
"Tolong Nao, Mi! Naomi jatuh dalam lubang!"
Naomi berteriak sekuat tenaga agar suaranya terdengar oleh Olivia di seberang. Gawainya ada di bawah, di atas tumpukan kangkung, selagi Sindoorah menggantungnya dalam posisi terbalik.
Nasibnya digantung dalam artian sebenarnya. Belum pernah Naomi merasa setakut ini. Meskipun berkeras bahwa ia sedang bermimpi, tetapi ia tidak bisa bangun-bangun juga. Apalagi adegan ini disorot dengan lampu terang yang mampu mengekspos seluruh jejak dan tanda kekalahan di wajahnya. Naomi merasa putus asa di titik nadir.
"Miii! Aku beneran dalam lubang. Gelap sekali di sini. Dingin, lagi! Banyak kangkung di mana-mana! Ada ke--"
Belum selesai Naomi bicara, telepon dimatikan di seberang.
"Mamiii!" Naomi meraung sejadi-jadinya. Frustrasi.
Tawa penuh kesenangan Sindoorah pun bergaung di lubang sempit. Bersama mainan yang mampu membunuh rasa bosan, ia tidak bisa meminta lebih baik dari ini. Nina menyerahkan nasib Naomi ke tangannya, sementara Nona Polkadot Merah Jambu kembali ke atas untuk menemui Olivia, otak dari sumber kesialan hidup Nina di vila Ricci.
Pilihan yang pintar. Nina memang tidak punya hati.
***
"Cepat nyalakan lampunya, Nao. Gelap."
Nina bersedekap sambil menatap dingin pada ibu mertuanya yang sedang melindur dalam tidur. Andai masih punya hati, ia mungkin tidak akan tega melihat perempuan itu tergeletak di lantai ubin yang dingin. Olivia langsung pingsan begitu ia beri kejutan di luar pintu. Untung jantung ibu mertuanya tidak copot.
Tidak. Belum saatnya. Nina masih butuh Olivia hidup-hidup. Meskipun ingin tahu sampai di mana batas kekuatan Olivia dalam menghadapinya, tetapi balas dendamnya bukan atas dasar kepuasan semata. Nina ingin mengupas rencana terkutuk apa yang sebenarnya ada dalam kepala wanita itu tentang dirinya. Rencana yang harusnya bisa ia ketahui, andai ia berhasil selama dari rencana keji keluarga suaminya.
Nina tidak bisa memiliki dua kesempatan sekaligus, sayangnya. Agar bertahan hidup, ia harus rela melepaskan hatinya yang mampu membaca isi hati seseorang.
Wajah cantik Olivia yang tetap menarik meskipun menua tidak pernah menjadi sumber rasa iri Nina. Ia hanya merasa iri jika Nolan lebih mendengarkan perkataan sang ibu dan mengabaikan perasaannya sebagai istri. Saat hatinya masih ada, Nina sering merasa cemburu dalam ketidakberdayaan. Nolan adalah segala-galanya bagi Nina dan lelaki pertama dalam hidupnya. Andai Olivia tidak ada, apakah Nolan akan kembali mencintainya seperti dulu?
Akan tetapi, pertanyaan itu kini tidak penting lagi. "Bangun!" Nina tidak punya waktu untuk menunda urusan di waktu yang sempit karena Komandan Gerald telah mengetahui esensi sejati dirinya. Gerak-geriknya di tempat ini sudah terpantau oleh sang komandan misterius yang tampaknya enggan bergabung sebagai sekutu.
Maka, Olivia hanya ia biarkan beristirahat barang sejenak sebelum ia siap memulai teror yang sebenarnya. Semoga Sindoorah melakukan tugasnya dengan bagus di bawah. Pria kelinci itu kelihatannya tidak pernah gagal selama tidak terlibat urusan dengan kaum malaikat..
"Naomi!" Olivia terkesiap membuka mata. Sensasi keheranan luar biasa adalah hal pertama yang ia rasakan kala mendapati Nina berdiri di atas titik pandangnya. Barulah Oilvia sadar bahwa ia sedang berbaring mengenaskan di lantai untuk kesekian kalinya.
"Nina!" desis Olivia ketakutan seraya beringsut mundur menjauh seakan waswas tertular penyakit.
"Di mana Naomi!" gertak Olivia. Dalam posisi terdesak, mertuanya masih saja bersikap sok memerintah.
Tepat saat itu, terdengar dering panggilan video berbunyi. Wajah Olivia menegang seakan teringat sesuatu. Ia merogoh gawai yang tergeletak tak jauh darinya di lantai.
Nina lantas meihat Olivia mengangkat gawai sambil terperangah ngeri menatap pada ]ayar. Sebelah tangannya mencengkeram bibir hingga lipstik merah hatinya berantakan terusap jemarinya.
"Naomi!" Olivia menjerit seperti orang gila dan berlari ke kamar. Dalam kegelapan, terlihat siluet sang mertua sedang menginjak-injak lantai dengan keras seolah ingin membuat lubang di lantai sambil terus meneriakkan nama Naomi dan umpatan kasar yang tidak layak untuk didengar.
Nina melongok ke layar gawai milik Olivia yang tergeletak di lantai dan mafhumlah ia kenapa Olivia jadi bersikap gila seperti itu. Sindoorah dalam bentuk manusia kini sedang bermain-main dengan kakak iparnya yang malang; berbasah-basahan di atas tumpukan kangkung busuk dan berlendir.
Naomi pasti merasa dunianya sedang jungkir balik sekarang. Jatuh dari gemerlap mewah kehidupan seorang Ricci ke lubang kotor berkubang nista.
Nina tidak punya hati--terutama setelah Naomi terlibat dalam rencana ingin membunuh dirinya dalam bak mandi. Ia cuma tidak ingin lantai vila yang secara de facto telah menjadi markasnya dirusak oleh Olivia. Nina pun berbicara tegas pada Sindoorah yang sengaja mempertontonkan adegan dewasa tersebut pada ibu mertuanya barusan.
"Cis ... kau menggangguku di saat begini. Apa kau belum pernah melihat kelinci kawin? Julukan playboy untuk kaum kami ada alasannya." Sindoorah di seberang menggerundel, hingga Naomi di dekatnya makin ketakutan.
"Mami ingin Naomi selamat?" Nina memanggil Olivia untuk menarik perhatian sang mertua. Wanita itu menatap Nina nyalang dengan sel-sel batang di retinanya yang telah menyesuaikan diri dalam kegelapan.
"Kamu! Menantu kurang ajar! Katakan di mana putriku!" Olivia menunjuk Nina dengan berang. Nina pun menghela napas. Rupanya, ia butuh sedikit kekerasan untuk menggeser otak Olivia yang sudah miring lantaran menanggung kebencian terhadap dirinya yang segunung.
"Mami ingin Naomi selamat?" Nina mengulang pertanyaannya lagi, lalu mengacungkan gawai milik Olivia ke hadapan wanita itu. "Sin! Tunjukkan apa yang bisa Anda lakukan pada putri Nyonya Olivia Ricci yang terhormat!"
"Jangan mengubah namaku seenaknya!" protes Sindoorah dalam gawai. "Aku juga bukan pesuruhmu!"
Nina berdecak. "Memang bukan, tapi kita adalah rekan penebar teror, hahahah ...." Nina tidak perlu sungkan saat ia tertawa keras di hadapan Olivia. Tak ayal sang mertua membulatkan mata heran sekaligus dendam.
"Katakan, kenapa aku harus berhenti? Gadis ini menyukaiku," ujar Sindoorah keberatan, sementara Naomi mendelik. Tubuh gadis itu sudah dimantrai Sindoorah agar tidak bisa bergerak. Bibirnya pun terkunci tidak bisa bicara. Naomi hanya bisa mengeluh dan menggerung untuk menunjukkan emosi dan kemarahannya.
"Naomiii!" Olivia merangsek maju ingin merebut gawai di tangan Nina, tapi Nina menerbangkan gawai itu jauh di atas kepala mereka berdua.
Mulut Olivia terbuka lebar. Namun kemudian, wanita itu kembali membentak. "Jangan pikir Mami takut karena kamu mendadak jadi David Copperfield, ya, Nina!"
Tawa Sindoorah tersembur. "Apa perlu kutingkatkan derajat permainan kita, Naomi Sayang?" Naomi menggerung habis-habisan sebagai reaksinya. Olivia berteriak kalap memanggil nama putrinya. Nina pun memutar bola mata bosan.
"Kalian semua diam!" bentak Nina dengan suara menggelegar. "Atau aku akan memanggil polisi ke rumah ini." Tentu saja Nina hanya mengancam, tetapi gertakannya berhasil menuai reaksi mereka semua.
"Panggil saja polisi! Kamu dan teman jahatmu itu akan ditangkap, Nina!" Olivia menyeringai penuh kemenangan dengan tampang tidak keruan.
Nina menggoyang-goyangkan telunjuknya di depan wajah. "Tidak segampang itu, Mami. Sebelum polisi datang, putri Mami mungkin sudah habis dimakan Sin dan tidak bernyawa lagi."
"Naomiii!"
"Hei, aku sedang tidak minat makan orang, aku hanya ingin menjilati gadis ini semalaman."
"Dan, Anda ... Tuan Kelinci tukang gali lubang tutup lubang, Berhentilah menyeruduk dan kembali menjadi kelinci yang baik. Polisi yang aku panggil bukan jenis polisi biasa karena dia bisa tahu Anda berasal dari bawah tanah."
Dalam layar yang makin kecil saja karena tergantung jauh di atas, Nina bisa melihat sepasang telinga kelinci mendadak muncul di kepala Sindoorah. Tuan kelinci itu tanpa sadar bertransformasi secara tidak sempurna dalam wujud aslinya akibat menangkap maksud ucapan Nina. Telinga itu menekuk ke bawah lantaran gentar. Sindoorah pun tampak berusaha melindungi kepala dengan telinganya.
"Jangan mengancamku, Nina! Aku adalah rekanmu!"
"Aku tidak benar-benar meminta Anda berhenti, kok, Tuan. Anda masih boleh memakannya sebagai kudapan, tapi tolong jangan dihabiskan. Kepala Detektif bilang, ia menemukan banyak tulang dalam sumur di hutan. Pasti masih muat untuk satu tambahan lagi."
Sindoorah pun terkikik. Wajah Naomi dalam pelukannya kini pucat. Gadis itu nyaris pingsan karena pada akhirnya dia tetap akan dimakan oleh si kelinci.
"Nina! Mami mohon .... Lepaskan Naomi! Mami janji akan melakukan apa saja!"
Malam itu, Nina seakan diberkati oleh keajaiban luar biasa.Tidak terbayang sebelumnya, bahkan dalam mimpi indahnya sekalipun jika Olivia akan bertekuk lutut di hadapannya, kemudian memohon dengan tatapan berkaca-kaca. Bukannya takjub dan merasa senang karena di atas angin, Nina malah terpegun.
Apakah Olivia berkata dengan sungguh-sungguh?
Nina tidak bisa membaca isi hati Olivia sekarang.