SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
BADUT PESTA



Tanpa memandang status nyonya besar Ricci yang tidak pernah beranjak dari wanita simpanan, para penghuni vila Ricci tetaplah kaum elit yang cukup disegani lantaran nama besar Norman Ricci, mendiang sang kepala keluarga. Tampaknya, status terhormat itu bakal menjadi pertaruhan terakhir di tangan Naomi. Gadis yang disebut barusan terancam gagal mempertahankan estafet nama besar Ricci.


Pasalnya, Naomi kini sedang bertingkah memalukan, meskipun kerasukan arwah hantu badut berada di luar kendali sang wonder woman. Naomi berjoget-joget tidak keruan dari ujung ke ujung ruang tamu. Ia melantai dengan ganas. Olivia merasa tidak punya tempat lagi untuk menaruh muka lantaran perbuatan Naomi sudah memporakporandakan gambaran gadis Ricci yang senantiasa berperilaku sopan.


"Bantuan datang, harap tenang!" Beberapa aparat polisi masuk dari balik pintu depan. Mereka langsung menyerbu ke tengahkekacauan yang terjadi: orang-orang menangis menggerung di lantai dan menjerit menyayat hati. Sementara itu, tamu undangan yang bertahan untuk menolong, tidak mampu berbuat apa-apa selain mencegah para korban menyakiti diri mereka sendiri.


Sekali lagi, Nina tampil sebagai pahlawan. Nina mencegah Naomi agar tidak menghujani seorang aparat polisi yang tiba di vila dengan ciuman selamat datang. Orang itu adalah Sersan Andi yang langsung terbeliak kaget diserang oleh korban kesurupan terparah. Korban satu ini tampak segar bugar, tetapi jiwanya jelas-jelas mengalami guncangan besar seperti orang kena gangguan mental. Jika kondisi gadis itu tidak sedang dalam fase trans, tentu dengan senang hati Sersan Andi akan menyambutnya.


"Kata Komandan Gerald, Anda butuh bantuan, Nyonya Nina." Sersan Andi tak ayal kewalahan juga hingga harus mengerahkan otot-otot di tubuh buldosernya secara maksimal, tatkala kekuatan Naomi terasa meningkat berkali-kali lipat. Gadis itu memonyongkan bibir dan mencondongkan badan. Sementara itu, Nina di belakang berpura-pura membantu dengan memeluk pinggang Naomi agar polisi di hadapannya tidak jatuh sebagai korban kegilaan gadis itu.


"Pak Polisi, Anda pernah diseruduk banteng?"


"Hah? Belum, Nyonya."


"Saya sudah tidak kuat lagi, Pak Pol." Nina berpura-pura mengeluh kewalahan. Kontan saja Sersan Andi menukas panik. "Bertahan, Nyonya. Jangan dilepaskan!"


Sersan Andi tidak tahu mesti merasa beruntung atau sebaliknya jika Naomi sampai terlepas membabi buta ke arahnya. Ia bakal kerepotan dan rasanya jujur cukup mengerikan diserang oleh gadis ini yang sedang kehilangan akal sehat.


Tubuh Sersan Andi mulai terdorong ke dinding, sedangkan Nina membiarkan tubuhnya terseret oleh tenaga kuda milik Naomi.


"Naomi!" Olivia berlari menyongsong putrinya. Tidak ia hiraukan delikan mata Nina yang terasa menghunjam ke ulu hati dalam jarak dekat. Tapak kaki Olivia nyaris runtuh karena tatapan itu mengirimkan gelenyar tidak nyaman yang merambat ke seluruh tubuh.


"Makan apa gadis ini sampai kuat sekali?" keluh Sersan Andi seraya berusaha mengubah posisi untuk memiting Naomi dari belakang, tetapi usahanya tidak membuahkan hasil.


"Makan hati, Pak Pol."


Sersan Andi terkekeh hambar mendengar guyonan Nina di waktu yang tidak tepat, sedangkan Olivia balas menatap sang menantu tajam. Berani-beraninya Nina mencari gara-gara di tengah kekacauan.


"Saya punya rencana, Nyonya-nyonya, Saya akan menjatuhkan Nona Naomi ke lantai. Begitu saya kasih aba-aba, lepaskan tangan kalian semua."


"Anda mau apa?" tanya Olivia dengan mata terbelalak lebar.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya hanya berusaha menelikung Nona Naomi, tapi butuh bantuan kalian. Siap?" Baru selesai berbicara demikian, Sersan Andi melakukan tekel pada betis Naomi. Olivia tidak siap. Ia ikut terjengkang ke depan bersama sang putri.


Sersan Andi berteriak ketika mengerahkan momentum dengan sikunya untuk menyudahi perlawanan Naomi. Dengan napas terengah, ia menatap pada Nina dan Olivia seraya berusaha menutupi rasa jengah.


"Saya tidak menyangka kita semua akan bertemu kembali dalam kondisi aneh ini."


"Cukup basa basinya, Tuan! Putri saya butuh bantuan sekarang!" Olivia bersungut kesal. Wajah wanita ini kini tak bisa mulus lagi setelah situasi berbalik di luar bayangannya. Bukannya Nina yang bertekuk lutut menghadapi era baru pertempuran mental antara mereka, tetapi Naomi terseret lebih dulu sebagai tumbal. Kebenciannya pada sang menantu pun makin menjadi-jadi.


"Bagaimana kalau kita celupkan kepalanya ke air biar sadar, Pak Pol?"


"Nina!" Olivia memungkas saran Nina, tidak memberi celah kesempatan bagi Nina untuk bermain-main dengan keselamatan putrinya. Sebaliknya, Sersan Andi menganggap saran tadi cukup masuk akal.


"Sebelah sini, minta air!" teriak Sersan Andi pada rekannya yang sibuk menolong korban lain.


"Ini, Pak!" Seseorang muncul dengan secangkir minuman di tangan.


"Kenapa malah Anda minum--Aaa!" Pekikan Olivia memuncak hingga ke langit-langit. Tiba-tiba, Sersan Andi menyemburkan air dalam mulut ke arah Naomi. Wajah dan tubuh wanita itu pun ikut basah terkena siraman hujan lokal. Olivia nyaris menangis dengan wajah jijik ketika melihat hantu badut perlahan menggeliat lepas dari tubuh Naomi. Nina tersenyum. Ini adalah pertunjukan terbaik hari ini, walaupun jelas bukan yang terakhir. Ia ingin menggertak sang mertua agar sadar akan ketimpangan posisi mereka, bagaimanapun juga. Jika Olivia berniat menguasai kekuatan Sindoorah, maka wanita itu butuh usaha lebih untuk mengalahkan kesetiaan orang-orang yang terlibat di dalamnya.


Olivia mulai merasa lega ketika melihat ekspresi Naomi yang perlahan kembali normal. Tatapan anak gadisnya tidak berputar-putar lagi seperti lampu sirene. Meskipun begitu, Olivia tidak tertarik untuk memeluk Naomi yang perlahan sadar dan menatap ibunya seraya duduk di lantai dengan rambut awut-awutan.


"Putri Anda kelihatannya baik-baik saja. Saya tinggal dulu untuk menolong yang lain, ya?" Sersan Andi beranjak dari tempat mereka.


"Kenapa Naomi tadi, Mi?" tanya Naomi bingung seraya mengamati situasi di sekitar mereka yang belum pulih.


"Kamu kena santet orang jahat," ucap Olivia penuh maksud. Namun, kata-kata yang sengaja keluar dari mulut sang ibu malah membuat Naomi bergeming aneh.


"Jahat?" tanya Naomi dengan suara mendatar. Tatapan gadis itu tampak kosong melompong.


"Nao? Nao!" panggil Olivia cemas karena Naomi bersikap aneh. Meskipun jauh lebih tenang daripada sebelumnya, tetapi sikap diamnya itu sungguh tidak biasa dan meresahkan.


"Jahaaat ...." Naomi mulai menangis sesenggukan. Ia bahkan mencakar-cakar wajah dan rambut dengan beringas. Olivia berusaha mencegah perbuatan Naomi dengan panik. Tidak ada hantu yang merasuki pikiran sang putri, tetapi Naomi bertingkah seperti bukan dirinya.


"Pak Polisi, tolong sayaaa. Naomi kesurupan lagi ...." Olivia berteriak meminta bantuan Sersan Andi kedua kalinya. Kulit mukanya ditebal-tebalkan kali ini. Ia pun mendelik kesal saat menyadari Nina seolah sedang menikmati kesusahan yang mereka alami dengan senyum dingin.


"Mamiii. Kenapa Mami sungguh jahaaat ...." Naomi meracau dan berteriak pilu.


"Nao. Sadar Nao!" Olivia ikut-ikutan menangis, apalagi Sersan Andi yang dimintai tolong tidak lekas membantu karena juga sibuk dengan korban lain. Ruang tamu vila Ricci dipenuhi gerungan orang-orang yang menangis dan menjerit frustrasi seperti Naomi.


"Nina!" bentak Olivia pada sang menantu. "Lepaskan Naomi!"


Nina pun memutar bola mata heran. Tingkah mertuanya memang tidak ada manis-manisnya dan senantiasa memperlakukannya ibarat budak belian.


"Kalau Mami memang hebat, suruh sendiri agar hantu-hantu itu pergi."


"Nina!" Olivia makin kelabakan menghindari jari Naomi yang bergerilya ingin mencolok-colok lubang hidung ibunya seperti anak kecil putus asa. Pada ambang kesadaran, Olivia akhirnya tega juga menampik tangan Naomi dan memukul anak gadisnya agar segera sadarkan diri. "Tolooong ...." Olivia memelas penuh iba. Nina tertunduk dengan garis bibir tertarik ke samping. Sementara jauh di anak tangga, Sindoorah tersenyum penuh kesenangan. Bibit kekacauan yang ditebar oleh Nina menjadi parodi yang menggelitik untuk disaksikan. Namun, ini masih di luar harapannya.


Situasi menjadi benar-benar tidak terkendali ketika Sindoorah mengambil alih semuanya. Ruang tamu vila Ricci berubah menjadi arena penyiksaan. Para korban bangkit dengan posisi tertekuk aneh seraya berteriak kencang. Olivia turut menjerit menyaksikan kondisi Naomi yang mengenaskan. ia sampai berlutut memohon agar kutukan yang tengah menimpa mereka agar berhenti.


Kejadian itu hanya berlangsung beberapa detik, korban-korban lantas berjatuhan pingsan seperti samsak hidup yang kempis kena pukulan, hingga tidak ada lagi pemandangan mencekam yang menghalangi Nina melihat Sindoorah di seberang. Ia berdiri terpaku menatap sang sekutu yang sedang mengunci dengan sorot mata merah. Mereka seakan bertukar pikiran. Sindoorah ingin lebih dan Nina harus memberi pembuktian.


"Orang itu!" Sersan Andi bereaksi dengan mengarahkan pistol ke arah Sindoorah. Berikut aparat polisi lain, mereka semua mulai mengepung Sindoorah.


Telapak kaki Nina seolah menempel di lantai. Sindoorah menatap tepat ke dalam matanya, meskipun berada di tengah ancaman para penegak hukum. Nina tahu, Sindoorah sedang menunggu sesuatu darinya atau iblis itu sendiri yang akan mengakhiri nasib orang-orang ini dalam tragedi.


Tunggu ... ada sesuatu yang salah, pikir Nina. Tidak semestinya ia dan Sindoorah punya kekuasaan untuk menyakiti selain orang jahat.


Kecuali ....


Andai Nina masih punya hati, hati itu akan berhenti berdetak sekarang juga tatkala menyadari sesuatu.


***