SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
LUBANG KELINCI



Sebelumnya di bukit ....


"Hah!" Nina merasa beran ketika ia tiba-tiba tertarik ke dalam lubang dan telah berpindah tempat ke dunia bawah. Hanya kegelapan tampak di sekitar. Satu-satunya cahaya berasal dari lampion emas yang dipegang oleh sosok di hadapannya. Si Pria Kelinci sedang menatap masam padanya dengan ekspresi wajah yang tampak tidak senang. Apakah Nina melewatkan sesuatu?


"Oh, hai, Tuan Kelinci! Bukankah kamu harusnya sedang bersenang-senang sekarang di luar? Kenapa kembali ke tempat gelap-gelapan begini lagi?" Ia berpura-pura terkejut seraya menyapa si bocah kelinci yang kini sudah menjelma pria tampan dengan sikap manis seperti bertemu teman lama.


"Tidak perlu menjilat!" ujar pria itu ketus.


"Baiklah. Aku tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba marah, Tuan Sindoorah."


"Nina, apa kau lupa pada perjanjian kita?"


"Perjanjian yang mana?" tanya Nina datar.


"Kau tahu? Aku sedang pesta kebun, lalu hatiku tiba-tiba sakit."


"Eh? Maksudmu, hati yang kuberikan padamu? Apa hubungannya, Tuan? Memangnya kamu tidak pernah sakit?"


"Kenapa pertanyaanmu beranak jadi banyak, Nina!" Sindoorah kehilangan kesabaran.


"Wah, kamu benar-benar jadi berubah setelah memiliki hatiku, Tuan Kelinci."


"Stop, Nina! Kau akan kucium kalau masih bicara!"


Nina pun terdiam. Seketika ia teringat akan malam laknat bersama Komandan Gerald. Tidak pernah dibayangkan jika ia akan dicium oleh pria selain suaminya yang payah dan pengkhianat.


"Oh, ya, Tuan. Aku sedang mencoba membayangkan bagaimana rasanya dicium seekor kelinci."


Sindoorah memelotot karena Nina jelas bukan gadis cengeng polos yang pertama kali ia temui dulu. Nina menjadi liar. Gertakan darinya juga tidak mempan di mata gadis itu. Tentu saja, karena Nina sekarang tidak punya hati. Ia lantas menghela napas putus asa.


"Sudahlah, lupakan saja!" sergahnya malas. "Aku terpaksa menarikmu ke bawah karena kau sudah mengacau di permukaan, Nona Polkadot!"


"Aku?" Nina menunjuk wajahnya


"Apa kau lihat ada orang lain di sini?" Sindoorah menepuk jidatnya gusar.


"Oh, Tuan Kelinci. Jangan buat kepalamu sakit juga, cukup hatimu yang sakit."


"Nina! Hanya itukah yang kautangkap dari perbincangan kita?" tanya Sindoorah meledak-ledak.


"Kita bicara soal perjanjian. Apakah itu?"


Demi melihat kejujuran dalam hati Nina, makhluk itu tak jadi marah. Ia pun menatap lelah.


"Nina, kau boleh menggunakan kekuatanku sesuka hatimu untuk balas dendam, tapi jangan sampai ketahuan kaum malaikat pengawas dari dunia atas!" Sindoorah berbisik mengancam dengan nada serius, bahkan matanya melebar awas seakan takut seseorang bisa mendengar ucapannya.


"Tuan Kelinci takut pada malaikat?" Nina terperanjat. "Karena itukah kamu menginginkan hatiku yang murni agar tidak terlihat dan bisa mengecoh para malaikat?"


"Akhirnya! Kau membuatku bangga karena mewarisi kecerdasanku, Nina!" Sindoorah berseru sarkastis.


"Isi otak kita mungkin saja telah tertukar."


"Tidak, tidak. Tapi tipu dayamu sudah setara denganku. Kau berbakat, Nina."


"Tentu saja, Tuan. Transaksi kita berhasil."


"Nah. Sekarang kembalikan kekuatanku!"


"Apa? Tidak mau!"


Enak betul si Tuan Kelinci meminta kembali kekuatannya di saat ia sedang berada di puncak kesenangan! Terang saja Nina menolak.


"Kamu tidak bisa membatalkan perjanjian seenaknya, Tuan Kelinci. Aku sudah menukarnya dengan hatiku yang berharga!"


Sindoorah menggaruk kepala karena Nina enggan bertukar kembali posisi mereka. Sedikit saja mencicipi kekuatan, Nina tampak ketagihan menggunakannya. Haruskah ia pakai cara kekerasan?


Nina menggeleng prihatin mendengar keluh kesah kelinci itu. "Kita menyebutnya kesedihan, Tuan. Wajar hatimu sakit jika sedang sedih."


"Lalu, bagaimana caramu menghilangkan rasa sakitnya?"


Pertanyaan si Tuan Kelinci sungguh ajaib! Sindoorah pasti belum pernah merasa sedih sepanjang hidupnya. Nina asal saja menjawab berdasarkan pengalaman masa lalunya. "Menangis, hingga air matamu habis dan sudah lelah menangis," imbuhnya enteng. Menangis memang senjata andalan Nina sebelum ini. Tapi tidak buat Sindoorah. "Bah!" ucap makhluk itu kesal. "Air mataku lebih berharga daripada air mata duyung! Aku ingin solusi lain!"


"Pergilah tidur dan lupakan saja, Tuan Kelinci!" Kenapa si kelinci ini mendadak lebay setelah beberapa hari mereka tidak berjumpa?


"Solusi macam apa itu?" Sindoorah tidak terima. Aku tidak pernah tidur sepanjang hidupku! Waktuku terlalu berharga untuk bermalas-malasan di tempat tidur!"


"Kamu serius, Tuan?" Nina menangkup pipinya tidak percaya. "Apa saja yang kamu lakukan jika lelah dan butuh istirahat?"


"Istirahat? Itu hanya berlaku dalam kamus makhluk fana! Aku abadi selama dunia masih ada!"


"Sungguh? Kamu kriteria penjaga keamanan impian, Tuan! Pasti lolos seleksi bekerja di mana saja!"


"Nina!" Sepasang mata Sindoorah menyala dengan warna merah terang. Kemarahan mencapai ubun-ubun si kelinci. Ia baru sadar sudah menciptakan seorang monster bernama Nina Ricci.


"Andai ada kompetisi 'The Mentor', sudah pasti aku jadi pemenangnya. Kau benar-benar membuat hatiku bergelora, Nina!"


"Bergelora?" Nina takjub mendengar pilihan kata Sindoorah.


"Ya! Di hatiku sekarang sedang turun hujan badai--gelora! Semua gara-gara ulahmu!"


Nina malah bertepuk tangan antusias. "Kamu memang mentor terbaik yang pernah kukenal, Tuan Kelinci!"


"Nina ... kau tamat!" Sindoorah mencengkeram kepala Nina dengan telapak tangannya yang besar. Namun, hatinya langsung meleleh melihat tatapan Nina yang berbinar.


Duh, kenapa matanya terlihat menyilaukan? Dia manis sekali!


Apalagi ketika Nina menghambur memeluknya, pikiran Sindoorah langsung terkontaminasi dan hatinya menghangat. Cengkeramannya di kepala Nina berganti menjadi belaian. Sesaat, ia lupa akan tujuannya semula--melampiaskan kekesalan pada Nina. Kemudian ia sadar telah masuk dalam rekayasa Nina. Omong-omong, kekuatan Nina mampu mengendalikan setiap orang jahat, tidak terkecuali dirinya. Ah, siaaal!


Sindoorah membatu.


"Tuan Kelinci, apakah hatimu sakit lagi? Atau ada bagian lain yang sakit?" Nina menepuk-nepuk punggung Sindoorah dengan maksud menenangkan. Sindoorah hanya menggeleng lesu dengan kepala tertunduk.


...***...


"Soleram, sol, soleram


Soleram anak yang manis


Anak manis janganlah dicium, Sayang


Kalau dicium merahlah pipinya"


Kepala Sindoorah berputar tujuh keliling. Nina menghibur dirinya dengan menyanyi di atas panggung. Lampu sorot terpaku pada Nina, sementara para hantu berjoget seru di luar lingkaran cahaya. Hiruk-pikuk suasana dan suara cempreng Nina sama sekali tidak asyik! Ia pun menggebrak meja kafe satu-satunya yang ada dalam lubang persembunyian mereka.


"Kamu kelihatannya betul-betul bosan, Tuan Kelinci." Nina melompat turun dari panggung dengan rok mengembang lantas menghampiri Sindoorah yang nyaris mati bosan di tempat. Sindoorah menatap garang. Nina paling jago bikin orang kesal!


"Aku bilang pertunjukan menarik, Nina. Bukan malah mendengar kau menyanyi!" protesnya. Hu-uh.


Nina tampak sibuk berpikir sebentar, lalu ia berteriak kencang mengagetkan Sindoorah. Kelinci yang malang ....


"Ah, aku tahu! Bagaimana kalau kita buat jebakan kelinci, lalu menonton tangkapan kita dalam kandang?"


Untuk sesaat Sindoorah terkesima membaca isi pikiran Nina, lalu senyum jahat tersungging di bibirnya.


"Ya ampun, kenapa kau tidak bilang dari tadi?"


...***...