SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
APPETIZER



Nina sengaja mengunci lengan Komandan Gerald sebelum pria itu menyadarinya. Ia sama sekali tidak peduli pada tatapan panas dari Olivia dan Naomi di balik punggungnya. Nina melakukannya untuk menandai sang komandan, menunjukkan kepada para hantu pengikutnya bahwa pria itu bukanlah ancaman untuk saat ini. Para hantu yang dihadiahkan Sindoorah kepadanya tidak bisa berbicara, tetapi mereka bisa diajari dan diperintah sesuka hati. Kini, Nina sedang mengajari mereka untuk bersikap baik kepada seorang ‘teman’. 


“Apakah Anda mau melihat sesuatu yang menarik di rumah ini terlebih dahulu, Tuan Kepala Detektif?” Nina menoleh pada pria di sampingnya. Ia juga bisa mendengar napas tertahan dari dua wanita yang mengekor seperti bebek--mengawasi--di belakang mereka. Pria itu balas menoleh dengan tatapan tanda tanya. Jelas tertarik. 


Dengan melihat reaksi positif tersebut, Nina dalam versi dirinya yang dulu, mungkin akan segera menarik polisi itu ke kamarnya, lalu menunjukkan TKP, yakni bak mandi terkutuk yang nyaris merenggut nyawanya tempo hari. Ia bisa langsung menunjuk Olivia dan Naomi di depan hidung mereka. Namun, bukan itu rencananya. Terlalu mudah. 


“Baiklah.” Jawaban singkat Komandan Gerald menerbitkan senyum simpul di bibir Nina yang dipoles pelembab merah beri segar, sebagai aksen dari gaun model kimono simpel yang ia pakai, tetapi tujuh angka nol di belakangnya mampu membuat Olivia gila, bahkan terkena serangan jantung karena Nina membayar gaun mewah itu dengan kartu kredit mertuanya. 


“Ikuti saya, Tuan Kepala Detektif.” 


Mau tak mau, Gerald mengulum senyum di bibir. Memangnya, ia punya pilihan apa dengan Nina yang mengunci lengannya sekarang. Sementara, Olivia dan Naomi makin bernapas tidak beraturan ketika Nina mengajak sang komandan untuk naik ke lantai dua. Naomi mulai berhitung taktik untuk menaklukkan polisi itu jika situasi berubah di luar kendali. Ia belum tahu kemampuan bertarung sang komandan, tetapi dengan membandingkannya dengan Sersan Andi yang bertubuh buldoser, pasti akan lebih gampang. Naomi merasa percaya diri akan kemampuannya karena dia sudah sering menggunakan Nolan, kakaknya dulu sebagai samsak hidup. 


Jantung Olivia dan Naomi pun hampir copot saking leganya ketika Nina dan polisi itu justru berjalan melewati kamar Nina, langsung lurus menuju balkon di lantai dua. Mereka berdua berpikir telah melakukan kebodohan dengan tidak mengunci kamar Nina sebelumnya, lalu membuang kuncinya ke kloset agar sang komandan tidak bisa memeriksa ke dalam sana. Maka, Olivia pun melirik penuh arti kepada putrinya, sehingga Naomi berinsiatif angkat suara di tengah perjalanan mereka. “Saya permisi ke bawah dulu untuk memeriksa hidangan, Ladies and Gentleman.” 


Nina dan Gerald spontan menoleh ke belakang. Nina tidak peduli, tetapi sang komandan seolah menyimpan teka teki di kepalanya. Ketika melihat Olivia masih bersama mereka, pria itu pun berpikir tidak apa-apa kali ini untuk melepaskan Naomi dari pandangannya. 


“Ada sesuatu yang salah, Komandan?” tanya Olivia saat menyadari tatapan polisi itu sesaat mengikuti arah kepergian Naomi.


Gerald menggeleng. “Anda memiliki putri yang cantik.” Senyum Olivia terbit. Ia berharap bisa menangkap ekspresi kecemburuan di wajah Nina saat sang komandan memuji adik iparnya, yang bisa Olivia gunakan untuk menjebak Nina, tetapi ekspresi menantunya itu sama sekali tidak terbaca. Justru ekspresinya sendiri yang memucat ketika sang komandan menambahkan. “Putra Anda pasti juga tampan, ya. Saya berpikir perlu bertemu dengannya lain kali untuk berbicara.”


“Be-berbicara?” Olivia diserang gagap. 


“Ya.”


“Tuan Kepala Detektif, kita di sini bukan untuk membicarakan suami saya, tetapi ada sesuatu yang harus Anda lihat.”


Nina memotong pembicaraan kedua orang itu hingga membuat Olivia merasa terbebas oleh berondongan si polisi. Sekilas, Komandan Gerald bisa menangkap kilat samar di mata Nina kala membicarakan suaminya. Manik cokelat muda milik wanita itu makin jernih saja di bawah pantulan cahaya bulan, tetapi menyimpan misteri. 


“Maaf, saya lupa. Dengan senang hati, Nyonya.”


Mata Nina lantas berbinar hangat dan di mata Gerald tampak seperti madu mencair di puncak es krim--hangat sekaligus dingin. Gerald menyingkirkan sementara teka teki yang meliputi wanita ini dan beralih pada bagian vila yang ingin ditunjukkan oleh Nina. Langkah mereka berhenti di depan balkon yang ditumbuhi oleh mawar liar di tepiannya. Bunga itu menebarkan aroma wangi yang menambah kesan mistis. 


 “Tempat ini sungguh indah malam ini,” puji sang komandan tanpa sadar saat melayangkan tatapan ke luar balkon. Siluet puncak pepohonan tanpa batas, berkilau di bawah cahaya bulan yang bersinar penuh tanpa awan penghalang. Kerlap-kerlip bintang yang berada di sekitarnya pun seakan tertelan oleh kemilaunya. Menatap panorama itu dari balkon lantai dua vila Ricci, mereka seakan berpindah ke sebuah dunia tersembunyi yang agung. 


“Apakah tempat ini selalu indah seperti ini, Nyonya?” 


“Saya penasaran dengan Tuan Norman Ricci. Sudah sepuluh tahun beliau pergi karena kecelakaan, ya?”


Olivia tersengat. Ke mana arah pembicaraan ini? Polisi ini menyimpan sebuah teka teki yang tidak terduga saat mengunjungi tempat mereka. Bukan hanya dirinya, sepasang mata Nina pun berdenyar sesaat. Topik kematian ayah mertua yang belum pernah ia temui adalah sesuatu yang juga menjadi pertanyaan baginya. Itu adalah bagian yang tidak pernah Nina baca dari hati Olivia semenjak ia tinggal di vila ini. 


“Ya.” Olivia menjawab pendek, tidak termakan umpan. 


“Saya tidak mengenal almarhum suami Anda secara pribadi, Nyonya. Tapi, ayah saya sempat menangani kasus ini dulu.”


“Ya, saya ingat.” Olivia menanggapi perkataan kepala polisi itu dengan dingin. 


Kedua sudut bibir Nina tertarik samar. Ia sungguh menikmati adegan yang sedang berlangsung di hadapannya seraya mempertanyakan akhir dari skenario yang ia siapkan malam ini. Andai kemampuannya yang dulu masih ada, ia pasti sudah menemukan jawaban itu dari suara hati Olivia. Namun, Nina tidak keberatan untuk menikmati alurnya pelan-pelan sekarang. 


“Balkon ini memang indah, ya? Yah, tapi … siapa tahu bisa saja menyimpan kengerian yang tidak kita tahu. Maklumlah, bangunannya sudah tua, warisan nenek moyang.” Nina menyela.


“Maksud Anda?” 


“Coba Anda tengok ke bawah, Tuan.” Nina mengajak Komandan Gerald untuk melihat ke dasar balkon yang langsung terhubung dengan taman. Olivia ikut-ikutan melongok. Ia penasaran dengan isi pikiran menantunya yang mendadak aneh dan penuh kejutan.


“Menurut Anda, apakah cukup untuk membunuh seseorang jika terjatuh dari ketinggian ini?”


Ekor mata Gerald terangkat otomatis untuk menatap Nina langsung ke manik matanya. “Tiga meter. Sepertinya tidak, tapi mungkin saja mematahkan beberapa tulang.”


“Ah, betul juga. Saya masih hidup setelah jatuh ke dalam sumur sedalam lima meter,” gumam Nina yang ditujukan seakan pada dirinya sendiri. Alis tebal Komandan Gerald benar-benar terangkat kali ini. Insiden seorang wanita yang gagal ia tolong tempo hari ternyata bukanlah ilusi, lalu wanita itu kini berdiri di hadapannya bagai menambah misteri. 


“Ada sesuatu yang ingin Anda katakan, Nyonya Nina?” Gerald langsung mengincar wanita itu dengan tatapan mereka yang masih mengunci dalam teka teki. Namun, skenario itu dipupus oleh Olivia yang maju di antara mereka berdua. 


“Nina, tidak baik membuat tamu menunggu untuk menikmati makan malam.”


Nina tidak merasa terganggu dan tersenyum pura-pura kepada Olivia hingga mertuanya disergap rasa dingin yang bukan berasal dari hawa dingin di luar. “Tentu saja, Mami.”


...***...