
Olivia dan Naomi Ricci nyaris menjerit untuk kedua kalinya ketika Gerald mendadak berbalik dan menangkap basah ekspresi mereka barusan. Nina Ricci kembali, bahkan mencari keberadaan keluarganya ke kantor polisi. Itu pasti bukan Nina! Nina yang Olivia dan Naomi kenal pasti sudah kabur ke ujung dunia untuk menyelamatkan diri. Sama halnya setiap kali mereka merisak wanita malang itu. Nina akan selalu bersembunyi di kamar atau menyamarkan diri menjadi dinding yang tidak bisa mendengar apalagi bicara. Itu pasti Nina yang lain. Polisi tadi pasti salah orang.
“Ada sesuatu, Nyonya?” selidik Gerald sembari menyipitkan mata curiga. Olivia dan putrinya lekas menggeleng canggung dengan senyum lebar yang justru tertarik ke bawah seolah ingin cemberut. “Ti-tidak ada. Sungguh,” jawab Olivia.
“Di sini panas! Gerah!” Naomi menambahkan dengan mata memelotot seraya mengipas-ngipas wajah.
"Bukankah seharusnya kalian senang mendengar kabar baik ini?"
Olivia dan Naomi terpaku. Leher mereka seakan terpancang pada rangka besi sehingga tidak ada satupun dari mereka yang menganggukkan kepala. Ibu dan anak itu saling menendang di bawah meja sebagai isyarat bahwa mereka harus segera keluar dari situasi darurat macam itu.
"Menantu saya sudah kembali. Biarkan kami pergi dari sini dan bertemu dengannya!" pinta Olivia. Ia sudah membayangkan akan memberi siksaan macam apalagi kepada Nina di vila nanti jika mereka sudah bebas. Gadis bodoh. Kebaikan apa pun yang dilakukan oleh Nina pada mereka, tidak akan menyentuh hatinya sedikit pun. Sebaliknya, Olivia menjadi semakin membenci Nina.
"Tidak." Gerald menolak permintaan tersebut. "Kasus ini tetap akan dilanjutkan. Silakan menikmati pizza sebelum keburu dingin, sementara saya memeriksa keterangan dari menantu Anda, Nyonya." Gerald keluar diikuti oleh anak buahnya. Setelah pintu tertutup, Olivia terduduk lemas di kursi. Naomi yang biasanya banyak bicara pun, kali ini bergeming. Kembalinya Nina sama sekali di luar dugaan. Padahal, mereka sempat bahagia di awang-awang saat Nina menghilang. Mestinya, wanita itu dimakan hantu saja di hutan.
"Mi!" Terdengar nada kekesalan yang amat sangat dalam nada panggilan Naomi. "Apa pengacara keluarga kita tidak bisa menolong kita? Kak Nolan, sih, enak. Kita yang jadi susah!"
"Diam!" Olivia membentak putrinya pelan. "Memangnya, apa yang kamu harapkan dalam kondisi kita sekarang? Mami cuma istri kedua mendiang papimu yang dipandang sebelah mata, Nao! Tidak ada pengacara di kota ini mau berurusan dengan kita."
"Kita, kan, bisa sewa pengacara bagus di tempat lain?"
"Sampai uang kita habis? Berdoa saja Nolan bisa meyakinkan kakekmu untuk memasukkan nama kita dalam daftar ahli waris dan memberi hak keluarga pada kita. Kalau itu terjadi, jangankan pengacara. Hakim pun akan Mami beli!" Naomi pun bersungut mendengar penjelasan ibunya.
...***...
Sementara di ruang komando, Gerald baru saja membubarkan para tim satuan tugas yang menangani kasus itu. Ia segera menemui Nina Ricci yang ia perintahkan kepada anak buahnya untuk menunggu di ruangannya.
Saat membuka pintu, ada perasaan aneh menyelusup. Asalnya dari seorang wanita berambut hitam panjang yang dianyam ke satu sisi. Wanita itu mengenakan kardigan brokat biru malam, melengkapi penampilannya yang serbagelap. Namun, tidak dengan kulitnya yang putih berkilau--setingkat lebih cerah daripada wanita Asia berkulit putih dalam drama korea.
Gerald menatap wajah wanita itu lekat saat ia berpindah ke belakang meja. Kini, Gerald bisa melihat lebih jelas sosok pemilik wajah bulat telur dengan mata bundar yang gagal ia tolong kemarin. Nina Ricci. Jika adik ipar Nina adalah Wonder Woman, maka Nina adalah versi putri saljunya. Gerald merasa tergelitik. Nina Ricci memiliki ekspresi sedingin salju yang sama sekali tidak meleleh ketika tatapan mereka bertemu.
"Terima kasih sudah menunggu. Saya AKP Gerald Davinsky, Kepala Satuan Reserse Kriminal Bukit Halimun."
"Saya ingin menjemput keluarga ipar saya. Nyonya Olivia Ricci dan Naomi Ricci."
Sang komandan pun tidak terkejut menerima perlakuan dingin dari Nina Ricci. Mungkin wanita itu menaruh dendam karena kemarin gagal diselamatkan olehnya.
"Kami sedang mendalami laporan Anda tempo hari. Jadi, Nyonya Olivia dan Naomi Ricci masih akan ditahan untuk dimintai keterangan."
"Laporan itu saya cabut."
"Permisi?" Gerald menajamkan indra pendengarannya.
"Apakah kata-kata saya kurang jelas?"
...***....
Nina tidak punya hati, maka ia tidak merasa bersalah ketika menggeleng dengan mudahnya saat komandan polisi tampan itu bertanya, "Apakah Anda tahu apa yang harus kami hadapi dalam menangani kasus Anda?"
Mulai tampak kekusutan dalam mata AKP Gerald. Namun, kemampuan Nina telah lenyap, hingga ia hanya menerka dari kilatan mata lelaki itu kalau sang komandan sedang tidak baik-baik saja. Pria itu tampak tertunduk sebentar sebelum bertanya. "Nyonya, tahukah Anda, apa saja yang harus kami lalui untuk menemukan diri Anda hingga saat tadi?" Tatapan Gerald lantas mendarat tepat pada bayangan mata Nina. Pria itu berkata lirih.
"Di sumur tempat Anda jatuh, kami menemukan timbunan tulang manusia. Kabar baiknya, itu bukan milik Anda."
Wajah Nina datar tanpa riak emosi saat menanggapi. "Oh, ya?" Gerald pun mulai merasa heran.
"Suami saya memang pernah bilang hal-hal buruk sering terjadi di vila. Apakah itu ada kaitannya, Tuan Detektif?"
"AKP Gerald. Kapten. Atau komandan." Gerald menegaskan.
"Kepala Detektif." Oh, baiklah. Gerald menyerah. Ia bahkan beranjak dari kursi dan mengitari meja untuk duduk persis di hadapan Nina. Wanita ini seakan telah melampaui dinding formalitas di antara mereka.
"Nah, Nyonya. Bagaimana cara Anda bisa keluar dari sumur dan ke mana Anda menghilang setelahnya?"
Nina menepuk-nepuk bibirnya dengan telunjuk. "Sebentar, saya tidak begitu ingat persis. Tapi, sepertinya ada seekor kelinci yang menuntun saya keluar lubang. Anda pernah membaca Alice di Negeri Ajaib, Kepala Detektif?"
Gerald menyentuh pelipis lantas menggeleng. "Nyonya, tolong jangan mempermainkan polisi."
"Saya berkata yang sebenarnya."
Apakah wanita ini mengalami gegar otak? Gerald seakan tidak percaya dengan pengakuan Nina yang terdengar naif. Mungkin, inilah saatnya untuk menggebrak meja dan kursi jika interogasi menemui dinding yang menghalangi mereka dari kebenaran.
Lalu, Gerald ingat bahwa posisi Nina adalah korban. Teka teki kembalinya Nina pun ia kesampingkan dulu. Ada hal lain yang tak kalah penting.
"Nyonya Nina, sekarang katakan pada saya. Hari di mana Anda jatuh ke dalam sumur, kenapa Anda lari dari vila?"
Pertanyaan itu membuat Nina mematung. Meskipun ekspresi wajahnya tidak berubah, Nina seolah terhanyut dalam proses menyusun rangkaian memori yang membekas tempo hari.
"Saya sudah mencabut laporan. Tolong, jangan jebak saya dengan pertanyaan seperti ini, Kapten Gerald."
Napas Gerald otomatis terembus kencang. Ia disergap oleh perasaan bersalah karena tertangkap basah berbuat curang. Cara Nina Ricci menyebut namanya pun terdengar seakan ia adalah anak nakal.
"Baiklah. Kasus ini akan ditutup. Anda boleh menjemput mertua dan adik ipar Anda sekarang."
"Benarkah? Oh, senangnya! Saya akan memasak makan malam untuk merayakannya. Apakah Anda juga mau datang, Kepala Detektif?"
Itu adalah pertama kalinya Gerald menyaksikan amplitudo emosi pada wajah datar Nina. Ekspresi wanita itu begitu hidup di mata sang komandan yang awalnya mengira bakal menemukannya dalam kondisi mati.
Luar biasa, desis Gerald dalam hati.
......***......