SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
SKANDAL



"Kenapa Anda mengetuk pintu rumah saya malam-malam?"


Nina menyambut kedatangan Gerald dengan gusar. Kehadiran seorang tamu di vila Ricci menjelang dini hari sungguh menguji kesabaran, terutama setelah tuan rumah bergelut dengan urusan cemani raksasa. Meskipun ungggas gaib itu kemudian kembali ke wujud aslinya, tetap saja Nina butuh waktu untuk menggunduli bulu-bulu ayam hitam tersebut, lalu menyiapkannya sebagai hidangan.


Ledakan sedahsyat guntur saat Nina menebas leher cemani itulah yang mungkin telah mengundang sang komandan polisi untuk datang. Sebaliknya, para hantu makin meringkuk di ceruk-ceruk persembunyian mereka, seakan ketakutan terhadap sesuatu. Semua gara-gara seekor cemani.


"Anda tahu ini jam berapa?" tanya Nina sarkas kepada sang komandan.


"Ya," Gerald tidak mau mundur, ia menghalangi daun pintu dengan sebelah siku, "karena itulah saya tidak ingin berpanjang lebar. Saya ingin memeriksa penyebab ledakan karena saya dengar berasal dari sini."


Kedua alis Nina pun terangkat seolah-olah Gerald sedang membuat alasan untuk mendobrak masuk ke vila.


"Anda berlebihan. Oven saya meledak saat memanggang. Itulah yang terjadi, Tuan Kepala Detektif," jelas Nina tanpa menyebutkan perihal sebenarnya. Ia merasa tidak punya kewajiban untuk mengklarifikasi ucapannya di hadapan sang komandan. Maka, reaksi tersinggunglah yang ia peroleh dari pria di hadapannya. Wajah suntuk kurang tidur menggelantungi kelopak mata pria itu.


"Ini bukan waktu yang tepat untuk bermain-main, Nyonya Nina. Keterangan Anda terlalu dangkal, juga tidak masuk akal."


"Justru keberadaan Anda di sini yang perlu dipertanyakan. Mengetuk pintu rumah seorang wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya, apakah Anda bermaksud menyalahgunakan wewenang yang Anda miliki untuk menggeledah vila ini? Selamat, Anda ditolak!"


"Nina!" sergah Gerald sungguh geram. Bersamaan dengan itu, sang komandan polisi merasakan pusaran energi di udara hadapannya, hingga ia mundur selangkah. Namun, Gerald dengan tangkas kembali menahan daun pintu sebelum Nina memanfaatkan celah tersebut untuk kabur.


"Anda akan merusak pintu saya!" gerutu Nina kesal, tetapi sekadar lewat dalam pendengaran sang komandan.


"Saya tidak bermaksud demikian. Dengarkan saya baik-baik, Tuan Sin adalah orang berbahaya. Dia telah memakan korban beberapa generasi dan saya khawatir kamu akan jadi korban berikutnya."


"Kepala Detektif, saya mulai berpikir jika Anda terlalu mencampuri urusan yang tidak seharusnya Anda tangani. Anda bukan saja telah melanggar privasi saya, tetapi juga menghina tamu saya," ucap Nina ketus, hingga langsung memerahkan wajah Gerald.


"Mungkin saya memang datang di waktu yang amat tidak tepat," tanggap Gerald seraya menelan kedongkolan dalam hatinya. "Tapi, saya peringatkan kamu sekali lagi, Nina. Balas dendam hanya menciptakan masalah baru, bahkan bisa merugikan posisimu. Kamu perlu tahu, suatu saat mungkin kita akan bertemu sebagai rival dan sudah terlambat bagi saya untuk membantumu."


Sang komandan lantas pergi setelah menghunjam Nina dengan tatapan putus asa. Ada semacam dinding di antara mereka yang tidak bisa Gerald tembus. Nina telah dikuasai oleh kekuatan gelap, hatinya bahkan telah diserahkan ke tangan makhluk terkutuk, hingga hanya dendam yang ada dalam pikiran Nina sekarang. Wanita itu seolah belum puas sampai berhasil menyeret orang-orang yang telah membuat hidupnya berada di atas titian neraka, turut menikmati buah karma perbuatan mereka.


"Luar biasa. Kau sungguh berani menentang kepala polisi itu." Terdengar seseorang bertepuk tangan di belakang. Sindoorah berada dalam wujud aslinya yang mengerikan, karena itulah Nina tidak ingin Komandan Gerald bertemu dengan makhluk ini. Misi balas dendamnya belum terwujud seluruhnya, hingga Nina mesti mengulur waktu lebih lama untuk menutupi kebenaran tentang Sindoorah, apa pun konsekuensinya. Tentu saja sang komandan tidak akan mengerti posisinya karena kepala polisi tersebut belum pernah menjadi seorang wanita lemah, korban sasaran pembunuhan berencana yang keji dari mertua dan keluarga ipar sendiri.


"Aku bukan pengkhianat seperti suami dan mertuaku. Kamu tidak perlu meragukanku, Tuan Sin." Nina berseloroh seraya memutar mata mendapati Sindoorah sedang menyembunyikan diri dalam bayang-bayang kegelapan di antara perabot, meskipun saat itu Nina telah menutup pintu vila dan bunyi tapak AKP Gerald telah menghilang dari jangkauan pendengaran.


"Kamu kelihatannya takut pada Tuan Kepala Detektif, padahal kamu sendiri yang bilang ia tidak sedemikian hebat," imbuh Nina heran. Sindiran tersebut membuat sepasang telinga Sindoorah yang awalnya melekat di sisi kepala, langsung berdiri tegak untuk meninggikan level egonya.


"Ia membawa aroma memuakkan, baunya seperti aroma para pengawas dari dunia atas." Sindoorah menjelaskan dengan lidah terjulur bagai sedang menelan lemon yang kecut.


"Pengawas dari dunia atas ini, kenapa kamu begitu takut pada mereka?" tanya Nina heran karena Sindoorah selalu bersikap demikian tiap kali pembicaraan mereka menyinggung soal ini.


"Mereka bisa membuatmu gosong seperti cemani yang kita santap dalam sekejap. Paham, Gadis Kecil?"


"Ya, bahkan lebih buruk! Sebelumnya, mereka akan menggantungmu di hadapan para pemburu. Mereka akan melempari kita dengan batu. Aku tidak mau menjadi tontonan gratis makhluk-makhluk lemah busuk itu! Para pemburu hanya beruntung karena kaum pengawas ada di pihak mereka. Jika tidak, mereka bisa kukepung dengan hantu-hantu pengikutku."


"Kepala Detektif tampaknya tidak mempan oleh serangan gaib yang dilancarkan para hantu!" ejek Nina. Ia mementahkan penjelasan Sndoorah karena wanita itu teringat pada makan malam yang dihadiri oleh Gerald dan melibatkan seluruh penghuni vila Ricci, baik yang masih bernapas, maupun sudah tidak bernyawa alias para hantu.


"Keberuntungan pemula. Saat itu, kekuatan gelapmu baru lahir. Para hantu akan menjadi kuat seiring kesempurnaan dirimu, Nina."


"Tuan Sin, hantu-hantu kabur karena kokokan cemani, meskipun aku telah berhasil menyembelih hewan itu!"


Sindoorah mendekat dalam satu kali lompatan ke arah Nina. Ia mendengkus keras. "Si polisi dan hewan itu membawa aroma kaum pengawas, paham?"


"Jadi, bagaimana cara kita mengalahkan kaum pengawas ini?" selidik Nina penuh rasa ingin tahu. Sindoorah kembali meringis memamerkan seringaian berpagar gigi-gigi runcing miliknya.


"Kita tidak mengalahkan mereka, Nina, tapi kita mengelabui mereka, dan usaha itu semakin gampang berkat hatimu."


"Hatiku?" Nina memandang ke arah dada Sindoorah, tempat hatinya sekarang berada.


Diam-diam, pembicaraan kedua orang itu dicuri dengar oleh Naomi yang menguping penasaran dari dalam kamar. Jantung Naomi langsung berdebar mendengarnya. Ia kini tahu kelemahan Nina dan siluman kelinci, tetapi ia harus memberi tahu sang ibu dan kakaknya lebih dulu.


***


Suara cempreng Naomi membuat gempar seisi vila di pagi hari. Gadis itu berteriak-teriak memanggil Olivia. Naomi tidak tahu apa-apa, maka ia pun kebingungan mencari jejak keberadaan sang ibu yang raib entah ke mana. Naomi sempat merasa gentar ketika langkahnya tertuntun ke arah balkon di lantai dua. Tempat itu telah dihuni oleh Nina dan Sindoorah yang kini sudah kembali pada wujud pria tampan. Butuh waktu semalam bagi siluman kelinci untuk memulihkan penyamarannya yang sempat dirusak oleh mantra paranormal surjan.


Naomi sontak menutup hidung tatkala bau jigong mengepung indra penciumannya. Para hantu tertarik untuk mendekat padanya seperti magnet, sekaligus memberi tahu Nina dan Sindoorah akan kehadiran gadis itu.


"Di mana kalian menyembunyikan Mami!" hardik Naomi seraya menahan gentar dalam hatinya, sementara kakak iparnya berpandangan geli dengan siluman kelinci.


"Aku baru saja ingin memberi tahumu, apa yang sedang dilakukan Mami di sana?" Nina menunjuk ke luar vila, hingga Naomi mendekat ke balkon, lalu mengikuti arah yang dimaksud Nina.


Gadis itu kontan berteriak histeris dan tergopoh-gopoh pergi. Terdengar derap langkahnya menuruni anak tangga dengan tergesa. Beberapa saat kemudian, mereka menyaksikan Naomi berlari melintasi halaman, lalu menuju area semak-semak di sekitar vila.


Di antara rerumputan liar, Olivia sedang terbaring tanpa busana. Naomi tampaknya tidak mengerti kenapa sang ibu mampu tertidur pulas di tengah alam bebas dalam kondisi tersebut. Ia tidak bisa melihat kehadiran seorang hantu yang sedang meninabobokan Olivia. Gadis itu pun kelihatan berusaha keras untuk mengembalikan kesadaran Olivia yang terbius oleh mimpi-mimpi erotis semalam suntuk.


Tawa Sindoorah lantas pecah melihat Olivia langsung kelabakan mendapati kondisinya yang serbapolos. Wanita yang tak lagi muda itu menarik-narik Naomi untuk bersembunyi di balik tubuh sang putri, meskipun usaha itu sia-sia belaka karena si hantu terus menempeli Olivia seperti boneka mainan. Siluman kelinci tampaknya telah memutuskan untuk tidak mengangkat anugerah yang ia berikan pada Olivia. Biar wanita itu makin tersiksa oleh penglihatan gaib yang melekat padanya.


"Bukankah itu lucu sekali, Nina? Kenapa kau tidak tertawa?" tanya Sindoorah heran ketika menyadari Nina malah bergeming menyaksikan. Pikiran wanita itu sedang berada di suatu tempat, tetapi Sindoorah tidak bisa membacanya karena Nina kini tidak punya hati.


"Ya, lucu sekali. Lebih baik daripada menyaksikan mereka langsung mati," sahut Nina dengan intonasi datar, sehingga seringai Sindoorah makin tertarik lebar.


"Aku tidak sabar menunggu puncak pertunjukan ini, Nina," bisik Sindoorah di telinga wanita itu.