyn bisa tertawa dan tersenyum kepada orang lain, dan dia tidak bisa melakukannya. Dia adalah Malfoy.
Sean Malfoy selalu bisa membuat semua wanita atau gadis bertekuk lutut dan menebar senyum bodoh mereka dengan mudah. Sean sedikit terhenyak ketika profesor Slughorn menyalakan musik. Sandy membimbing Irene dengan lancar ke lantai desa.
Begitu pula Christian yang tiba-tiba menghilang bersama Wendy. Pasangan itu sudah berdansa di sana. Sean benar-benar kesal ketika menatap Evelyn menganggukan ajakan Xanders. Ingin sekali ia mengimperius Xanders.
“Kau seharusnya membawa seorang gadis, Malfoy.” Sebuah suara tiba-tiba mendekat, itu adalah suara Elwood. Jason Elwood.
Sean mendengus. “Kenapa kau lancang jika kau sendiri tak membawa seorang gadis.”
Jason tersenyum. “Itu merepotkan untukku.” Jason tersenyum melihat arah tatapan Sean. Murid tahun keenam itu menatap putri bungsu Potter yang sedang berdansa dengan Xanders. “Kenapa tak kau rebut saja?”
Sean menoleh.
“Kau bisa merebutnya.” Seringaian Jason membuat Sean tersenyum.
“Kau benar, seharusnya memang seperti itu.”
Jason mengangguk. “Maka lakukan lah! Aku tahu Malfoy selalu bergerak cepat.”
Sean menyeringai. “Kau benar-benar seorang provokator.”
“Aku bangga menjadi Slytherin.”
“Kau akan tahu bagaimana susahnya jika kau menjadi aku?”
Jason menggeleng menatap Sean dengan pandangan menyedihkan. “Jangan membuat rasa kagum ku luntur pada dirimu ketika hal begini saja kau tak bisa.”
Sean menggertakan giginya kesal dengan ucapan Jason. “Kau benar-benar lancang, Elwood.”
“Aku bisa membantu.” Sean menatapnya heran. “Menjauhkan pria itu dari incaranmu.”
Sean menyeringai. “Apa ide mu?”
***
Wendy terkadang terkikik geli ketika Christian mengatakan sebuah lelucon saat mereka berdansa. Christian benar-benar menikmati momentnya bersama Wendy, ia tak akan bisa seperti ini di hari biasa.
Tentu saja, ia memiliki jadwal yang berbeda dengan Wendy, apalagi kekasihnya seorang elang. Tak ada Ravenclaw yang suka bermalas-malasan seperti Hufflepuff.
“Setelah ini mari ke tempat biasa.” Wendy tersenyum merona, ajakan Christian adalah ajakan untuk bersenang-senang. “Aku benar-benar merindukanmu.” Bisiknya seduktif.
Wendy mengigit bibirnya bawahnya menatap kekasihnya ragu. “Bagaimana jika ketahuan?”
Christian menyeringai. “Aku ada cara untuk itu.”
Wendy mengangguk.
Mata Wendy tiba-tiba bersitatap saat Sean melangkah mendekati Xanders dan juga Evelyn. Ia dapat melihat Sean mengatakan sesuatu kepada Xanders. “Chris.”
“Hmm.”
“Apa Malfoy menyukai Evelyn?”
Christian menaikan alisnya mendengar pertanyaan kekasihnya tiba-tiba. “Potter?”
Wendy mengangguk. “Entahlah, aku sendiri tidak tahu.” Christian mempersempit jarak mereka. “Jangan perhatikan mereka, perhatikan saja aku.”
Wendy merona dan mengangguk setelahnya.
Berbeda dengan Irene dan Sandy yang memilih mengakhiri dansa mereka dan memilih mengambil minuman. Irene sedikit terkejut ketika Sean mendekati Evelyn dan Xanders, gadis itu tersenyum membuat Sandy memandangnya heran.
“Ada apa?”
“Lihat!” tunjuknya ke arah Evelyn. Sandy mengikuti arah tunjukan Irene dan terdiam. “Sepertinya Malfoy benar-benar menyukai Evelyn.”
Sandy terlihat gelisah. “Kau yakin jika mereka tak saling mengutuk lagi?”
Irene memutar matanya jengah. “Aku yakin Malfoy itu romantis, hanya saja ia tak tahu bersikap seperti apa.”
Sandy hanya menatap horor kekasihnya. “Romantis?” serunya. “Romantis dari mananya jika mereka saling merapalkan mantra kuntukan?”
Sean menegakan dasinya dan menarik napas dalam-dalam. Ia mendekati Evelyn dan juga Xanders, senyuman Evelyn kepada Xanders luntur ketika ia melihat Sean mendekati dirinya.
Sean meletakan tangannya pada bahu Xanders dan pria itu melepaskan pegangan Evelyn dan membalikan tubuh.
“Bisakah aku berdansa dengan Potter?” Tanyanya dengan hati-hati. Xanders tersenyum kikuk dan mengangguk. Akhirnya Xanders mengiyakan permintaan Sean dan memilih pergi menuju meja makan.
Irene yang melihat itu benar-benar tersenyum ketika Sean mengajak Evelyn berdansa.
Sean meletakan tangannya pada pinggang Evelyn, ia sedikit tersentak ketika Evelyn tak meninggalkannya saat jemarinya menyentuh jasnya. Mereka bergerak mengikuti alunan musik.
Tarian Christian mulai terhenti ketika ia menatap Sean dan Evelyn di sebelahnya. Pria itu sedikit menyeringai dan kembali menatap wajah kekasihnya yang sedikit membuka mulutnya terkejut. “Aku bosan.”
Christian membuka suara dan membuat Wendy menatapnya kembali. “Bagaimana jika kembali terlebih dahulu dan melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan?”
“Tapi-“
“Dont worry.”
Wendy mengangguk, setelahnya pasangan ular dan elang itu pergi meninggalkan pesta. Mereka berpamitan kepada profesor Slughorn.
Sean menatapnya dalam diam beberapa saat, menghirup aroma menyegarkan kesukaannya dan tiba-tiba mengernyit. Bau apel itu tertutupi oleh bau parfum. Ia merasa Evelyn sengaja melakukannya untuk menutupi
bau darinya.
“Boleh aku bertanya sesuatu, Lyn?”
Evelyn menaikan alisnya. “Bagaimana jika aku mengatakan tidak?”
Sean menggeleng dan tersenyum. “Kenapa kau sangat membenciku?”
Sean terbiasa di takuti, di puja dan di kagumi. Tapi, gadis di hadapannya bersikap sebaliknya seolah-olah ia adalah
musuh besar untuknya.
Evelyn terdiam. ‘Apa dia melupakan kejadian beberapa waktu lalu, hingga bertanya seperti ini?’ batinnya. Evelyn menghela napasnya. “Aku tidak membencimu, Sean.”
Sean menatapnya dengan tatapan mengejek. “Begitu kah?” tekannya. “Kalau begitu kenapa kau kemari dengan Xanders?”
Evelyn mengerutkan keningnya menatap Sean dengan pandangan bingung. “Karena kami saling mengajak?” Sean terlihat menatapnya tajam membuat Evelyn merasa tak nyaman dan sedikit takut. “Kau tidak mengajakku.”
Hey, apa yang baru saja di katakannya. Evelyn terdiam mencermati kalimat yang baru saja ia lontarkan. Entah kenapa ia merasa tak ingin membuat Sean marah.
Sayangnya, Malfoy sedang menatapnya marah. “Kau tak memberiku kesempatan.” Tegasnya. “Aku tak bodoh untuk menerima beberapa penolakan lagi darimu.”
Evelyn tak membalas perkataan Sean. Ia sedikit membenarkan perkataan Sean.
“Sebenarnya aku menyukai lavender pemberianmu.” Ucapan Evelyn membuat Sean menatapnya dalam.
Sean tak menjawabnya. “Seharusnya kau tak meninggalkanku di jembatan waktu itu.”
Evelyn melebarkan matanya. “Apa? dan membiarkan mu terus menciumku hingga kita saling kehilangan kendali dan melakukan hal yang akan kita sesali nantinya?”
Sean menggeram. “Akuilah jika kita saling menginginkan.” Sean mencengkeram erat pinggang Evelyn dan mempersempit jarak mereka. “Aku-“
Evelyn terdiam, ia menunggu ucapan Sean yang terputus.
Sean menghela napasnya. Menatap manik mata Evelyn dalam-dalam. “Aku kalah dengan ramuan sialan itu.”