
"Hu-hu ... Komandan polisi, jangan pergi ....."
Olivia terus saja bercucuran air mata dengan tatapan nyalang saat mengawasi kepergian Ducati milik Gerald dari balik jendela kaca di ruang kerja. Sudut bawah matanya menghitam akibat kelunturan maskara. Asinnya perasaan Olivia yang terkandung dalam air mata tersebut rupanya mampu menjadikan kosmetik tahan airnya abrasi. Namun yang jelas, takkan ada yang tahu betapa hancurnya hati Olivia akibat kehilangan harapan dilanda frustrasi memuncak.
Semua gara-gara Nina.
Ulu hati Nina tergelitik ketika ia malah mendapat pelototan sengit dari sang mertua. Andai ia masih bisa membaca isi hati, pasti rasanya mengasyikkan menelanjangi perasaan Olivia sekarang. Sayangnya, Nina kemudian hanya bisa meraba-raba tatkala memandang ke dalam mata Olivia sebagai balasan. Olivia langsung kena mental dan mundur ketakutan ditatap oleh Nina, padahal tinggi tubuhnya melebihi sang menantu.
Seakan menikmati posisinya yang kini jauh lebih kuat, Nina mendekatkan wajahnya pada ibu mertuanya sehingga kerutan dalam pada kulit wanita itu terekspos jelas.
"Mami jangan kebanyakan nangis, nanti hati Mami sakit. Air mata itu rasanya nggak enak loh, Mi. Asin. Untung pas Mami enggak lagi masak. Daripada buang-buang air mata, mending Mami tobat, buang sial."
Seketika Olivia mengusap wajah hingga bekas maskara meninggalkan jejak besar yang membuat mata wanita itu seperti burung hantu. Harga diri Olivia terlampau mahal untuk mengakui kekalahan. Ia tersengat oleh sindiran Nina yang tak mungkin ia dengar di masa lalu.
"Kamu bukan bos Mami, jangan kurang ajar, Nina!"
"Apakah Mami merasa aku perlakukan rendah?"
"Nina!" Refleks, tangan Olivia teracung tinggi. Wanita itu tidak pernah segan melayangkan tamparan di pipi sang menantu--dulunya. Namun saat ini, debar jantung Olivia mengalahkan emosi yang terkumpul di tangannya. Ia lebih ngeri pada kemarahan Nina. Olivia pun hanya bisa kembali meratapi kemalangan diri seraya menurunkan tangan enggan.
"Cap-cip-cup. Udah, Mi. Berhubung Mami adalah Sugar Mommy-ku sekarang, kita berdamai saja."
Senyum bengis terulas di bibir Nina hingga darah Olivia berdesir. Perutnya dihantam sensasi tidak nyaman sekuat gelombang pasang, padahal sekarang belum tengah hari.
"Kenapa kamu senyam-senyum gitu?" tanya Olivia mencicit akibat disergap paranoid.
"Aku baru saja dapat ilham, pencerahan. Untuk menghibur hati Mami yang gundah gulana, sepertinya kita harus mengadakan pesta meriah. Vila Ricci sudah lama sepi kayak kuburan, 'kan?"
Mata Olivia terbeliak, tetapi wanita itu tidak mampu melihat kerumunan hantu yang memadati ruangan tengah bersorak. Pesta adalah kata kunci kebahagiaan yang hantu-hantu ini bawa semenjak keluar dari lubang kelinci. Kata "pesta" jugalah yang membuat kaki Olivia serasa lemas karena Nina tidak pernah jemu menguras isi rekeningnya yang menipis.
"Mau sampai kapan kamu baru berhenti, Nina? Mami bukan gudang uang kamu! Mami mulai bangkrut!"
"Ckck." Nina malah berdecak tanpa dosa. Gerakan kepalanya pun meremehkan sang mertua. Nina seolah sedang mengintip di antara fondasi kejayaan Olivia yang tengah runtuh. Ibu mertuanya berusaha bersembunyi di balik omong kosong tersebut.
"Mami, 'kan, emang udah bangkrut. Kalau Mami merasa terluntang-lantung, Mami boleh tinggal bersamaku dalam lubang."
"AAA!" Lolongan keputusasaan Olivia membelah vila Ricci. Wanita malang itu hilang akal berhadapan dengan sang menantu. Sambil menjambak rambut dan kaki nyaris terantuk, Olivia kabur dari tempat itu. Sejauh-jauhnya dari Nina.
"Jangan lupa rapat nanti malam, ya, Mi." Nina memperingatkan di balik punggung Olivia. Entah mertuanya mendengar atau tidak, tetapi Olivia bakal menyesal jika tidak hadir. Nina akan menggelar rencana pesta secara rinci di sana.
Nina tertawa kecil, puas, lantas dari belakang terdengar tepuk tangan nyaring, maka ia pun membalik badan.
Sindoorah pelakunya, si Tuan Kelinci melakukannya dalam cara dramatis. Siku Sindoorah terangkat tinggi sembari telapak tangannya bertangkup sejajar kepala di sisi badan.
"Hebat, Nina. Sebuah pesta lagi, kedengaran membosankan."
Nina memutar bola mata menyadari Sindoorah mengamati diam-diam semua peristiwa tadi. "Anda harusnya senang bakal ada pesta kebun di tempat ini, jadi tidak perlu berburu pesta di tempat lain."
"Hu-uh." Sindoorah bersungut. "Kepala Detektifmu itu kelihatannya memang tidak sakti, tapi siapa tahu ia punya sekutu hebat yang tidak boleh kauremehkan, dan kau baru saja berniat ingin membuka celah vila Ricci agar bisa dimasuki semua orang?"
"Anda takut?" goda Nina seraya mendongak pada Sindoorah.
"Kamu pasti belum pernah berhadapan dengan malaikat."
"Yah, tidak sempat karena aku keburu kabur dan jatuh ke lubang Anda."
Kelopak mata Sindoorah kini bagai segaris. "Semoga beruntung dan jauhi lubangku."
Sindoorah tersenyum kecut. "Aku sungguh terharu mendengarnya. Tapi, kenapa dalam situasi sekarang? Sama saja kau menantang musuh di mana-mana." Maksud Sindoorah pasti Komandan Gerald dan kubu Olivia. Nina hanya mengedik.
"Saat ini, mereka bukan musuh sejatiku, Tuan Sin. Aku ragu apa yang sanggup mereka lakukan padaku."
"Kamu tidak tahu?" Sindoorah menatap serius ke dalam mata Nina. Pria Kelinci itu dengan senang hati akan memberi tahu segala hal kepada Nina. "Ibu mertuamu sepertinya tidak akan bertobat dalam waktu dekat, sementara si Kepala Detektif, otaknya sudah tidak ada bedanya dengan adegan drama korea, di mana kalian adalah pemeran utamanya."
"Wah, aku terkejut!" Nina memegangi kedua belah pipinya dengan sikap berpura-pura. Sindoorah pun mendengkus. "Aku tidak menyangka orang-orang hebat dan berkuasa ini ternyata punya pikiran naif yang tidak berkembang."
"Menyebalkan sekali mendengarmu bilang begini, tapi aku tidak bisa membaca perasaanmu sendiri, Nina."
"Tentu saja. Aku, kan, tidak punya hati."
Nina lalu menyundul dada Sindoorah dengan sikunya. "Rapat malam ini, datanglah Tuan. Aku butuh kehadiran Kelinci Biang Pesta yang andal seperti Anda."
***
"Kamu mau bikin pesta kebun? Prasmanan? Mami sudah nggak punya uang lagi buat pesta besar, Nina! Apalagi buat menjamu ibu-ibu pejabat dan sosialita! Mau ditaruh di mana muka Mami?"
Olivia menggebrak meja seakan ingin mematahkan benda itu. Ia naik darah mendengar rencana Nina yang terdengar seperti misi pembangkrutan keluarganya. Wanita itu bahkan berani melontarkan tatapan sengit pada Sindoorah yang memberikan usulan soal pesta barusan.
"Karena itulah, Mami harua menyelamatkan harga diri Mami agar jangan sampai jatuh." Dagu Nina terangkat jemawa untuk memelesatkan tatapan dinginnya yang mampu membekukan isi hati Olivia, hingga wanita itu bergeming.
Naomi di sebelah hilang kesabaran lantas menuruti jejak sang ibu. "Mami gila kalau mau aja diperintah sama dia!"
"Jika kamu tidak suka, kamu boleh pergi dari sini! Tuan Sin akan senang hati menerimamu dalam lubang ...."
Naomi pun gentar mendengar ancaman telak dari Nina. Ketika gadis itu melirik pada si Pria Kelinci di seberang meja, Naomi sadar bahwa hidupnya bisa berada dalam bahaya kapan saja jika masih nekat memberontak. Pergi dari vila Ricci mungkin tidak serta-merta akan membebaskan dirinya dari kegilaan ini. Salah-salah, dia akan diburu oleh monster keji di hadapannya. Naomi tidak mau. Ia pun menggeleng dan kembali duduk manis di kursi hingga Nina puas. Naomi hanya bisa meneleng putus asa pada ibunya yang juga tidak punya pilihan selain pasrah.
"Nah, semua orang tampaknya telah sepakat." Nina terkekeh sinis dan meremangkan bulu kuduk keluarga iparnya. "Pesta ini akan menjadi simbol kerja sama antara keluarga Ricci dan Tuan Sindoorah. Kegelapan dan kejahatan akhirnya bertemu dalam satu tujuan besar. Vila Ricci akan bangkit dan melahap seluruh kota."
"Melahap?" Olivia terbeliak ngeri.
"Ya. Melahap ambisi dan keserakahan yang nenguasai penduduk kota ini."
Tawa Sindoorah pecah hingga tubuh Pria Kelinci itu berguncang dan punggungnya beradu dengan sandaran kursi.
"Apa pun rencanamu kali ini, Nina, tidak boleh gagal ..., atau aku akan mengambil kembali kekuatanku ....
***
Pagi hari yang biasa, tetapi sosok Komandan Gerald diliputi aura kelam yang tidak biasa. Tatkala ia melangkah masuk ke lobi markas, kakinya seolah menyeret bayang-bayang kesuraman yang bergelung bersama awan mendung di langit. Nampaknya, akan ada badai melanda Bukit Halimun. Ia bahkan hanya menjawab salam hormat Sersan Andi sekenanya.
Gerald berencana untuk mengurung diri membongkar berkas lama kasus kecelakaan Norman Ricci, tetapi Sersan Andi memanggil di balik punggung. "Tadi, utusan Nyonya Nina Ricci ke sini."
Gerald langsung berbalik dengan ekspresi tersengat. Sebelum sang komandan memuntahkan pertanyaan yang dirasa klise, sang bawahan buru-buru menyerahkan sepucuk undangan di tangannya.
"Mereka akan mengadakan pesta kebun besok. Semua orang diundang, katanya."
Gerald membolak-balik undangan sederhana tanpa amplop, nyaris meremas membacanya. Keterkejutan luar biasa pun memutihkan wajah sang komandan yang klimis sehabis dicukur.
Wanita itu menantangku. Gerald menggigit lidahnya sendiri tanpa sadar. Bisa ia bayangkan wajah Nina yang bercahaya tapi menyimpan misteri sedang menatapnya pongah dari balik awan badai.
***