
Mandi tengah malam--ralat, sepanjang malam--tidak berhasil membuat Nina melupakan 'rasa' Komandan Gerald malam tadi. Padahal, hatinya telah diambil oleh Sindoorah. Mestinya, ia tidak merasakan emosi sama sekali, kecuali emosi tersebut berkaitan erat dengan hasrat balas dendamnya.
Ia tidak bilang secara langsung bahwa pria itu adalah kunci keberhasilan misinya, tetapi Komandan Gerald memang punya peran cukup penting dalam rencana Nina selanjutnya. Jika pria itu tidak terbunuh.
Untuk mengisi kekosongan hatinya, maka Nina mendobrak kamar Naomi pagi itu. "Bangun, Gadis Pemalas!" ujar Nina merusak mimpi indah Naomi yang masih berada di bawah pengaruh anggur.
Naomi terpaksa membuka mata. Namun, alih-alih memarahi Nina, gadis itu malah mengotori lantai dengan isi perutnya. Nina pun berdecak. "Tugas kenegaraan sudah menanti di depan mata, Nao!"
"Siapa sudi?" gertak Naomi sambil membuka gaunnya yang terkena semburan tadi, lalu melemparnya ke wajah Nina.
"Lakukan saja sendiri sebelum Mami melihatnya dan memarahimu." Naomi mencibir.
"Oh, ya?" Nina melempar balik gaun itu ke kepala Naomi. Wanita itu tidak takut sama sekali pada ancaman adik iparnya yang senantiasa memperlakukannya semena-mena.
Perlawanan Nina memancing sisi preman Naomi. Sang adik ipar mengangkat lengan penuh bisep miliknya, siap menetak kepala Nina, tetapi Naomi agaknya bukan gadis yang cepat belajar. Perubahan drastis pada diri Nina bukanlah sesuatu yang sanggup ia tangani. Nina menjegal kaki Naomi, bahkan sebelum gadis itu bergerak. Naomi pun jatuh terduduk berkubang tumpahan isi perutnya sendiri.
"Aaa! Nina sialan!"
Teriakan Naomi berhasil sedikit mencerahkan pagi, bagai alarm yang menandai waktu dimulainya misi balas dendam harian Nina.
"Kak Nolan. Kakak harus segera pulang dan mengendalikan Nina. Istri Kakak itu sudah keterlaluan, menginjak-injak harga diriku dan Mami," lapor Naomi. Ia menelepon sang kakak sambil menginjak-injak gaun kotor dalam baskom cuci dengan beringas. Gadis itu tidak peduli dengan kesepakatan antara ibu dan kakaknya. Nolan harus tahu masalah ini, seperti kata Komandan Gerald. Namun, dalam denotasi yang negatif.
"Sungguh? Nina seperti itu? Kenapa juga rencana Mami gagal? Seharusnya aku tidak dilibatkan kalau sudah begini kejadiannya!"
"Menurutmu siapa yang tahu bakal begini, coba? Semua gara-gara Nina yang mengadu pada polisi!"
"Baiklah, kalau Nina benar-benar kerasukan kuda lumping seperti yang kamu ceritakan, aku mungkin juga tidak bisa menanganinya. Coba kamu hadapi Nina dengan taktik berbeda, baru kabari aku lagi." Meskipun begitu, Nolan terdengar amat khawatir di seberang.
"Maksudmu?"
"Berpura-puralah bersikap baik di depan Nina, ikuti keinginannya. Jika ia lengah, baru kamu tusuk dari belakang. Jangan hadapi dia secara langsung seperti yang kalian lakukan selama ini, OK?"
"Ah!" Naomi seakan mendapat pencerahan. Ia harus menyusun sebuah rencana baru bersama ibunya untuk menyingkirkan Nina.
"Kamu juga jangan enak-enakan di sana! Segera beri kami kabar baik soal kakek di Singapura."
Lagi pula, pewaris sah trah Ricci telah lama tiada. Karena itulah, istri pertama dari Norman Ricci kemudian mengangkat seorang anak laki-laki yang kini menjadi saudara tiri mereka. Lalu, tidak seorang pun tahu kecuali Olivia sendiri, jika wanita itu kini memiliki senjata rahasia yang bisa mereka andalkan untuk merebut hak waris Ricci dari tangan keluarga sang istri pertama. Senjata itu kini aman bersama Nolan di Singapura.
...***...
Setelah dua hari mereguk nikmatnya singgasana kekuasaan, Nina mulai berpikir ada sesuatu yang tidak beres di hari ketiga ketika ia tidak menemukan Olivia dan Naomi di mana pun. Secepat itu Olivia dan Naomi mengkudetanya, padahal target utamanya belum menampakkan diri--si Nolan suami durhaka.
Tatkala seorang hantu muncul menembus dinding lantas mengarahkan tangannya ke satu arah, seolah ingin memberi tahu sesuatu, sepasang mata bola Nina berkilat tidak percaya. Nina segera menaiki tangga ke lantai dua, lalu membuka pintu kamarnya. Olivia dan Naomi duduk di tepi ranjangnya. Sepengetahuan Nina, kedua wanita itu tidak pernah berdiam di kamarnya, kecuali untuk memberi titah atau menemui Nolan, suaminya.
"Sedang apa di sini?" tanya Nina dingin dan ekspresi datar. Olivia dan Naomi cekikikan seolah pertanyaan Nina tadi lucu. Bagaimana pun Nina berusaha mencari tahu, tetapi ia tidak sanggup membaca isi hati mereka.
"Ibu dan aku mau ke kota. Kami mau mengajakmu. Itu pun kalau kamu mau ikut sama kita."
Olivia menyenggol bahu Naomi karena ajakan putrinya terkesan setengah hati. Untuk menepis kecurigaan Nina yang mendadak terkesan suka berpikir-pikir, Olivia pun merangkul bahu menantunya itu sambil melancarkan sebuah rayuan manis yang seolah mengingatkan Nina akan jebakan maut Sindoorah.
"Ayolah, kita, kan, jarang pergi keluar bersama sebagai keluarga. Yah, itung-itung balas dendam untuk bersenang-senang setelah kerja rodi--" mata Nina mendelik, "maksud mami, bersih-bersih vila. Ahahahaha!"
Nina berpikir lagi untuk sesaat. Dalam rencana mertua dan adik iparnya, jelas tercium maksud tersembunyi. Nina memutuskan berjudi dengan menerima tawaran tidak biasa tersebut untuk melihat kebenaran yang akan terungkap di baliknya.
Tatkala para hantu mengelilingi Nina demi mencegah kepergiannya, Nina tahu bahwa ada sesuatu yang berbahaya sedang mengintai vila. Namun, ia mengabaikan peringatan para makhluk astral tersebut. Dari pertemuannya dengan Sindoorah, Nina sekarang belajar bahwa untuk mendapatkan sebuah keinginan, maka ia harus berani untuk mempertaruhkan miliknya yang paling berharga. Oleh karena itu, ia tidak akan mundur meskupun Olivia dan Naomi mungkin telah merencanakan sesuatu yang jahat kepadanya.
...***...
Nina sedang mengantre untuk membayar sebuah gaun di depan kasir. Olivia sedang pamit ke toilet, sementara Naomi merengek untuk makan es krim di kedai sebelah. Maka, Nina kebagian tugas tersebut menggantikan mereka. Sepucuk kartu kredit milik Olivia terselip di jemari Nina. Nomor PIN pun sudah ia hafal di luar kepala. Dengan senyum dan sapaan ramah, kasir meminta beberapa helai gaun di tangan Nina. Petugas itu mulai memindai barcode harga.
Di gaun terakhir--sebuah raincoat bercorak khaki pilihan Naomi, kening kasir itu bertaut. Ia meminta izin sebentar untuk berbicara dengan manajer. Setelah kasak-kusuk terjadi sesaat, sang manajer--pria kurus dengan kaus polo--menelepon sebentar, lalu muncul seorang satpam berseragam coklat meminta Nina untuk ikut dengan mereka.
"Anda kami tahan dulu, Nyonya. Anda telah menukar label harga gaun ini dengan yang lebih murah. Ini sebuah tindakan pencurian."
Nina bergeming. Apa?
...***...