SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
PEMBURU DIBURU



Suasana di sekitar vila pagi itu dingin berkabut. Gerimis turun sejak dini hari dan membuat suhu menjadi menggelugut. Begitu pula yang dialami oleh Olivia dan Naomi. Ibu dan anak itu tidur saling berpelukan di atas lantai ubin dingin di depan koridor lantai dua. Nina menggeleng-geleng kepala melihatnya. Baru sehari pulang ke rumah, dua orang ini sudah ia buat kacau-balau. Bagaimana jika nanti? 


Nina punya cara sendiri untuk membangunkan mereka. Hari ini, tidak boleh ada yang bermalas-malasan karena hari ini adalah saatnya makan malam bersejarah di vila Ricci. Ia sudah menyiapkan cara spesial untuk membangunkan ibu mertua dan adik ipar tercintanya itu. 


Seorang hantu DJ bersiap-siap menunggu aba-aba dari Nina, lalu … satu, dua, tiga! 


Bunyi sirene gempa meraung-raung seakan menghantam langit-langit vila dan meledak di udara. Lantai vila bergetar oleh dentuman bas seperti tanah terbelah. Percikan air dari tangki penyiram tanaman yang dipegang oleh seorang hantu tukang kebun, menambah efek nyata serangan badai di vila Ricci. Badai dan gempa bumi itu sedang menimpa Olivia dan Naomi yang tengah asyik terlena dalam mimpi panjang mereka. Mereka bagai mengalami fenomena mimpi berlapis seperti babukka matruska. Sekonyong-konyong Olivia dan Naomi terbangun dalam sebuah mimpi buruk lain hingga keduanya berteriak selagi didera kantuk. 


“Mamiii kenapa iniii!” Naomi menjerit panik. 


“Vila runtuh, Nao!” jerit Olivia tak kalah panik.


Setelah benar-benar membuka mata, semua efek suara dan tiga dimensi itu lenyap. Hanya baju-baju mereka yang jadi basah. Berikut bunyi derit pintu terbuka di depan mereka, lalu menampilkan sosok Nina yang berpura-pura terkejut menyaksikan kericuhan di depannya.


“Loh, Mami dan Olivia sedang ada di depan kamarku?”


Olivia terperangah sesaat bagai amnesia. Barulah ia ingat tujuannya kemari malam tadi. Sementara, Naomi di sebelah bergeming kebingungan berusaha memilah-milah kekacauan memori yang ia alami sebelum terbangun di depan kamar Nina. Ibu mertua Nina segera bangkit hingga air menetes dari sepanjang tepian dagunya, lalu menuding wajah menantunya dengan marah.


“Kamu! Kamu sudah mencuri sabun mandi dan aromaterapi Mami!”


“Mami punya bukti?” tanya Nina dengan wajah polos. 


Olivia tidak bicara panjang lebar, ia langsung melewati Nina yang berdiri di depan pintu dan langsung menggeledah kamar menantunya. Namun, Olivia tidak menemukan apa yang ia cari hingga ia keluar dari kamar dengan ekspresi terguncang.


“Kemarin ada, kok ….”


“Mungkin Mami bermimpi,” komentar Nina enteng. 


“Kamu!” Olivia menunjuk wajah Nina. “Kamu pakai sabun mandi saya!”


“Baby Skin Salt Mami?” Sabun mandi legendaris di vila Ricci.


“Nah, kamu pasti ambil, ‘kan?”


“Bukannya ada di kamar mandi Mami? Mana mungkin ada di kamarku? Botol sabun mandinya tidak mungkin bisa terbang sendiri, Mami ….”


“Kamu jangan main-main sama Mami, Nina!”


“Mami cari dulu, deh, ke kamar Mami!”


“Udah, jangan banyak omong! Kamu ikut sini!” Olivia menarik tangan Nina untuk turun ke lantai satu, diikuti oleh Naomi yang bergegas tersadar dari keterpakuannya. Langkah mereka tergesa-gesa sehingga lantai berketuk nyaring sepanjang jalan. Setelah sampai di kamar mertuanya, Nina didorong masuk dengan kasar. Nina berpura-pura pasrah menerima perlakuan tersebut. Ia biarkan Olivia dan Naomi berada di atas angin untuk sesaat. Namun, wajah Olivia seperti ditampar ketika di pinggiran bak mandi tampak berjajar rapi botol-botol sabun, aromaterapi, dan rangkaian perawatan kulit beraneka jenis. Persis seperti sebelum menghilang dari tempatnya. 


“Mi, kok bisa? Vila ini betulan ada hantunya?” Naomi mengintip syok dari balik punggung ibunya. 


“Kenapa, Mi?” Naomi menyambut tubuh Olivia sebelum ambruk ke lantai. Tiba-tiba saja kondisi Olivia terlihat buruk. Semenjak Nina kembali ke vila, hidup mereka senantiasa ditimpa sial, seolah-olah nasib mereka tertukar dengan wanita itu. 


“Tulang-tulang Mami seperti ada yang menggigit, Nao!” Olivia meringis hingga kedua matanya tenggelam di balik kerutan kelopak mata. 


Tanpa menunggu persetujuan, Nina maju memegangi tubuh Olivia. Naomi otomatis melepaskan rengkuhannya di tubuh ibunya karena merasa jijik. “Duh, Mami terkena rematik sepertinya. Mami tidur pakai baju basah semalaman, sih.”


Naomi mendorong Nina kasar ke samping. “Kamu tidak usah sok baik, ya? Jangan dekat-dekat Mami! Nanti Mami celaka lagi gara-gara kamu!”


Untung Nina tidak punya hati untuk merasa tersinggung akibat ucapan kasar Naomi, sehingga kata-kata itu numpang lewat begitu saja. Namun, Nina memang sengaja ingin membuat mereka merasa terpojok. Karena itulah, Nina berkata. “Kalau aku mau kalian celaka, sudah aku taruh racun di makanan kalian atau aku bikin Mami kesetrum di kamar mandi!” 


Nina mendekat dengan tatapan dingin menyasar mertua dan adik iparnya. “Setidaknya, aku bukan orang yang tega melenyapkan orang lain dengan memenenggelamkannya ke dalam bak mandi.” Sekujur Olivia dan Naomi menggigil. “Tapi … aku bisa lebih kejam daripada Mami dan Naomi bayangkan. Coba saja kalau kalian berani!”


“Sialan! Kamu pasti jadi bersikap berani begini karena ada polisi yang memihakmu sekarang! Lihat saja nanti siapa yang nasibnya akan berbalik!” ancam Olivia penuh rasa dengki. 


“Oh, ya? Mami dan Naomi merasa lebih pintar? Sebelumnya, pikirkan saja dulu, deh. Bagaimana menjamu kepala polisi nanti malam!”


"Ma-makan malam?"


Celaka! Nina telah mengundang Komandan Gerald, sang kepala polisi untuk makan malam di vila secara sepihak! Dunia serasa berputar dalam pandangan Olivia, hingga Naomi kembali mengamankan tubuh ibunya agar tidak mencium lantai. Lalu, tangan Nina menggenggam tangan wanita bule berumur yang masih cantik itu--sayangnya tidak punya hati.


"Mami tenang saja. Aku bisa bantu Mami." Nina tersenyum manis sekali. Ia terlihat seperti kelinci berekor lucu yang menggemaskan.


"Bantu?! Kamu yang sudah mengundang kesialan ke vila ini!"


"Mami pasti tidak mau Komandan Gerald curiga, bukan?"


"Apa yang kamu rencanakan, Nina!"


"Kamu nggak usah sok baik, kataku! Kamu sengaja menggoda polisi itu untuk melawan kami, 'kan?" Naomi menuduh dengan bola mata membesar akibat dorongan untuk mencekik habis leher Nina.


"Ah, kamu baru saja memberiku ide bagus, Naomi! Haruskah aku menggoda pria tampan itu?"


Olivia dan Naomi bertukar pandang. Mereka sama-sama berpikir apakah Nina sudah gila. Tanpa mengetahui isi pikiran kedua wanita di depannya--dan sungguh itu tidak penting lagi bagi Nina karena keinginanya sekarang nomor satu di vila--Nina memberi solusi mencerahkan pada ibu mertuanya.


"Aku tadi pinjam akun online shop Mami. Aku sudah membeli semua makanan dan kebutuhan untuk makan malam nanti--oh, ya! Aku juga tidak mungkin, 'kan, meminjam baju Mami terus, jadi aku juga beli dress cocktail yang tidak kalah menterengnya dengan punya Mami dan Naomi."


Olivia tidak sanggup mendengar seluruh cerita yang keluar dari bibir Nina. Wanita itu jatuh pingsan.


...***...