Slytherin Lovers

Slytherin Lovers
18



Evelyn mendesah memikirkan apa yang baru saja ia lakukan. Demi Merlin, ia baru saja mengiyakan ajakan Sean yang artinya ia resmi menjadi kekasih dari Malfoy.


Catat!


Evelyn resmi menjadi kekasih dari seorang Sean Draco Malfoy. Ia tak berani mengatakan hal ini kepada siapapun termasuk sahabat-sahabatnya bahkan keluarganya. Bagaimana reaksi ayah, paman dan ibunya jika mereka tahu dirinya menjalin hubungan dengan si bungsu Malfoy.


Ia mencoba menolak perasaan itu berkali-kali tapi gagal.


Evelyn menyadari jika mereka saling menginginkan, selama lima tahun terakhir ketidakakuran mereka berakhir menjadi sebuah-


Apakah ini bisa disebut cinta?


Tidak, Evelyn masih belum bisa mengakui jika ini adalah cinta ketika ia sendiri tak yakin.


“Hey, apa yang kau lamunkan?” Xanders berseru membuat Evelyn terjengit kaget. Gadis itu tersenyum dan menggeleng. “Aku lapar sekali.” Pria itu mengambil beberapa roti di meja makan.


Kedatangan Mark dan Theo dengan tampang lesu membuat Evelyn memandangnya heran. “Ada apa dengan wajah kalian?”


“Professor Lestrange, dia menghukum kami karena seorang siswa di Slytherin.” Xanders menggeleng mendengarnya.


“Pasti kalian mengganggu murid Slytherin lagi.”


Mark dan Theo mengangguk membuat Evelyn sontak tertawa. “Tentu saja, kalian dihukum.”


Beberapa murid Gryffindor tahun ke empat tak dapat mengalihkan pandangannya ketika Sean berjalan dengan percaya diri ke arah meja mereka. “Lihat! Dia tampan sekali kan.”


Mark hanya mencibir beberapa gadis yang memuji Sean.


Pandangan Sean bertemu dengan pandangannya. Sean menghampiri meja Gryffindor dan mengeluarkan tongkat ke arah Evelyn. Semua murid yang berada di aula hanya bisa menahan napas, mereka takut jika kali ini keduanya saling mengutuk.


Sean berbisik. “Eludebas Syringa.”


Theo menyemburkan jusnya, Mark melebarkan matanya dan Xanders tersedak sandwichnya saat melihat sebuah mawar muncul dihadapan Evelyn. “Mawar memang cocok untuk gadis pemberani sepertimu.” Sean mengedipkan


matanya dan berlalu dari meja para singa.


“Theo, tampar aku sekarang-”


PLAK


Theo menampar Mark.


“Awww.” Serunya. “Apa-apaan kau ini, sakit tahu.”


Theo menatap Mark heran. “tadi kau yang menyuruhku untuk menamparmu.”


Mark memegang pipinya dan menatap Evelyn tak percaya. “Wow, Lyn. Apa yang terjadi denganmu dan dirinya?” pria itu menggeleng. “Ternyata aku tidak sedang bermimpi.”


Theo mengangguk. “Apa itu benar jika ia berusaha mendapatkan dirimu?”


Xanders hanya terdiam ditempatnya tak berani mengeluarkan komentar apapun. Tapi, ia bersyukur jika Bianca dan Irene tak ada di sini. Jika tidak, ia tahu bagaimana histerisnya kedua singa betina itu.


Tentu saja histeris dalam konteks yang berbeda. Irene yang sangat mendukungnya dan Bianca yang akan histeris karena ingin menghancurkan bunga mawar pemberian Sean.


Di meja Slytherin pun, Christian dan Krystal tak menyangka jika Sean akan melakukan hal seperti tadi. Krystal menggeram kesal. Tidak, ia bukannya cemburu, ia hanya tak suka jika Sean merendahkan dirinya seperti itu, terlebih kepada Gryffindor.


Sean mendudukan dirinya dan tak terpengaruh dengan tatapan Krystal padanya.


“Aku tak percaya kau melakukan hal itu, Sean.” Suara ketus keluar begitu saja di mulut Krystal. Kai mengangkat bahunya tak mengeluarkan komentar.


“Aku bisa melakukan hal itu.” Jawabnya santai.


“Kenapa kau merendahkan dirimu pada Gryffindor?”


Sean menyeringai. “Karena aku akan mengubahnya menjadi anggota Slytherin, secepatnya.” Jason, Kai dan Christian melebarkan mata sementara Krystal hanya bisa terdiam mendengar ucapan Sean.


Mereka tahu jika ucapan Sean tak main-main.


Tiara menatap kemenakan laki-lakinya dengan pandangan tersenyum. Ternyata putri Potter yang diincar oleh Sean. Ia sedikit menggeleng ketika melihat betapa konyolnya Sean saat memberi bunga kepada gadis itu.


‘Tunggu saja, mom. Aku akan melanjutkan semuanya seorang diri.’


“Tiara.”


Sebuah panggilan membuyarkan lamunannya. Kepala sekolah memanggil dirinya. “Ya, kepala sekolah.”


Wanita itu tersenyum. “Bagaimana hari-harimu di sini?”


Tiara tersenyum berusaha menghilangkan seringaiannya. “Menyenangkan, saya betah di sini.”


Kepala sekolah mengangguk. “Senang mendengarnya.”


Tiara kembali menatap meja para murid Slytherin, salah satu siswanya mengangguk membuat seringaian Tiara semakin melebar.


***


Sean berada di kamarnya, ia baru saja kembali dari perpustakaan bagian buku-buku terlarang. Ia mengambil beberapa buku yang akan ia pelajari. Sejak memasuki tahun keduanya, si bungsu Malfoy mulai memiliki ketertarikan terhadap sihir hitam.


Tentu saja, Sean menginginkan kekuasaan dan keabadian itu dengan Tiara sebagai kaki tangannya dan Evelyn sebagai ratunya. Ia menyeringai ketika mendapati halaman yang ia cari.


Horcrux.


Ya, Sean akan mulai melakukannya.


Tanpa ia tahu, seseorang tengah mengintipnya dan menyeringai. Sean akan menjadi calon penguasa yang baru- tidak, ia akan menjadi dark lord yang baru.


Sean tertawa ketika mendapati bagaimana cara membuatnya menjadi abadi, ia hanya perlu membuat beberapa Horcrux. Tentu saja.


Tiara benar-benar memberinya informasi yang ia butuhkan. Jika Voldemort membuat tujuh Horcrux, ia akan membuat lima, karena ia yakin ia tak akan mampu membuat begitu banyak.


Sebuah burung hantu lagi-lagi memasuki kamarnya. Kali ini bukan surat dari ibunya melainkan Scorpius yang mengatakan ingin mengunjunginya di hogwarts.


Tentu saja, ia merindukan saudara laki-lakinya itu. Dalam surat itu, Scorpius mengatakan bahwa ia hanya mengantarkan suatu barang untuknya dan Tiara.


***


Irene dan Bianca heboh, sesuai dengan prediksi Xanders. Berita mengenai Malfoy yang memberi bungsu Potter bunga mawar begitu cepat menyebar.


Saat ini kedua gadis itu sedang memberondong Evelyn dengan berbagai macam pertanyaan. Evelyn hanya menghela napas, menggeleng dan mengatakan tak tahu. Bunga itu pun masih bertengger pada vas dalam kamarnya.


“Wow, Lyn. Jadi kalian berdua memiliki kemajuan?” Pertanyaan Irene membuat Bianca menatapnya heran.


“Kemajuan apa maksudmu, Irene?” tanya Bianca setengah kesal. “Apa kau yakin jika Malfoy tak memiliki rencana buruk untukmu?” ia berbalik menatap Evelyn.


Evelyn mendongak dan lagi-lagi menggeleng pasrah. Kedua sahabatnya mengejar Evelyn dengan berbagai pertanyaan. Xanders sebenarnya ingin tertawa melihat bagaimana antusiasnya Bianca dan Irene. Tapi melihat Evelyn yang menggeleng pasrah membuatnya merasa kasihan.


“Girls, biarkan Evelyn sendiri.” kata Xanders membuat Bianca dan Irene menutup mulutnya. “Lagipula, Evelyn sendiri tak tahu apa yang terjadi, benar kan Lyn?”


Bohong, sebenarnya Evelyn tahu apa yang terjadi. Ia tengah resmi menjadi kekasih Sean. Seharusnya pria itu


menyembunyikan hubungan mereka, bukannya bersikap seperti Sean menunjukan bahwa Evelyn adalah miliknya. Jika seperti ini terus, tamatlah riwayatnya.


Ini adalah hari ketiga ia menjalin hubungan dengan Sean, tak ada interaksi lain kecuali Sean memberinya bunga saat itu. Semua murid telah kembali ke asrama masing-masing kecuali Evelyn yang baru saja menemui Hagrid.


Semua lorong dan koridor nampak sepi.


Terdengar suara dehaman yang membuat Evelyn menoleh. Di sana Sean berjalan dengan langkah angkuh menghampiri kekasihnya. “Seharian ini aku tak menemukanmu.”


Evelyn mengangguk. “Aku seharian meredakan berbagai jenis pertanyaan dari teman-teman perihal kau yang memberiku bunga.” Jawabnya membuat Sean terkekeh.


“Sepertinya aku memberimu masalah.”


Evelyn mengangguk pasrah. “Seharusnya kau tahu itu.”


“Aku memang sengaja.”


Evelyn melebarkan matanya tak percaya. “Kenapa?”


Sean tersenyum. “Karena kau adalah milikku, Lyn.” Ia mempersempit jaraknya menarik tubuh Evelyn mendekat.


Pipi Evelyn merona membuatnya senang. Ekspresi ini adalah ekspresi kesukaan Sean. Pria itu bahkan mulai membayangkan bagaimana jika wajah Evelyn memerah dibawah tubuhnya. “I want you.” Bisiknya yang membuat tubuh Evelyn meremang.


Evelyn mengigit bibirnya membuat tatapan Sean menggelap menatapnya. “Sean, bukankah kau ada patroli prefek?”


“Jangan mengalihkan pembicaraan, sayang.” Kata-kata itu ditekankan membuat Evelyn menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Sean.


Sean mengangkat dahu Evelyn, membuat gadis itu kembali menatapnya. “Kau tahu, bagaimana senangnya aku saat kau menjadi milikku?”


Evelyn terdiam.


“Aku bersumpah tak akan melepaskanmu lagi, kali ini.”


Sean mendorongnya ke dinding koridor. Bersyukurlah mereka, keadaan koridor saat itu sedang sepi. Tak ada satupun, guru, murid bahkan hantu hogwarts yang lewat di sana.


Sean mulai mempertemukan bibir mereka, ia begitu senang ketika Evelyn mulai membalas ciumannya. Seandainya mereka tak di hogwarts, Sean yakin akan merobek jubah milik Evelyn.


Lama berciuman membuat Evelyn mendorong tubuh Sean dan kembali menyembunyikan wajahnya. gadis itu mulai mengangkat wajahnya dan Sean senang menatapnya, ekspresi Evelyn saat ini hanya ia yang boleh melihatnya.


Pipi merona, bibir bengkak dan lipglossnya yang agak berantakan.


“Aku malu.”


Sean terkekeh mendengar suara serak Evelyn. “Jangan malu! Kau tak perlu malu kepadaku.” Sean mengelus surai rambut kekasihnya. “Sebaiknya kau segera kembali, aku akan menemuimu besok.”


Evelyn mengangguk dan tersenyum. “Bye, Sean.”


Sean mengangguk.


Baru saja Evelyn melangkah meninggalkannya, suara dehaman membuat hati Sean mencelos. Pria itu segera berbalik dan menemukan seseorang menyeringai menatapnya.


Scorpius menemukannya dengan cengiran nakal.