SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
KUTUKAN SINDOORAH



"Nyonya Olivia, saya pastikan Anda akan menyesal telah salah menentukan pilihan."


Suara lelaki yang didengar oleh paranormal surjan itu datangnya dari arah semak-semak. Belum pernah sang paranormal merasakan skala energi yang membuat dadanya berat serasa ditindih bangunan runtuh. Paranormal surjan tersadar bahwa energi sebesar itu berasal dari sesosok makhluk yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Asalnya jelas bukan dari arwah-arwah penasaran yang masih terikat dengan urusan di dunia. Makhluk ini bukan sejenis mereka.


Tatkala bayang-bayang Sindoorah memisahkan diri perlahan dari kegelapan, sosok aslinya mulai terlihat dalam pandangan batin paranormal surjan. Sang paranormal bergeming dikuasai rasa gentar yang amat sangat. Ia ditatap oleh sepasang mata Sindoorah yang bersinar merah cemerlang dan memantul dalam pekat malam. Sementara itu, di sisi kepala Sindoorah ada sepasang kuping kelinci yang sedang berdiri tegak bagaikan tanduk.


Olivia merapat ke belakang punggung paranormal surjan, tetapi lelaki itu malah menghardiknya. "Menjauh dari saya! Anda mengganggu konsentrasi saja!" Olivia pun terkejut luar biasa menerima perlakuan kasar tersebut, sedangkan Sindoorah tertawa kencang. Petir menyambar-nyambar di langit hingga sosoknya tampak begitu berkuasa dan mengancam.


Paranormal surjan berdesis merapal mantra dengan keras selagi sebelah tangannya menggenggam sesuatu di balik baju. Ia lalu mengeluarkan sepucuk pistol mainan dan menembakkannya ke arah Sindoorah, sehingga wajah makhluk itu basah oleh cipratan air yang langsung membuat kulitnya melepuh seperti terkena asam. Sindoorah pun menggeram keras, diiringi oleh teriakan paranormal surjan.


"Musnah, kau, siluman dari kegelapan!"


Lembaran kulit dan daging berguguran dari tubuh Sindoorah seperti remah-remah kue tar, sehingga Olivia bergidik ngeri sekaligus terkikik. Gambaran-gambaran indah tentang kehancuran dan kepedihan Nina telah terbayang jelas jika sekutunya ini berhasil dihabisi. Olivia tertawa lebar seraya merentangkan tangan seolah ingin menggapai bayang-bayang yang berlarian di depan matanya.


Akan tetapi, tawa wanita itu kemudian terbungkam. Kulit Sindoorah yang melepuh mulai menumbuhkan mulai daging baru. Dalam sekejap, tubuh Sindoorah kembali utuh sediakala, tetapi tertutup oleh bulu putih kebiruan yang tampak berkilauan meskipun bulan tidak sedang bercahaya di langit. Kedua matanya menyala terang dalam kegelapan. Tertuju lurus ke arah mereka.


***


Cemani mengikuti arah gerak Nina ke mana pun wanita itu pergi. Meskipun Nina sekarang mampu bergerak tangkas dan meringankan tubuhnya seperti kapas, tetapi ayam hitam raksasa itu begitu gesit. Bentangan sayap dan lompatannya mampu mengimbangi kecepatan Nina.


"Minggir! Atau kusembelih kamu!" usir Nina gusar. Cemani justru membalas dengan kokok nyaring yang menggema ke seluruh vila, lalu maju menyudutkan Nina ke koridor. Di lantai bawah, Naomi meringkuk ketakutan dalam selimut mendengar bunyi tersebut, ia mengira sedang terjadi serangan gaib di vila seperti insiden kesurupan tempo hari. Naomi yang biasa pemberani kini merengek-merengek memanggil sang ibu.


Sementara itu, para hantu bersembunyi di ruangan bawah tanah vila Ricci karena kokok cemani mengingatkan mereka akan satu hal, yakni turunnya utusan-utusan dari langit yang siap menyiksa mereka. Maka, para hantu seolah tidak peduli pada panggilan Nina yang meminta mereka semua untuk hadir. Sindoorah pun entah berada di mana saat Nina membutuhkannya.


"Ayam gila!" umpat Nina, selagi ia sibuk menghindari patukan paruh cemani yang menyasarnya ganas seperti sedang berburu cacing. Ia tidak bisa menjatuhkan cemani semudah membalik telapak tangan karena kekuatan mereka tampaknya setara. Dalam wujud normal saja, ayam mengamuk susah untuk ditangani, apalagi dalam wujud raksasa. Berkali-kali Nina menghalau makhluk itu, tetapi dibalas dengan kibasan sayap dan serangan taji membabi buta. Nina mengerahkan kekuatannya untuk menghempaskan cemani ke dinding, tetapi cemani lekas kembali menyerangnya nyaris tidak berjeda. Wanita itu bagai sedang terjebak dalam sabung ayam aduan sampai mati.


***


"Pak, kenapa diam saja?" Olivia memukul-mukul bahu paranormal surjan dengan panik karena pria di hadapannya malah bergeming.


"Dia bukan siluman biasa, Nyonya! Lihatlah, air doa hanya membuat wujudnya berubah menjadi lebih buruk, tetapi tidak melemahkannya sama sekali. Ia pasti telah mengonsumsi jiwa murni untuk menyegel kekuatannya dari serangan mantra putih," tutur paranormal surjan dengan nada gentar.


"Saya tidak mau tahu! Anda harus mengalahkan dia atau nasib saya akan tamat!" Olivia mengguncang-guncang bahu paranormal surjan hingga lelaki kurus itu nyaris terhuyung.


"Kita harus mundur, Nyonya!" Paranormal surjan malah berbalik ingin kabur, tetapi seketika tubuhnya mengambang di udara. Justru Olivia yang langsung lari menyelamatkan diri sendiri melihat hal itu.


Syok ditinggal pergi begitu saja oleh orang yang menyewa jasanya, pria itu memutar kepala perlahan untuk menoleh ke belakang, lalu melihat Sindoorah sedang tersenyum jahat kepadanya.


"Urusan kita belum selesai, Manusia Lemah! Aku berikan kau kesempatan terakhir untuk membuat permintaan. Apa yang kauinginkan sebelum mati?" Siluman kelinci menarik garis bibir merahnya yang tampak mengerikan dan licik. Sorot matanya berputar-putar saat membaca isi hati sang paranormal.


"Ak ... ak-ku." Sang paranormal bicara kesusahan, sadar nyawanya sedang terancam, tetapi ia hanya punya sedikit waktu untuk ditarik ulur.


"Lepaskan jiwaku." Paranormal surjan memohon. Dalam hati, ia memaki habis-habisan karena sampai terjebak dalam situasi buntu. Mau-maunya ia memenuhi permintaan Olivia untuk datang ke vila kegelapan. Ia berharap cemani akan berhasil menuntaskan misi untuk membunuh sekutu dari siluman ini sebelum terlambat. Namun, tiba-tiba terdengar ledakan keras dari arah vila. Wajah sang paranormal pun membeku, .


"Tidak ... tidak!" Paranormal surjan kemudian meratap putus asa. Ketegarannya mulai runtuh. Seluruh tubuhnya gemetar di luar kendali.


"Nah, apa kau siap kuhabisi sekarang?" Kedua mata Sindoorah berkedip bergantian penuh semangat.


"Tunggu, beri aku waktu sebentar!" tukas paranormal surjan tiba-tiba. Sindoorah pun menyeringai mendengar permintaan lelaki tersebut karena sebentar lagi ia akan memperoleh tambahan pengikut.


Begitu kakinya kembali menginjak tanah, paranormal surjan langsung berlari mengejar Olivia. Tubuh kurusnya melesat kencang dikuasai oleh kekuatan yang seakan berlipat ganda. Olivia pun memekik ketika ia terjerembab ke rerumputan yang basah oleh embun malam, dan lebih kaget lagi karena seseorang membalik tubuhnya dengan kasar, lalu mencekik lehernya. Paranormal surjan kini berada di atasnya.


Tatkala lelaki itu dengan kasar mencabik-cabik pakaiannya, Olivia pun menjerit menyadari situasi yang sedang ia hadapi. Namun, sia-sia saja karena tak 'kan ada orang yang mendengarnya di tengah kegelapan di luar sini. Tenaga Olivia melemah karena tangan paranormal surjan di lehernya tidak mengendur sama sekali, selagi lelaki itu mulai beraksi memenuhi hasratnya. Paranormal surjan tampaknya terlampau marah dan ingin membalas wanita itu tanpa menunda sama sekali. Olivia pun dimakan oleh senjatanya sendiri.


Akan tetapi, waktu sang paranormal terbatas. Dalam jeda yang teramat singkat dan ledakan dopamin masih menerbangkannya ke awang-awang, siluman kelinci menyambar kepalanya. Olivia bahkan tidak sempat menjerit, wanita itu langsung jatuh pingsan ditimpa oleh tubuh paranormal surjan yang langsung rubuh.


***


Nina kehilangan kata-kata ketika Sindoorah muncul di dapur sambil menjilati sisa-sisa darah di bibirnya yang tak kalah merah. "Ada apa denganmu?" tanya Nina heran melihat perubahan wujud Sindoorah yang drastis. Tidak ada lagi pria tampan berwajah malaikat karena kini digantikan oleh kelinci bertubuh manusia, yang bahkan tidak perlu baju untuk menutupi tubuh telanjangnya. Bulu-bulu halus berkilau yang Sindorah punya tampak sudah cukup.


"Apa kau takut?" Sindoorah menyeringai.


"Jangan bercanda!" tukas Nina ketus. "Aku sudah pernah melihat yang lebih buruk daripada monster kelinci tanpa baju. Lagi pula, aku sudah lama ingin punya boneka kelinci raksasa."


"Sial." Sindoorah mengumpat karena Nina malah meledeknya tanpa rasa segan.


"Omong-omong, siapa dia?" tanya Nina dengan tatapan menyelidik pada hantu yang mengikuti di belakang Sindoorah.


"Mainan baru Olivia."


Alis Nina langsung menekuk. Ia menancapkan pisau dapur pada talenan kayu. "Kamu benar-benar berencana beralih memihak pada ibu mertuaku?"


"Aku hanya ingin bermain-main sedikit dengan hati wanita itu karena sudah lama rasanya tidak mencicipi kejahatan yang mendarah daging."


"Aku sudah punya suami pengkhianat dan aku tidak butuh tambahan pengkhianat!" Nina memarahi Sindoorah seperti anak kecil berbuat nakal.


"Oh, ayolah, Nina .... Bertengkar tengah malam hanya membuat perut terasa lapar. Kau masak apa?" Sindoorah mengendus udara.


Nina pun melengos, lalu mulai memotong-motong ayam panggang pada talenan. "Daging hitam, kulit hitam, dan organ dalam semuanya hitam. Persis kesukaanmu."


Sindoorah tersenyum lebar. "Kau memang favoritku, Nina."