SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
CEMANI TENGAH MALAM



Ayam lada hitam.


Aroma itu menyerbu indra penciuman Nina di tengah malam, meskipun tidak persis sama dengan masakan terakhir yang ia buat untuk makan malam Nolan. Namun, bayangan itu tebersit begitu saja dalam benak. Hanya saja kali ini aroma itu didominasi oleh bau daging ayam mentah yang kelamaan disimpan dalam kulkas.


Mengalami insomnia setiap hari semenjak menguasai kekuatan Sindoorah tidaklah buruk, tetapi jika ada aroma yang mengganggu setelah matahari terbenam dan makin kuat hingga tengah malam, tentu saja Nina merasa terganggu. Berbekal rasa penasaran, Nina kemudian memutuskan keluar kamar lantas bergerilya mencari sumber aroma tak sedap tersebut.


Penggeledahan pertama tidak jauh-jauh dari tempat favorit Nina. Dapur. Bisa dibilang, Nina kecil adalah gadis yang tumbuh besar dan akrab dengan suasana dapur.


Yatim piatu sejak ia mampu mengingat memori pertama tentang dunia luar, wajah yang pertama kali Nina hafal adalah Aki Permana duduk di meja dapur sambil menggoda Bibi Sumirah.


Sebetulnya, Nina tidak merasa bangga untuk mengakui bahwa Aki permana adalah kakeknya. Namun, setelah beranjak dewasa, ia takkan heran kenapa kulit, warna rambut, serta matanya berbeda dari sang kakek. Kelakuan genit Aki Permana ternyata punya andil besar. Sang kakek bilang, Nina adalah cucu satu-satunya dan memang hanya ada dia seorang di dunia ini, yang terlahir dari rahim noni Belanda.


Serumit itulah masa lalunya dan Nina tidak bisa menyalahkan sang kakek. Ia hanya ingin melihat wajah ayah beserta ibunya, tetapi tidak pernah dikisahkan oleh Aki Permana. Nina pun langsung memutuskan berada di pihak siapa untuk urusan dapur.


Setiap kali Bibi Sumirah terpojok karena perempuan itu sendiri tidak berani melapor, Nina kecil akan langsung berpura-pura menangis, seringnya sungguhan, hingga jeritan melengkingnya mengalahkan bunyi uap ketel. Lalu kemudian, terdengar derap langkah gegas menuju dapur, disusul oleh teriakan menggelegar Nyonya Olivia.


Bibi Sumirah pun terselamatkan oleh kebutuhan untuk menenangkan Nina kecil karena kehebohan di dapur tidak boleh sampai terdengar ke bagian lain vila Ricci. Terutama saat sang pemilik, Norman Ricci datang mengunjung istri simpanannya.


Nyonya Olivia boleh mencemari vila Ricci dengan suara, sementara Nina tidak. Itulah perbedaan antara rakyat jelata dan nyonya besar, begitula cara sang kakek menjelaskan. Namun, tetap saja Nina akan meraung tanpa sebab--di mata Aki Permana--setiap kali pria tua itu menunjukkan gelagat ingin menggoda Bibi Sumirah, hingga pada akhirnya sang kakek berhenti sendiri karena bosan dimarahi oleh Nyonya Olivia. Keberadaan Nina yang semula dianggap merepotkan oleh Bibi Sumirah pun berbalik menjadi berkah. Nina disayang, bahkan menjadi penerus wanita yang layak ia panggil "ibu" tersebut, yakni mengabdi di dapur vila Ricci.


Sayang, ketika Nina menginjak usia tujuh belas, Bibi Sumirah tiba-tiba menghilang, begitu pula dengan sang kakek. Meskipun sering membuat masalah dengan setiap wanita cantik di dekatnya, Nina tetap bersedih atas kehilangan sang kakek, satu-satunya keluarga yang bertalian darah dengannya,


Nina bertanya-tanya: kesulitan apakah gerangan yang memaksa sang kakek pergi begitu saja, bahkan tidak sempat untuk meninggalkan sepucuk surat. Namun, dengan kejam Nyonya Olivia malah bilang bahwa kakeknya membawa kabur Bibi Sumirah untuk kawin lari.


Tidak mungkin. Nina tidak akan pernah memercayai ucapan wanita itu. Kakeknya mungkin pegat, tetapi berlebihan menuduhnya bertindak nekat di usia yang sudah nyaris masuk liang lahat. Nina yakin bahwa jauh di lubuk hati Aki Permana, sang kakek masih mencintainya. TidakĀ ada orang tua waras yang tega meninggalkan buah hati atau keturunan mereka demi mengejar cinta lahiriah semu. Buktinya, Kakek tetap membawa dirinya untuk bekerja di vila Ricci. Jika mau, Kakek bisa menelantarkan Nina atau menganggapnya tidak pernah dilahirkan di dunia tatkala kedua orang tua Nina tiada.


Nina pun sempat merasakan kekosongan besar, walaupun tidak seberat pukulan kehilangan sosok pembimbingnya, Bibi Sumirah. Wanita itu telah memolesnya menjadi wanita sempurna--hebat dalam urusan dapur, juga setia dalam melayani keluarga Ricci. Sementara untuk urusan melindungi diri sendiri, tampaknya Nina harus mencari sosok hebat lain yang lebih masuk akal dibandingkan pengetahuan tentang sudip dan bumbu karena hidupnya tidak melulu di dapur.


Lalu, muncullah Nolan. Nina tidak ingat kapan ia mulai punya kemampuan untuk membaca hati seseorang. Mungkin, sejak ia kecil, tetapi kala itu Nina menganggapnya lumrah seperti sedang mendengarkan dengung obrolan biasa yang kadang tidak jelas. Waktu itu,Nina bingung kenapa bibir orang-orang di sekitarnya tidak bergerak. Rupanya, ia sedang mendengarkan senandika hati yang hanya beredar dalam kepala. Nina pun sempat merasa takut, tetapi pada suatu hari, isi hati Nolan mengubah pandangan Nina tentang anugrah yang ia punya.


Nina sadar bahwa nostalgia tersebut tidak berguna, terutama kenangan tentang Nolan. Pria itu telah membakar harapannya menjadi abu, bahkan lebih parah dari itu. Namun, Nina ingat betul bagaimana Nolan senang mengendap ke dapur jika tertangkap basah pulang tengah malam. Suaminya akan menempati kursi sembari menikmati hidangan yang telah menjadi dingin karena tidak disentuh.


Bagian dirinya yang dulunya ditempati oleh Nolan kini lenyap, berganti pemandangan Sindoorah sedang duduk di kursi favorit Nolan seraya menggelar pesta makan malamnya sendiri. Di atas meja tampak berbagai rupa seafood beku yang mampu menanggalkan gigi jika dikunyah. Sepiring capit kepiting bahkan menguarkan hawa dingin ke udara.


Akan tetapi, halangan itu tidak berlaku untuk Sindoorah. Si pria kelinci menggilas seafood dengan ganas manakala Nina mendekat dengan tangan terlipat di depan dada.


"Kau diterima." Sindoorah lantas kembali melanjutkan pesta kuliner beku. Namun, Nina sigap menarik piring dari hadapan Sindoorah. Keduanya bertentangan pandang sesaat. Pupil mata Sindoorah mengecil hingga menyerupai celah sempit.


"Ada apa denganmu malam ini?"


"Aku mencium aroma ayam sepanjang malam," keluh Nina.


"Lalu? Aku tidak melhat ada hubungannya denganku." Sindoorah mengendus ke segala arah. Dalam imajinasi Nina, telinga besar dan panjang Sindoorah turut melambai melawan gerakan kepalanya. Nina berkhayal ingin menggenggam kedua telinga itu sekarang untuk melampiaskan kegusaran.


"Anda bilang sendiri kalau ancaman terhadap diriku juga membahayakan nasib Anda."


"Baiklah. Mari kita cari ayam yang telah mengganggu tidurmu." Sindoorah menjilati saus di tangannya seraya mengedip.


"Ayam yang Anda maksud itu sindiran apa betulan?"


"Oh, ada yang tersinggung rupanya. Objek yang mengganggu tidurmu tadi bisa saja berada di suatu tempat yang tidak diketahui ... bersama suamimu." Sindoorah tertawa keras sehabis berkata demikian tanpa mempedulikan tatapan Nina yang mengeras.


"Akan kucari sendiri."


Nina lantas tidak membiarkan Sindoorah untuk mengikutinya. Dapur jelas bukan tempat yang ia cari, maka ia tidak punya kepentingan apa-apa lagi di sana.


Aroma ayam semakin kuat kala Nina berbelok menyeberangi ruang tamu menuju kamar Olivia, lalu Naomi. Bau yang lebih tajam memandu Nina untuk naik ke lantai dua.


Langkah Nina mendadak berhenti di depan pintu kamarnya. Tunggu, ia kembali lagi ke tempat semula.


Nina lantas menoleh ke arah balkon yang meloloskan cahaya bulan purnama, tepat di balik pintu kaca yang berada di ujung lorong. Sebuah intuisi membuat kaki Nina melangkah sendiri ke sana, lalu ia membuka pintu balkon lebar-lebar. Aroma menjijikkan daging ayam langsung memenuhi lidah, rongga mulut, hidung, kerongkongan, dan perutnya.


Firasat Nina benar. Ia menemukan sesuatu di luar balkon yang sedang mematuk dengan keras di tanah.


Saat makhluk itu bangkit, kepalanya yang penuh paruh melengkung dan jengger hitam legam menutupi bulan rendah di langit, lantas sepasang mata hitam pekat berkilat menatap Nina tajam.


***