SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
SUAMI HILANG



Satu hari pasca-serangan cemani, sang ibu mertua telah menuai benih kejahatan yang wanita itu tanam. Olivia sampai memohon kepada Nina--merendahkan harga selangit milik wanita itu--untuk membebaskan dirinya dari rongrongan hantu paranormal surjan yang berhasrat menggerayanginya setiap saat. Olivia lebih memilih kehilangan muka di mata sang menantu daripada wibawanya hancur di depan si bungsu, Naomi, akibat ia kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.


"Olivia baru saja bilang kau iblis laknat," bisik Sindoorah di telinga Nina. Setelah terlepas dari gangguan hantu paranormal surjan, Olivia langsung kembali ke kamar Naomi, lantas mengurung diri di sana macam orang depresi. Kedua orang tersebut tidak akan keluar hingga butuh sesuatu untuk dimakan. Sementara itu, Sindoorah mulai menempeli Nina ke mana-mana--kecuali kamar mandi--dalam dua puluh empat jam, hingga lama-lama Nina mulai terbiasa dengan aksesoris hidup tersebut. Nina pun protes, "Kamu yang berbuat, aku yang menanggung akibatnya, Tuan Sin."


"Begitulah cara kerja kontrak, Nina," tukas Sindoorah seraya mengedipkan mata. "Aku meminjamimu kekuatan, sedangkan kau memberiku kesenangan. Selebihnya hanya soal makanan."


Nina menghela napas panjang karena eksistensi Sindoorah terasa kian mendominasi vila Ricci. Antara keinginannya sendiri dan kesenangan Sindoorah kini telah bercampur baur, Ia mulai memikirkan kebenaran kata-kata AKP Gerald. Balas dendam ini terasa manis sesaat, tetapi menggerogotinya perlahan dari dalam seperti apel busuk.


Dengan kegusaran meluap-luap, Nina menjambak kuping Sindoorah. Kuping yang semestinya berbentuk panjang, berbulu, dan berujung meruncing dalam wujud aslinya tersebut, kini tenggelam sempurna dalam genggaman tangan Nina. Kepala Sindoorah ikut tertarik oleh beban tubuh Nina, hingga siluman kelinci tertunduk ke arah wanita itu. Hanya ada kobaran amarah dalam binar mata Nina ketika mengultimatum si pria kelinci. "Aku yang mengatur di sini dan aku akan menendangmu kapan saja jika kamu terasa menyebalkan buatku, Tuan Sin!"


Kelopak mata Sindoorah pun menyipit meremehkan mendengarnya. Ia meringis seraya memamerkan barisan gigi yang putih dan rapi, terlihat normal, tetapi tetap saja tampak mengancam. "Jangan lupa, hatimu ada padaku. Jika terjadi sesuatu pada hatimu, aku tak 'kan menjamin keselamatanmu, Nina."


Hebat, kini mereka posisi tawar yang sama-sama kuat. Nina tidak punya pilihan selain melepaskan cengkeramannya di kuping Sindoorah. Sebaliknya, pria kelinci itu lantas mengusap-usap kepala Nina sebagai tanda superioritas.


"Hari-harimu setelah ditinggal suami dan nyaris mati pasti berat. Kau butuh pelampiasan, Nina. Kau bisa menggunakanku, asal tahu saja."


Nina menggusah tangan Sindoorah dari kepalanya seraya berkata gusar. "Hari-hariku sebelum ini bahkan jauh lebih berat. Aku tidak semenyedihkan yang kamu pikir, Tuan Sin. Cukup Nolan satu-satunya pria yang berani menjajahku, jadi jangan bermimpi kamu juga bisa menyentuh tubuhku!" Nina beranjak sehabis berbicara demikian. Ia segera mengingatkan Sindoorah untuk tidak mengikutinya kali ini karena Nina punya rencana lain untuk melampiaskan kekesalannya.


Apalagi kalau bukan mandi sambil menikmati pijatan surgawi ala hantu sinshe. Sudah berhari-hari rasanya Nina tidak bersantai memanjakan diri.


Setelahnya, Nina melepaskan ketegangan yang harusnya ia lakukan sejak dulu. Seperti kata Sindoorah, ia butuh pelampiasan.


***


Nolan ingin memaki sepuas hati tatkala ia ditendang keluar begitu saja dari pertemuan pribadi keluarga Ricci. Statusnya sebagai putra angkat Norman Ricci masih belum diakui, padahal dialah orang yang telah membawa Delissa alias Bonita palsu kemari. Orang-orang itu memperlakukannya seperti kurir dengan bayaran rendah.


Rencana Nolan kini bergantung sepenuhnya pada sandiwara Delissa. Nolan hanya bisa menunggu di emperan dengan cemas, berharap Delissa tidak salah bicara atau kebohongan mereka akan terbongkar. Namun, siapa yang akan tahu jika mereka saja telah lama kehilangan Bonita, hingga memercayai gadis itu sudah mati?


Kalau sampai terjadi kesalahan, Delissa harus menggugurkan kandungannya. Nolan tidak sudi mengakui anak dalam perut Delissa tanpa adanya jaminan masa depan.


Maka, Nolan kembali memaki dalam hati ketika melihat Delissa keluar dari apartemen. Tidak sendirian, tetapi bersama sepupu tiri laknatnya. Namun, kelegaan terpancar di wajah Nolan saat melihat cara Kenneth menggiring wanitanya dengan lebih ramah dibandingkan sebelumnya.


Dalam kondisi normal, mestinya ia merasa cemburu terhadap tangan Kenneth yang kini melingkari pinggang Delissa. Kenneth bahkan mengecup pipi Delissa sebelum mereka berpisah.


"Kamu." Sebaliknya, Kenneth menunjuk Nolan di wajah dengan cara tidak sopan. "Kakek butuh waktu untuk mencerna laporan tes DNA yang kalian bawa, sebelum beliau ingin mendengar ceritamu. Kamu dalam masalah besar, Bro. Menikahi putra pamanku, saudara tirimu sendiri, bukannya langsung mengantarkan Bonita pada kami," kecam calon pewaris kedua itu.


"Ya, walaupun kamu sangat tidak pantas," balas Kenneth kecut. "Kalau bukan karena bayi itu, pasti aku yang akan menikahi Bonita." Kenneth lantas melirik ke arah Delissa. "Sampai jumpa, Honey. Berdoa saja Nolan tidak membunuhmu."


Setelah puas melayangkan sindiran tajam dan menyaksikan sendiri dampaknya pada Nolan hingga wajah pria itu berkedut, Kenneth berbalik masuk. Sosoknya menghilang di balik pintu otomatis seraya diiringi tatapan kaku Delissa.


"Apa yang kamu pikirkan? Jangan berani-berani terpesona padanya atau berpikir untuk mengkhianatiku!" Nolan menghardik wanita yang sempat menjadi nomor satu di hatinya, tetapi posisi Delissa kini seolah berada di lain dunia. Wanita itu pun terperanjat luar biasa mendengar tuduhan Nolan yang tak tanggung-tanggung.


"A-aku cuma kaget karena tiba-tiba menjadi pewaris utama keluarga Ricci," tukas Delissa membela diri. Namun, Nolan malah menunduk untuk berbicara padanya--bukan sebuah keintiman, tetapi intimidasi skala penuh. "Kamu hanya boneka, akulah pewaris utamanya. Kenneth pun ingin menikahimu? Sepupu tiriku itu pasti sudah gila hanya demi harta!"


Delissa tampak ingin protes bahwa kegilaan Kenneth sebenarnya tidak jauh berbeda dari kegilaan Nolan, tetapi mulutnya terkunci tidak berani. Ia hanya boneka di antara dua pria yang berebut takhta.


Delissa memegang perutnya dengan perasaan terguncang, sadar bahwa dirinya telah terjebak dalam permainan berbahaya. Delissa bahkan tidak tahu Bonita itu siapa! Delissa hanya tahu jika ia adalah perebut suami dari seorang istri bernama Nina yang ingin diakui sebagai bagian dari keluarga Ricci.


***


Terkurung dalam kamar apartemen yang sempit bersama Delissa dan aroma kehamilan membuat Nolan engap. Ancaman situasi mendadak akibat interupsi Kenneth yang tidak terduga juga menambah kadar kekesalan. Maka, Nolan serasa dihujani berkah tatkala menerima panggilan video yang tak disangka-sangka. Datangnya dari Nina. Istri yang semula ingin ia lenyapkan dari muka bumi itu seolah menjelma jadi penyelamat suasana hatinya yang sedang porak-poranda.


Bagaimana tidak? Ia melihat Nina bagai bidadari bercahaya turun ke dunia. Begitu kemilau karena kulit putih mulus Nina nyaris terekspos sempurna di balik balutan lingerie yang kerap ia pikir seksi. Nina seolah tahu bagaimana cara berkomunikasi dengannya setelah peristiwa menegangkan belakangan, tidak peduli betapa suramnya hubungan mereka setelah itu.


Nina memang istri sempurna--andai bisa punya anak.


Delissa pun berbaring sedih di ranjang karena tahu Nolan menerima telepon dari siapa. Delissa cemburu, tapi tidak mampu berbuat apa-apa karena bagaimanapun juga, Nina masih istri sah Nolan dan berhak menghubungi pria itu kapan saja.


Ketika Nolan buru-buru mengurung diri ke kamar mandi untuk melanjutkan obrolan yang terdengar panas, hati Delissa kian terbakar. Ia beranjak menguping, lantas mencoba mencari perhatian Nolan dengan berpura-pura ingin muntah, tetapi sama sekali tidak digubris. Nolan sama sekali tidak ingin berbagi waktu atau kamar mandi dengannya.


Merasa siap kehilangan kewarasan kapan saja, Delissa pun bergegas keluar kamar. Ia merasa tidak perlu pamit sama sekali. Nolan juga tak 'kan peduli.


Tangis Delissa langsung pecah setelah ia keluar dari gedung. Delissa merasa mimpi-mimpi indah yang semula bisa ia raih bersama Nolan, jatuh ke dasar bumi, sementara ia tidak punya parasut untuk menyelamatkan diri.


"Bonita, ada apa?"


Kenneth tiba-tiba muncul, sepertinya baru keluar dari mobil mewah keluaran terbaru yang berhenti tak jauh dari posisi Delissa. Wanita itu tidak sempat menyahut karena dunianya terasa berputar, lalu diliputi oleh kegelapan.