SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
TAMU ISTIMEWA



Nina memandang puas pada hasil pekerjaan para hantu jelatanya hari itu. Rumput dan taman di depan vila sudah ditata rapi, seluruh koridor dan lantai sudah dipel bersih, semua makanan juga telah disiapkan di pantri. Hanya beberapa hal yang belum dibereskan dalam tanda kutip, yakni mertua dan adik iparnya. 


Nina tertawa puas sambil mematut diri di depan kaca, sementara beberapa hantu sedang memakaikan ia gaun koktail model kerah dan lengan kimono berwarna persik selagi wajah bulat telurnya didandani--wajah dan rambutnya sudah ia percayakan sepenuhnya pada hantu MUA yang kini mengubahnya seperti boneka barbie ala jepang. Hantu-hantu itu tidak berbicara, tetapi Nina tahu kalau mereka semua tampak mengagumi dan memuja dirinya ketika telah selesai. Rambut, gaun, dan make up sempurna. Nina kini lebih pantas untuk dipanggil sebagai Nyonya Besar Ricci untuk menggantikan Olivia Ricci. 


“Hehehe!” Nina kembali tertawa puas di kamarnya dengan para hantu berjajar rapi di sekitarnya, siap menunggu perintah.


Sementara itu, di kamar Olivia, situasi sungguh berbanding terbalik. Olivia kehabisan krim super yang mampu menghilangan semua kerutan selama beberapa jam. Maka, beberapa lapis kulit kendur lantas mengintip di bawah mata serta ujung bibirnya yang akan tampak jika ia tersenyum. Sang mertua hanya bisa puas dengan gaun malam lamanya yang kini malah kedodoran di tubuhnya--baru sehari Nina kembali ke rumah, bobotnya sudah berkurang setengah karena stres.


Naomi pun memasang wajah kecut ketika Olivia mengetuk pintu kamarnya. “Mami kehabisan krim super,” kata ibunya dengan nada muram seolah itu adalah akhir dari dunia. Naomi tersenyum tak kalah kecut, lantas membukakan pintu lebar-lebar untuk wanita itu. “Mami tidak pernah mendengar trik selotip, ya?”


Sebelum mengerti maksudnya, Naomi sudah mendudukkan Olivia di depan meja rias, lalu tangannya bergerilya membongkar seluruh isi rak. Sepasang mata Olivia pun melebar ketika Naomi mengeluarkan segulung selotip transparan kecil dari dalam sana. 


“Jangan main-main dengan Mami, Naomi!”


“Siapa bilang? Kerutan-kerutan Mami itu harus diplester biar kencang!” Naomi dengan cekatan menggunting selotip dalam ukuran kecil, lalu memasangnya di sudut mata dan bibir ibunya. Olivia mengaduh kesakitan sementara Naomi mengerjai--mengerjakannya. 


“Ini semua gara-gara Nina! Wanita penjajah itu sudah memakai kartu kredit di akun belanja Mami hingga limit! Untung Mami sudah ganti kartu dari platinum kemarin, ya, Nao. Bangkrut, Mami, kalau tidak.”


Senyum di bibir Naomi melengkung ke bawah. “Mami lupa? Mami ganti kartu kredit karena memang sudah bangkrut. Sebentar lagi, uang tabungan dari Papi juga bakal dihabiskan Nina kalau kita tidak segera menyingkirkannya!”


Olivia menjerit pilu seolah tersadar. Kata-kata Naomi benar! Namun, selotip-selotip di wajahnya memaksa ia tetap tersenyum, meskipun saat itu ia ingin menangis. Olivia mencengkeram kedua lengan putrinya dengan ekspresi kaku. “Ini semua gara-gara polisi sialan dan si komandan itu! Kalau bukan karena mereka, Nina sudah tinggal sejarah di rumah ini.”


“Kita harus ganti rencana, Mi! Kita buat Nina seolah mengalami kecelakaan lain kali.”


“Tapi, malam ini kita harus menghadapi si komandan gunung es itu dulu, Nao! Kamu harus bisa merebut perhatiannya dan mengalihkan simpatinya dari Nina!” Olivia memelotot lebar-lebar, tak peduli pada tarikan selotip di kedua sudut matanya. 


...***...


Ketiga wanita Ricci menyambut kedatangan Komandan Gerald seperti parade Miss Universe. Pria itu sedikit heran ketika melihat penampilan ketiganya yang beraneka rupa. Nina lebih mirip disebut gadis musim panas dari Negeri Sakura, Olivia adalah kaum bule ningrat keraton turun takhta, dan yang terakhir membuat pria itu benar-benar berhalusinasi kalau Naomi adalah Wonder Woman yang sedang menyamar menjadi gadis mata-mata dalam film James Bond. Setelan kulit hitam mengkilat yang ia kenakan superseksi dan rambut dikucir tinggi ke belakang.


Setan apa yang merasuki kepala para wanita Ricci malam ini? pikirnya bingung. Untunglah ia mengenakan tuksedo hitam standar yang biasa ia pakai dalam acara-acara resmi dinas sehingga tidak merasa terlalu menyalahi dress code.


Gerald menyalami tangan Olivia Ricci lebih dulu. Wanita itu menyodorkan punggung tangan sebagai isyarat bahwa komandan polisi itu mungkin akan senang menciumnya, tetapi Gerald tidak melakukannya. Oh, tidak. Dia bukan seorang penganut tradisi mencium tangan seorang wanita sebagai penghormatan. Gerald hanya seorang komandan polisi yang setia menjalani tugas. Itu pula mungkin yang membuat ia kesulitan untuk dekat dengan seorang wanita selama ini. Ia bukan seorang perayu, apalagi pria penggoda. Dan, ditempeli oleh seorang wanita lemah yang menuntut perlindungan padanya, jelas sesuatu yang ia benci, meskipun tugasnya adalah seorang polisi. Tugas adalah tugas, bukan sesuatu yang ia bawa menjadi kebiasaan dalam memilih pasangan.


Itulah nilai ambigu Naomi Ricci yang langsung Gerald catat dalam rapor ketika gadis itu dengan agresif mendahului kakak iparnya untuk menyalami Gerald. Gadis ini jelas sangat berambisi dan tidak taat aturan. Sersan Andi sempat menceritakan pengalamannya berhadapan dengan Naomi. Setiap gerakan penuh percaya diri dan tangkas gadis ini agaknya diperoleh dari hasil pelatihan bela diri. Gerald mungkin bisa membuktikannya jika ia tidak sengaja memancing kemarahan Naomi dan bertarung dengannya--ia menyingkirkan pemikiran konyol yang jelas tidak akan ia lakukan saat menghadiri sebuah undangan makan malam. 


Gerald terlalu sibuk dengan pikiran konyolnya tentang Naomi sehingga ia tidak sadar ketika seorang wanita yang belum ia salami--Nina Ricci--menempel di lengannya. Gerald baru tersadar ketika lengan wanita itu sudah melingkari lengannya akrab seperti layaknya seorang teman lama. Lagi pula, salam tempel lengan yang dilancarkan Nina bukan seperti bahasa tubuh yang posesif, tapi lebih seperti memerintah.


Olivia terbelalak, ia nyaris mengumpat dan mengatai-ngatai Nina atas ketidaksopanan menantunya, tetapi Olivia tersadar untuk segera menenangkan Naomi yang siap menerjang Nina. Tidak boleh. Mereka tidak boleh melakukan kesalahan satu kali pun di depan sang komandan. Maka, Olivia mencubit setelan kulit di atas pinggang Naomi dengan gerakan memuntir hingga putrinya itu memelotot marah kepadanya, lantas berbisik pelan, “jaga sikap.” Untung Naomi yang masih muda dan berdarah panas itu langsung mengerti.


“Mari saya tunjukkan jalannya, Tuan Kepala Detektif.” Nina berbicara tegas hingga membuat Gerald di sampingnya tergelitik. Aura kuat yang tak bisa dijelaskan oleh Gerald sejak pertemuan pertama mereka, makin kental terasa. Bukan karena Gerald tidak menyukainya. Hanya saja, wanita yang ia pikir lemah ini ternyata sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan. Jatuh ke dalam sumur membuat wanita ini lebih kuat, anehnya--salah satu misteri yang masih belum berhasil ia gali kebenarannya selain penolong seekor kelinci yang disebut oleh Nina Ricci. 


“Apakah teman kelinci Anda juga akan hadir malam ini, Nyonya Nina?” tanya Gerald sambil menyesuaikan langkah di samping Nina, seorang wanita bertubuh mungil dengan langkah cepat untuk menyiasati kaki pendek miliknya. 


Nina Ricci terkekeh pelan dengan sikap yang hanya dimiliki oleh para bangsawan dan trah kerajaan. “Tidak, Tuan. Tapi, dia hanya titip salam buat Anda.”


...***...