SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
HIDANGAN UTAMA



Hantu-hantu telah berjajar rapi di sisi meja makan. Mereka menunggu kehadiran sang nyonya besar Nina Ricci. Sebentar lagi, Olivia Ricci bakal digulingkan dari singgasananya, dan kericuhan itu dimulai malam ini. Ketika Olivia bermaksud menduduki kepala kursi, tiba-tiba kursi itu bergerak, membuat ruang lebar di antara meja dan benda itu. Olivia pun ia terjengkang ke lantai, kepalanya nyaris terantuk pinggiran kursi.


"Mami! Naomi menyongsong ibunya dari ruang depan. Gerakannya diimbangi oleh kegesitan Komandan Gerald yang telah berada di sisi Olivia, hingga lengan mereka tumpang tindih. Olivia yang berada di sisi mereka mendadak merasa canggung ketika putrinya dan sang komandan bertemu pandang dengan dirinya sebagai titik tengah.


"Saya baik-baik saja!" ujar Olivia agar pria itu memberi ruang kepadanya. Namun, tatapan Komandan Gerald tidak lepas-lepas dari Naomi. Olivia bisa merasakan Naomi salah tingkah, tetapi halusinasi tersebut disudahi oleh sebuah kalimat, "Anda dari mana, Nona Ricci?" Asalnya dari mulut Komandan Gerald, membuat Olivia dan Naomi sendiri menjadi kikuk karena tertangkap basah.


"Eh, saya tadi mencari udara segar sebentar karena menunggu kalian terlalu lama!"


Rasanya, Olivia ingin menepuk-nepuk kepala Naomi karena bangga dengan kecerdikan putri bungsunya.


"Sayang sekali. Sebenarnya, Anda tidak perlu pergi dan bisa berbincang dengan kami di atas," ucap Gerald penuh sesal hingga wajah Naomi memerah, "ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan tentang kejadian di vila tempo hari."


"Hahahahaha!"


Suara tawa Nina mengalahkan petir yang menyambar telinga Olivia dan Naomi. Mereka tidak terkejut jika sang komandan ternyata membawa sebuah misi saat menerima undangan makan malam, jauh dari angan-angan romantis dalam bayangan Naomi, tetapi .... Olivia dan Naomi menatap sengit pada Nina yang tertawa barusan. Wanita itu seolah baru mendengar lelucon yang amat lucu. Lagi pula, yang memprakarsai makan malam ini adalah Nina!


Tatapan semua orang tertuju pada menantu keluarga gelap Ricci. Nina baru berhenti tertawa ketika sadar bahwa semua perhatian tersedot ke arahnya. Nina memang sengaja melakukannya.


"Anda kelihatan sangat bahagia malam ini," ujar Komandan Gerald agak heran dengan sikap Nina yang tidak pantas dengan situasi saat itu. Pria itu baru bertemu Nina kemarin, bahkan belum mengenalnya, tetapi sikap Nina Ricci berhasil mengundang seribu pertanyaan dalam benak kritis sang komandan.


"Sejak jatuh ke dalam sumur, saya memang jadi lebih sering tertawa, Tuan Kepala Detektif. Mungkinkah di sumur itu banyak mengandung gas tertawa?"


Komandan Gerald tercenung sesaat memikirkan kata-kata Nina, tetapi pria itu kemudian tertawa. Olivia dan Naomi terheran-heran dibuatnya.


"Baiklah, saya tidak terpikir sampai ke sana. Saya cuma heran tadinya karena berpikir Anda sedang menertawakan kesialan Nyonya Olivia," aku Komandan Gerald. Olivia tersindir mendengarnya. "Saya tidak merasa sial!" Suara Olivia meninggi. Egonya benar-benar dipermalukan di hadapan menantu dan sang komandan polisi. Olivia melepaskan diri dari pria itu, dibantu oleh Naomi. Gadis itu mulai mengalami dilema di antara dua pilihan: menyukai si polisi atau tidak.


Komandan Gerald turut bangkit lantas mendekati kursi yang posisinya menjauh dari meja. Ia berpikir sejenak sembari bersedekap, sampai suaranya memecah kebisuan yang mendadak tercipta lantaran terbawa sikap sang komandan yang tampak serius.


"Terjatuh dari kursi sebelum makan malam belum tentu berarti kesialan. Tapi, kursi yang bergerak sendiri jelas bukan sebuah kebetulan, Nyonya. Kursi ini jelas telah digeser dengan sengaja oleh sesuatu dan itu berlangsung di depan mata kita."


Komandan Gerald memungkas. "Kursi harusnya terguling bersama mertua Anda, Nyonya Nina."


"Apakah di rumah ini benar-benar ada hantu?" Olivia tiba-tiba berkomentar seperti itu hingga memicu decak kengerian dari putrinya.


"Hantu?" Pria itu berbalik pada Nyonya dan Nona Ricci. "Anda berdua yang tinggal di sini, seharusnya lebih paham seluk-beluk vila ini daripada saya."


Ekor mata Olivia dan Naomi bergulir kepada Nina yang lagi-lagi tertawa. Apalagi ketika Nina kembali berbicara aneh-aneh. "Saya baru tahu kalau hantu bisa mencelakai manusia, Tuan Kepala Detektif. Yang saya tahu malah sebaliknya. Tidak pernah ada sejarahnya ghostbuster gagal berprofesi sebagai penangkap hantu."


Komandan Gerald menggaruk pelipis atasnya yang mendadak berkedut. Keberadaan Nina di tempat itu lebih terasa seperti entitas yang mengintimidasi. Dengan tubuh mungil dan peristiwa besar yang mesti ditanggung oleh pemilik tubuh mungil itu, kepribadian Nina terasa kuat. Wanita itu seolah mematahkan segala teori dalam logika sang komandan.


"Izinkan saya mengambil alih dari sini, Nyonya dan Nona," ucap Komandan Gerald meminta persetujuan mereka semua.


"Silakan duduk." Pria itu sudah lebih dulu menarik kursi yang gagal ditempati oleh Olivia lantas mendudukinya. Ia pun tanpa sungkan memerintah mereka di kediaman milik keluarga Ricci.


Olivia berjalan angkuh menempati kepala kursi di ujung satunya, sementara Nina dan Naomi duduk berseberangan, membagi meja sepanjang lima kursi di tiap sisi menjadi sama rata. Setelah semua orang duduk dan para hantu takkasatmata yang cuma bisa dilihat oleh Nina mengelilingi mereka, sang komandan mulai bicara dengan nada tajam.


"Mari kita selesaikan masalah ini dengan permainan 'truth or dare'." Komandan itu mengambil sepucuk pistol yang ia bawa di sabuk celana dan meluncurkannya ke tengah-tengah meja, berhenti persis di depan Nina dan Naomi.


Oh ... Nina benar-benar menikmati permainan ini sekarang! Dari sudut matanya, ia bisa melihat ekspresi Olivia dan Naomi yang gelisah seketika. Tidak salah ia memilih untuk mempercayai sang komandan dan menjadikannya pion utama dalam permainan ini! Komandan Gerald mengikuti arah yang ia kehendaki tanpa meleset sedikit pun. Mengundang pria ini ke vila Ricci adalah langkah pertama balas dendamnya kepada para penghuni vila.


Nina bisa merasakan ketegangan yang mencengkeram ruang makan ketika Komandan Gerald menunggu reaksi dari Olivia dan Naomi, apalagi melihat pistol yang tergeletak di atas meja. Sayang, Nina tidak bisa membaca isi pikiran mereka. Namun, berpura-pura terlibat dalam permainan untuk memojokkan kedua wanita itu sepertinya tak kalah mengasyikkan. Dan hebatnya, ia mampu mengendalikan permainan ini tanpa sepengetahuan orang-orang.


"Kita sepakati saja. Kita mulai permainan ini dari Nyonya Ricci karena ia yang sudah memprakarsai makan malam ini."


Olivia tampak ingin protes dan Naomi telah berpikir bahwa ia bisa merebut pistol di atas meja lalu menembakkannya ke kepala sang komandan, lalu Nina untuk mengakhiri permainan, tetapi situasi berkembang cepat. Pistol itu kini ada dalam genggaman Nina yang mengambilnya lebih dulu seolah-olah Nina baru saja merebut mainan di tangan seorang bayi lantas menodongkannya ke arah kepala Olivia yang terperangah.


...***...