SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
TUKAR NASIB



Nolan dan Delissa duduk dengan kaku pada sebuah sofa lebar. Di seberang mereka, seorang pria berkulit pucat  penuh bintik pada kulit wajahnya yang mulai keriput, sebaliknya duduk dengan bersandar santai. Ia ditemani oleh wanita paruh baya berwajah ketimuran tapi berkelopak mata lebar yang masih tampak cantik dan tampil alami. Wanita itu terus menyasar mereka dengan sorot mata remeh. Nolan dan perempuan itu berkali-kali bertemu pandang sengit bagai dua musuh lama yang baru bersua.


"Kakek, apa kabar? Sehat?" Nolan berusaha memasang senyum lebar dan mengangguk hormat pada pria di hadapannya, sehingga wanita di sebelah sang kakek tersenyum sinis.


"Tidak usah basa basi. Kamu sok perhatian sama Ayah Mertua saya karena ada maunya, 'kan? Padahal dalam hati, kamu mendoakan beliau cepat mati!"


Nolan nyaris terlonjak dari sofa mendengar tuduhan dari wanita yang tak lain adalah adik ipar mendiang Norman Ricci. Namanya Cecilia Ricci, berdarah Uighur, salah satu suku penyumbang wanita tercantik di dunia. Paras itu pun menurun pada sang putra, Kenneth Ricci, pria dengan penampilan mencolok yang sempat menghalangi Nolan dan Delissa di elevator menuju giya tawang Ricci. Pria itu kini sedang mengganti bajunya karena tadi terkena muntahan Delissa.


"Kok ada hawa perang begini, sih?" Kenneth kini sudah kembali dan berganti baju. Celetukannya mengendurkan suasana yang sempat menegang akibat perkataan Cecilia barusan. Ketika sorot mata Delissa tanpa sengaja melakukan kontak dengan Kenneth, Delissa mengerjap sesaat mengagumi penampilan saudara tiri Nolan tersebut. Kenneth terlihat lebih normal dalam setelan santai keluaran Moe Ricci yang kasual tapi berkelas. Delissa baru sadar, setelah pria itu menanggalkan segala aksesorisnya yang norak, Kenneth ternyata lebih tampan dari Nolan.Ia pun tertunduk dengan kulit wajah merona karena Kenneth kemudian tidak melepaskan tatapan dari Delissa sekejap pun. Pria itu seolah sedang menilai sesuatu dalam diri wanita simpanan Nolan. Harga diri Delissa rasanya tersungkur bagai senilai pajangan di etalase.


Nolan pun merapat pada Delissa dan berpura-pura merangkul wanita itu mesra, hingga Kenneth turut bersiul menyaksikan sikap sepupu tirinya.


"Nolan memang doyan sama cewek-cewek muda polos yang gampang kena kibul, yah," sindir Kenneth tak kalah pedas dari ibunya. Delissa yang paham maksud omongan itu pun langsung mendelik pada Nolan seakan menuntut jawaban, tetapi pria di sebelahnya hanya melengos tidak peduli. Delissa seakan tertampar diingatkan pada kenyataan bahwa Nolan adalah seroang flamboyan dan dirinya korban.


"Untuk apa kamu ke sini?" Suara berat Cornelius Ricci membuat suasana kembali senyap setelah kehadiran Kenneth yang sempat mengalihkan perhatian dengan tingkahnya yang serampangan.


"Sebelumnya, saya ingin menyampaikan salam dari Mami. Beliau tidak bisa ikut sowan ke sini." Nolan menjelaskan dengan intonasi suara terkendali.


"Cih. Olivia hanya wanita simpanan, tidak layak menginjakkan kaki ke tempat ini. Mata kakak ipar pasti sedang buta hingga kepincut ibu kamu! Berpura-pura menjadi wanita terhormat, tapi tetap saja dipungut dari jalan!" Cecilia kembali menyerobot obrolan, seakan tidak sudi mendengarkan kalimat apa pun yang keluar dari mulut Nolan. Melihat putra tiri yang dibesarkan oleh mendiang kakak iparnya saja, ia tidak sudi. Terlebih mengingat riwayat keluarga dari janda dua anak itu yang buram, hingga Olivia dan putra-putrinya tidak pantas masuk dalam daftar keluarga Ricci.


"Cecil."


Cecilia baru mengunci bibirnya setelah Cornelius Ricci menegurnya cukup keras. Ia kalah suara. Andaikata suaminya sedang tidak sibuk dengan urusan perusahaan sekarang, pasti sang suami punya opini yang sama dengannya.


"Kami sudah menyerahkan vila peninggalan Norman kepada kalian. Apa lagi yang kalian inginkan? Kalian bukan keluarga sah dan tidak punya hak menuntut bagian saham yang ditinggalkan oleh Norman di Moe Ricci," tutur Norman Ricci gamblang tanpa bermanis kata sama sekali.


Darah Nolan pun mendidih. Keluarganya telah menanggung malu bertahun-tahun untuk diakui sebagai bagian dari keluarga Ricci, tetapi tidak pernah membuahkan hasil. Namun, tidak kali ini. Nolan bertekad akan mengubah roda nasib diri, ibu, serta adiknya. Mereka tidak boleh menerima penghinaan ini lebih lama lagi! Mereka kini bahkan punya senjata untuk menguasai trah Ricci.


"Kakek Cornelius, kami sadar bahwa kami bukan siapa-siapa dalam kehidupan kalian, tetapi Kakek harus mengetahui fakta ini cepat atau lambat. Kenneth bukan satu-satunya pewaris sah trah Ricci--"


"Lancang, kamu! Kamu berniat menyingkirkan anak saya?!" Cecilia gagal mengendalikan emosinya di depan sang mertua. Ia menunjuk muka Nolan dengan tatapan beringas, seakan ingin mencabik-cabik pria muda itu hingga tidak dapat dikenali lagi. Kenneth pun merangkul Cecilia dengan sebelah lengannya yang kokoh agar ibunya tidak kehilangan muka sebagai wanita terhormat. Matanya yang tajam turut menyasar sosok Nolan dengan buas. Sementara itu, Cornelius Ricci tetap terlihat tenang. Pria tua itu cuma menggeleng kepala tak habis pikir.


"Olivia, Olivia .... Saya sungguh tidak mengerti, apa lagi yang ibu kamu rencanakan," tutur Cornelius heran.


"Lupakan!" hardik Cornelius Ricci dengan mata berkobar marah. "Saya tidak ingin kembali membuka luka lama. Kami sudah kehilangan Norman dan pewaris pertama keluarga ini karena putra saya memilih hidup bersama kalian!"


"Kami menemukan cucu Kakek yang hilang. Ia masih hidup."


"Bohong! Dasar kalian orang-orang licik! Jangan percaya dia, Ayah!" Cecilia teramat gusar mendengar omong kosong dari Nolan. Namun, Cornelius mengangkat tangan untuk menyuruh wanita itu diam.


"Apa kata kamu?" Cornelius bertanya dalam nada penuh keraguan dan menyangsikan Nolan, tetapi tetap saja ia merasa penasaran sampai di mana kebohongan Nolan akan berakhir.


Nolan kemudian merangkul bahu Delissa erat dalam dekapannya. "Delissa, calon istriku, dia adalah cucu Kakek."


Ekspresi semua orang di ruangan itu bagai disambar halilintar seketika mendengar pengakuan Nolan.


"Kami menutupi identitasnya selama ini karena takut keselamatannya terancam oleh kecemburuan Aunty Cecilia."


"Itu fitnah, Ayah! Dia tidak ada mirip-miripnya dengan putri Norman! Aku menyaksikan sendiri saat Kakak Ipar melahirkan di rumah sakit!" teriak Cecilia kalap. Cornelius tertegun akibat syok luar biasa. Pergulatan batin sedang terjadi dalam dirinya tatkala mencoba memperhatikan Delissa yang dirangkul dalam lengan Nolan. Tubuh pria itu gemetar mencoba mencari kemiripan antara Delissa dan cucu pertamanya yang hilang. Kenneth bahkan maju mendekat untuk mengamati Delissa lebih lekat. "Kamu Bonita?"


Delissa menggeragap ditanya demikian. Ia tidak tahu-menahu tentang nama yang disebut oleh Kenneth, apalagi ditimpa radiasi wajah pria itu dari dekat. Namun, Delissa menyembunyikan rasa canggungnya dengan senyum simpul yang dipaksakan.


"Seharusnya, aku bisa mengenali waktu melihat kamu pertama kali bersama Nolan," gumam pria itu sambil mengamati Delissa dengan teliti.


"Menyingkir, jangan dekat-dekat!" Nolan memperingatkan sepupu tirinya untuk menjaga jarak dari wanitanya.


Kenneth pun tertawa geli seraya menatap Delissa yang gentar karena ia ancam. "Kamu harus punya bukti tes DNA dulu sebelum mengaku-ngaku sebagai Bonita," ujarnya.


"Iya, betul! Haha. Ibu bisa menduga hasil tesnya akan seperti apa, Ken. Dua orang ini hanya pembohong dengan nyali besar. Mereka pasti belum tahu bagaimana sengsaranya di penjara karena menyebar hoaks." Cecilia pun tersenyum senang atas kecepatan tindakan Kenneth untuk mengantisipasi situasi. Delissa makin parno sendiri mendengar ancaman kriminalisasi terhadap dirinya. Ia .


"Asal kalian semua tahu, saya punya bukti!" Nolan melepaskan Delissa, lalu bangkit dengan bahasa tubuh menantang. Ia siap berperang dengan para pewaris trah Ricci yang angkuh ini.


"Delissa atau Bonita, kini juga tengah mengandung anak saya ...." imbuhnya dengan desis penuh kemenangan. Cornelius Ricci meraih sandaran kursi di belakangnya. Pria berumur itu nyaris pingsan.