SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
KOLEKTOR TULANG



Tidak ingin melawan hukum. Setidaknya, belum. Demi alasan itu, Nina pun bersedia melanjutkan obrolan di bekas ruang kerja Norman Ricci yang terletak tepat di sisi balkon lantai dua. Ia meninggalkan sang komandan sendiri di ruangan itu untuk memanggil mertuanya.


Selama menunggu, Gerald tidak dapat menahan diri untuk tidak mengamati seisi ruang kerja Norman Ricci. Tempat itu seakan hanya ditinggal pergi pemiliknya sebentar. Beberapa dokumen tergeletak tidak jauh mesin faksimil yang bersih dari debu. Hanya surat-surat laporan dividen biasa. Selebihnya, Gerald lebih tertarik pada bingkai jendela besar di belakang meja. Dari sudut jendela, Gerald bisa dengan leluasa menatap ke arah balkon yang menjorok di atas teras lantai bawah. Begitu pula sebaliknya, karena kaca jendela berwarna putih jernih dan tanpa kisi berlebih yang mengganggu pemandangan ke arah luar.


Dehaman seseorang lantas membuyarkan pikiran Gerald yang seolah sedang berkelana ke masa lalu, masa di mana Norman Ricci masih hidup dan mungkin sering memandang sisi balkon dari belakang meja kerja.


Gerald mengalihkan pandangan dari jendela, lantas melihat Olivia Ricci telah bergabung bersama ia dan Nina di ruangan ini.


"Komandan," sapa Olivia dengan sikap kaku. Seratus delapan puluh derajat dibandingkan Nina di sisinya yang terlihat berpembawaan santai, tapi penuh kuasa.


"Halo, Nyonya Olivia." Gerald menyunggingkan senyum untuk mencairkan suasana yang mendadak tegang, tetapi tidak berhasil. Sudut bibir Olivia hanya berkedut sejenak seolah terpaksa. Baik ia dan Olivia, sepertinya sama-sama merasakan eksistensi luar biasa di sekitar mereka, dan itu tidak terlepas dari keberadaan Nina. Aura kelam Nina terasa lebih mengintimidasi di dalam vila dan ruangan ini.


"Sebelumnya, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud lancang menerobos tempat pribadi almarhum suami Anda." Gerald bicara apa adanya. Nina tidak punya kunci ruangan ini, maka wanita itu melakukan sulapnya seperti biasa, yakni membobol masuk. Gerald pun tidak heran kenapa Nina bisa melakukannya. Jika mau, Nina bisa melepaskan daun pintunya sekalian.


Mirisnya, Olivia melenguh pelan sebagai reaksi. Air muka wanita itu jelas mengatakan bahwa ia tidak berkenan, tetapi ekor matanya tidak berani untuk melirik ke samping. Oliva justru bergeming menatap sang komandan, hingga kecanggungan tersebut menular ke penjuru ruangan.


Gerald berdeham sebentar. "Kedatangan saya ke sini bukan untuk berbasa basi. Anda berdua perlu tahu kalau sebelumnya saya punya rencana untuk mengobrak-abrik vila Ricci."


Ekspresi Nina berkobar bagai sumbu siap meledak, sementara mata Olivia berbinar mendengarnya. Gerald memang tidak senang menyimpan kejutan, maka ia tidak menunda-nunda membeberkan penemuannya pagi ini.


"Seperti yang pernah saya ceritakan pada Anda berdua di kantor polisi, di saat yang berbeda," Gerald mengoreksi, "kami menemukan tumpukan tulang di sumur tua dalam hutan dekat villa. Dalam laporan forensik, dikatakan tulang-tulang itu berasal dari penduduk pribumi." Sepasang mata Nina kini meredup, sedangkan Olivia memasang wajah kaku tampak tidak peduli.


"Jadi, apa hubungannya dengan tempat ini?" tanya Nina mengejutkan Gerald karena tidak menyangka perhatian wanita itu tersita oleh kabar mengenai tulang barusan.


"Usia tulang-tulang itu bervariasi, tapi memiliki pola yang sama seperti berasal dari generasi yang berturutan."


"Maksud Anda?"


"Jika tulang belulang itu bisa beranak pinak, maka ada cicit, cucu, anak, buyut, dan seterusnya, tetapi usia tulang yang paling tua, anehnya tidak lebih tua dan sezaman dengan masa dibangunnya vila Ricci."


"Tulang-tulang itu pemilik Ricci sebelumnya? Keluarga suami saya?" Tatapan Olivia sukses melebar karena Vila Ricci telah berusia lebih dari satu abad dan telah menjadi tempat tinggal dari beberapa generasi.


"Bukan." Gerald menggeleng. "Seperti yang saya bilang ... penduduk pribumi."


"Ada kuburan penduduk pribumi dalam sumur?" Gerald pun menahan kesabaran karena perkataannya terus-menerus disela. Pelakunya kali ini adalah Nina. Wanita dingin itu sanggup berbuat apa saja untuk menyakiti orang lain, tetapi begitu antusias mengenai tulang.


"Lebih tepatnya, mereka seperti dikumpulkan dalam satu tempat untuk tujuan tertentu. Pasti bukan kebetulan yang tidak disengaja."


"Tumbal!" Nina sadar ia mungkin telah menggali kuburannya sendiri saat meneriakkannya dengan lantang. Ia kini tidak punya hati, hingga kepalanya bisa berpikir dengan jernih tanpa bisa dipahami oleh Komandan Gerald dan Olivia Ricci. "Pantas saja vila ini berhantu."


Gerald menyipitkan mata mendengar asumsi Nina yang berani. Tanpa perlu merasa sungkan terhadap Olivia, ia menunduk pada Nina hingga nyaris tidak berjarak. "Mungkin saja. Tapi yang jelas, sesuatu yang jahat sedang menguasai vila dan pikiran Anda, Nyonya Nina."


Nina pun tersenyum lebar. "Saya tidak bermaksud menyeret Anda dalam masalah ini, Kepala Detektif. Anda sendiri yang terus-terusan menghalangi urusan saya. Tapi, belum terlambat bagi Anda untuk berubah pikiran. Larilah selagi masih sempat!"


"Saya hanya sedang memperingatkan menantu Anda agar tidak coba-coba melakukan kejahatan setelah rencana pembunuhan yang ia alami, Nyonya."


"Re-rencana pembunuhan?" Seketika Olivia tergagap dengan wajah memucat.


"Anda dan Nyonya Nina sendiri mungkin tidak mau mengakuinya, tapi intuisi saya selama bertahun-tahun terlibat dalam urusan kriminal, tidak mungkin salah."


"Komandan, Anda salah! Bagaimana mungkin saya bisa menyentuh menantu saya?" Olivia tertawa getir. Betul, mendekat dan punya pemikiran jelek tentang Nina saja, langsung membuat ia dan Naomi beroleh karma instan. Tapi ....


"Mungkin saat ini tidak, tapi pernah! Dan alasan Nyonya Nina mencabut laporannya dulu pasti ada hubungannya dengan kejadian saat ini."


Gerald lantas membuktikan pada Nina bahwa ia bukan komandan polisi yang bisa diatur wanita itu seenak hati. Jauh dalam diri sang komandan, ia punya ketegasan yang tidak dipengaruhi oleh orang-orang, termasuk Nina.


"Jika Anda menggeledah vila ini, Anda tahu apa yang akan Anda peroleh, Kepala Detektif yang terhormat," ucap Nina bersungguh-sungguh.


"Nyonya Nina, urungkan niat buruk apa pun yang ada dalam kepala Anda sekarang. Kita bisa mencarikan solusi masalah Anda secara baik-baik."


"Tidak sekarang, Kepala Detektif. Silakan Anda tinggalkan tempat ini sebelum situasinya menjadi buruk!" Nina mengancam sang komandan polisi lewat tantangan terbuka. Sekumpulan hantu telah bersiaga memenuhi ruangan. Meskipun makhluk-makhluk itu tidak terindra oleh penglihatan sang komandan polisi, tetapi aura kelamnya membuat udara di tempat itu berkali lipat lebih sesak dan dingin. Olivia menggigil serta merasakan ketidaknyamanan yang sangat mendera sekujur tubuhnya. Refleks, ia mendekat pada Komandan Gerald untuk mencari perlindungan.


"Anda mungkin perlu mempertimbangkan untuk keluar tempat ini sementara, Nyonya Olivia." Sang komandan menoleh pada ibu mertua Nina dan langsung ditimpali oleh perkataan dingin Nina.


"Bawa pergi saran tidak berguna Anda, Tuan Detektif. Mertua saya tidak akan pergi ke mana-mana. Olivia Ricci akan tinggal di vila ini sampai mati."


"Tolong saya, Komandan! Aaah!" Kata-kata Olivia berganti jeritan ketika tubuhnya mendadak terseret oleh kekuatan tak kasatmata, lantas punggungnya membentur jendela kaca yang untungnya tertutup, satu-satunya pembatas antara dirinya dan ancaman gravitasi yang siap menariknya dalam lompatan marabahaya.


"Nina!" Gerald menanggalkan status "nyonya" di belakang nama Nina dengan masa bodoh. Situasi sekejap di luar kendali begitu ia lengah, sekalipun bertindak hati-hati terhadap wanita ini. Perbuatan Nina sudah mencapai ambang toleransi sang komandan polisi.


"Jangan ... jangan seperti ini." Gerald seakan memohon pada wanita itu. Wanita yang entah sejak kapan mulai memutarbalikkan segenap logika dalam kepalanya.


Nina tertawa, diselingi oleh rengek pilu Olivia yang tidak cocok untuk usianya. Kedengarannya tidak menggelikan atau terasa lucu lagi, bagi Nina. Ia lebih merasa gusar akan campur tangan sang komandan polisi.


"Takkan ada yang kamu dapat dari membalas kejahatan dengan kejahatan, Nina."


"Sudah saya katakan, Anda tidak tahu apa-apa tentang saya, Tuan Detektif! Kami baik-baik saja tanpa kehadiran Anda. Jangan coba-coba membawa orang Anda ke sini!" Lengking Olivia meminta bantuan terdengar di latar belakang. Nina pun mendengkus sinis.


"Pergilah. Atau Anda mau saya cium?"


Gerald menatap Nina tidak percaya. Namun, ancaman yang kedengarannya tidak serius itu lantas mampu mengusir langkahnya agar pergi meninggalkan vila Ricci.


"Jangan pergi, Komandan! Selamatkan kamiii!" Olivia berteriak putus asa.


......***......