SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
TAMU TAK DIUNDANG



Setelah gagal dengan rencana pertama untuk melenyapkan Nina, tidak banyak yang bisa Nolan nikmati di Singapura. Nolan menyebutnya nolep.


Dari balik kaca kamar apartemen, ia bisa menyaksikan rimba beton pencakar langit beserta taman-taman indah tersebar di berbagai penjuru kota. Ia bahkan bisa melihat daratan Indonesia dan Malaysia di seberang selat dari puncak Singapore Ferris Wheel.


Meskipun disuguhi semua pemandangan memanjakan mata tersebut, segalanya tampak suram di mata Nolan. Hari-hari ini pula yang membuat jarak intim mereka sekonyong-konyong bagai melebar ribuan kilometer, kendati tidur bersebelahan. Kehangatan pria blasteran itu sirna saat Delissa masih larut dalam euforia, jika merebut suami seseorang boleh dikatakan sebagai sebuah kemenangan.


Akan tetapi, ada hal yang jauh lebih penting untuk Nolan khawatirkan daripada kesehariannya yang mulai hambar, yakni rencana cemerlang untuk meyakinkan sang kakek terancam bubar. Sementara itu, masalah besar tengah menimpa ibu dan adiknya di tanah air. Beban ganda ini sungguh menguras energinya luar dalam.


Nolan dan Delissa berdiri agak berjauhan dalam elevator yang sedang bergerak turun. Keduanya sama-sama diam. Delissa tertunduk larut dalam perasaannya yang kini sama rendahnya dengan lantai, sedangkan Nolan memandang sengit pada dinding mengilap di hadapan seakan sedang berdebat dengan bayangannya sendiri.


Mereka sempat bertengkar sebelum berangkat karena Delissa menolak. Wanita itu mengeluh perutnya bergolak seperti lambung neraka, hingga malas untuk beranjak dari tempat tidur, apalagi keluar kamar. Nolan sampai naik darah lantas mengancam akan menelantarkan Delissa jika terus-terusan memperlambat rencana kedatangan mereka ke negara ini.


Delissa pun tidak punya pilihan karena takut pada ancaman Nolan. Dalam kondisi Delissa sekarang, ia hanya punya Nolan sebagai penyokong. Setidaknya, Nolan masih membutuhkan Delissa dan jabang bayi dalam rahim wanita itu untuk menjalankan rencana mereka--Nolan.


Maka, Nolan sama sekali tidak berminat untuk memantau raut gelisah Delissa yang memancarkan aura penuh kecemasan. Selama wanita itu masih mampu untuk berdiri dan menegakkan tubuhnya, itu pun sudah cukup. Karena ia tidak ingin membopong Delissa jika jatuh pingsan. Setidaknya, untuk sekarang.


Delissa sendiri sadar bahwa masalah yang mereka hadapi sekarang sangat serius. Rengekan manjanya takkan mempan, buru-buru ingin menikmati babymoon--sekiranya demikian yang Delissa pikirkan--telah memasuki babak akhir yang akan menentukan masa depan mereka. Tidak secuil pun Nolan bilang tentang bagian sulit ini hingga malam tadi.


"Menurutmu, mereka akan percaya?" tanya Delissa dalam suara kecil. Wanita itu mencoba memberanikan diri dengan memecah arus pikiran Nolan.


Ketika Nolan mengalihkan tatapan sengitnya pada Delissa, wanita itu lekas menyembunyikan sisi wajahnya di balik helai rambut ikal yang habis ditata--kendati mengaku tidak enak badan, Delissa sempat untuk memperhatikan penampilan. Namun, bukan hal itu yang ada dalam pengamatan Nolan, tetapi cara Delissa menghindari sasaran matanya. Persis Nina.


"Belum apa-apa, kamu sudah mengeluh."


Bola mata Delissa melebar sekilas. Ia pikir, Nolan akan langsung meledak dan menyasarnya dengan ucapan kasar, tetapi Nolan hanya mendesah pelan seperti pesakitan. Ya, Delissa telanjur tidak nyaman dengan komunikasi mereka yang mendadak parah di Singapura. Ia telah merasakan pengabaian Nolan yang memasuki stadium lanjut. Delissa tidak kuasa untuk menyeberangi jarak itu.


"Aku tidak menolak terlibat dalam rencana kamu asal tidak membahayakan anak kita, Beb," tukas Delissa dengan hati patah. Itulah alasan kenapa Delissa tidak punya pilihan lebih baik selain manut. Nolan Ricci terancam tenggelam. Delissa tidak punya sekoci darurat selain ikut rencana pria ini.


"Kenapa kamu selalu menangis? Jangan sampai kakek melihat air matamu atau rencana kita akan gagal!" desis Nolan kesal. Namun, maksud hatinya untuk menghentikan isak Delissa malah membuat bahu wanita itu berguncang kian hebat. Delissa sampai menutup mulutnya dengan sesenggukan.


Kacau, senandika Nolan dalam kepala. Jika begini kondisinya, bukan simpati sang kakek yang akan ia peroleh, tetapi malah mengundang musibah. Maka, Nolan berupaya menambal cela yang melubangi rencananya. Ia harus berhasil mengubah suasana hati Delissa, sebelum elevator yang bergerak naik berhenti di lantai utama puncak gedung.


"Sudah, Beb. Aku janji takkan terjadi apa-apa sama kamu, apalagi anak kita setelah rencana ini berhasil. Kalian adalah keluarga di masa depan yang harus kujaga."


Kuping Delissa seakan menegak. Ia sedikit tidak percaya kata-kata itu keluar dari bibir Nolan, meskipun tidak heran--mengingat bagaimana manisnya perkataan pria ini jikalau mengenang sejarah pertemuan mereka di masa lalu. Namun, nada suara tersebut terdengar tulus, kemudian diyakinkan oleh gerakan tangan Nolan yang melingkari bahu Delissa.


Nolan lantas membelai rambut ikal Delissa dengan tekanan yang pas, tidak mengancam atau disalahpahami dalam arti lain. Sentuhan lembut Nolan di puncak kepala Delissa makin membuai seiring level lantai yang makin meninggi. Nolan bahkan bersandar santai di dinding sebelah Delissa seraya merapatkan tubuh, berikut bibirnya ke telinga wanita itu.


"Kita sedang dalam tekanan berat belakangan ini, tapi hanya sementara. Setelah masalah usai, semua akan kembali sediakala, Beb." Pria itu berbicara pelan tanpa nada berlebihan, hingga Delissa tidak bisa mendeteksi kepalsuan di dalamnya.


"Sungguh? Kita bisa babymoon? Bukannya terkurung di arpartemen terus sampai ... bangkrut?" Delissa amat berhati-hati mengucapkannya karena takut Nolan meledak lagi.


Terdengar hela napas Nolan memantul pada dinding elevator yang hanya mereka isi berdua. Bayangan mereka seakan menyatu sebagai dua objek buram yang tidak terpisahkan. Gambaran masa depan yang ditakutkan oleh Delissa jika sampai terpisahkan.


"Iya, tentu saja. Jika kita berhasil meyakinkan kakek, jaminan masa depan ada di tangan kita berdua, Beb. Jadi, enggak usah menangis lagi. Perlihatkan pada kakek kebahagiaan kita berdua."


Tanpa Delissa sadari, Nolan tersenyum samar memandang tombol angka elevator yang terus bergerak naik. Ia mengeluarkan gawai untuk membuat pesan suara. Bersamaan dengan itu, berbunyi denting terdengar dan pintu elevator terbuka.


"Rencana utama sudah dimulai. Mami siap-siap di sana."


***


Tidak perlu menunggu malam tiba bagi Nina untuk menyadari bahwa sesuatu akan terjadi di vila Ricci. Hantu-hantu pengikutnya terus bergerak gelisah. Sebagian bahkan menghilang untuk bersembunyi di kolong sofa, ranjang, bak mandi, bahkan kembali ke lubang di dunia bawah.


Nina tahu penyebabnya. Ia mengabaikan permintaan Sindoorah untuk dimasakkan beberapa menu lagi. Pria kelinci itu mendadak menjadi pencinta masakannya setelah menyusup ke vila Ricci. Sekeping hati dan resep lezat, transaksi setimpal untuk menahan Sindoorah di tempat ini--si sumber masalah.


Wanita itu bergegas ke balkon untuk menilai situasi, maka Nina tidak cukup terkejut mendapati paranormal surjan masih berdiri di luar untuk mengintai. Pria kurus itu terlihat lebih mengancam dan keras kepala daripada penampilannya. Sungguh kombinasi yang amat bertolak belakang.


"Orang itu belum pergi juga, ya?"


Sindoorah tiba-tiba muncul di belakang Nina dan memandang ke arah yang sama.


"Ya. Sudah dua kali aku memeriksa." Nina berujar heran campur jengkel. "Kenapa orang ini tidak pergi juga kalau memang tidak berani masuk? Tapi, hantu-hantu jadi gelisah semuanya."


"Oh, ya?"


Nina otomatis memutar kepala mendengar tanggapan Sindoorah yang terkesan amat santai.


"Tuan Sin, kerjamu hanya makan saja. Jangan bilang Anda lupa dengan para hantu. Habis manis mereka seperti sepah dibuang."


Sindoorah berdecak. "Bukan salahku. Lobster dan tiram buatanmu mengalihkan duniaku. Lagi pula, aku tidak punya hati--dulunya--untuk memikirkan mereka."


"Apa bedanya dengan sekarang, Tuan Sin?" Mata Nina menyipit mendengar jawaban sekenanya Sindoorah. Ia justru mendapat tepukan kepala, lagi, dari si pria kelinci.


"Untuk saat ini, mereka adalah urusanmu." Sindoorah mengedip padanya.


Nina pun bersedekap dengan pandangan malas. "Ya. Aku sekarang sedang mencari tahu kenapa hantu-hantu jadi ansietas setelah ada orang itu di luar vila."


Sindoorah hanya terkekeh, lalu memutar bola mata. "Cerita lama. Begitulah para hantu jika berdekatan dengan cenayang. Tidak ada siapa pun, termasuk hantu yang senang dihinggapi masalah bernama pembongkar masa lalu. Terutama jika kamu sudah mati dan kenangan itu tidak menyenangkan sama sekali."


"Penjelasan Anda membuat saya bertanya-tanya .... Lain kali. Setelah saya bereskan orang ini."


"Tunggu sampai malam. Keributan di siang hari akan terlalu kentara." Sindoorah malah menyisih selepas berkata demikian.


"Dari siapa? Tuan Sin, Anda belum menjawab semuanya!" Nina memanggil pria kelinci itu.


Sindoorah membalik badan sebentar. "Setelah kau memasakkan aku lobster lagi, Nina."


***