
"Delissa!" Kerongkongan Nolan rasanya seret akibat meneriaki pasangan selingkuhnya. Namun, walaupun ia berteriak sampai suaranya habis, Delissa takkan pernah menjawab. Wanita itu menghilang entah ke mana, bahkan meninggalkan gawainya begitu saja dalam kamar.
"Awas saja kalau kamu muncul nanti, Beb!" sumpah Nolan. Bagaimana tidak? Ia amat membutuhkan wanita itu saat ini. Hasratnya sedang memuncak setelah melihat penampilan berani Nina dalam panggilan video. Nolan butuh pelampiasan. Namun, berani-beraninya wanita selingkuhannya itu pergi tanpa izin darinya.
Dengan rasa dongkol, Nolan pun tidak punya pilihan selain balik ke kamar mandi, lalu meredakan sendiri gelombang hormon yang menguasai dirinya.
***
"Sebenarnya, kita mau ke mana?" tanya Delissa takut-takut pada Kenneth yang sedang mengemudi dengan serius dalam mobil melaju dengan kecepatan sedang. Mereka sedang melintasi lalu lintas yang ramai di kawasan pusat kota.
"Tempat kita bisa bicara dengan nyaman." Kenneth menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Nolan akan marah kalau aku pergi tanpa izin." Delissa setengah merengek. Namun, ia tidak punya pilihan karena tadi jatuh pingsan. Begitu siuman, ia telah terbangun dalam mobil pria ini.
"Sejak dulu, Nolan memang tidak becus mengurus perempuan. Riskan sekali dia lalai menjagamu dalam pengawasan. Jika benar kamu adalah Bonita."
Deg. Jantung Delissa berdegup kencang mendengar kalimat terakhir Kenneth, entah disengaja atau tidak. Seketika ia merasa sedang terjepit dalam situasi sulit bersama pria ini.
"Kamu tahu?" Kenneth lanjut berbicara. Kata-katanya membuat Delissa meremas gaun yang ia kenakan penuh cemas.
"Sebetulnya, kami tidak percaya jika kamu adalah Bonita, tapi hasil tes menunjukkan jika kamu adalah benar anak Uncle Norman. Bagaimana kamu melakukannya?"
Keringat mengalir deras menuruni pelipis Delissa. Kenneth sedang menoleh padanya seraya menyipitkan mata. Di balik sikap manisnya saat mereka berjumpa di griya tawang kediaman Ricci, pria ini ternyata menyimpan kecurigaan mendalam terhadapnya. Di saat Delissa sedang tidak bersama Nolan yang bisa bersilat lidah menghadapi Kenneth.
"Kenapa tidak bisa jawab? Kamu gugup karena menyembunyikan sesuatu?"
"Aku sedang hamil dan mudah kepanasan!" tukas Delissa canggung. Semoga Kenneth tidak menginterogasi dirinya lebih jauh.
"Kamu tahu?"
Duh, pria ini belum selesai bicara!
"Ayahku memang lebih muda dari mendiang ayahmu, tetapi usiaku lebih tua darimu. Aku masih punya sekelumit ingatan tentang Bonita kecil."
Delissa merasa ingin melompat keluar dari mobil sekarang juga. Dengan sedikit kesalahan, ia pasti langsung ketahuan!
"Maaf, aku tidak ingat apa-apa. Kalau aku pernah berbuat kesalahan di masa lalu, aku sungguh-sungguh minta maaf."
Delissa ingin menangis saat memohon dengan ekspresi tertekan luar biasa. Mungkin saja Kenneth menyadari efek serius dari cerita acaknya yang tidak mampu Delissa antisipasi. Pria itu sekilas mengusap pucuk kepala Delissa dengan lembut, hingga hati wanita itu meleleh seketika.
"Aku tidak bermaksud menakut-nakutimu, Bonita. Tapi, aku ingin kamu jujur padaku."
Delissa kian bergeming di kursinya. Dengan sabuk pengaman melintang ketat di atas dada, ia seolah sedang dikunci mati dalam posisi ini. Delissa tak 'kan mungkin kabur ke mana-mana, termasuk ketika tangan Kenneth lantas beralih turun dan meremas pundaknya penuh tuntutan.
"Apakah Nolan bersikap baik padamu selama ini?"
Untuk sejenak, suasana dalam mobil seperti kotak peti mati, hingga bunyi bersin Delissa meledak dengan keras. Buru-buru wanita itu mengambil tisu di dashboard dan kembali meminta maaf. "AC-nya terlalu dingin," kilah Delissa serbasalah. Ia grogi berat gara-gara pertanyaan Kenneth yang langsung pusat menonjok kesadarannya.
"Kupikir tadi kamu kepanasan." Kenneth berujar pelan sambil mengurangi volume AC. Di luar kendali, Delissa pun merasa tersentuh oleh perhatian kecil Kenneth.
"Kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Delissa balik, seolah hanya tanggapan bodoh itu yang bisa ia lakukan. Lagi-lagi, Kenneth memicingkan matanya yang terlihat menawan.
"Aku sudah mengawasi kalian sejak masuk apartemen."
Delissa merapikan anak rambut ikal yang tergerai di sisi wajahnya dengan gelisah. "Memangnya kami kenapa saat bertemu Kakek?"
Kenneth justru menggeleng. "Bukan saat itu, tapi waktu kalian menempati apartemen di Seah Street."
Serta-merta bola mata Delissa melebar sempurna tatkala Kenneth menyebut lokasi apartemen yang ia tempati bersama Nolan sekarang.
"Kamu memata-matai kami?" ucapan Delissa terdengar ragu. Bibir Kenneth pun tertarik ke samping.
"Kebetulan saja aku menyewa di apartemen yang sama, sesekali mengasingkan diri dari aturan Kakek yang menyebalkan, bahkan menyangkut urusan berpakaian. Yah, Singapura kecil, Bonita. Kamu pikir, aku kebetulan lewat lalu menculikmu?"
Delissa sungguh terkejut. Sepasang tangannya menangkup pipi, tidak peduli betapa konyol ekspresi yang ia buat saat ini.
***
Hampir tengah malam ketika Delissa kembali ke apartemen. Diam-diam, ia melambai pada Kenneth yang masuk ke balik pintu, beberapa unit di sebelah. Sungguh tidak disangka ternyata pria itu berada di bawah satu atap dengannya. Tanpa ragu, Kenneth bahkan bilang akan membuka apartemennya lebar-lebar untuk Delissa jika wanita itu butuh.
Dalam situasi yang memburuk bersama Nolan, Delissa tak 'kan ragu berselingkuh. Bukankah perbuatannya tersebut tidak berbeda jauh dengan Nolan selama ini?
"Ke mana saja kamu kelayapan tengah malam begini?" Nolan belum tidur. Pria itu bahkan menunggu Delissa dengan marah.
Bukan salah Delissa, Kenneth yang lupa waktu. Andai tidak lupa diri jika ia bukan Bonita asli dan Nolan mengetahui rahasianya, Delissa mungkin tidak mau kembali ke pelukan pria ini. Karena bentuk perhatian Kenneth lebih tulus dari Nolan. Kenneth bahkan bersikap loyal membelikan makanan yang ia idam-idamkan semasa hamil. Kenneth juga bersedia meluangkan waktu untuk mengantarnya jalan-jalan menjelajahi Kota Singapura.
Semua perhatian yang tidak ia peroleh dari Nolan karena alasan berhemat.
Bah, bilang saja Nolan pelit! Bagaimana Nina bertahan dengan suami macam ini bertahun-tahun?
Delissa pun menahan gusar dalam hati tatkala berusaha membela diri, ditambah dengan kebohongan di sana sini, tentu saja.
"Aku sumpek di kamar mulu. Aku sedang hamil dan butuh udara segar, Nolan. Tadi aku jalan kaki keliling kota seharian."
Nolan bangkit untuk berbicara tepat di hadapan Delissa sambil bercekak pinggang. "Oh, ya? Siapa yang kasih kamu makan? Perut rakusmu itu pasti minta diisi buat jalan seharian!"
Air mata Delissa pun berdesakan ingin keluar dari bola matanya yang Nolan bilang mirip dengan Nina. Perawakan tubuh mereka bahkan serupa, sebelum perut Delissa nanti membuncit. Namun, Delissa tidak pernah tahu karena ia belum pernah bertemu Nina secara langsung. Nolan juga tidak menyimpan foto istrinya dalam gawai. Delissa hanya mendengar dari Kenneth bahwa Bonita memiliki rambut lurus dan cokelat gelap, sedangkan rambutnya sendiri ikal dan hitam. Tidak masalah, selama Kenneth dan keluarga Ricci yang lain tidak menaruh curiga. Mereka pasti sudah lupa karena Bonita telah lama menghilang.
Maka, Delissa cukup lega ketika mengetahui bahwa Kenneth berada di pihaknya dan bukan Nolan jika situasi memburuk--dengan imbalan khusus pastinya yang harus Delissa bayar dengan sebuah pengkhianatan. Bukan salah Delissa, tetapi Nolanlah yang telah menjadikan dirinya monster.
"Aku mau tidur. Capek!" kelit Delissa melewati Nolan. Pria itu pun ia tinggalkan keheranan dengan sejumlah pertanyaan dalam benak.