
"Komandan, Anda dari mana saja?" sapa Sersan Andi bingung. Gerald baru kembali ke markas menjelang malam. Wajah sang komandan tampak kusut dan suram bagai sedang ditimpa masalah serius.
Gerald tidak langsung menjawab, ia melempar borgol dengan kesal ke atas meja. Borgol yang semula digunakan Nina untuk memperlambat dirinya.
"Sersan, siapkan surat penggeledahan ke vila Ricci segera!" Gerald menurunkan perintah pada bawahannya.
"Apakah akhirnya Nyonya Nina mengakui kejahatan yang menimpa dirinya?" tanya Sersan Andi lagi bingung.
"Sebaliknya, kita akan menggeledah apa yang disembunyikan oleh Nina Ricci di vilanya.
"Maksudnya?" Sersan Andi semakin bingung.
"Penyidikan berganti pada Nyonya Nina Ricci."
"Komandan!" Wajah sang bawahan kontan terkejut. "Atas dasar apa? Kenapa tiba-tiba?"
Gerald tidak mungkin menjelaskan hal supranatural yang melibatkan dirinya dan Nina. Kesempatan untuk mendekati wanita itu kini hanya lewat jalur hukum. "Dia telah mempermainkan polisi dan memberikan keterangan palsu." Maka, itulah alasan yang ia kemukakan pada sang bawahan.
"Anda serius, Komandan?" Dengan kurang ajar, Sersan Andi malah mempertanyakan dasar tindakannya. Reputasinya benar-benar dipertaruhkan kali ini lantaran ulah seorang Nina.
Gerald ingin mengerang frustrasi. Namun, lebih dari itu, ia butuh setiap kesempatan untuk bergerak menghadapi Nina yang licin. Siapa pun yang mencoba menghalanginya kini, harus ia singkirkan.
"Sersan Andi, ini teguran pertama untukmu."
"Baik, Komandan. Siap laksanakan!" Sersan Andi memberi hormat, lantas meninggalkan Gerald sendiri.
Sang komandan tertegun sejenak. "Nina Ricci, kali ini kita akan berhadapan langsung."
***
Petir menyambar langit di atas vila Ricci. Malam gelap tersibak, hingga terlihat bayangan seseorang berdiri terbungkuk di teras depan. Orang itu sedang mengetuk pintu dalam gerakan rikuh.
"Naomi!"
Olivia berteriak kesetanan lantas memeluk Naomi yang muncul begitu pintu terayun membuka. Tubuh Naomi menggigil ketakutan dan gemetar, giginya gemeletukan, dan wajahnya pucat pasi. Apalagi ketika ia melihat sosok Nina keluar dari dalam vila.
"Iblis betina! Ia bersekutu dengan setan kelinci, Mi!" jerit Naomi histeris, mengalahkan lengking kepura-puraannya tatkala bersandiwara di hadapan polisi dulu.Tangannya menunjuk batang hidung Nina yang tampak tidak terintimidasi sama sekali oleh eksistensinya.
Maka, ketika Naomi mengancam, "Awas, kamu Nina! Akan kuhajar kamu!" Nina hanya menarik satu sudut bibirnya sinis karena adik iparnya masih berani bicara dan kelihatan tidak belajar dari pengalaman buruk.
"Naomi! Stop!" Olivia buru-buru menenangkan putrinya. Ia tarik Naomi menjauh dari Nina dan masuk ke dalam. Saat itu, kondisi Naomi terlampau lelah hingga tak kuasa membantah. Tinggal Nina sendiri setelah Olivia dan sang putri pergi.
Tidak benar-benar sendiri. Kilat tanpa guruh kembali membelah langit lantas menerangi sosok seorang pria dalam setelan kemeja kasual sedang berdiri di halaman. Ia menatap Nina yang bersedekap seraya menatap jemawa dari atas beranda.
Tanpa banyak bicara, Nina menggerakkan kepala ke arah vila sebagai undangan. Pria itu pun menyeringai lebar tatkala Nina membukakan pintu vila Ricci lebar-lebar untuknya.
***
Naomi meminta Olivia menyelimuti dirinya setelah membasuh diri sejenak dalam pancuran air hangat. Gadis itu merasa jijik dengan aroma kangkung busuk dan bekas jamahan si pria kelinci di tubuhnya. Dendam kesumat bergulung-gulung bagai ombak kegelapan dalam hatinya. Tidak mungkin Naomi akan memaafkan atau melepaskan Nina begitu saja!
"Aku harus bikin perhitungan dengan Nina, Mi!" tekad Naomi dengan amarah berkobar, kendati tubuhnya masih gemetar oleh rasa dingin.
"Nao, jauhi Nina ...." Olivia memohon.
"Apa, Mi? Sejak kapan Mami jadi pengecut?"
"Mami lebih marah daripada kamu, tapi Mami minta kamu sekarang hati-hati! Jangan sampai jatuh ke lubang lagi!"
Naomi menggigit bibir bawah getir saat mengingat insiden nahas sebelumnya di lubang busuk. Beruntung, ia kemudian dibiarkan merayap keluar dengan susah payah oleh si pria kelinci. Naomi tidak memedulikan rasa sakit yang menjalari sekujur tubuhnya akibat babak belur kena hajar makhluk terkutuk itu. Rasa sakit tersebut kini kembali mendera dan membuat ia susah terlelap sebelum dendamnya terbayarkan.
Sambil gelap-gelapan, Olivia pun memijit badan Naomi agar putrinya beristirahat dengan tenang malam ini.
***
Terdengar bunyi wajan mendesis. Aroma asin garam dan lautan semerbak. Nina sedang memasak di dapur seperti biasa. Wanita itu tidak pernah menolak untuk melakukan pekerjaan domestik semacam itu meskipun ia bukan lagi Nina yang bisa disuruh-suruh seperti kemarin. Sah-sah saja jika Nina punya pemikiran untuk memerintah Olivia atau Naomi, tetapi Nina memilih untuk melakukannya sendiri karena ia tidak ingin perutnya tersiksa oleh masakan sang mertua yang keseringan gagal.
Jeritan nyaring lantas menggegerkan seluruh vila. Asalnya dari Naomi, gadis itu muncul bersama Olivia di ruang makan. Nina hanya menoleh sebentar pada ibu mertua dan adik iparnya, lalu kembali berkutat dengan sudip dan wajan penggorengan.
"Apa-apaan kamu, Nina. Kenapa makhluk itu ada di sini!" Amarah Olivia tertahan. Wanita itu tidak berani meluapkan emosinya terang-terangan karena posisi mereka sedang tidak diuntungkan. Nina mendadak jadi David Copperfield dan ada kelinci raksasa jadi-jadian sedang duduk manis di meja makan. Hati siapa yang tak resah dan pilu, sementara ia masih pemilik vila Ricci yang sah.
"Dia tamuku," ujar Nina santai sambil menyorongkan telunjuk pada Sindoorah yang kemudian mencicipi makanan langsung dari ujung jari Nina. Olivia dan Naomi terbelalak menyaksikan.
"Daging apa ini? Rasanya hambar." Ekspresi Sindoorah tampak datar.
"Masa, sih?" ujar Nina heran. Ia menjiat-jilat sudip hingga Oliva dan Naomi seketika kehilangan selera makan. "Ini lobster terbaik dari Kanada. Mana mungkin tidak ada rasanya. Pasti karena Anda kelinci, jadi tidak bisa makan daging, Tuan Sin." Nina memprotes.
"Aku bukan kelinci biasa, ingat? Aku omnivora. Pemakan segala. Terutama anak gadis yang beraroma lezat."
"Aku bukan kanibal, Tuan Kelinci. Aku masih normal. Lagi pula, di mana aku bisa menemukan anak gadis seperti yang Anda suka?"
"Ada satu di rumahmu." Sindoorah melirik ke arah Naomi, sementara Olivia dan Naomi pias mendengarnya.
"Hm. Naomi yummy." Nina menimpali dengan jenaka lantas tawa keduanya pecah.
"Kamu pakai kartu kredit Mami lagi?" Olivia menatap Nina lelah. Tanpa rasa bersalah, Nina pun mengangguk.
"Bukankah kita biasa masak mewah ala restoran gini? Nolan suka lobster."
Terdengar bunyi berisik sudip beradu dengan wajan, Nina mulai menyisihkan hidangan ke piring saji, lalu kembali menjilati sisa saus yang menempel di sudip. Naomi memasang tampang mual.
"Mami adalah Nyonya Besar Ricci. Keluar duit lima jeti juga nggak bikin Mami mati, 'kan," imbuh Nina enteng.
"Kamu pikir, Mami beranak duit? Duit itu sebentar lagi bakalan habis kalau kamu boros belanjanya!"
"Oh, ya?" Nina memicingkan mata menatap Olivia. "Bilang itu sama Nolan, Mi. Dia yang paling banyak menghabiskan duit Mami buat hura-hura dan jajan perempuan. "Any objection, by the way?"
"Nina! Kamu ini benar-benar tidak tahu diri, ya. Kamu merampok Mami! Nggak cukup juga, kamu memasukkan orang yang sudah menyakiti Naomi ke rumah ini!"
"Apa Mami dan Naomi lupa apa yang sudah kalian perbuat ke aku? Tuan Kelinci menolongku, sementara kalian ingin membunuhku!"
Sindoorah pun bersiul memanas-manasi konflik internal keluarga tidak absah Ricci yang langsung meluber ke mana-mana. Andai roda kehidupan mereka tidak berputar, mungkin Nina sudah dijadikan objek bulan-bulanan sang mertua dan adik ipar sekarang. Apa pun alasannya, walaupun Nina tidak dalam posisi bersalah, ia tidak mungkin lolos dari rongrongan Olivia dan Naomi yang membabi buta. Karena pada dasarnya, hati kedua perempuan itu telah buta dan mati.
"Nah, any objection, Madam?" Sindoorah beranjak dari kursi lantas mendekat pada Nina sebagai dukungan. Sebelah lengannya yang panjang melingkari leher Nina bagai jimat penolak kesialan.
"Nona Polkadot, kau ingin aku apakan mereka?" tawar Sindoorah berbaik hati, bagai sedang menawarkan sepiring emas berkilau ke hadapan kaum papa. Gula di bibir Sindoorah manis seperti biasa, mata Nina pun berbinar.
"Bukankah Anda tahu kalau aku sekarang bisa melakukannya sendiri?"
"Tidak. Tidak untuk yang satu ini. Kau tidak perlu mengotori tanganmu, cukup bilang padaku. Biar aku yang bereskan. Anggap saja ini bagian dari kesepakatan kontrak." Tentu saja juga bagian dari kesenangan si pria kelinci. Bibir Sindoorah menyeringai jahat.
"Kena, kalian!" Naomi tiba-tiba berseru penuh kemenangan. "Sekarang aku punya bukti persekongkolan kejahatan kalian berdua, wahai para iblis! Vila ini akan segera digeledah, Nina!"
"Apa yang kamu lakukan, Naomi?" selidik Nina seraya mendekat. Tingkah Naomi tampak mencurigakan dengan kedua lengannya tersembunyi di belakang badan.
Berbanding terbalik dengan sikap Nina yang langsung terpicu, Sindoorah hanya bergeming di tempat. Dengan tegas, ia berbicara kepada Nina. "Dia hanya ingin menjebakmu, Nina." Serta-merta, Nina berpaling pada si Tuan Kelinci. Naomi dan Olivia berpandangan heran penuh tanda tanya.
Ah, ya .... Nina sempat lupa bahwa hatinya bersemayam dalam tubuh Sindoorah. Pria itu kini memiliki senjata untuk berada satu langkah untuk membaca niat jahat orang lain.
"Lupakan saja, Gadis Umami. Kau tidak akan memperoleh bukti apa-apa untuk menjerat Nina. Anda bisa menyimpan kembali ponsel Anda, Nyonya." Sindoorah lantas menegur Naomi dan Olivia yang langsung gelagapan.
"Mi!" "Nao!" Mertua dan adik ipar Nina kontan saling merapat ngeri tanpa memahami hal laknat apa yang sedang berlangsung di hadapan mereka.
"Lihat, siapa kini yang punya hati." Nina bercekak pinggang seraya mengulas senyum berkilauan. Sepasang mata Sindoorah balas menyipit. "Apa kau pernah mendengar mitos kalung kaki kelinci sebagai jimat keberuntungan, Nina?"
"Welcome to my life, my home, and my kitchen!" ujar Nina semringah.
"Ayo, Nao! Kita tinggal saja pasangan iblis ini!" Olivia menarik tangan putrinya agar pergi dari dapur, meskipun air liur membanjiri rongga mulut dan perut mereka keroncongan hebat. Tidak dapat dipungkiri, aroma masakan Nina telah mencuri perhatian mereka sedari tadi. Satu-satunya alasan yang menggiring kaki mereka melangkah sendiri ke tempat ini.
"Naomi juga nggak selera, Mi!" Naomi berkata ketus,
"Kembali!"
Untuk sesaat, mereka tidak menghiraukan perintah Nina, tetapi sebuah kekuatan tidak terlihat segera saja menarik keduanya hingga kembali ke tempat semula.Olivia dan Naomi bertabrakan tatkala berhenti, lantas berdiri tegak berdempetan. Mereka mulai ketakutan akibat intensitas suasana yang mulai mencekam.
"Duduk!" Singkat saja perintah Nina, tetapi bagai vonis hukuman mati.
"Mami tidak mau makan."
"Ogah duduk bareng penjahat macam kalian berdua."
"Mulai sekarang, tidak boleh ada obrolan toksik selagi makanan dihidangkan!" imbuh Nina sambil membagi-bagikan piring ke atas meja makan.
"Untuk apa kau memikirkan perut dua musuhmu ini, Nina? Tidak ada ruginya bagimu jika mereka mati kelaparan," protes Sindoorah.
"Karena kita harus bersikap baik pada peliharaan. Lagi pula, tidak asyik makan tanpa hiburan. Bukan begitu, Tuan?"
Sindoorah terperangah sejenak, lantas bahunya berguncang. Nina tidak pernah gagal membuatnya takjub.
"Aku tidak mau makan!" sahut Naomi ketus seraya memandangi hidangan di meja makan dengan jijik. Nina memelesatkan tatapan sinis pada gadis itu.
"Tentu saja kamu harus makan yang banyak, Naomi. Karena sampai waktu yang tidak ditentukan, kamu harus melayani dan menyenangkan hati Tuan Sin."
Naomi pun menarik napas terkejut. Bola matanya seakan mencelat keluar.
"Apa-apaan, kamu, Nina! Jangan kurang ajar!"
"Ssst!" Sindoorah menempelkan telunjuk di depan mulut, lalu menatap ibu mertua Nina dengan tajam.
"Saya tidak keberatan jika Anda mau menggantikan posisi putri Anda, Nyonya."
"Eh?" Olivia terpancang tegak di kursi.
"Ah, iya. Anda penyuka segala, ya, Tuan. Tua atau muda, semua Anda sikat." Sindoorah hanya tertawa menanggapi kata-kata Nina.
Sinting! Olivia mengumpat dalam hati karena tiba-tiba saja ia masuk dalam daftar perburuan si pria kelinci. Entah pria itu berbicara serius atau tidak, situasinya telah tergelincir jauh dari harapan. Inilah jadinya jika mereka nekat ke dapur, tempat kekuasaan Nina. Kendati Olivia sendiri sudah memperingatkan agar mereka menjaga jarak dari Nina, tetap saja gesekan seperti ini bakal terjadi. Nina makin ngelunjak dan merasa berada di atas angin. Nina telah membuka pintu untuk orang asing. Bukan sembarang orang asing, tetapi setan kelinci yang telah bermain-main dengan sang adik ipar.
"Kita lihat saja, Nina. Sampai di mana permainan ini akan berakhir!" tegas Naomi mengambil alih posisi melindungi Olivia dengan dagu terangkat. Sang ibu berbagi kecemasan dengan menggenggam tangannya.
Demikianlah, Naomi ingin memperlihatkan pada Nina bahwa gadis itu tidak akan pernah terintimidasi berada di rumahnya sendiri. Nina tidak boleh menguasai vila Ricci.
Akan tetapi, Naomi kembali gentar tatkala melihat senyum jahat di bibir Sindoorah.
***