SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
SEGITIGA KEGELAPAN



Saat Komandan Gerald memperingatkan dia, seharusnya Nina mendengarkan. Menaruh kepercayaan pada entitas jahat seperti Sindoorah hanya akan berakhir celaka. Namun, Nina telah kehilangan hati untuk memandu langkahnya dalam kegelapan.


Kegelapan itu membayangi semakin pekat kala ia menemukan si Pria Kelinci sedang berbicara serius dengan Olivia di balkon--hanya satu lantai jaraknya dari tempat Komandan Gerald berusaha memojokkannya untuk mundur dari permainan, di mana Nina adalah pion Sindoorah untuk melenggang bebas di dunia manusia.


Nina pun menahan keinginan untuk tidak melompat ke atas balkon saat itu juga. Masih ada Komandan Gerald dan Ibu Wali Kota di bawah sana, juga banyak orang berkerumun di pesta. Akses masuknya terhalang, tetapi ia harus mencapai Sindoorah secepatnya.


Nina mencari meja kosong, lalu duduk di sana seraya menyesap segelas limun yang ia ambil sambil lalu di atas meja minuman. Ia lantas memejamkan mata dan memusatkan perhatian.


Riuh rendah percakapan di sekitarnya terdengar kian jelas, lalu ada bunyi lain yang samar-samar masuk dalam pendengaran, yakni percakapan antara Komandan Gerald dan Ibu Wali Kota tentang urusan pengamanan kota menjelang pilkada.


Nina mengarahkan konsentrasinya ke tempat lain, kemudian mendengar suara-suara yang berasal dari atas balkon.


"Saya yakin bisa memberikan persembahan yang lebih baik daripada Nina, Tuan."


"Sejauh ini, Nina adalah yang terbaik. Anda hanya buang-buang waktu jika ingin menambah timbunan tulang di sumur dalam hutan. Saya juga sudah bosan dengan persembahan semacam itu."


"Saya akan memberikan tumbal nyawa bayi tidak berdosa. Itu pasti sebanding dengan Nina."


"Kenapa tidak nyawamu saja?"


"Saya? Anda menginginkan nyawa saya?"


"Iya. Jika ingin membuat permohonan kepada kelinci pengabul harapan, Anda harus mengorbankan milik Anda yang paling berharga dan pasti Anda tahu itu apa. Atau Anda berminat untuk menggantinya dengan nyawa Naomi?"


"Tidak! Ambil saja nyawa saya kalau begitu, yang penting Nina bisa disingkirkan."


"Tidak semudah itu untuk mengikat perjanjian dengan saya, Nyonya. Anda harus melalui uji kelayakan dulu."


"Apakah saya tidak cukup menderita gara-gara Nina selama ini? Ujian seperti apa lagi yang Anda maksudkan?"


"Ujian untuk mengetahui seberapa tangguh hati Anda, hingga bisa mengalahkan Nina dalam adu kekuatan."


"Saya--saya harus melawan Nina?"


"Ya, dan saya yakin jika Anda pasti akan kalah karena sekarang Nina tidak punya hati untuk Anda serang lagi. Hahaha. Tapi ini akan jadi menarik. Mulai sekarang, selamat berusaha, Nyonya."


Pendengaran Nina berhenti sampai di situ. Matanya sontak membuka tatkala mendengar perkataan Sindoorah yang sungguh-sungguh kepada Olivia. Si Pria Kelinci mencoba berkhianat dengan memberikan kesempatan pada Olivia untuk memulai perang terbuka!


Pikiran untuk melempar meja itu ke arah Sindoorah dan Olivia sungguh menggoda, tetapi Nina mengerahkan kekuatannya untuk mengacaukan gelombang udara. Seketika hawa dingin meliputi vila Ricci dan sekitarnya. Kabut datang entah dari mana, hingga para tamu berbisik gelisah. Saat mereka mengarahkan tatapan ke langit, tidak ada keanehan dan langit tampak baik-baik saja.


Tanpa orang-orang sadari, para hantu sedang mengacaukan pikiran mereka yang lemah hati karena Nina membiarkan makhluk-makhluk takkasatmata itu berkeliaran di tengah suasana pesta.


Beberapa orang mulai pingsan lantas timbul kepanikan massal saat mulai ada yang kesurupan. Tanpa mengindahkan kesopanan, sebagian besar tamu berhamburan keluar dari halaman vila Ricci seperti lebah yang diusir dengan asap, seolah mereka takut akan ketularan jika terlambat pergi sedetik saja. Terdengar klakson bersahutan dari mobil-mobil yang terparkir di sekitar halaman sehingga menciptakan keriuhan baru.


Nina hadir sebagai pahlawan, ia menyuruh orang-orang yang tertinggal untuk membawa korban kesurupan ke dalam vila. Ibu Wali Kota terbeliak di beranda bawah balkon mendapati gelombang manusia yang melewatinya sambil mengangkat orang-orang yang sedang meracau dan berteriak histeris.


"Sebaiknya Anda cepat pergi untuk mengamankan Ibu Wali Kota, Kepala Detektif," ujar Nina pada Komandan Gerald yang bermaksud turun tangan menolong para korban.


Gerald menatap Nina tajam karena memanfaatkan situasi tersebut untuk mengusirnya secara halus. Andai saja tidak ada lengan Ibu Wali Kota yang sekarang merengkuhnya sebagai dorongan ketakutan--tentu saja tidak diperlihatkan secara gamblang di hadapan warga--sudah kewajiban Gerald untuk menangani kasus massal ini dan ia punya alasan kuat. Namun, sekarang ia adalah komandan polisi yang dituntut untuk mendahulukan sang wali kota, maka Gerald tidak punya pilihan selain pergi memboyong orang nomor satu Bukit Halimun dari sana.


"Saya akan kembali secepatnya!" kata Komandan Gerald kepada tuan rumah. Nina pun bergeming sesaat karena ia kini punya satu masalah tambahan. Ia harus menyelesaikan urusan ini secepatnya sebelum sang komandan kembali untuk ikut campur.


"Ada apa ini?"


Olivia bergabung turun ke bawah saat kepanikan berpindah ke ruang tamu vila Ricci, tetapi maksud hatinya untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh Nina malah berbalik menjadi bumerang. Ia dilanda ketakutan luar biasa ketika melihat penampakan sekawanan hantu yang sedang menyesatkan pikiran para korban kesurupan.


Nina pun tidak bisa menutupi rasa heran tatkala menyadari bahwa Olivia kini bisa melihat para makhluk takkasatmata yang selama ini mengganggu wanita itu dan Naomi. Namun, Nina langsung tahu jawabannya ketika melihat senyum di bibir Sindoorah yang muncul di belakang Olivia. Secepat itu Sindoorah memutuskan mengubah irama permainan.


Seperti kata Sindoorah, tidak semudah itu. Nina hanya tersenyum kecut ketika melihat Olivia terpaku di tangga, bergerak mundur bagai pengecut hingga menabrak si pria kelinci yang lantas memamerkan seringaian mengerikan di bibirnya.


Sementara itu, Naomi yang tidak tahu apa-apa, menatap ke arah ibunya dengan panik. Naomi hanya mengamati dari tepi kekacauan yang tengah terjadi di ruang tamu mereka. Ia berusaha berada sejauh mungkin seperti menghindari penyakit, maka gadis itu tidak mengindahkan panggilan Olivia untuk mendekat. Tidak saat ibunya sedang bersama si pria kelinci.


Olivia terus memanggil Naomi dengan panik karena ia melihat sesosok hantu badut dengan sinar mata jahat sedang mendekati sang putri. Hantu itu berniat menguasai pikiran Naomi.


Kaki Olivia gemetar hebat dan tidak bisa diajak berkompromi saat ia memberanikan diri untuk mencapai sang putri. Oliiva berpegangan di tangga seraya melangkah dengan lutut bergoyang hilang kendali.


Pemandangan yang mengharukan, andai Nina masih punya hati. Ia tidak tahu persis rencana di balik senyum Sindoorah yang terlihat manis. Nina belajar bahwa makin manis senyuman itu, maka makin jahat pula maksud yang terkandung di dalamnya.


Nina hanya membalas senyuman itu dengan tatapan kecut, bergantian antara wajah Sindoorah yang sedang menikmati suasana dan ekspresi putus asa dari Olivia.


Nina dikejar waktu. Tanpa belas kasihan, ia perintahkan hantu di dekat Naomi untuk memulai serangan. Lengking nyaring Naomi mengalahkan jeritan-jeritan lain di ruangan, serta menelan kengerian yang menghantam tekak milik Olivia.


***