
Gerald melongok ke dalam sumur dengan memicingkan mata untuk melihat lebih jelas. Matanya berusaha menyorot keremangan di bawah. Sumur itu ternyata memiliki kedalaman tak lebih dari lima meter.
"Sial!" Gerald mengumpat di antara rasa sesal dan kesal karena tidak menemukan sosok wanita yang ingin ia tolong tadi. Yang ada hanya onggokan kerakal pada tanah secoklat gula merah. Dindingnya pun terlalu curam untuk dituruni karena bentuk sumur yang melebar di bagian bawah seperti botol. Botol pengisap manusia yang terbenam di bawah tanah. Menemukan fakta bercampur opini menggelikan tersebut, tatapan Gerald berusaha menyisir sepanjang dinding apakah ada semacam gua tersembunyi di bawah sana. Namun, jarak pandangnya menumbuk kegelapan. Ada titik buta di dalam sumur yang tak terjangkau oleh penglihatan.
Gerald beranjak cepat meninggalkan sumur lantas keluar hutan. Ia menuju motornya yang ditinggalkan begitu saja di sana, lalu kembali ke mobil patroli untuk melakukan komunikasi radio ke pusat. Ia akan mengerahkan tim evakuasi untuk turun menjelajah kedalaman botol.
...***...
Tangan Nina tergelincir dari tangan sang penolong seperti kehidupannya yang tergelincir begitu saja pada takdir terjal yang gagal ia daki. Nina pikir, ia akan selamat berkat kemunculan seorang pria asing bermata teduh bak langit malam--berharap bisa bersembunyi dalam genggaman kekuasaan yang dimiliki oleh jemari besar pria itu. Namun, takdir kembali berkhianat. Ia lupa bahwa tiada seorang pun sanggup menariknya dari ancaman kegelapan yang tertarik menuju dirinya bagai kumparan magnet. Sejak dulu, hidupnya senantiasa dihinggapi sial.
Dan, kesialan itu bertambah sempurna rasanya ketika Nina mendarat di sebuah tempat yang sama sekali tidak ia kenal. Namun setidaknya, tanah yang menyambut tubuhnya ternyata tidak sesakit dasar bak mandi mewah di vila keluarga Ricci yang nyaris menjadi peti matinya. Nina tidak tahu tempat yang lebih buruk daripada rumah suaminya. Sialnya, para polisi pun terkecoh oleh kebusukan bermuka dua Olivia dan Naomi. Bakat sandiwara mereka memang patut diacungi jempol sekaligus kutukan.
Sebuah kilau cahaya tiba-tiba mengagetkan Nina. Ia mengerjap sesaat karena silau dan mengangkat telapak tangan di atas kepala sebagai perisai. Setelah matanya beradaptasi, ia bisa melihat pada langit-langit, lubang di mana ia jatuh tadi telah digantikan oleh bulan purnama yang dikelilingi halo berlapis-lapis hingga menelan taburan bintang bagai berlian di sekitarnya. Tempat itu sebetulnya tidak terlalu menakutkan, andai Nina tidak ingat kalau ia telah jatuh ke dalam sebuah sumur.
"Selamat datang di dunia bawah tanah bilik nomor tiga belas, Nona Polkadot Merah Jambu!"
"Aaah!" Nina menjerit nyaring ketika terdengar seseorang menyapa. Bukan hanya itu. Begitu Nina mengalihkan pandangan, tiba-tiba ia sudah terdampar secara sulap dalam tempat ramai penuh muda-mudi menari di lantai dansa seperti klub malam. Bulan indah di langit telah berganti menjadi bola lampu disko gemerlapan. Ingar-bingar musik keras yang berdentum dari bilik kaca DJ di depan panggung, menusuk kedua telinga sensitifnya. Nina benci tempat seperti ini. Tempat yang justru sangat digemari oleh Nolan untuk pesta sepanjang malam dan penuh wanita. Itulah alasannya.
"Halo?" Nina berusaha mencari keberadaan orang yang berbicara tadi. Ia bergeming di tempatnya yang relatif longgar di tengah lautan manusia. Nina terlampau takut untuk bergerak lantas terseret dalam arus ganas orang-orang yang menari tiada henti seakan mereka adalah boneka mainan yang diisi baterai berdaya tahan lama. Tidak. Nina pernah mengalaminya sekali demi membuntuti Nolan dulu semasa awal-awal menikah. Seluruh tubuhnya lebam dan sakit tergencet di sana sini. Tidak ada seorang pun kala itu sudi mendengarkan permintaan seorang gadis keturunan bule versi mungil agar diberi jalan.
Kebisingan di sekitar membuat mata Nina berkunang-kunang. Pencariannya tersesat di antara kepala-kepala yang terus bergoyang ke sana kemari dan sorot cahaya dari putaran gila lampu disko di pusat ruangan. Kepala Nina mau pecah.
"Hei, aku di sini!"
Seseorang menusuk area pusar Nina dengan telunjuk hingga wanita itu refleks terbungkuk memeluk perutnya. Barulah Nina bisa melihat siapa pelakunya. Seorang anak kecil dengan jump suit dan hoodie berbentuk telinga kelinci yang lebih panjang dari ukuran kepalanya, sedang menatap Nina dengan jengkel.
"Ah, ada anak kecil!" seru Nina tidak percaya.
"Jangan sembarangan! Aku lebih tua darimu, Gadis Kecil!"
Nina malah menutup mulut, makin tidak percaya. Namun, suara parau laki-laki yang keluar dari mulut bocah di depannya memang tidak terdengar seperti suara anak kecil sama sekali.
"Ke-kenapa kau terlihat seperti anak kecil?" tunjuk Nina bingung. Pria kecil berkostum kelinci mendengkus sambil bercekak pinggang. Kelihatannya ia tidak senang. "Karena kamu punya pelindung yang mampu mengubah wujud asliku menjadi kerdil!"
"Aku tidak paham apa maksudmu, Dik--Tuan." Nina buru-buru meralat ucapannya.
"Sungguh. Itu tidak penting. Tapi, kamu telah datang ke tempat yang tepat untuk bersembunyi dari apa pun yang membuatmu kabur ketakutan seperti dikejar hantu."
"Kenapa bicara hantu?" Nina jadi ketakutan. Telapak tangannya menutup kedua daun telinga dengan rapat. Pria kecil di hadapannya malah terkekeh geli.
"Kaupikir, orang-orang di sekitarmu itu siapa?"
Kulit putih wajah Nina memucat seperti tak berdarah akibat perkataan pria itu tadi. Bola mata bundarnya makin membesar saja hingga dua kali lipat. Jeritannya pun tenggelam ditelan hiruk-pikuk para makhluk di sekitar mereka yang ternyata adalah hantu. Si pria kecil makin tergelak hingga bergulingan di atas lantai. Ia tidak menaruh belas kasihan sedikit pun pada Nina yang panik karena tertawan di tempat itu. Namun, ketika air mata Nina mulai banjir, pria itu jadi bosan. Ia mencengkeram kedua sisi wajah Nina agar diam.
Nina menyaksikan si pria kelinci melayang di hadapannya. Jeritannya pun dibungkam oleh sebuah ancaman, "Sekali lagi kau berteriak dan tidak mendengarkan kata-kataku, akan kuperintahkan para hantu itu menciummu satu-satu agar kau berhenti menangis. Nah, apakah sekarang kau siap bekerja sama?" Nina tak punya pilihan selain mengangguk. Ia takut hantu, apalagi dicium hantu. Kenapa pria kecil ini menyebalkan sekali seolah dirinya penguasa segalanya?
"Bagus," ujar si telinga kelinci puas. "Nah, lemaskan dulu bokongmu sejenak." Nina didorong ke atas sofa merah hati, senada warna kostum makhluk itu. Benda itu mendadak muncul dalam sorotan cahaya yang melingkupi dirinya dan si pria kecil. Kebisingan di sekeliling seolah diredam oleh dinding kaca yang mengitari mereka berdua. Nina merasa ia kini berada dalam sebuah ruangan terisolasi penuh kemilau cahaya dengan latar semu di balik kaca, hingga memberi ia perasaan aman. Nina jadi penasaran dengan sosok pria ajaib di hadapannya--kombinasi antara tokoh kelinci pengabul permohonan dalam dunia Alice, sekaligus sosok kelinci bulan. Pria itu duduk dengan lengannya bersandar santai pada sofa di belakang Nina.
"Namaku Sindoorah. Siapa namamu?"
"Hm. Jadi kau dibuang oleh keluargamu." Pria itu menyimpulkan dengan nada penuh empati.
"Be-begitulah." Nina tertunduk sambil meremas tangannya gelisah di atas pangkuan.
"Lalu, nyaris mati hingga akhirnya terjatuh ke sini."
Nina mengangkat wajah dengan mata terbelalak. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
Pria kelinci mengendus udara di antara mereka sehingga telinga hoodie-nya melambai gemulai.
"Aku bisa mencium jejak kematian dari aroma tubuhmu. Malaikat maut pasti pernah berada di dekatmu barusan." Ucapan pria itu menonjok ulu hati Nina hingga kesedihan kembali merayapi. Ia terkenang peristiwa gila yang baru saja ia alami di vila Ricci.
"Air matamu tidak ada gunanya, Gadis Kecil. Dunia penuh makhluk-makhluk buas yang lebih mengerikan daripada hantu! Kau harus belajar cara menjadi lebih kuat untuk menaklukkan mereka--orang yang membuatmu sekarang menangis!"
"Baiklah." Nina mengangguk patuh. Perkataan pria itu terdengar seperti kebenaran mutlak dan tak bisa ia bantah. Nina menghapus air matanya karena malu. "Tapi, aku cuma wanita lemah, Tuan."
Si pria kelinci pun terkekeh geli. "Aku bisa memberimu kekuatan yang akan menjadikan mereka bertekuk lutut di bawah kakimu."
Mata Nina berdenyar sesaat. Tawaran itu terdengar sungguh menarik.
"Tapi ...."
"Apakah kau ingin terus bersembunyi atau disiksa oleh orang-orang itu?"
Nina menggeleng keras, membuat senyum di wajah si pria kelinci makin lebar. Ia mencondongkan wajah dan berbisik halus di depan Nina hingga Nina bisa melihat bayangannya sendiri yang penuh aura berkuasa pada manik kelam mata pria itu. Kelam yang tidak seagung malam, tetapi lebih seperti menyimpan suatu rahasia terlarang. "Mari kita membuat kesepakatan. Aku berikan apa yang kauinginkan dengan satu syarat."
"Apa itu, Tuan?" Jantung Nina berdentum kencang.
"Hatimu." Pria itu menunjuk dadanya. Nina pun terlonjak kaget.
"Bagaimana aku bisa hidup tanpa hati?!" pekik Nina panik.
"Tentu saja bisa. Kau akan hidup seperti aku."
Sepasang bibir dan mata Nina terbuka lebar. Kini ia sadar kenapa sedari tadi ia tidak bisa membaca isi hati si pria kelinci!
"Apakah kita sepakat?" Pria itu kembali merayunya dan Nina mengangguk tanpa sadar di antara bayangan-bayangan buruk masa lalu yang beredar di kepalanya. 'Hantu-hantu' itu mendorongnya begitu kuat--sakitnya ditinggal pergi oleh Nolan demi bayi hasil selingkuh dan nyaris dihabisi oleh keluarga suaminya. Sepertinya, inilah kulminasi perjalanan Nina untuk merebut kekuasaan atas hidupnya sendiri.
"Baiklah, ini tidak akan sakit, malah sebaliknya." Irama cepat pria itu seakan tidak sabar. Nina terkejut ketika sepasang tangan mungil menyasar dadanya, lalu menembus kulitnya seperti sinar laser. Sesuai janji, Nina memang tidak merasakan apa-apa, secara harfiah. Namun, ia merasakan seolah ada sesuatu yang hilang dari dirinya ketika sebuah kristal merah hati ditarik keluar oleh pria itu lalu dimasukkan dalam rongga dada pria itu sendiri.
Indra perasa Nina seketika menumpul, kebas, hingga ia tidak merasakan apa-apa secara fisik. Sebaliknya, ia merasa amat kuat dan berkuasa hingga mampu menggenggam dunia. Napas Nina terengah sesaat.
"Bagaimana rasanya kekuatan?" Makhluk di hadapan Nina telah berubah wujud menjadi seorang pria dewasa setampan malaikat dengan setelan kemeja mahal tapi berkesan simpel dan hangat seperti yang pernah Nina lihat dalam katalog musim panas Ricci.
Nina membalas kata-kata pria itu dengan seulas senyum bengis.
Jadi, begini rasanya ... hebat.