
Desakan situasi mungkin telah mendorong Nina untuk bertindak terlampau jauh. Pikiran itu saja yang berputar-putar dalam benak Gerald, kasatreskrim Bukit Halimun sejak tadi malam. Praktis, ia tidak bisa tidur malam tadi lantaran mengingat keputusannya yang kali ini terasa gegabah. Menggeledah vila Ricci mungkin bisa memberikan ia petunjuk baru, tetapi jelas bakal meracuni atmosfer antara ia dan Nina.
Stop. Ia harus berhenti. Gerald tidak bisa membiarkan pikiran berbahaya seperti ini terus merajalela menguasai hati, terlebih kala ia membutuhkan informasi dari penghuni vila Ricci setelah mendapat laporan dari tim forensik pagi ini. Gerald pun meneguk ludah kasar yang terasa berduri di kerongkongan.
"Lapor, Komandan. Tim operasi siap melaksanakan tugas!' Sersan Andi kemudian masuk dalam ruangan. Maka, polisi itu pun heran tatkala melihat sang atasan mengetuk-ngetuk berkas laporan pemeriksaan forensik dengan jari. Tatapan Komandan Gerald seolah terpaku pada sesuatu yang takkasatmata di hadapannya. Baru kali ini pikiran sang komandan berada dalam kondisi mengambang di awang-awang.
"Komandan?" Sersan Andi memanggil lagi penuh rasa heran.
Gerald berkedip satu kali mendengarnya. Nyaris ia kehilangan akal sehat di waktu yang tidak tepat. Namun, pikirannya masih tersita oleh kekeliruan yang ia perbuat kemarin. "Tidak. Saya yang akan melakukannya. Sendirian," tandasnya cepat untuk meluruskan perintah yang telah ia turunkan.
Alis Sersan Andi pun bertaut di kening akibat perubahan titah darinya. Sang komandan dikenal sebagai sosok yang tegas, tetapi rupanya logika Gerald kini cenderung dikuasai oleh pertimbangan rasa yang berada di luar kendali.
"Apa saya tidak salah dengar, Komandan? Kemarin Komandan sudah memberikan arahan penuh pada kami untuk rencana operasi hari ini."
"Perintah ditarik. Tidak ada pasukan, hanya saya sendiri. Sudah jelas, Sersan?"
"Siap, Komandan!" Polisi itu pun keluar untuk memberi kabar pada anggota tim yang lain. Sementara itu, Gerald tidak punya banyak waktu untuk merenung seperti yang ia lakukan barusan. Ia segera memasang jaket kulit lantas mengambil kunci motor. Meskipun berkeliaran dengan motor besar membuatnya lebih kelihatan seperti divisi lalu lintas, tetapi Gerald lebih nyaman menyamar seperti itu. Takkan banyak orang tahu jika sesungguhnya ia adalah kepala satuan reserse kriminal yang sedang menjalankan tugas.
Kebiasaan yang sudah melekat pada Gerald sejak bergabung di kepolisian ini sebetulnya punya alasan tersendiri.
***
Tidak seorang pun bisa menggugat Gerald hari ini. Komandan polisi itu muncul saat sinar matahari telah beranjak dari puncak pepohonan yang mengelilingi vila Ricci. Olivia beserta sang putri sedang berganti peran dari majikan menjadi upik abu. Keduanya mengurung di kamar setelah insiden pagi ini di meja makan. Sementara itu, Nina dan Sindoorah sedang berada di halaman depan untuk berjemur dan berjalan-jalan. Nina kini bisa bergerak bebas di vila bagaikan sang pemilik sah dan ia tidak keberatan untuk berbagi hak istimewa tersebut bersama Sindoorah, Si Tuan Kelinci bernasib sama dengannya.
Bunyi motor Gerald terdengar lamat di kejauhan. Kuping Sindoorah menegak, meskipun wujudnya kini bukan seekor kelinci ataupun anak kecil dengan setelan hoodie kuping kelinci. Meskipun demikian, Sindoorah tidak berusaha memperingatkan Nina karena ia punya alasan untuk khawatir sekarang. Sejauh ini, persekongkolan antara ia dan Nina memang belum terdeteksi.
Bunyi motor berhasil mencuri perhatian Nina ketika Ducati tunggangan Gerald muncul di tikungan masuk jalan utama menuju vila. Sudah terlambat bagi Nina untuk bersembunyi setelah Gerald menurunkan helm dari kepala, lantas memandangi pria berkulit putih bersih dengan rambut agak berantakan di samping wanita itu. Kemeja kasual yang ia pakai dengan dua kancing terbuka, jelas menunjukkan bahwa pria ini bukan tamu sekadar singgah atau lewat begitu saja.
Kemunculan Gerald segera menciptakan riak ketegangan di udara. Sang komandan mengernyit saat menyaksikan tangan Sindoorah langsung bertengger di belakang punggung Nina dan pria itu menarik Nina mendekat ke sisinya. Ada sikap mengancam terpancar di wajah Sindoorah. Mungkin akibat kehadirannya yang menyela waktu santai kedua orang itu atau ia mungkin dipikir adalah bagian geng motor jalanan yang kerap membuat kericuhan.
"Beliau adalah tuan detektif, kepala polisi di Bukit Halimun," ujar Nina dengan senyum mengembang yang tampak tidak alami di mata Gerald saat sang komandan turun dari motor.
Gerald pun merasa terganggu mendengar nada kewajaran setengah ejekan terucap dari lisan Nina, terlebih ketika wanita itu kelihatannya tidak berusaha menepis tangan Sindoorah dari punggungnya.
"Selamat pagi, Nyonya Nina dan Tuan ...."
"Sin!" Nina menyebut nama Sindoorah dengan lantang. Ia bisa merasakan tepukan pelan si Pria Kelinci di garis tulang belakangnya, seakan Sindoorah ingin menyelisik dan mengupas bagian itu dari daging yang melekat andai Nina nekat menyebutkan nama Sindoorah lebih jauh.
"Perkenalkan, saya Gerald. Nyonya Nina sudah berbaik hati menyebutkannya barusan," tukas Gerald sebal pada wanita itu yang selalu saja bersikap di atas orang lain. Nina tidak membiarkannya mengambil alih situasi seperti biasa.
Gerald pun melontarkan tatapan penuh tanda tanya pada Nina yang justru tampak bangga telah menularkan kebiasaan buruk pada si pria asing--memelesetkan panggilannya bagai lelucon murahan. Gerald menahan diri untuk tidak mendengkus ataupun menggeleng di depan mereka. Sebaliknya, Gerald mengamati wajah Sindoorah lebih lekat. Rambut hitam legam dan mata gelapnya mendorong Gerald untuk berkata, "Anda pasti bukan suami Nyonya Nina. Sepengetahuan saya, Nyonya Olivia dan putrinya rambut cokelat dan mata biru."
Sindoorah mengulas seringai tidak beraturan. "Saya bukan orang biasa, Tuan Detektif. Apalagi jika dibandingkan dengan suami Nina si tukang selingkuh yang sering membuat partner saya ini menangis."
"Partner?" Pengakuan Sindoorah segera mengaktifkan tombol kewaspadaan dalam diri Gerald.
"Partner in heart!" Nina terkekeh menyela. "Tuan Sin adalah orang kepercayaan saya dalam berbagi urusan hati. Dia penasihat terbaik di kota ini. Hehe." Sindoorah ikut tersenyum menimpali kelakar Nina yang ambigu. Si Pria Kelinci bisa melihat ekspresi Gerald yang terpaku dengan wajah memerah terbakar dan ia akui cukup lucu sebagai hiburan untuk menyemarakkan suasana di pagi hari.
Alih-alih membiarkan emosinya bangkit dipermainkan oleh Nina sejak dulu, Gerald kembali tertarik mengamati pria di hadapannya lebih saksama. Ia tidak bisa menemukan keanehan dalam diri pria itu selain kedekatan sikapnya yang tidak biasa pada Nina dan aura tidak biasa manakala tatapan mereka bertemu secara sengaja. Gerald merasa ada sesuatu yang salah. Sebaliknya, pria di hadapannya terus mengukir senyum yang seolah tak bisa lepas dari wajah.
"Maafkan saya, Nyonya Nina. Saya tidak bermaksud menganggu waktu privasi Anda berdua." Sedikit menyesal, Gerald mengungkapkan perasaannya. Mungkin lebih baik tadi ia kerahkan saja tim operasi untuk menggeledah vila dan menyeret Nina Ricci daripada menjadi saksi main serong wanita ini, pikirnya kesal.
"Saya juga tidak akan berbasa basi, Kepala Detektif. Saya tidak menyangka Anda bakal kembali ke tempat ini setelah peristiwa lusa." Senyum di wajah Nina lenyap saat mengucapkannya.
"Tunggu, kita harus membicarakan ini berdua di tempat yang lebih personal," ujar Gerald tegas. "Kedatangan saya ke sini bukan untuk bermain-main. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Anda dan Nyonya Olivia."
"Benar, Sin?"
Nina malah bereaksi aneh dengan segera menengok ke arah pria di sampingnya yang katanya partner in heart, hingga gelegak kegusaran di dada Gerald kian tak terbendung.
Sindoorah hanya mendengkus. "Urus masalahmu sendiri kali ini, Nina. Aku tidak ingin terlibat." Sindoorah melepaskan tangannya dari punggung Nina lantas berbalik pergi.
"Sin, kamu mau ke mana?" panggil Nina, berharap si Pria Kelinci tetap di sampingnya.
"Kau cuma partner in heart yang tidak asyik. Lebih baik aku mencari partner in bed yang lebih realistis daripada boneka tanpa hati sepertimu."
Mendadak Gerald diserang canggung sekaligus kebingungan ketika Nina berpaling menatapnya tajam. "Anda sudah mengusir partner saya." Gerald merasa posisinya lebih seperti penjahat dibandingkan penegak hukum setiap kali berhadapan dengan Nina dan segala sikapnya yang eksentrik ini. Namun, sebuncah rasa lega memompa semangatnya yang semula datar kembali mencapai ambang positif.
"Jadi, Tuan Sin bukan selingkuhan Anda?"
Nina mendekat hingga Gerald bisa merasakan napas wanita itu mencengkeram bagian wajahnya yang mendadak sensitif. Debar jantungnya menggila di luar kendali.
"Pertanyaan itu tidak pantas diucapkan oleh Anda, orang yang mencuri ciuman saya usai pesta tempo hari!"
Gerald menggigit bibir seketika bagai kriminal penuh dosa tak terampuni.
***