SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
DEBUT NINA RICCI



Beberapa minggu yang lalu, Nina masih bekerja di dapur dengan celemeknya, menatap dengan bola mata redup di luar lingkar cahaya kemewahan keluarga Ricci. Namun kini, tiba giliran Olivia untuk mengamati momen penyingkapan Nina yang dramatis.


Sang menantu tertindas sedang debut di hadapan khalayak yang memadati halaman luas Villa Ricci. Halaman itu kini telah disulap menjadi area penuh karpet merah dan meja-meja hidangan aneka rupa. Nina tampil memukau dalam topeng kepalsuan--deretan gigi mengintip manis di balik bibir mungil--dan beredar di antara para tamu undangan seperti sosialita andal penuh pencitraan.


Nina tidak tersenyum selebar itu jika sedang meluapkan amarah di depan mereka--ia dan Naomi. Tunggu saja sampai Nolan pulang dan akan kita tendang gadis busuk ini ke jalanan, dendam Olivia kesumat dalam hati. Naomi di sisinya pun seolah tak sabar ingin menyaksikan momen di mana Nina akan terkaing-kaing. Gadis itu menatap Nina dengan nyala berapi-api. Penuh rasa benci tiada terperi.


"Aku tidak akan melakukannya jika jadi kalian."


Terdengar seseorang lantas menyela reka adegan masa depan yang sedang berputar dalam pemikiran mereka. Olivia dan Naomi pun tersentak menjauh ketika Sindoorah muncul di tengah keduanya. Mereka menjaga jarak seaman mungkin dari tamu kehormatan Nina tersebut.


"Jangan pikir kalian bakal menang. Jangan senang dulu, dukun palsu!" Olivia mengumpati Sindoorah tanpa rasa segan. Mungkin hanya Naomi yang tampak terintimidasi dan berusaha keras agar tidak membuat kontak fisik dengan si Pria Kelinci, sementara Olivia jelas telah mengalami sesuatu. Kemarin, ibunya kembali ke kamar dengan pandangan seolah ingin membumihanguskan seluruh vila Ricci. Naomi bertanya kenapa, tetapi Olivia lebih memilih memendam pikirannya sendiri.


Naomi hafal, kadang Olivia akan menutup diri jika ada hal serius yang tengah ia pertimbangkan. Naomi hanya tidak tahu kapan sang ibu akan melahirkan rencana rahasia tersebut.


Ketika Olivia mendelik ke seberang--ke arah sang putri--dengan tajam, maka Naomi pun sadar bahwa sang ibu telah mencapai titik keputusan. Naomi merasa agak berat hati ketika Olivia menggerakkan dagu sebagai isyarat agar sang putri menyisih meninggalkannya bersama si Pria Kelinci. Namun, memang tiada pilihan lain buat Naomi.


Sudur bibir merah Sindoorah terangkat ketika membaca isi hati Olivia. Wanita itu mendekat padanya. Sementara di sudut mata, ia bisa melihat Nina tengah menikmati momen kejayaan bergelimang perhatian orang-orang. Keberadaan sang menantu Ricci yang semula gelap, kini telah benderang. Sebentar lagi, mungkin saja gemerlapan semu itu akan pudar, bahkan sirna oleh rencana keji yang terbit di benak Olivia.


"Katakan, Tuan Sin. Apa yang sudah diberikan oleh Nina kepada Anda agar ia berkuasa?"


***


Alarm peringatan tanda bahaya terbawa oleh semilir angin ke tempat Nina berada. Ia sedang meladeni obrolan basa basi ibu wali kota ketika melihat Olivia tengah berbicara dalam jarak yang mencurigakan dengan Sindoorah.


Nina tahu bahwa ada yang salah dari lengkung bibir merah milik Sindoorah, bahkan bisa terlihat dari posisinya kala itu. Buru-buru ia menyudahi cerita wanita nomor satu Bukit Halimun dengan dalih pamit ke kamar kecil. Wanita itu pun tidak peduli karena segera dikelilingi oleh para sosialita penjilat yang sedang ingin mencari muka.


Akan tetapi, niat Nina untuk mencapai Sindoorah harus terhalang oleh seseorang yang tiba-tiba muncul menarik tangannya untuk menyingkir dari keramaian.


Nina pun melengos tatkala mengetahui bahwa orang tadi adalah Komandan Gerald. Komandan polisi itu tampak tidak baik-baik saja dalam pandangan Nina: mata kelam bagai digelayuti mendung yang diakibatkan kurang tidur, gagal tertolong oleh rona kulit di sekitarnya yang pucat, alih-alih memberi kesan bersih usai dicukur.


"Anda keras kepala sekali, Tuan Kepala Detektif." Nina bersuara pelan, bahkan nyaris tertelan keriuhan pesta di kejauhan. Komandan Gerald menariknya ke belakang pilar, tepat di bawah balkon. Tempat itu terlihat sepi karena pusat pesta sedang berlangsung di halaman. Ia heran kenapa sang komandan bisa berada di tempat ini sekarang, sedangkan Nina ingat tidak mengundangnya.


"Kamu tidak memberi saya banyak pilihan, Nina.


Kelopak mata Nina sedikit mengatup demi mendengar cara Komandan Gerald menyebut namanya. Pria itu tidak segan lagi melompati tembok formalitas di antara mereka dan Nina tahu sebabnya. Komandan polisi ini bersikap seolah-olah mereka terikat oleh sebuah hubungan istimewa semenjak insiden sialan dulu. Andai dirinya adalah Nina yang dulu, mungkin ia akan tersipu mendengar nada keramahan sang komandan yang tampak tidak dibuat-buat. Kepala Komandan Gerald pasti telah jungkir balik dari posisi seharusnya.


"Saya tidak akan meminta maaf atas masalah yang Anda buat sendiri, Kepala Detektif." Nina bicara datar. Ia ingin tahu sampai di mana batasan sang komandan berhadapan dengan sikap persistennya. Andai Nina bisa membaca isi hati sang komandan tatkala kemudian menatapnya dengan tajam.


"Saya sadar telah meminta bantuanmu di waktu yang salah. Kematian Norman Ricci tidak ada kaitan langsung denganmu, tetapi kerja sama darimu sangat membantu saya untuk bisa mencapai kebenaran yang disembunyikan di vila ini, Nina."


Gerald langsung menyasar inti maksud kedatangannya menemui Nina. Dan, komandan polisi itu memilih waktu yang tepat, di tengah kemeriahan pesta penuh dengung obrolan serta denting peralatan makan, di saat ia sedang berusaha mengendus keganjilan yang berlangsung di antara mertuanya dan Sindoorah sekarang.


Nina membayangkan kehebohan yang bakal terjadi jika ia memulai pertarungan dengan Komandan Gerald saat ini: tamu-tamu berhamburan pulang dan cerita tentang nyonya muda di vila Ricci yang kesurupan akan menjadi santapan seluruh kota.


Terdengar sensasional, memang, tapi ketenangan hidup Nina kemudian bakal berakhir miris. Karena di negeri ini, anomali tidak disukai sebagaimana halnya aroma terasi. Atau mungkin ... sebaliknya? Apa pun itu, Nina tidak sudi kisah tentang dirinya diramu menjadi sensasi murahan.


"Katakan. Apa yang harus saya lakukan agar Anda berhenti mengganggu saya?" Nina memelesatkan tatapan sengit pada komandan polisi.


"Berhentilah bersekutu dengan makhluk apa pun yang sekarang bersamamu, Nina. Kamu hanya akan mendapat masalah lebih besar. Saya--maksud saya, kepolisian, akan memberi suaka padamu terkait kasus kemarin." Gerald buru-buru meralat kekeliruannya.


"Tidak!" sergah Nina cepat. Wanita itu mendekat ke wajah sang komandan sehingga mata besarnya yang terbuka lebar tampak begitu mengintimidasi, sekaligus menggoda pikiran Gerald untuk berenang di dalamnya.


Nina meneruskan ucapannya dengan setengah berbisik bagai merapal mantra. "Anda tidak tahu apa yang mesti saya lalui tanpa kekuatan ini. Wanita lemah yang bisanya hanya menangis tanpa daya, cuma menarik simpati sesaat, tetapi kemudian akan terasa merepotkan dan orang-orang akan berpikir lebih baik membiarkannya telantar di jalanan."


Nina menggeleng dengan kelopak mata terpicing dan penuh rasa permusuhan. Kata-katanya tadi saja sudah cukup menyentak perasaan sang komandan.


Komandan Gerald pun menelan ludah untuk meredakan sesak yang mendadak menombak ulu hatinya. "Masih ada orang baik yang akan peduli, Nina."


"Tapi, tidak banyak. Anda mau bilang kalau Anda salah satunya?"


"Sudah tugas polisi untuk mengayomi warga--"


"Kedengarannya naif sekali." Nina terkekeh sinis tanpa memedulikan air muka sang komandan yang memerah.


"Kita telah mengetahui jati diri masing-masing, jadi saya tidak perlu menjelaskan kenapa kamu harus lepas dari entitas jahat yang sekarang menguasaimu!" Rahang Gerald mengeras.


"Anda tidak perlu merasa sungkan, Kepala Detektif. Karena nyawa seseorang bisa saja terancam selagi Anda maju mundur begini."


"Nina!" Ejekan wanita itu berhasil mengakhiri kesabaran Gerald, lalu sebuah suara melengking menimpali perkataan sang komandan. Dua orang wanita muncul lantas terheran-heran mendapati posisi keduanya yang tidak wajar. Gerald segera berbalik untuk menjauh dari sana, tetapi namanya lantas dipanggil.


"Komandan Gerald?"


Sial. Ia pun urung dan memberi hormat pada wanita tadi. "Salam, Ibu Wali Kota."


"Ah, ya ... ya. Anda juga datang?" tanya wanita itu seraya mencerna kejadian barusan.


"Tentu saja, Bu. Komandan Gerald wajib diberi tahu agar acara ini berjalan lancar karena sudah tugas polisi untuk mengayomi warga, 'kan?"


Ibu Wali Kota dan sang sekretaris di sisinya terkekeh hambar menanggapi ucapan Nina. Mereka berpandangan canggung di hadapan sang komandan yang sedang bergeming memikirkan langkah strategis berikutnya karena kehadirannya sudah terendus oleh orang nomor satu di Bukit Halimun.


"Mumpung kita semua ada di sini, bagaimana jika kita mengobrol sebentar tentang kondisi keamanan kota belakangan--"


"Maaf, Ibu Walkot." Nina menyela perkataan wanita itu. "Saya permisi sebentar. Saya harus ke belakang sekarang." Ia melontarkan tatapan dengan sengaja pada Komandan Gerald yang tidak siap dan menyambutnya dengan gusar, demi menghindar dari tatapan heran sang wali kota dan sekretarisnya.


Secepat kilat Nina memisahkan diri dari mereka untuk mencari Sindoorah dan Olivia. Ia sempat menabrak punggung Naomi yang tampak tersesat dalam pesta, lalu sebaris senyum lantas tersimpul di bibir gadis itu. "Habis, kamu, Nina," katanya.


Pasti Naomi yang telah mengundang sang komandan polisi! Tapi, Nina tidak tahu apa yang dimaksud oleh Naomi barusan. Ia harus menemukan Sindoorah lebih dulu.


***