SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
VILA KEGELAPAN



"Tuan Sin, Anda harus melihat ini," ujar Nina seraya menatap ke halaman dari balkon. Sindoorah mendekat lantas mengikuti pandangan wanita itu. Di halaman, tampak Olivia sedang berdiri di sana. Ia tidak sendiri, ada seorang pria asing dengan penampilan tradisional bersamanya. Pria itu ceking seperti manusia lidi jika dilihat dari atas. Nina bahkan sempat mengira pria itu orang-orangan sawah berjalan.


"Orang itu takkan berani memasuki vila. Lihat saja jika dia menginjakkan sebelah kaki di sini, mayatnya yang akan keluar." Sindoorah seolah berbisik pada dirinya sendiri, lalu kata-katanya dibawa oleh angin dan sampai ke telinga Naomi yang sedang mengintip.


Sebelum ketahuan, Naomi bergerak mundur perlahan. Langkahnya begitu hati-hati agar tidak bersuara. Setelah dirasa dalam jarak aman, langkahnya mulai lebar dan cepat hingga menjadi derap. Naomi berlari ke pintu depan.


Akan tetapi, niatnya semula untuk menyongsong sang ibu terbendung oleh perasaan masygul. Naomi berpikir ulang untuk bergabung dengan Olivia karena Nina dan si pria kelinci sedang mengawasi dari balkon. Naomi hanya ingin selamat, jauh dari masalah.


Sementara itu di luar, Olivia sedang menguatkan diri untuk mendengar penuturan si paranormal surjan, begitu Olivia menyebut pria ceking di hadapannya.


"Vila ini benar-benar gelap." Itulah kata-kata yang kerap Olivia tangkap sedari tadi, seolah-olah sang paranormal kekurangan perbendaharaan diksi untuk diucapkan.


"Permisi, kegelapan seperti apa yang Anda maksud? Anda bahkan belum melihat bagian dalam vila saya--"


"Dalam penerawangan saya, segala hal di vila terlihat berantakan dan tidak punya masa depan selain kegelapan."


"Hah?"


"Terutama di area balkon." Paranormal surjan merentangkan lengan dan menggerakkannya seakan berupaya menghalau sesuatu yang datang dari depan.


Tepat pada saat itu, Olivia mulai membidik tindak-tanduk pria itu dengan kamera. Rencananya, akan ia kirimkan pada Nolan nanti, sekaligus barang bukti jika sesuatu terjadi. Olivia senantiasa berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan.


"Oh, kemampuan Anda sungguh mengesankan, Pak."


Sang paranormal mendelik gara-gara reaksi Olivia yang berlebihan dan salah situasi.


"Saya bicara tentang masa depan Anda yang terancam, Nyonya."


"Kenapa saya jadi merinding, ya? Apakah vila itu benar-benar ada hantunya, Pak? Auranya gelap, 'kan, seperti kata Bapak?"


Sang paranormal lantas menggeleng penuh keprihatinan atas kekacauan yang sedang menimpa isi kepala Olivia. "Permisi, Nyonya. Izinkan saya--" Ia mengeluarkan sebotol air kemasan dari tas selempang, lalu meminumnya, dan ... Olivia disembur dengan air tersebut.


"Aaa! Kenapa saya disembur? Saya bukan wastafel buat kumur-kumur!" Olivia memekik jijik. Ia langsung mengelap wajah dengan dengan lengan baju. Bukan hanya wajahnya yang basah, tapi juga gawai di tangannya yang digunakan untuk merekam aksi sang paranormal. Olivia pun teringat pada rekaman yang masih berjalan dan langsung menyetopnya.


"Itulah kegelapan yang saya maksud. Anda pasti sudah menemui banyak hal aneh di vila ini, tapi tetap menutup mata. Anda sungguh keras kepala menghadapi fakta ini, Nyonya."


Perhatian Olivia teralihkan dari gawai. Wanita itu tidak bisa menampik perkataan paranormal surjan. Ia memang sudah bertemu sebagian penyebab keanehan di vila, bahkan berinteraksi secara langsung dengan dedengkotnya.


"Saya menggunakan jasa Anda untuk mengusir hantu di tempat ini, bukan menceramahi atau mengusir saya dari vila saya sendiri, Pak."


"Kenapa Anda tidak bilang dari awal?"


"Hah? Maksudnya?"


"Jasa saya terbatas untuk penerawangan, bukan pengusiran. Anda harus mencari paranormal lain untuk membuang semua aura gelap yang menaungi vila Anda."


"Please, jangan bercanda, Pak. Banyak ulasan yang merekomendasikan Anda untuk menangani urusan makhluk halus. Masa Anda menolak klien?"


Paranormal surjan menggeleng dengan sorot mata tak kalah suram daripada aura kegelapan yang senantiasa ia dengung-dengungkan. Ia terbiasa menangani kasus-kasus paranormal tak terpecahkan dengan membaca jejak aura yang ditinggalkan oleh aktivitas gaib, tetapi baru kali ini menghadapi klien dengan kepala sekeras Olivia.


"Duh, Pak. Siapa yang Bapak rekomendasikan? Saya tidak tahu lagi harus mencari ke mana. Saya kira spesifikasi kemampuan Anda sudah satu paket dengan pengusiran hantu." Olivia mengeluh putus asa. Menyewa jasa paranormal surjan tidaklah murah karena rating-nya tinggi, sesuai testimoni pelanggan sebelumnya di mbah gugel.


"Saya kenal seseorang--"


"Sungguh, Pak?" Belum selesai, Olivia langsung berteriak kegirangan. Berbanding terbalik dengan ekspresi muram di wajah paranormal surjan.


"Saya tidak tahu persis bagaimana cara menghubungi orang ini karena keberadaannya gaib."


"Hah?" Entah keberapa kalinya Olivia memasang ekspresi bodoh.


"Bukannya Anda penerawang gaib nomor satu, masa Anda tidak bisa mencari orang gaib ini?"


"Orang ini bukan untuk dicari, Nyonya."


"Bapak jangan hoaks, dong."


"Saya hanya memberi tahu yang sebenarnya. Selamat tinggal kalau begitu." Paranormal surjan malah berbalik pergi.


"Pak, urusan kita belum selesai!" Olivia bergegas mengadang di depan si paranormal.


"Sudah. Setelah melihat langsung vila ini dengan mata kepala saya sendiri, saran saya tetap sama. Anda harus keluar dari tempat ini. Makin cepat makin baik."


"Pak, tolong jangan begini ke saya!" Olivia tersungkur dan memeluk sebelah kaki si paranormal sehingga pria itu menjadi amat terkejut. Tubuh Olivia yang gempal berisi adalah beban luar biasa bagi tubuh kurusnya.


"Lepaskan saya, Nyonya. Kontrak kita berakhir sampai di sini. Tolong jangan libatkan saya lebih jauh." Pria itu memohon dengan segenap kesabaran, berharap transaksi mereka diselesaikan secara baik-baik.


"Baiklah!" Olivia melepaskan kaki si paranormal lantas kembali menegakkan harga dirinya yang sempat dibanting. "Tapi jika besok-besok ada headline 'perempuan tua malang tewas mengenaskan di vilanya sendiri', maka itu adalah salah Bapak, dan Bapak akan saya gentayangi sampai mati. Bahkan, anak keturunan Bapak tidak akan tenang seumur hidup."


"Nyonya mengancam saya?


"Bapak nanya?"


Paranormal surjan menepuk nyaring kepala. Sejak awal wanita ini meminta bantuan darinya, ia sudah memperoleh firasat kelam dan ternyata firasatnya itu selalu terjawab.


"Saya akan menempuh risiko apa pun untuk bertemu orang itu, Pak. Asalkan saya tidak kehilangan vila ini. Tolong, Pak." Olivia kini menggunakan jurus memeras air mata. Meskipun tidak yakin akan berhasil, sepertinya pria kurus yang tampak setengah mati ingin melarikan diri darinya ini punya secuil nurani. Tatapan sang paranormal tidak serta-merta silau oleh ketebalan amplop yang ia suguhjan, jika memang niat menolongnya semata-mata demi uang.


Paanormal menghela napas berat. Amat berat hingga cuping hidungnya melebar maksimal. Ia menatap tajam ke dalam mata Olivia.


"Baiklah, tapi saya tidak menjamin ini akan berhasil."


"Oh, terima kasih! Tidak apa-apa. Saya ingin mencoba."


"Kalau begitu, siapkan seekor ayam cemani dan kandang besi hitam untuk saya malam ini."


***