SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
SULAP ALA NINA RICCI



“Nao! Naomi!” Olivia mengetuk pintu kamar putri bungsunya dengan kalap. Naomi sepertinya baru saja mulai berlayar ke pulau kapuk, sehingga sepasang matanya tampak merah ketika membukakan pintu. “Kenapa, Mi?” tanya Naomi sambil menguap. Saat ini, kepalanya sungguh merindukan bantal. Sebagai ganti, ia bersandar ke sisi pintu setengah terlelap. 


“Naomi! Bangun!” Olivia menepuk pipi Naomi tanpa belas kasihan sehingga gadis itu terjaga sepenuhnya. Ibunya sungguh tega, Naomi menatap Olivia jengkel. 


“Kalau dipanggil orang tua, lekaslah menyahut! Jangan naninanini!” Olivia masa bodoh dengan tatap protes Naomi. Ia malah menggusah tangan Naomi untuk sepakat ikut dengannya. Olivia menarik tangan Naomi ke satu arah.


“Ke mana, Mi?” Naomi merengek. Si Wonder Woman itu menampakkan wajah lelahnya tanpa rasa gengsi. Naomi sungguh-sungguh ingin memeluk guling sekarang. 


“Nina,” jawab Olivia pendek. 


“Hah?” Serta-merta mata serupa kenari milik Naomi berkilat gusar. Nina lagi, Nina lagi. “Capek, Miii!” Olivia sudah kelelahan bertarung dengan anak tangga hari ini. Betisnya bahkan menumbuhkan otot cadangan. 


“Malam-malam gini ke kamar dia juga Mami mau apa?” teriak Naomi. 


"Baby Skin Salt punya Mami hilang, Nao!"


"Serius, Mi?" tanya Naomi tidak percaya. Ibunya sampai rela terbang ke Eropa Timur untuk membeli sabun mineral langka yang harganya supermahal itu, lalu sekarang benda itu hilang? Siapa pencuri nista yang berani melakukannya?


"Ninaaa!" Naomi berteriak melengking. Ia saja tidak diberi Olivia sabun mandi dan semua aromaterapi mewah tersebut, tetapi Nina malah dengan gampang mengambilnya.


"Mami pelit, sih, sama aku! Nina, kan, jadinya yang pakai!" Naomi mengomel sepanjang perjalanan mereka ke kamar Nina di lantai dua. Padahal, Naomi sudah lelah luar biasa sepanjang sore mengejar Nina. Wanita itu kini seakan punya kemampuan berteleportasi ke mana saja menjelajah seisi vila.


Sore itu, Naomi marah besar karena insiden ayam panas di ruang makan. Nina menghilang dan Naomi mengejar ke kamar Nina, tetapi wanita itu tidak ada di sana. Naomi memeriksa seluruh kamar dan ruangan di lantai dua, tetapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Nina. Naomi sampai menelepon sang ibu untuk meminta bantuan mencari di lantai satu, tetapi Nina juga gagal ditemukan.


Setelah mereka menyerah lantas menyeret tubuh ke dapur untuk mengisi energi, tiba-tiba saja Nina ada di sana, duduk santai sambil menyeruput jus pisang cokelat manis dan lezat.


Tanpa merasa bersalah, Nina bilang kalau dia pergi ke kebun liar yang berjarak beberapa puluh meter di dekat vila untuk memetik buah pisang. Padahal, Nina paling takut ke tempat sepi begitu. Katanya, pasti banyak hantu.


"Ninaaa!" Pintu kamar Nina digedor keras-keras oleh Naomi. Sementara, Olivia membantul dengan berteriak.memanggil Nina.


Kriet.


"He, Nin--ah!" Naomi malah terjerembap ketika bermaksud merangsek mencengkeram baju Nina karena ternyata tidak ada siapa-siapa di balik pintu. la dengan sigap bangkit lantas mundur ke sisi ibunya. Suasana langsung terasa mencekam hingga Olivia dan Naomi merinding sekujur tubuh.


"Nina!" Ibu dan anak itu saling menempel erat saat melangkah masuk. Di dalam, kamar Nina terlihat sepi. Hanya seprai kusut yang menjadi pertanda bahwa di sana pernah ada seseorang sebelumnya.


Lalu, tercium sekilas aroma yang sangat dikenal oleh Olivia hingga ia nyaris berteriak. Sumbernya berasal dari satu sudut di dalam kamar. Olivia bertukar pandang dengan Naomi sesaat. Bagai dikomando, tatapan keduanya sama-sama tertuju pada pintu kamar mandi yang berada di pojok ruangan. Pintu itu terbuka sehingga tampak kamar mandi terang-benderang. Olivia bisa mendengar Naomi mendengkus kasar di sisinya seolah .berkata, "Awas, kau, Nina." Mereka pun mendekat tanpa suara dan bermaksud menangkap basah Nina yang mungkin sedang berpura-pura mandi hingga tidak manjawab panggilan.


Olivia dan Naomi bersiaga menempel dinding, lalu dalam satu aba-aba dari Olivia, keduanya menghambur ke dalam kamar mandi.


"Nina!"


Namun, harapan itu sirna ketika mereka melihat tidak ada siapa pun di dalam. Hanya saja, bak mandi penuh busa melimpah seperti habis dipakai berendam. Dari sanalah aroma wangi Baby Skin Salt berasal, meskipun botolnya berada entah di mana.


"Naomi, kamu bisa cium bau busa di bak, 'kan?' tanya Olivia setengah berbisik untuk memastikan. Naomi mengangguk. "Tapi, Ninanya mana, Mi?" balas Naomi bingung. Jika dipikir-pikir, aneh sekali Nina bisa meninggalkan tempat itu dalam sekejap mata untuk bersembunyi dari mereka. Sungguh tidak wajar, seperti bukan Nina bodoh yang mereka kenal.


"Mandi."


"Ih, bekas Nina, Mi!" Naomi buru-buru mengingatkan. Ia memasang wajah kecut.


"Sabun punya Mami semuanya hilang, padahal Mami mau mandi sekarang. Gerah, tahu?"


"Mami bisa pakai punyaku!"


"Sabun kamu merek murahan!"


"Daripada pakai bekas Nina, Mamiii. Lagi pula, tempat ini juga bau jigong. Huekkk!" Naomi membuat ekspresi ingin muntah. Namun, terlambat. Gadis itu memelotot sejadi-jadinya karena Olivia sudah masuk berendam dalam bak.


"Mami ngapain?!" Olivia bersikap seolah-olah ibunya sudah tidak waras.


"Ssst! Diam. Mengganggu saja."


"Mi, aku beneran cium bau jigong!"


"Bau kamu sendiri, kali? Kamu, kan belum mandi?"


Nina menyaksikan kekonyolan ibu mertua dan adik iparnya itu dengan menahan tawa. Sedari tadi, ia ada di sana, tetapi tidak terlihat karena pandangan batin Olivia dan Naomi ditutupi oleh para hantu. Lalu, bau jigong yang dicium oleh Naomi tadi sungguhan. Seorang hantu tertarik pada gadis itu dan mendekati wajah Naomi hingga Naomi bisa mencium bau jigong dari mulut si hantu yang terbuka.


Rasanya sungguh mengasyikkan, bahkan sebelum puncaknya, pikir Nina di awang-awang. Ia pun mulai melancarkan serangan tehadap Olivia. Nina menggelitik jari kaki wanita itu di dalam air.


"Ahahaha!" Olivia tertawa lantaran kegelian. Cuma sebentar, sebelum wajahnya memucat seperti kertas. Sedetik kemudian, Olivia keluar dari bak penuh rasa takut. Untung badannya penuh busa sehingga Naomi tidak ter-ninaninani melihatnya.


"Ada tangan di air, Naomi!" ujar Olivia panik sambil memasang baju.


"Hah? Mami serius?" Naomi masih sibuk mengusir bau jigong yang makin kuat. Hantu yang mengikuti Naomi sejak tadi, kini menjilat-jilat wajah gadis itu sampai liurnya menetes. Naomi sendiri lalu bergerak mendekati bak, lantas mencelup tangannya ke dalam air karena penasaran. Hampir seluruh lengan Naomi tenggelam dalam busa yang meluber.


"Mana?" Tangan Naomi tidak meraih benda apa pun di dasar bak mandi. Ia tidak tahu jika Nina sekarang berdiri di dekatnya. Dengan satu dorongan, Nina mencelupkan kepala Naomi ke dalam air.


Naomi berontak dan mengangkat kepalanya. Wajahnya pun penuh busa seperti topeng, lalu terbentuk sepasang lubang tatkala matanya mengerjap panik. Olivia menatap heran kelakuan putrinya.


"Ada yang mendorong kepalaku, Mi!" seru Naomi dengan nada suara tidak beraturan.


"Siapa?" tanya Olivia kaget. Di saat itulah, Nina melempar botol Baby Skin Salt ke arah mertuanya--mengenai kepala Olivia hingga wanita itu mengaduh. Ketika melihat benda yang ia cari-cari terguling di dekat kakinya, Olivia langsung memungut benda itu dengan gembira.


"Sabun Mami, Nao! Ketemu!" Olivia mengangkatnya kegirangan seolah baru saja memenangkan sebuah piala. Hingga benda itu meledak--tutupnya mencelat ke seberang dinding dan isinya berhamburan ke mana-mana--Olivia dan Naomi kini ditempeli aroma jigong yang kuat dan tidak bisa dibilas selama berhari-hari.


Olivia dan Naomi kocar-kacir keluar dari kamar mandi.


...***...