SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
KEBANGKITAN NINA RICCI



Para polisi berseragam dinas penanganan kejadian darurat, berkumpul di sekitar mata sumur yang sempit. Ada Gerald, sang komandan, di antara mereka. Pria itu berdiri tegap mengawasi para anak buahnya bekerja. Beberapa polisi dengan pakaian pelindung, lengkap dengan helm dan lampu sorot di kepala, berkonsentrasi menarik sebuah tali yang semula digunakan untuk menurunkan seorang rekan mereka tadi.


Seorang petugas ditarik keluar dari dalam sumur lalu dibantu untuk melepaskan tabung oksigen yang melekat di punggungnya. Gelengan kepalanya kemudian seakan vonis hukuman mati bagi Gerald. Petugas itu membuka masker wajah lalu memberikan laporan awal dengan ekspresi agak terguncang. "Tidak ada seorang pun wanita di bawah sana, Komandan. Tapi, saya menemukan hal lain."


...***...


Gerald Davinsky tidak akan meloloskan seorang pun hari ini. Sepasang mata teduh miliknya mungkin mengelabui kebanyakan orang. Tetapi, di baliknya, ia memiliki rahasia tatapan setajam elang.


Kembali ke markas. Gerald membidik setiap objek yang melewati pintu depan sejak ia lebih banyak menghabiskan waktu di lobi daripada ruang kepala kepolisian setempat. Ia mondar-mandir di sana sambil perhatiannya terus tertuju ke arah pintu, seakan ada yang ditunggu olehnya. Sikap waspadanya itu pun turut mempengaruhi suasana markas polisi yang ia pimpin. Semua orang terbawa oleh tempo kerja yang sudah tidak bisa dibilang santai.


Gerald berteleportasi dari satu divisi ke divisi lain seperti hantu. Kali ini, sang komandan tergerak untuk memantau perkembangan di ruang interogasi. Bunyi langkah kakinya menarik perhatian Sersan Andi yang berada di depan jendela intip.


Tatapan mereka berserobok. Gerald bisa melihat sepasang mata kemerahan milik Sersan Andi. Ekspresi polisi berpakaian preman dengan tubuh binaragawan itu langsung menegang--mereka berdua memang sempat terlibat pembicaraan berat di depan vila Ricci hingga menempatkan Sersan Andi pada posisi sulit.


“Komandan,” sapa sang sersan serbasalah. Namun, Gerald bukan tipe seseorang yang posesif untuk mencungkil dosa orang lain seperti mencungkil bekas permen karet--kecuali terhadap beberapa orang.


Tatapan elang dari mata teduhnya kini mengunci sasaran pada dua orang yang berada dalam ruangan--seorang wanita paruh baya keturunan bule berpenampilan ningrat dan sang putri muda yang sangat cantik seperti Wonder Woman. Gerald melirik Sersan Andi yang bergeming, berharap jika anak buahnya ini punya alasan kuat karena telah salah mengidentifikasi target operasi hingga mereka malah kehilangan sang pembuat laporan.


“Mereka masih tidak mengaku?” Dalam penglihatan Gerald, kedua wanita itu bertekad mempertahankan posisi duduk yang pongah sejak mereka diangkut dalam mobil patroli hingga berakhir di ruangan tersebut. Para Ricci memang terkenal kolot dan keras kepala. Kunci kesuksesan yang pasti sudah mengalir dalam DNA mereka. Sayangnya, ini justru bermakna konotatif.


“Harus kita apakan mereka, Komandan?” tanya Sersan Andi hati-hati, cepat belajar. Alih-alih menjawab, Gerald langsung membuka kunci pintu dan masuk ke dalam. Sersan Andi pun bergerak cekatan mengekor di sisinya.


Si wanita paruh baya memandang remeh pada mereka. Nyonya Olivia, istri kedua dari Norman Ricci, pria yang ia nikahi demi uang dan trah Ricci. Sementara, tidak dengan sang putri di sampingnya. Gadis itu seolah disuntik hormon ketika Gerald muncul. Naomi Ricci kelihatan bersemangat untuk berkencan, apalagi ketika melihat rambut ikal liar yang jatuh di kening kokoh milik Gerald. Pikiran Naomi jadi menjalar ke mana-mana.


“Saya tetap tidak mengakui semua yang kalian tuduhkan kepada saya dan putri saya!”


Baru saja Gerald menempati kursi di seberang meja, Olivia Ricci menegaskan pernyataannya. Namun, sepertinya tidak berdampak pada Gerald. Sang komandan hanya bersandar santai sambil berbicara pelan kepada Sersan Andi yang berdiri di samping, lalu polisi dengan penampilan preman itu pergi sesuai instruksi. Gerald tidak bicara atau melakukan apa pun sampai Sersan Andi kembali dengan sebuah kotak besar di tangannya. Sersan Andi menaruh kotak itu ke atas meja. Tercium aroma tajam bawang ketika tutupnya dibuka. Gerald lantas menggeser kotak ke seberang meja.


“Anda berdua pasti belum sarapan dari pagi. Silakan. Masih hangat.” Ia menawarkan seporsi pizza ukuran besar kepada Olivia dan Naomi. Makan siang darurat di markas mereka.


Olivia terlihat berwajah angkuh ketika memandang isi kotak di depannya. Sementara, Naomi tanpa malu-malu mengambil sepotong, lalu sepotong lagi setelah yang sebelumnya tandas dalam hitungan kurang lima menit. Olivia memelotot tak suka dengan kelakuan putrinya, tetapi juga tidak tega jika otot-otot Naomi kelaparan lantas menyusut. Ia pun berdeham menegur sang putri agar bersikap lebih anggun. Seperti dirinya.


“Coba, deh, Mi. Enak!” Olivia menepis halus tangan Naomi ketika gadis itu menyodorkan pizza ke mulutnya. Harga diri Olivia terlalu tinggi untuk diberi makan oleh polisi yang menawan mereka di tempat ini.


“Kopi?” Gerald seolah tidak ambil pusing dan kembali menawarkan minuman dalam cangkir kertas tertutup rapat pada keduanya.


“Tidak, teri--”


“Naomi!”


Gadis itu langsung mengambil cangkir dari pegangan Gerald, seraya mengusap punggung tangan pria itu dengan sikap menggoda. Garis bibir Gerald pun tertarik datar. Ia tahu pasti ada apa-apanya dengan gadis ini sehingga Sersan Andi kehilangan sudut pandang objektifnya pagi tadi sehingga mereka nyaris salah tangkap. Dasar jomlo, meskipun tidak berlaku padanya.


“Kalau begitu, saya ingin melanjutkan pertanyaan sebelumnya.”


“Sudah saya bilang kalau Nina itu penipu!”


“Sandiwara Anda berdua kejauhan dan Anda bisa kena jerat pasal tambahan.” Komandan polisi itu segera kembali membidik tersangka di hadapannya.


“Bukan salah kami kalau Nina menghilang, Pak! Dia sendiri yang lari ke hutan!”


“Tidak perlu cemas. Tim kami sudah dikerahkan untuk menyisir tempat hilangnya menantu Anda di hutan sekitar vila. Tapi, pasti ada alasan kenapa Nyonya Nina lari, Nyonya!”


Wajah angkuh Olivia mengeras. Ada hawa kebencian pekat mendadak meracuni udara di antara mereka. Gerald tidak akan bermanis kata sekarang. “Anda mengancam Nina seperti yang ia laporkan dalam telepon tadi malam?”


Tak disangka, Olivia dan Naomi tertawa canggung. Ada tatap penuh tanya yang terlempar di antara keduanya. Bagaimana Nina bisa tahu rencana mereka untuk menyingkirkan wanita itu?


“Malam tadi, kami hanya makan malam seperti biasa, Pak Polisi! Saya sama sekali tidak paham apa yang dipikirkan Nina! Menantu saya itu putus asa karena mandul! Jadi, maklumi saja jika pikirannya terganggu dan jadi suka berkhayal aneh-aneh.”


“Kami akan segera melakukan visum jika Nyonya Nina ditemukan.”


Wajah ibu dan anak itu kini mulai memucat dan tertangkap dalam penglihatan Gerald. Namun, Olivia tetap menyanggah. “Anda tahu siapa saya? Saya Olivia Ricci, ibu dari pewaris keluarga Ricci yang bisa membeli orang-orang seperti kalian untuk jadi satpam di tempat saya!”


Gerald dengan tangkas menahan tangan Sersan Andi yang bermaksud ingin menggebrak meja. Sekalipun ia juga emosi seperti bawahannya, Gerald tetap berusaha menguasai situasi dan memimpin interogasi.


"Nyonya Nina Ricci pasti akan kami temukan, berikut dugaan awal yang bisa memberatkan Anda berdua di pengadilan karena telah memakai identitas palsu untuk mengelabui penyidik." Gerald tersenyum samar. Dalam keyakinannya, ia masih berpegang teguh pada seutas harapan tipis, sekalipun jika tim anjing pelacak yang ia terjunkan mengalami nasib serupa dengan tim evakuasi. Gerald akan kembali ke TKP dan memimpin sendiri koordinasi untuk mengulang pencarian.


Tiba-tiba, pintu ruang interogasi terkuak lebar. Seorang petugas muncul dengan ekspresi tidak keruan pada wajah piasnya untuk memberi tahu mereka, "Lapor, Pak! Seorang wanita mengaku bernama Nina Ricci sedang menunggu di luar mencari keluarganya!"


Terdengar jerit tertahan dari Olivia dan Naomi Ricci yang lekas menutup mulut.


...***...