
Naomi memandangi kotak sekring di belakang pintu dengan gusar, sementara sebelah tangannya memegangi gawai sebagai senter. Ia merasa heran kenapa listrik tetap tidak menyala walaupun posisi sakelar ia kembalikan seperti semula.
"Masa, iya, harus tunggu petugas PLN sampai besok? Bakal mati bosan malam ini," gerutu Naomi.
Penasaran, Naomi bermaksud keluar rumah untuk memastikan. Ia pun berdecak ketika membuka pintu, lalu melihat lampu jalan kecil menuju vila di depan tidak padam. Berarti hanya listrik di tempat ini yang bermasalah.
Naomi tidak sadar ketika bayangan gelap seseorang muncul di belakang, lalu melukis sebuah lingkaran di lantai mengelilingi kaki gadis itu dengan jarinya. Setelah kedua ujungnya bertemu, garis lingkaran tersebut bercahaya, lantas tertangkap oleh sudut mata Naomi dan menarik perhatiannya.
Belum jeli Naomi mengamati, lubang itu tiba-tiba menelannya, berikut teriakan kencang yang lolos dari mulutnya. Suaranya terdengar menjauh sewaktu meluncur jatuh ke dalam sana.
***
"Mamiii!"
Sia-sia saja walaupun Naomi terus berteriak memanggil ibunya. Tubuhnya tidak mau berhenti seakan tersedot ke dalam ruang hampa. Tangan Naomi bergerak liar berusaha mencari pegangan, tetapi hanya ada udara kosong di sekitar yang tertangkap indra perasa.
Naomi terus berteriak sampai suaranya serak. Hingga akhirnya ia mendarat di atas sesuatu yang empuk dan terdengar bunyi benda patah yang tipis seperti gigitan kerupuk, Naomi kembali melambung ke udara seakan memantul.
Setelah dua kali pantulan lagi bagai lemparan keberuntungan, barulah tubuhnya kemudian betul-betul berhenti dalam posisi telungkup.
Bau anyir setengah busuk yang kuat menusuk organ penciumannya. Naomi tidak tahu apa itu atau di mana ia berada sekarang karena tempat itu demikian gelap. Ia hanya berusaha bangkit secepat kilat, tetapi lantas tergelincir karena kakinya memijak pada permukaan licin, sekaligus bertekstur tidak rata.
"Ih, jijay! Apa ini?" pekik Naomi.
Bertepatan dengan itu, sebuah lampu sorot dari depan tiba-tiba membutakan penglihatannya.
"Wow, tangkapan yang besar, Nina!" Seseorang lantas bertepuk tangan.
"Sudah kubilang, 'kan? Ini mengasyikkan."
"Nina?" Naomi berdesis kaget. "NINA!" Ia kemudian berteriak marah sekencang-kencangnya. "DI MANA KAMU? KELUAR!"
Naomi kembali memejamkan mata karena cahaya lampu itu begitu terang menyilaukan. Ia segera melindungi wajah dengan lengan.
Tidak ada jawaban, hanya terdengar tawa cekikikan seseorang. Tawa itu terus bergaung di telinga Naomi seolah berasal dari segenap penjuru, hingga kepala gadis itu terasa berpusing.
"DIAM, NINA SIALAN!"
Naomi menutup kedua kupingnya yang menjadi sakit karena tawa penuh kemenangan Nina bagai menampar harga dirinya. Naomi benci suara yang mampu mengikis keberaniannya itu! Terutama saat ia tidak mengetahui di mana keberadaan Nina dan menyadari fakta bahwa adik sang ipar sedang melihat kondisinya yang tidak berdaya dari tempat tak terjangkau.
"DASAR KAKAK IPAR MANDUL TIDAK BERGUNA! SEMOGA KAMU MEMBUSUK DI RANJANG PENGANTINMU YANG PATAH, LALU KAMI UMPANKAN KAMU PADA CACING-CACING TANAH!
Pada akhirnya, Naomi hanya meneriakkan sumpah serapah putus asa karena sadar takkan bisa menyentuh Nina. Naomi menggunakan sisa kutukan terakhirnya untuk menggertak.
Seketika daratan berguncang hebat. Tubuh Naomi kembali melambung ke udara, lalu bertubrukan dengan benda-benda padat tetapi empuk yang langsung berbunyi riuh terkena hantaman tubuhnya.
Naomi menjerit. Dengan terpaksa, ia berpegangan pada benda-benda kasar tapi licin yang semula ia hindari. Lengan berotot Naomi kemudian berhasil meraih sesuatu. Ia memeluk benda sebesar batang pohon dengan erat. Benda itu agaknya tersangkut di suatu tempat sehingga berhasil menahannya agar tidak kembali memantul seperti bola pingpong.
Jantung Naomi dicengkeram ketakutan. Ada bunyi derap yang berat tapi cepat sedang menuju ke arahnya.
Sesaat kemudian, bunyi itu lantas diam, berganti dengan bunyi "kriuk" nyaring yang mengunyah tanpa henti. Naomi juga bisa merasakan lampu sorot yang senantiasa mengikuti gerakannya barusan telah berpindah. Seraya mengatur napas, ia pun memberanikan diri untuk mengetahui hal apa yang telah menimbulkan keributan mengerikan seperti tadi.
"Soleram, sol, soleram.
Sebait lirik lagu anak berkumandang, seiring kemunculan sepasang mata bundar merah berkilau menatapnya dalam kegelapan. Pemiliknya adalah seekor kelinci raksasa berbulu biru yang tampak sedang mengunyah tangkai sebesar tiang listrik dan daun kangkung selebar tinggi tubuh Naomi. Kumis di atas mulut si kelinci begerak liar saat ia mengendus penuh minat ke arah Naomi, lalu makhluk itu mempertontonkannya gigi serinya yang seukuran kapak dan berkilau terang.
"AAA!"
***
"Jangan mendekat! Pergi kau, makhluk jelek!"
Tidak jelas apakah itu gerungan atau hardikan, Naomi meringkuk ketakutan dalam kandang. Ia merapat ke sisi jeruji terjauh manakala si monster kelinci membaui aroma tubuhnya yang berkeringat bercampur dengan aroma busuk kangkung yang tidak segar lagi. Nina terkekeh puas menyaksikan adegan tersebut.
"Kalau kamu terus bergerak seperti itu, dia pikir kamu sedang mengajaknya bermain, Nao. Ingat kelinci piaraan Nolan dulu? Kerjaannya cuma melompat dan kawin saja."
"Sialan, kamu, Nina! Aku nggak sudi diperintah-perintah sama Mak Lampir kayak kamu! Tunggu saja sampai aku bangun nanti, aku kurung kamu di lemari sama kecoak dan kutu busuk!"
Pandangan Nina meredup. Bukan karena gentar termakan ancaman Naomi, tapi kasihan akan akal sehat Naomi yang menyesatkan. Sindoorah mendesis pada Nina. "Sepertinya Nona Maskara Luntur ini harus dikasih syok terapi agar matanya melek. Bagaimana kalau dia langsung kutelan saja bulat-bulat?"
"*Y*uck! Kelincinya bisa ngomong! Dasar kelinci setan--"
Nina tidak menghiraukan jerit kengerian Naomi, tetapi tawaran Sindoorah jelas membuatnya tertarik. Ia bertatapan dengan si pria kelinci yang telah berganti wujud menjadi monster kelinci itu. Bibir Nina tertarik tipis. Bagaimana pun rupanya, sepasang mata Sindoorah berbicara jahat dan tidak kelihatan bermain-main.
"Ditelan bulat- bulat bagaimana?" tanya Nina tergelitik.
Mulut Sindoorah yang kini berganti moncong itu meringis lebar. Berikut sepasang kelopak matanya menyipit licik. "Terserah penafsiranmu. Mau secara harfiah ataupun metafora, keduanya sama-sama menyenangkan bagiku."
"Aha!" Nina berpura-pura terkejut. Ia segera berpaling pada Naomi yang mengkeret ketakutan mendengar perbincangan keduanya. Tidak ada lagi topeng ketegaran di wajah gadis angkuh itu.
"Hm. Sebagai adik ipar yang baik, bagaimana kalau kutanyakan dulu pada kakak ipar tercintaku ini. Mana yang kamu pilih, Nao. Mimpi dimangsa kelinci atau diterkam kelinci?"
Naomi bergeming di lantai kandang. Matanya menatap tidak berdaya pada barisan gigi seri kelinci raksasa yang menebarkan aroma busuk kangkung. Lubang hidung makhluk itu apalagi, membuka tutup dengan cepat saat bernapas. Beginilah wajah kelinci jika diperhatikan dari dekat. Persis wajah Naomi kalau tidak buru-buru bangun dari mimpi tengah malam menakutkan ini.
"Tidak, tidak ... ini hanya mimpi ...." Naomi memegangi kepala dan bola matanya berputar cepat, sementara Nina dan Sindoorah menatap nyalang dari luar kandang.
Waktu untuk Naomi sudah habis. Dalam sekali gigitan, pintu kandang bengkok. Tubuh Naomi terbanting tatkala Sindoorah memgguncang-guncang kurungan sekaligus tempat persembunyian Naomi tersebut.
"Tunggu!" Naomi lantas berteriak. "Aku ingin menelepon ibuku dulu! Please!"
Nina mengangkat tangan dan mengusap moncong Sindoorah dengan gerakan dingin sekaligus anggun. "Tahan, Tuan!" Sindoorah pun mendengkus tidak senang.
"Kau tidak punya hati, Nina."
Nina balas menatap jengkel. "Ya, tapi kita hanya bersenang-senang, 'kan? Bukannya aku peduli pada Naomi, tapi aku ingin tahu isi hatinya sekarang."
Sindoorah terbahak nyaring. Nyaris tidak bisa berhenti. "Kenapa tidak kautanyakan saja padaku?" ejeknya. "Dia ingin kau mati sejak dulu."
"Ti-tidak ... bagaimana kamu--" Naomi tergagap dengan wajah pucat. Namun, Nina hanya menanggapi dengan mencebik seolah Sindoorah membongkar kunci jawaban palsu.
"Huh. Aku hanya ingin tahu rencana apa lagi yang ingin dia buat bersama Olivia kali ini menyangkut nasibku."
***