SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
TUTUP MULUT



Nina sekarang menyadari kesalahan terbesar yang pernah ia perbuat dalam hidup. Seumur hidup, ia mungkin telah dijahati oleh segelintir orang, hingga mata hatinya buta. Namun, Nina benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan berada dalam posisi terendah seperti ini. Kelemahan itu dimanfaatkan Sindoorah untuk menguasai hatinya. Hati itulah yang memberi Sindoorah kekuasaan untuk mulai menyakiti orang-orang tidak bersalah.


"Berhenti, Tuan Sin!" pinta Nina tegas.


Sersan Andi menoleh heran. "Anda mengenal orang mencurigakan ini, Nyonya Nina?"


"Apa yang Anda bilang?" Nina memasang senyum di wajahnya setenang mungkin, berjalan melewati todongan pistol para polisi menuju Sindoorah yang hanya bergeming seakan makhluk itu adalah penonton di luar arena, alih-alih sasaran para aparat.


"Dia adalah tamu saya. Turunkan pistol kalian."


Nina bisa melihat ketegangan di wajah Olivia yang ingin berteriak sebaliknya, tetapi wanita itu pasti sedang resah sekarang karena telah mengikat kesepakatan dengan Sindoorah. Situasi yang berubah secepat ini tentu berada di luar antisipasi ibu mertuanya. Sungguh kasihan. Nina ingin tahu selicik apa wanita itu hingga merasa mampu mengendalikan Sindoorah dan kekuatannya.


"Nyonya, orang ini kelihatannya berbahaya." Sersan Andi urung menuruti perintah Nina, meskipun rekan-rekannya mulai menurunkan senjata mereka dan menyimpannya di balik pinggang. Nina tidak bisa menyalahkan Sersan Andi karena pria itu punya pemikiran yang cukup berdasar. Namun, bukan sekarang saat untuk memicu pertikaian. Nina yakin Sindoorah sedang menikmati jalan pikiran Sersan Andi yang menggelikan hingga ia bisa melihat senyum di bibir si Pria Kelinci.


"Berbahaya dalam artian apa, Pak Polisi? Apakah saya kelihatan seperti predator yang suka memakan istri orang?" Sindoorah cukup mengejutkan mengajak polisi tersebut untuk bicara. Ia terkekeh, sedangkan ekspresi Sersan Andi seolah terkena hantaman siku telak di wajah. Sindoorah mungkin menyuarakan isi pikirannya barusan dengan jelas.


"Berhenti bermain-main," bisik Nina pada Sindoorah. Ia lantas menyadari harapannya takkan segera terkabul. Sersan Andi tampaknya masih berminat untuk meladeni pancingan Sindoorah barusan.


"Tidak lucu jika Anda ternyata benar-benar berselingkuh untuk membalas perbuatan suami Anda, Nyonya."


"Kapan saya bilang suami saya berselingkuh? Itu hanya akal-akalan adik ipar saya." Nina segera menutupi kebocoran masalah keluarganya yang disentil oleh Sersan Andi. Sebagai aparat polisi, Komandan Gerald dan Sersan Andi bisa dibilang cukup mengganggu karena menaruh perhatian lebih pada persoalan domestik seseorang. Nina merasa sedang berada dalam kisah domestic noir saja.


Sindoorah berdesis. Meskipun tidak bisa membaca pikiran Nina, ia cukup senang mengetahui bahwa Nina sedang berusaha menutup-nutupi masalah kronis yang sedang menimpa keluarganya. Wanita ini memang keras kepala berusaha menangani sendiri, pikirnya. Ia ingin tahu sampai sejauh mana Nina akan berhasil melakukannya.


"Saya hanya tamu untuk menghibur dan menghangatkan suasana di vila ini, Pak Polisi. Anda tahu sendiri jika tidak ada pria di vila Ricci. Saya hanya mengisi kekosongan tersebut."


Sersan Andi berbicara ke Nina. "Nyonya, Anda tahu bahwa perselingkuhan bisa dijerat pasal?"


Nina pun beranjak dari sisi Sindoorah untuk menghampiri Sersan Andi. Ia berbicara pelan dan menatap langsung ke dalam mata polisi tersebut. "Jika saya memang berselingkuh, maka Anda tidak akan mau tahu siapa pasangan saya tersebut."


Sersan Andi meneguk ludah menyadari maksud ucapan Nina. Dengan sendirinya, ia menurunkan pistol seperti jejak rekan-rekannya. Sersan Andi memandang berkeliling pada sisa kekacauan yang terjadi di ruangan. Orang-orang kebingungan di antara para korban yang tidak sadarkan diri.


"Panggil ambulans!"


Hanya itu yang Sersan Andi katakan sebelum berlalu dari hadapan Nina. Polisi itu bersikap seolah-olah mereka tidak pernah berbicara sebelumnya.


"Ini sungguh menarik." Sindoorah balas berbisik di telinga Nina. Ekor mata wanita itu menyasar si Pria Kelinci. Ia memang telah menciptakan bibit kekacauan yang sempurna di ruang gerak kepolisian Bukit Halimun. Semua berkat kekacauan pikiran Komandan Gerald terhadapnya.


"Apakah ini cukup untuk membuat Anda tetap berada pada rencana kita semula dan berhenti bermain-main dengan keluarga iparku?" selidik Nina.


Sindoorah menarik sebelah sudut bibir. "Berusahalah lebih keras, Nina. Yakinkan aku jika kau benar-benar jahat!"


***


Nina sedang duduk mengepang rambut di depan cermin. Ia menatap penampilannya yang agak berbeda hari ini. Sudah lama Nina tidak berkreasi dengan mahkota di kepalanya dan hanya membiarkan rambut panjangnya tergerai begitu saja karena Nolan sangat menyukai rambut ini, katanya. Menyukai bagaimana rambutnya jatuh dengan lembut ke sisi wajah atau berkibar halus diembus angin berhawa sejuk vila Ricci.


Sisir dalam genggaman Nina patah jadi dua. Untuk saat ini, ia memang tidak butuh hati yang telah terbelah karena keseringan disakiti. Nina hanya perlu bukti untuk meyakinkan Sindoorah agar tidak mengambil anugerah yang ada padanya


Sementara itu di markas polisi, Komandan Gerald tampaknya gagal untuk kembali1qqo1 menekuni kesehariannya tanpa celah Nina masuk dalam pikirannya. Sang komandan tak habis pikir. Wanita itu bukan hanya mampu memantik ego dalam dirinya, tetapi juga mengikatnya dalam permainan nasib yang menggelikan. Kasus kesurupan di vila Ricci sudah pasti ada andil dari Nina.


Gerald hanya perlu membuktikan. Lalu, apa?


Ujung dari teka teki ini saja bagai bayangan yang menghantui dan membuat sang komandan malas untuk berspekulasi. Bayang-bayang itu tidak terlihat, tapi ada di suatu tempat.


***


"Beb, kakiku kesemutan, nih! Pijitin, dong. Mmmh .... Terdengar lenguhan penuh rasa malas dari balik selimut yang membentuk bukit di atas tempat tidur. Nolan menggigit ujung selimut kesal. Pria itu duduk di kaki ranjang. Tampak jelas keengganan di wajahnya untuk menyanggupi permintaan barusan. Biasanya, Nina yang memberikan ia pijitan bak kursi malas tanpa diminta. Namun, Delisa justru memperlakukan ia sesuka hati setelah perutnya berisi jabang bayi.


Tunggu saja sampai perut kamu meletus, Beb, tekad Nolan dengan kesumat. Nolan hanya butuh bayi itu. Dalam benak Nolan, sudah terbayang kalau ia akan mencari babysitter atau wanita baru sekalian yang lebih cantik daripada Delissa.


"Beb ... huhu." Delissa mulai pada rengekannya ketika Nolan memilih untuk tidak mengabulkan keinginan manja sang kekasih gelap yang sedang mengidam. Nolan bahkan berpura-pura mendengkur, meskipun kemudian ujung telapak kaki Delisa di balik selimut menyundul-nyundul kepalanya.


Huh. Tidak ada faktor istimewa pada diri Delisa yang mampu mendorong Nolan untuk memperlakukannya bak ratu, kecuali ....


Bunyi dering telepon menyelamatkan Nolan dari situasi tersebut. Ia punya alasan untuk keluar dari kamar flat yang sempit lagi pengap oleh aroma ibu hamil. Nolan segera mengangkat panggilan video begitu di luar. Ia pun mengernyit karena sang ibu memanggilnya di waktu yang tidak biasa. Flat sepi di malam hari. Pintu-pintu tertutup rapat menyembunyikan aktivitas penghuni lain, hingga Nolan leluasa untuk berbicara sambil melangkah sepanjang lorong.


"Nolan!"


Bari bilang 'halo', teriakan Olivia langsung menyakiti gendang telinganya.


"Mami sudah kangen banget sama aku sampai berteriak begitu?" sindir pria dengan tinggi badan sedang dan atletis itu. Ia menggaruk sisi telinganya yang bebas.


"Kangen, kangen! Mami di sini menderita, tau? Naomi nyaris gila sampai mau mati gara-gara kesurupan!"


Nolan tersengat. "Mami jangan asal kalau bercanda."


"Mami serius, Nolaaan! Cepat selesaikan urusan di sana, lalu pulang dan usir Nina!"


"Mami sendiri yang bilang bakal membereskan Nina. Sekarang, lihat gimana hasilnya ...."


"Udah, Mami nggak mau tau! Pokoknya kamu buruan pulang!"


Setelah mendengarkan racauan panjang tidak jelas Olivia di telepon, kepala Nolan bertambah sakit. Ia mengacak rambut kesal. "Memangnya Nina sekarang jadi gimana sih sampai Mami kalang kabut di rumah."


Nolan terus menggerutu, tanpa sadar ia telah melewati sebuah pintu sedikit terbuka. Ada penghuni flat lain yang mendengarkan pembicaraannya barusan.


***