SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
KEMBALI KE VILA



"Mami jangan becanda, ya! Tidak lucu! Masa tangan Mami bisa bergerak sendiri?" Naomi berteriak marah.


"Tapi ... tadi Mami ...." Wajah Olivia benar-benar kebingungan. Nina meraih tangan gemetar sang mertua lantas memijit-mijitnya pelan.


"Pasti karena seharian Mami di kantor polisi, Mami belum makan. Aku, 'kan, belum bikin sarapan pagi tadi?"


Meskipun dorongan hati Olivia sangat ingin menolak, tapi ia tidak bisa melepaskan tangannya dari selipan jemari Nina yang bergerak lincah. Begitu pula ketika Nina menggemeretakkan sendi tulangnya hingga berbunyi nyaring, Olivia tidak berkutik. Dulu, ia memang sering memerintah Nina untuk memberi layanan pijit spesial jika ia capai. Namun, kini rasanya agak menyeramkan. Olivia memandang wajah Nina yang terlalu antusias seolah ingin mematahkan telapak tangannya.


"Kamu apa-apaan, sih? Kamu malah menyakiti Mami, tahu?" Naomi memukul tangan Nina dengan marah untuk menyingkirkannya dari tangan Olivia, tetapi Nina dengan cepat mengubah posisi tangannya hingga pukulan Naomi malah mengenai punggung tangan Olivia.


"Argh! Naomi!"


"Maaf, Mi! Aku tidak sengaja!"


"Kamu dendam karena Mami tampar, ya?"


"Tidak, Miii!" Naomi berlari ke halaman.


Nina selanjutnya menyaksikan pemandangan langka. Olivia mengejar-ngejar putrinya sendiri dengan raut kesal. Wajah wanita itu merah padam, jelas sekali kelihatannya ingin memberi Naomi pelajaran. Olivia menyingsing rok span ketat selututnya agar lebih leluasa bergerak hingga menjadi pemandangan yang tak kalah lucu.


Garis bibir Nina tertarik lebar.


...***...


Nina sedang menggoreng ayam tepung bumbu di depan standing kitchen. Ia telah mengembalikan kardigan brokat milik mertuanya. Nina kini mengenakan daster dari kaus lusuh di balik apron penuh noda minyak kebesarannya. Dari pantulan kaca penutup kompor, ia bisa melihat Olivia dan Naomi yang duduk di meja, makan dengan lahap. Setelah piring pertama dan kedua habis, demo para cacing di perut kedua wanita dua generasi itu belum berhenti juga. Denting sendok dan garpu terdengar begitu seru saling berlomba.


Nina mencibir. Jika Olivia dan Naomi sedemikian sukanya pada masakan buatannya, seharusnya mereka bisa bersikap lebih baik padanya, bukan malah menyingkirkannya


seperti sampah tidak berguna.


"Aku mau ayam lagi! Nina!" Naomi menuntut Nina untuk memberi gadis itu protein yang mutlak dibutuhkan oleh tubuhnya yang mengagumkan.


"Nina, ambilkan lagi ayam buat Naomi! Jangan pakai lama!" teriak Olivia menggema ke seluruh penjuru ruang dan membuat dinding-dinding batu bergetar.


Ibu mertua juga memperlakukannya seperti pembantu daripada menantu.


Bukannya mematuhi perintah sang mertua, Nina malah berbicara. "Seseorang pernah bilang padaku, kalau di dunia ini, ada orang-orang yang lebih mengerikan daripada hantu."


"Hah? Bicara apa kamu?" Olivia langsung merasa tersinggung. Nina tidak peduli, ia terus saja bicara.


"Orang itulah yang membantuku keluar dari lubang. Heheh. Lucu sekali. Di saat manusia-manusia membuangku, tetapi seorang pria kelinci malah menolongku."


"Hah? Jadi, selama kami kesusahan di kantor polisi, kamu pergi bersama playboy?" Naomi menepuk meja makan dengan keras. Ia beranjak menuju Nina yang masih menggoreng ayam di depan standing kitchen.


"Dasar tidak tahu diri! Kamu masih pakai nama Ricci di belakang nama kamu, Nina!"


Nina melihat Naomi melayangkan tetakan punggung tangan ke belakang kepalanya. Nina berkelit, sehingga punggung tangan Naomi mendarat dekat sekali dengan wajan berisi minyak panas. Mata Naomi terbelalak seketika menatap wajan di hadapannya. Nyaris saja tangannya tercelup dalam minyak panas, sedangkan Olivia menjerit pilu menyaksikan Naomi nyaris celaka.


"Aku mendengarmu, Naomi. Kamu mau ayam, 'kan? Nih!" Nina berbalik dan memasukkan sepotong paha ayam panas ke dalam mulut Naomi. Ayam goreng itu baru diangkat dari penggorengan hingga minyak yang menempel pada kulit ayam masih berdesis.


"Mmmhhh!" Sepasang mata berbentuk kenari milik Naomi membulat sempurna hingga seperti akan terlepas dari rongganya. Ia terbatuk setelah memuntahkan paha ayam, lalu berteriak kepanasan.


"Cewek sialan! Ah, panas! Panas!"


Olivia segera mengambilkan Naomi air dingin dari dalam kulkas. Naomi langsung menenggaknya kesetanan, bahkan tumpah merembes membasahi kerah bajunya.


"Nina sialan! Cari mati, kamu, ya!" Naomi bermaksud menggertak kakak iparnya, tetapi keberadaan Nina sudah raib. Wajan panas ditinggalkan begitu saja hingga tercium aroma ayam gosong di dalamnya.


"Ninaaa!"


...***...


"Ahahahaha!"


Nina menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Pikirannya bebas tanpa beban. Sepasang tangan dan kakinya terbuka lebar di samping badan. Santai.


Nina baru menggunakan sedikit trik kepada Olivia dan Naomi, tetapi lihatlah hasilnya! Ia memperoleh kepuasan tiada tara. Balas dendam itu ternyata memang semanis gula di bibir Sindoorah.


Ah, apa yang dilakukan si kelinci itu sekarang, ya? Apakah Sindoorah kini menikmati kebebasannya keluar dari dunia bawah? Tapi Nina tidak peduli. Ia tidak keberatan jika Sindoorah ingin berbagi kekuatan ini selama-lamanya. Toh, Nina juga tidak butuh kemampuannya yang dulu. Memiliki hati tidak memberi Nina kekuasaan, justru sebaliknya. Yang lebih dibutuhkan Nina sekarang adalah kekuatan milik Sindoorah!


Saat sedang berpikir di atas ranjang malam itu, Nina membayangkan bahwa di saat yang sama, Nolan suaminya mungkin sedang menghangatkan wanita lain bernama Delissa. Sementara, ia kesepian di atas ranjang pengantin mereka yang tak lagi hangat dan penuh hasrat. Namun, semua itu kini tak penting lagi karena ia sudah tidak punya hati untuk merasakan kesedihan dari kenangan buruk macam itu.


Nina telah menyiapkan sebuah rencana hebat untuk membalas kekejian yang dilakukan oleh keluarga suaminya. Dan, target puncaknya akan segera muncul. Nina harus berbenah habis-habisan malam ini. Tanpa seizin Olivia dan Naomi, Nina telah menjarah amunisi berharga di kamar mereka. Ia tidak perlu izin dari mereka karena vila Ricci telah berada dalam genggamannya.


Nina bangkit dari ranjang, lalu melangkah dengan ringan ke kamar mandi mewah di kamarnya. Satu bak penuh air hangat sudah menunggu di sana. Pertunjukan bak sulap David Copperfield lantas menyambutnya--beragam benda melayang di udara. Persisnya, seolah ada yang menggerakkan mereka. Sindoorah memberinya sedikit cenderamata sebagai bonus untuk dibawa pulang, yakni para hantu takkasatmata yang siap melayani Nina seperti ratu.


Malam itu, Nina benar-benar dimanjakan. Beberapa hantu gadis cantik menggosok-gosok punggung, tangan, dan kakinya dengan minyak aromaterapi. Seorang hantu sinshe sedang melakukan teknik accupressure di kepalanya, sementara yang lain di telapak kakinya. Nina punya kursi pijat terbaik di dunia sembari melenyapkan daki-daki kehidupan yang membuat kusam kulitnya.


Sementara itu di kamar Olivia, wanita paruh baya itu sedang ingin membasuh dan menyegarkan diri setelah capai seharian. Ditambah beragam keanehan yang terjadi pada dirinya dan Naomi, mereka merasa tidak menjadi diri mereka sendiri hari ini. Seolah ada yang mengendalikan mereka seperti marionet. Mungkinkah di vila ini benar-benar ada hantu?


Olivia setengah membanting pintu kamar mandi hingga terbuka. Ia melangkah gontai ke dalam. Dengan mata setengah mengantuk, tangannya memutar keran, lalu bergerak meraih botol minyak aromaterapi.


Setelah beberapa saat tidak menemukan apa yang ia cari, mata Olivia terbuka. Dan, ketika ia tidak menemukan apa pun di tempat yang seharusnya berjajar rangkaian perawatan kulit supermahal miliknya, kantuk Olivia benar-benar lenyap entah ke mana.


"Aaa!"


...***...