SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
KALKULASI NINA RICCI



"Coba katakan, apa saja yang telah Nina lakukan pada kalian?" tanya Nolan dengan gusar di telepon. Pria itu kini siap mendengarkan cerita Olivia setelah minum secangkir kopi yang diseduh oleh Delissa pagi ini. Nolan berpikir kafein mungkin akan mampu menetralkan efek cerita seaneh apapun yang akan ia dengar dari mulut ibunya,


Pembicaraan alot malam tadi meski dituntaskan bagaimanapun juga. Nasib keluarganya dan vila Ricci juga berkaitan erat dengan hidup Nolan. Ia pun berusaha memasang telinga baik-baik, meskipun kurang tidur semalam suntuk lantaran terganggu oleh keluhan Delissa. Emosi naik turun seorang ibu hamil turut menyurut dan menghanyutkan keseharian Nolan.


"Nina memasukkan seekor monster ke rumah kita, Nolan*!"* teriak Olivia begitu ia berhasil memperoleh perhatian sang putra.


"Tolong yang jelas, Mami ...," sergah Nolan seraya menahan emosi. Olivia bukan lagi seorang anak kecil. Belum apa-apa, cara bicara ibunya sudah membuat Nolan sakit kepala. Kemarin dukun, sekarang monster. Omongan Olivia yang tidak konsisten benar-benar ciri khas ibunya jika sedang dilanda frustrasi.


"Mami bicara yang sebenarnya Nolan!" Olivia berteriak kesal. "Di rumah kita benar-benar ada monster. Dia seekor pria kelinci yang Mami ceritakan pernah mengancam Naomi."


"Seekor? Pria kelinci? Mami ngomong apa, sih. Memangnya, ada yang lebih playboy daripada aku di rumah kita?" Nolan malah terbahak-bahak mendengar. Tampaknya, ada yang lebih membutuhkan kafein daripada dirinya agar bisa berpikir lebih jernih. Tata bahasa ibunya makin kacau.


"Tunggu saja, Mami akan kasih lihat kamu!" Ibunya di seberang sana terdengar kehilangan kesabaran.


"Oke, Mi. Aku akan sabar menunggu," jawab Nolan setengah bercanda.


Olivia pun mengalihkan panggilan mereka menjadi panggilan video. Nolan langsung mengernyit begitu wajah sang ibu muncul dalam layar. Baru ditinggal sebentar, Nolan bisa melihat jejak-jejak penuaan dini terlihat di wajah Olivia. Beban hidup Olivia seakan berlipat kuadrat dari kerutan dan lingkar hitam di sekitar mata wanita itu. Sang ibu juga terlibat lebih kurus dan ringkih seperti menjalani puasa berabad-abad tanpa kesenangan hakiki.


Nolan menelan ludah. "Coba aku lihat monster yang berani mengacau tadi, Mi."


***


Olivia pun berjinjit ke luar kamar. Nolan segera berdecak, ia bisa melihat ruang tamu yang agak berantakan seperti diacak-acak penjarah. Sofa bergeser miring ke sana kemari. Beberapa kursi pojok kecil bahkan terguling ke tengah ruangan.Apa saja kerjaan Nina selama dia tidak di sana? Rupanya, istrinya bermalas-malasan ria. Andai bisa ia jewer kuping Nina saat ini juga ....


Sementara itu, di dapur sedang terjadi aktivitas seperti biasa. Setelah kekacauan kemarin, Nina memasak makanan sisa yang tersimpan di kulkas untuk disajikan kembali. Sindoorah duduk dengan manis di meja. Mereka tidak menyadari kehadiran Olivia yang diam-diam mengintip di sudut. Aroma lobster dan beragam hidangan seafood langsung menyerbu indra penciuman wanita itu.


Olivia memicingkan mata melihat buruannya. Jika ceritanya terdengar tidak masuk akal di telepon, maka tampilan video akan membuktikan bahwa ia tidak mengada-ngada. Ia pun mengangkat gawai seraya mengarahkan kamera, lalu berbisik pada Nolan. "Coba lihat ... ada pria asing di meja makan kita. Dia yang sudah sering mengacau belakangan ini, sampai berani menantang polisi segala. Sepertinya, dia dukun ilmu hitam, deh, Nolan. Orang ini berkeliaran di rumah kita!"


"Orang? Orang siapa, Mi? Aku tidak melihat siapa-siapa, cuma ada Nina. Dia kok tambah cantik, ya?" Nolan malah meneteskan air liur melihat punggung istrinya yang sedang asyik memasak. Tubuh wanita itu bergerak lincah saat sedang membolak-balik sesuatu di wajan panggangan yang berdesis-desis. Suasana terasa meriah bagai pesta kebun musim panas yang indah.


Meledaklah Olivia. "Kamu rabun, ya, Nolan? Jelas-jelas ada orang sedang duduk di sana, yang kamu tengok malah Nina! Dasar pikiranmu itu udah kena pelet si dukun."


Nina kemudian berbalik dan membuat tatapan Nolan melebar. Istrinya meletakkan sepiring tiram di depan kursi kosong. Terdengar suara kriuk-kriuk menyakitkan telinga begitu hidangan tersaji. Sindoorah sedang melahap hidangan tersebut dengan nikmat.


"Mi, kok garpunya bisa bergerak sendiri!" Nolan berteriak kencang dan terdengar ke luar telepon karena tidak tampak Sindoorah dalam penglihatan telanjangnya.


Panggilan video terputus sampai di sana karena Olivia lantas mematikan telepon. Nolan pun termangu memandangi gawai yang kembali pada layar utama. Hatinya didera oleh perasaan sesak luar biasa. Nina terlihat baik-baik saja dan justru makin menarik. Mendadak ia kangen akan kehangatan pelukan Nina yang biasa menyambutnya, meski semalaman ia tidak pulang-pulang atau membawa aroma wanita lain. Ia juga kangen akan aroma masakan Nina yang senantiasa lezat dan setara hidangan hotel bintang lima.


Ah, Nolan merindukan semua hal kecil itu. Rasanya, seperti berabad-abad ia tidak menikmati perhatian istrinya. Di tempat ini, malah ia yang dituntut untuk memanjakan Delissa.


"Beb, kok melamun? Jalan, dong. Bosen nih, di flat melulu."


Baru semenit Nolan bernostalgia akan kenangan manis di vila Ricci, keluhan Delissa jilid kesekian mampir dalam pendengaran Nolan. Nolan pun mengangkat kepala dan menyaksikan wajah sang selingkuhan yang tertekuk tidak nyaman untuk dilihat.


"Kamu kapan sih keliatan cantik?"


Delissa terpelongo mendengar keluhan Nolan. Air muka wanita itu memerah, bibirnya pun bergetar siap melontarkan keluhan balik yang lebih ampuh daripada Nolan.


"Aku sedang hamil, ya. Bisa makan dan bangun dari ranjang aja udah syukur. apalagi mau ke salon. Kamu juga nggak kasih aku uang jajan biar bisa hepi-hepi di sini." Suara Delissa mengalun pelan nyaris mencicit.


"Kerjaanmu makan tidur doang, loh."


"Beb!" Air mata Delissa tumpah bersama rasa frustrasi. Buru-buru membujuknya agar berhenti menangis, Nolan malah memasang jaket sebagai isyarat tubuh saat pria itu ingin keluar.


"Beb, mau ke mana?" tanya Delissa putus asa. Wanita itu merengkuh lengan Nolan, mencegahnya pergi.


"Jalan-jalan. Bosen nolep di flat seharian!"


"Beb!"


Nolan dan Delissa bertengkar hingga ke ambang pintu. Sekeras usaha Delissa membuat Nolan tetap tinggal bersamanya, sekeras itu pula Nolan melarikan diri.


***


"Mami, ngapain di sana?" tanya Nina pura-pura terkejut mendapati Olivia di sudut. Sungguh, tidak ada lagi hal yang bisa membuat jantung wanita itu melompat karena hatinya pun sudah tidak ada. Namun, sikap manusiawi semacam ini, mampu menghiburnya lebih daripada menakut-nakuti Olivia sendiri.


"Mungkin, Anda ingin bergabung bersama kami?" Sindoorah menawarkan dengan sopan, tetapi malah membuat Nina terkekeh geli.


"Iya. Ada lobster kesukaan Nolan, loh, Mi," ujar Nina dengan senyum manis.


"Mami bosan makan lobster!"


Sehabis berkata demikian, ibu mertuanya langsung menghilang dari area dapur. Geligi Nina berbanjar rapi di balik bibirnya yang lantas tak henti-henti terbuka lebar.


"Aku tidak percaya jika kau pernah kalah dari wanita itu." Sindoorah menyindir sembari menggilas cangkang lobster dengan giginya yang tajam.


"Aku juga tidak percaya jika Anda sempat berpikiran untuk bermain dua kaki dengan kami." Senyum di wajah Nina mendatar. Sebelah tangannya bercekak pinggang dan ia berputar menghadap Sindoorah.


Sindoorah menikmati sesuap besar selada dengan santai. "Kamu tetap punya keuntungan lebih dibandingkan dirinya, Nina. Kamu punya hati--" Sindoorah menunjuk dadanya, "di sini."


"Ambil saja, aku tidak peduli." Nina mengelap tangan pada celemek, lantas melepaskan apron dari bahunya. Ia menatap gusar antara lobster di piring Sindoorah dan wajah si pria kelinci. "Aku bisa memasakkan lobster sebanyak yang Anda suka,selama Anda tidak menyalahi perjanjian kita di awal."


"Apakah aku harus bersikap setia dan manis untuk menggantikan suamimu si pengkhianat?" Sindoorah memiringkan kepala persuasif hingga dagunya terdongak dan tampak menyebalkan.


"Tuan Sin, Anda telah mengambil hati saya dan Anda telah menciptakan monster. Itu harga yang harus dibayar."


"Nina ...." Sindoorah beranjak dari kursinya, lalu mengusap kepala Nina dengan tangannya yang berlumuran saus tomat. "Kesepakatan kita bukan bagian dari permainan yang kauciptakan. Akhiri permainan secepatnya sebelum aku mulai menjadi bosan. Ingat, aku punya kekuasaan karena kekuatanmu berasal dariku. Satu lagi ... polisimu itu tidak berguna."


"Bagaimana dengan mereka?" Nina menunjuk ke arah langit dengan tarikan bibir samar. Namun, ia keliru jika sikapnya tersebut mampu menggertak Sindoorah. Si pria kelinci terkekeh sumbang.


"Kalau kamu berpikir bisa mengkhianatiku, bukan aku saja yang celaka, tapi kita berdua!"


"Anda takut dihukum mati?"


"Aku sudah mati, pikirkan saja dirimu sendiri."


Nina menggeleng keras. "Tidak. Aku tidak boleh mati sekarang. Nolan harus kembali."


"Kembali?" Sindoorah merasa jengkel karena tidak bisa meraba-raba maksud Nina karena wanita itu tidak punya hati untuk dibaca.


"Kembali untuk meniti jembatan di atas neraka."


Jawaban Nina lebih baik daripada lobster yang memenuhi perut Sindoorah. Si pria kelinci bersendawa keras lantaran puas.


***


Rumah Anda dikuasai oleh entitas jahat yang berbahaya." Seorang pria lokal dalam surjan menerawang serius ke dalam gawai milik Olivia yang menampilkan beragam foto dan rekaman video. Setelah insiden Naomi kerasukan ditambah kejadian aneh saat menelepon Nolan, Olivia pun memutuskan untuk meminta bantuan seorang paranormal. Bukan paranormal biasa, tapi seorang *clairvoyance *yang mampu menjadi media untuk melihat masa depan.


"Bagaimana Anda bisa tahu hanya dengan melihat HP saya?" tanya Olivia gusar.


Si paranormal menatap Olivia tajam. "Memang tidak terlihat apa-apa dalam penglihatan orang biasa, tetapi auranya terpancar jelas dan bisa dilihat oleh mata batin saya."


"Oh." Olivia berseru takjub.


"Jadi, bagaimana cara untuk mengatasinya, Pak?" bisik Olivia takut, seakan pertemuan mereka dikuntit dan mampu dicuri dengar oleh seseorang.


"Tidak ada cara, kecuali Anda keluar dari rumah itu. Bawa pergi keluarga Anda dari sana!"


"Tidak! Tidak mungkin. Vila itu satu-satunya peninggalan suami saya. Mau tinggal di mana kami selain di sana?"


"Kalau demikian, Anda siap menanggung risikonya?"