SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
HIDANGAN PENUTUP YANG LIAR



"Sekali lagi, Nyonya Nina. Truth or dare?" Mata pistol terarah kepadanya selagi komandan polisi itu mengultimatum.


Nina tahu jika Komandan Gerald bukan jenis orang yang senang bermain-main. Semua tindakan pria itu bagai direncanakan dengan rapi, cermat, dan efisien. Seharusnya, kemampuan Nina yang dulu dapat menolong dirinya dalam situasi ini, yaitu membaca isi hati Komandan Gerald dan bertindak selangkah lebih maju. Setelah bertemu pria ini, barulah Nina menghargai kemampuannya itu.


"Saya telah menceritakan semua tentang diri saya kepada Anda, Tuan Kepala Detektif, "ujar Nina. "Apalagi yang ingin Anda ketahui tentang saya?"


"Mungkin Anda lupa kalau Anda belum bercerita alasan kenapa Anda kabur dari vila hari itu," kata Komandan Gerald.


Nina terdiam. Ia ingat bahwa ia telah mencabut laporan yang berkaitan dengan cerita itu, tetapi sepertinya Komandan Gerald masih tertarik untuk mengetahuinya. Pria itu ternyata keras kepala, menguntit dirinya hingga ke vila Ricci sejauh ini demi memperoleh sebuah fakta yang gagal ditutup-tutupi oleh Nina sendiri sebagai korban.


"Luar biasa, daya ingat Anda sungguh tajam, Tuan Kepala Detektif," kata Nina tanpa bermaksud menyindir.


Tentu saja. Komandan Gerald adalah kepala polisi, bukan? Pria itu harus memiliki mata dan telinga di belakang kepalanya. Jika tidak, nasib Komandan Gerald akan seperti Nina yang dulu, yakni ditusuk dari belakang saat mata dan telinganya lengah, sementara mata hatinya dibutakan oleh setitik harapan semu.


"Mungkin, saya harus belajar banyak hal dari Anda, Tuan Kepala Detektif," puji Nina tulus. Ia tidak peduli jika pria itu benar-benar menarik pelatuk pistolnya. Coba saja kalau berani. Satu Kota Halimun akan berbalik memburu sang komandan sebelum tanah makam Nina kering. Posisi seorang kepala polisi di kota wisata penuh devisa amat menggiurkan. Satu kesalahan bisa saja menjadi sebuah tindakan yang dapat digunakan untuk menjegal karir seseorang, bahkan membajak kehidupan pribadinya.


"Nyali Anda sungguh besar dengan menantang peluru, Nyonya Nina," kata Komandan Gerald. "Seorang wanita muda biasa pasti sudah menangis jika berada dalam posisi Anda."


"Sayang, saya bukan wanita itu," sindir Nina mengejek. Olivia dan Naomi tercengang menyaksikan keberanian Nina mengajak sang komandan perang mulut di depan mereka.


"Lebih baik Anda tidak mengulur-ngulur jawaban, Nyonya. "


"Kenapa tidak Anda tanyakan saja langsung kepada mereka?" Nina menunjuk Olivia dan Naomi yang hanya menonton sedari tadi. Sementara, lewat jemari merekalah hidup Nina bagai meniti jembatan di atas neraka, lantas memulai perang di Vila Ricci. Maka, Nina pun berkata lantang kepada Komandan Gerald. "Anda tidak akan mendengar cerita apa pun dari saya hari ini, Tuan Kepala Detektif. Dengan penuh rasa hormat, turunkan pistol Anda sekarang juga. "


Ultimatum itu berhasil. Komandan Gerald menyimpan kembali pistolnya ke dalam sabuk celana. Sesaat kemudian, pria itu mengerjap-ngerjapkan mata seolah pikirannya baru saja terhanyut dalam ruang hampa. Kondisi yang sama juga pernah Nina rasakan saat berhadapan dengan Sindoorah dulu. Namun, Nina rasanya kehilangan separuh energinya.


Nina melihat Komandan Gerald juga merasakan hal yang sama seperti dirinya. Pria itu lantas terduduk di kursinya dengan satu tangan menopang kepala di meja makan, seolah sedang mengumpulkan energi yang tersisa.


Tampaknya, Nina telah menemui lawan yang seimbang. Sindoorah benar saat pria kelinci itu berkata bahwa ia tidak memiliki kekuatan atas jiwa murni seperti yang Nina miliki dulu. Mengetahui Komandan Gerald termasuk golongan itu, membuat Nina cukup terkesan. Bagaimana tidak? Semula Nina pikir, jiwa yang murni hanya dimiliki oleh kaum lemah seperti dirinya. Kaum yang ditindas di bawah kaki orang-orang seperti Olivia dan Naomi. Juga Nolan.


Namun, profil Komandan Gerald seakan membuktikan bahwa anggapan itu salah. Jika dipikir-pikir, Komandan Gerald memang memiliki tingkat kepedulian di atas rata-rata yang sebenarnya agak merepotkan.


"Apakah malam ini kita akan makan?" Tiba-tiba Naomi mengerahkan segenap pertanyaan terendap, lantas mengalir dalam otot tubuhnya yang gemetaran akibat lapar juga kelelahan. Gadis itu telah menyaksikan sepak terjang Nina menghadapi Komandan Gerald. Jadi, Naomi khawatir jika sikap Nina barusan akan membuat sang komandan malah membabi buta mengirimi mereka 'surat cinta' yang membuka jalan lebar untuk menggeledah vila Ricci. Selama Nina menjaga sikap dan 'rahasia' keluarga mereka, sepertinya itu takkan terjadi.


Bagi Nina, tidak ada yang jauh lebih berharga daripada balas dendam saat ini.


Ketika Nina mengeluarkan masakan pembangkit rasa, hidangan utama, dan penutup sekaligus untuk menghemat waktu mereka yang telah terbuang malam ini, maka kebahagiaan pun terbit laksana sinar mentari cerah menghalau megamendung yang dilahirkan dari rasa permusuhan, lantas tercermin pada wajah orang-orang.


Malam itu, hidangan yang dipesan oleh Nina menguasai perut mereka, meskipun tidak semua dari hati mereka.


Olivia bahkan tidak malu untuk berserdawa di hadapan semua orang sebagai tanda ia sangat menikmati makan malam. Sementara, Naomi masih menjaga akal sehatnya untuk tidak berbuat memalukan di hadapan komandan Gerald. Agaknya, perasaan gadis itu kembali menguasai logikanya yang sempat dibuat kacau-balau oleh provokasi Nina. Sayang, akal sehat Naomi tidak bekerja sepanjang malam.


"Apakah dia tidak apa-apa?" tanya Komandan Gerald agak khawatir tatkala melihat Naomi yang hampir separuh tubuhnya tergeletak di atas meja. Seorang hantu memasukkan obat tidur diam-diam ke dalam minuman Naomi sehingga gadis itu tertidur dengan mendengkur keras. Cukup keras sehingga jika diletakkan segelas anggur di dekatnya, maka permukaan anggur itu akan bergelombang. Nina menggunakan trik itu kali ini untuk membalas perbuatan Naomi dulu kepadanya--Naomi memasukkan obat tidur diam-diam pada makanan Nina agar sang kakak ipar selalu ketinggalan waktu pesta keluarga Ricci. Maka, tinggal Nina seorang yang kebingungan tidak mengerti apa yang telah terjadi malam sebelumnya.


"Anda boleh membawa dia pulang sebagai bonus jika Anda mau," ujar Nina ringan, mengagetkan Komandan Gerald.


"Ucapan Anda yang demikian sungguh tidak bermoral. Apakah Anda sadar, Nyonya?" ucap Komandan Gerald tanpa sungkan menegur Nina.


Nina pun tertawa lepas menanggapi. "Tidak heran jika Anda komandan polisi karena sungguh bermoral," ejek Nina agak melampaui batas. Dari ekspresi pria itu, tampaknya Komandan Gerald agak menyesal karena Nina sendiri kemudian yang mengantarkannya ke depan vila. Sementara, Olivia lebih dulu pamit membawa Naomi masuk ke kamar. Masalahnya, sang komandan tidak tahu cara untuk menghentikan mulut Nina yang mendadak liar seperti dansa seorang pemabuk.


Maka, sebuah dorongan gila memaksa Komandan Gerald mencium bibir Nina saat itu juga.


Pria itu kemudian lekas menarik diri dan minta maaf menyadari kekeliruannya yang sungguh fatal karena telah mencium istri dari seseorang.


"Maaf, itu pasti pengaruh dari anggurnya," kilah Komandan Gerald berdalih meloloskan diri yang Nina tahu sia-sia saja. "Anda tidak minum sedikit pun tadi," kata Nina, menohok pria itu.


"Lalu, kenapa Anda tidak menolak tadi?" tanya Komandan Gerald. Terdengar bodoh karena ia mencari celah untuk menyudutkan Nina atas kesalahannya sendiri. Tiba-tiba saja, pria ini menjadi pengecut di hadapan seorang wanita.


Nina Ricci bukan wanita sembarangan, cam Komandan Gerald dalam hati. Nina bukan jenis wanita yang menangis ketika bibirnya dicuri oleh seseorang. Namun, wanita itu jelas tidak terlihat senang, apalagi bangga ketika seorang komandan polisi tampan lagi baik hati diam-diam menyimpan sebersit rasa suka terhadapnya. Sikap Nina Ricci yang manipulatif inilah yang telah membuat Komandan Gerald kehilangan akal sehatnya jika berada di dekat wanita ini.


Setelah meminta maaf sekali lagi dan berjanji akan melupakan perbuatannya tadi, Komandan Gerald naik ke punggung Ducati-nya dengan segudang beban di punggungnya sendiri. Nina Ricci bahkan melepaa kepergiannya hingga menghilang di tikungan jalan.


Dalam kegelapan malam yang kini menelan cahaya rembulan, manik mata Nina gemerlap penuh amarah. Ia bertekad tidak akan membiarkan sang komandan lupa tentang konsekuensi perbuatannya. Nina akan mengejar pria itu hingga ke lubang kelinci.


...***...