SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
UNDANGAN MAKAN MALAM



Sirene mobil polisi meraung-raung membelah arus lalu lintas yang cukup padat di sebuah jalan kota kecil kawasan perbukitan. Keindahan alamnya menjadikan kota tersebut sebagai destinasi wisata para pelancong, sehingga kemacetan di jalan kadang sering terjadi. Mobil itu melaju menuju salah satu vila dari sekian banyak vila di kota itu. Di setiap sisi bukit yang strategis, bangunan-bangunan itu tersembunyi bagai surga rahasia. Ada nama-nama pesohor yang memilikinya secara pribadi.


Sedan hitam dengan lampu sirene menyala terus melaju tak terhentikan. Olivia dan putrinya, Naomi, ada di dalam mobil itu. Raut wajah keduanya kuyu setelah menjalani hari yang kusut. Rencana mereka gagal berantakan. Nina yang harusnya telah mereka lenyapkan, sekarang malah duduk dengan santainya di tengah mereka, bersama menempati kursi belakang.


Olivia tidak sudi, tetapi ia terpaksa. Wanita paruh baya itu menahan diri untuk tidak melirik ke arah Nina sepanjang perjalanan. Pasalnya, Nina juga memakai kardigan brokat milik Olivia tanpa sepengetahuan, apalagi izin mertuanya. Bagaimana pula Nina bisa kembali ke vila dan membongkar isi lemari Olivia? Keganjilan tersebut gagal mendapat perhatian Olivia karena ia terlampau sibuk menyiapkan rencana jahat berikutnya dalam kepala untuk menyingkirkan Nina. Lagi pula, mereka sedang dalam mobil polisi. Mereka harus terlihat sebagai keluarga yang harmonis dan jauh dari tanda-tanda permusuhan, bukan? Hidup ini memang keras, terutama bagi istri kedua yang tak dianggap dan istri pertama yang dibuang.


Sementara, Naomi pun sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia tak habis pikir jika Nina kini berani duduk dengan santai di antara ia dan ibunya. Ada sesuatu yang salah, pikirnya. Nina terlihat baik-baik saja. Namun ironisnya, sandiwara Nina yang sempurna justru menjadi penyelamat mereka. Naomi tidak bisa membayangkan kalau yang terjadi adalah sebaliknya. Nina datang ke kantor polisi dengan handuk piama polkadot merah jambu dan tanpa alas kaki. Ada bagusnya juga, walaupun kardigan brokat biru malam itu ketinggalan zaman untuk dipakai seorang wanita muda. Selera Nina sungguh aneh. Di antara sekian banyak kesempatan untuk menjarah isi lemari pakaian di vila, justru pakaian itu yang Nina ambil. Apakah Nina berharap ia terlihat seperti sedang memakai jubah kebesaran? Kardigan itu memang terseret di tanah saat Nina berjalan karena tubuh Nina jauh lebih pendek daripada mereka berdua. Wah, ada yang bakal mampus hari ini, pikir Naomi gemas.


Setelah hampir satu jam mendaki jalan spiral di bukit, mobil tersebut akhirnya tiba di vila yang berada paling puncak. Vila Ricci. Norman Ricci menghadiahkannya sebagai rumah tinggal bagi Olivia, sang istri kedua yang menyandang nama Ricci secara tidak sah di belakang namanya. Itulah satu-satunya peninggalan dari Norman untuk sang istri tercinta sebelum pria itu meninggal dalam kecelakaan mobil. Mabuk tatkala mengemudi.


Vila itu pembawa sial. Karena itulah, tidak ada anggota keluarga Ricci yang tertarik mengambilnya kembali dari Olivia. Seperti itulah kata mereka, sehingga Nina awalnya tidak keberatan tinggal di sana. Yah, sebagai anak pungut dari seorang keturunan bule miskin yang tak punya masa depan, tinggal di vila menyeramkan terdengar masih lebih baik kala itu bagi Nina daripada ia terlunta-lunta di jalanan atau menjadi cewek penghangat bayaran yang bisa disewa para pelancong untuk satu malam. Nina dan Olivia semestinya bisa menjadi sekutu yang hebat.


Kembali ke vila. Sersan Andi yang di kursi sopir berbalik ke belakang. "Sudah sampai, Nona-nona!" katanya mengagetkan Olivia dan Naomi yang sedang asyik tenggelam dalam kekacauan pikiran masing-masing.


"Mau sampai kapan kalian di sini? Aku mau turun!"


"Oh, eh?" Olivia dan Naomi gelagapan, lalu mereka sadar bahwa yang bicara ketus barusan adalah Nina. Mata keduanya pun membelalak kaget. Sejak kapan Nina berani bicara sekasar itu pada mereka?


"Haha, Anda galak juga, Nyonya Nina. Hati-hati, jangan sampai suami Anda kabur lagi!" Sersan Andi menyindir.


"Yang kabur itu suami Naomi, bukan suami saya."


Sersan Andi terkekeh, sedangkan wajah Naomi memerah. Gadis itu sudah sarat akan emosi, tetapi ia tidak berani meluapkannya di depan Sersan Andi. Ia tidak mau kembali digiring ke kantor polisi jika mencakar wajah mulus Nina di depan polisi itu.


Olivia turun lebih dulu dan membanting pintu. "Cih!" Naomi diam-diam mengumpat kesal karena itu artinya ia harus memberi jalan untuk Nina. Kakak iparnya itu seolah tidak mau keluar sebelum dirinya. Nina benar-benar ngelunjak dan minta dihajar, umpatnya kesal dalam hati.


"Terima kasih, Naomi ...." Sebaliknya, Nina mengucapkan terima kasih dengan sikap manis sekali ketika Naomi memberinya jalan. Seluruh tubuh Naomi disergap rasa dingin seketika.


"Mami!" Naomi berteriak memanggil lalu menyusul ibunya yang berjalan lebih dulu menuju pintu bersama Sersan Andi. Olivia menoleh. Raut pandangnya berubah tidak suka ketika tatapannya tertumbuk pada sosok Nina. Sikapnya itu pun lolos dari perhatian Sersan Andi yang sedang sibuk bicara di telepon. Setelah Sersan Andi selesai dengan urusannya, Olivia kembali bersikap normal.


"Komandan Gerald tadi memberi tahu saya di telepon. Dia bersedia memenuhi undangan makan malam buat besok."


"Makan malam?" Olivia merasa tersesat.


Urat-urat di wajah mertua Nina mengeras. Ekspresinya terlihat sungguh terkejut seperti baru saja mendengar kabar kematian. Angin berembus cukup kencang di sekitar vila dan menambah ketegangan. Dari sudut matanya, Olivia bisa melihat kardigan panjang di tubuh Nina mengembang seperti duri landak yang mekar. Seolah mengancam.


"Ada apa, Nyonya?"


"Ti-tidak ada apa-apa!" Olivia menjawab gugup.


"Baiklah. Kalau begitu, saya kembali bertugas." Sersan Andi pamit dari hadapan Nyonya Olivia. Sebelum masuk ke dalam mobil, Sersan Andi berkata lantang pada ketiga wanita itu. "Jaga diri kalian semua baik-baik. Kalau ada masalah, jangan segan untuk meminta bantuan. Tapi saya harap, kami tidak akan menerima telepon lagi. Lain kali, bicarakan masalah keluarga kalian baik-baik, ya?"


"Terima kasih atas bantuannya, Sersan!" Nina melambai pada mobil polisi dan Sersan Andi di dalamnya. Setelah sedan hitam itu menghilang di tikungan jalan, Naomi segera menyikut lengan ibunya.


"Mi, Nina jadi aneh banget! Kayak orang kena bipolar!" Naomi berbisik. Namun, Olivia tidak menanggapi ucapan Naomi. Ia langsung membentak pada Nina yang bergerak mendekat ke arah mereka.


"Berani-beraninya kamu mengundang seseorang makan malam! Kamu juga pakai baju saya, hah?"


Bibir Nina bergerak pelan. "Aku pakai baju Mami karena bajuku lusuh semua. Baju yang bagus sudah dikasihkan Nolan sama Delissa. Mami tidak malu kalau aku datang ke kantor polisi seperti upik abu atau cuma pakai lingerie?"


Olivia pun berang dengan alasan Nina yang baginya seperti dibuat-buat. "Dasar menantu kurang ajar tidak tahu diri!"


Plak!


"Aaa!"


Olivia mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menampar wajah Nina sekuat tenaga, tapi tangannya malah bergerak menampar Naomi hingga gadis itu memekik.


"Mami sudah gila? Kenapa aku yang ditampar!" Naomi memegang pipinya yang langsung memerah. Sementara, Olivia memandang heran pada tangan kanannya yang gemetar dan terasa sakit akibat kerasnya tamparan tadi.


"Ta-tangan Mami bergerak sendiri!"


......***......