
Setelah pintu elevator terbuka, seseorang masuk lantas berdiri menghalangi seakan sengaja. Orang itu adalah pria muda bergaya mencolok. Ia mengenakan jaket denim tua ketinggalan zaman, celana korduroi jingga cerah, mokasin penuh lubang berpola yang terkesan feminin untuk telapak kakinya, serta rambut dengan warna ombre pirang sebahu yang terlihat agak berantakan. Delissa sempat terperangah melihat penampilannya yang ajaib, sementara pria itu tampaknya tidak terkejut mendapati reaksi Delissa, seakan-akan ia sudah sering menerima reaksi tersebut dari orang lain sebelumnya.
"Ha. Sepupu gelap dan perempuan random mana lagi ini." Pria itu mengangsurkan tangan, mungkin bermaksud untuk mengajak Delissa bersalaman, tetapi Nolan lekas menarik wanita itu merapat ke sisinya.
"Jangan dekat-dekat. Aku tidak mau dia ketularan kutu karena kamu jarang mandi." Nolan melempar tatapan penuh peringatan.
Pria muda itu memasang wajah tersinggung yang dramatis. Kedua tangannya membingkai kedua belah pipi dan rahang yang tirus. Matanya melebar.
"Kamu menyakiti perasaanku\, Bro. Padahal kita sudah lama tidak bertemu. Lagi pula\, aku tidak sejorok itu. Rekor tidak mandi terlamaku cuma tiga hari di musim dingin. Ketika terjebak di Prancis tahun lalu." Sang sepupu mengedipkan mata\, sekaligus menandaskan bahwa ia punya gaya hidup yang lebih berkelas dibandingkan Nolan. Liburan ke Eropa sepanjang tahun belum pernah berada dalam daftar-*bisa-*dilakukan Nolan.
Belum apa-apa, sepupunya telah mengajak gelut dengan memamerkan perbandingan kesejahteraan hidup mereka. Nolan hanya membalas dengan menarik ujung bibir sekenanya. Sebentar lagi jika rencananya berhasil, maka roda nasibnya akan berputar. Ia mampu membalas penghinaan semacam ini dengan tindakan yang lebih barbar. Sepupunya pasti bakal tahu rasa.
"Oh, ya? Aku tidak tahu kalau kedatanganku bakal dinanti-nantikan dan disambut," sindir Nolan blakblakan sehingga ekspresi pria muda di hadapannya mengendur lantas mengulas senyum yang tampak penuh kepura-puraan.
"Permisi." Nolan kemudian bicara terus terang karena sang sepupu masih saja berdiri di depan pintu elevator. Sepertinya ia keberatan memberi Nolan akses ke tempat tujuan pria itu.
"Uhk!" Delissa menutup mulut dengan wajah memucat. Ketegangan suasana tiba-tiba membuat asam lambungnya bergolak, ditperparah oleh hormon kehamilan yang tidak terkendali. Wanita itu berusaha meraih Nolan dengan tangannya.
"Kenapa, Beb?" Nolan menoleh ke samping dengan heran. Ia lihat Delissa menatap gelisah dengan tatapan tidak fokus ke sembarang arah. Delissa malah menggeleng lemah, napasnya terengah-engah, masih dengan tangan mengatup rapat di depan mulut. Wanita itu terhuyung seraya maju selangkah, lalu ....
"Oeeek!" Muntah Delissa tersembur memercik pada jaket sepupu Nolan. Pria berpenampilan ajaib itu segera menjerit nyaring seperti perempuan.
***
Nina menegakkan punggung seraya balas menatap si ayam hitam raksasa. Ia menegaskan kepada makhluk itu siapa yang berkuasa di antara mereka, tetapi makhluk itu malah mendekat perlahan. Lehernya melenggok dan jengger di belakang paruhnya menegak bagai menantang. Siap menyerang.
Sekian detik berikutnya, ayam setinggi dua kali tubuh Nina itu mengepakkan sayap, lalu melompat ke atas balkon. Cemanis mistis merundukkan kepala untuk memandangi Nina lebih lekat dengan bola matanya yang hitam pekat, kemudian membuka paruhnya lebar dan berkokok. Nina kontan menutup telinga dari serangan hipersonik si ayam yang membelah kesunyian. Sementara di kamar, Naomi langsung terbangun mendengar kokok ayam malam buta. Gadis itu lantas meringkuk makin rapat di bawah selimut.
"Suara apa itu?" pekik Olivia kaget. Ia berjaga di luar vila bersama paranormal surjan. Mereka sedang dalam misi rahasia--Olivia bahkan tidak mengajak Naomi serta karena risiko akan ia tanggung sendiri jika rencana sampai gagal. Olivia tidak ingin melibatkan Naomi yang masih terguncang pascakesurupan.
"Lalu?" tanya Olivia penuh rasa ingin tahu. Bola matanya melebar dan napasnya memburu lantaran berdebar. Kata-kata si paranormal seketika membangkitkan antuasiasme dan harapan yang lantas meledak-ledak dalam dirinya. Bayangan kejatuhan Nina tentu saja membuatnya bahagia. Akan lebih bagus lagi jika Nina sampai mati. Bibir Olivia pun tertarik tidak tentu arah.
"Semoga cemani bisa menakuti-nakuti entitas gelap yang sedang menghantui vila Anda agar segera pergi."
"Jangan cuma ditakut-takuti dan diusir, tapi dibasmi! Dimusnahkan!" Olivia memelotot tidak puas pada paranormal surjan.
"Tidak, Nyonya. Saya sudah bilang di awal kalau saya bukan pembasmi hantu. Saya bahkan telah melanggar batas keahlian saya untuk membantu Anda saat ini. Saya bukan dukun santet!"
"Saya tidak mau tahu! Pokoknya Anda harus memusnahkan hama penyakit yang bersarang di vila saya atau saya bakal bilang ke orang-orang kalau bisnis paranormal Anda palsu! Enggak manjur!"
Keringat mulai mengalir di kening pria itu. Hawa dingin tidak berhasil meredakan suasana yang memanas akibat perdebatan dan situasi. Olivia menuntut hasil di luar kesepakatan dan lebih berbahaya. Ancaman wanita itu terdengar serius bagi keberlangsungan nama baiknya.
"Baik, Nyonya. Tapi, ada risikonya karena kematian target akan terlihat tidak wajar. Anda siap bakal berurusan dengan polisi? Jangan libatkan saya!" tuntut si paranormal balik.
"Tenang saja, Pak. Saya akan tutup mulut soal Anda karena saya punya rencana. Ada orang lain yang bisa saja jadikan tersangka kematian menantu saya. Hahaha!" Olivia terbahak penuh kesenangan. Semua orang yang berpotensi terlibat sudah ia perhitungkan matang-matang. Olivia bahkan melambai-lambaikan segepok uang dollar ke hadapan paranormal surjan hingga mata pria itu silau seketika. Tangannya bergerak ingin mengambil uang tersebut, tetapi Olivia lekas menyembunyikannya di balik saku blus. Keringat mengalir makin deras membasahi pelipis pria itu tatkala matanya terpaku ke arah uang yang disembunyikan oleh Olivia, tetapi ia justru menemukan hal lain yang tak kalah menggiurkan. Paranormal itu meneguk ludah.
"Ada bonusnya kalau Anda berhasil menuntaskan rencana ini secepatnya, Pak," goda Olivia seraya mengedipkan mata. Akal sehat si paranormal kini dikuasai sepenuhnya oleh pesona wanita itu, hingga paranormal surjan hanya mengangguk mengiakan, lantas merapal mantra seperti bisikan dengan nada tidak sabar.
"Cem ... patuk orang itu sampai mati! Cepat!"
Olivia terkikik. Ia percaya betul akan kemampuan si paranormal. Jika Nina betulan mati, ia takkan keberatan diajak kencan pria ini di semak-semak. Demi keberhasilan rencananya untuk merebut kembali vila Ricci dari kekuasaan Nina, juga mendukung rencana utama mereka yang sedang dijalankan Nolan di Singapura sekarang.
Lalu, terdengar bunyi tepuk tangan lambat-lambat. Seseorang lantas berbicara dari kegelapan. "Bagus. Anda memang lihai menyembunyikan rencana hingga di saat terakhir. Takkan ada yang tahu niat Anda kecuali malaikat pencatat."
"Siapa itu?" cecar Olivia terkejut luar biasa sambil menatap ke arah semak-semak di sekitar mereka. Konsentrasi paranormal surjan pun buyar.
***