
Malam hampir larut tatkala Komandan Gerald memarkir motor di sebuah petak halaman sempit. Letaknya di pertigaan jalan kecil dan dikelilingi oleh rumpun perdu tanpa bunga. Penampilan rumah di dalamnya pun lebih mirip gubuk dan sama sekali tidak menarik perhatian. Namun, tiada seorang pun akan menduga bahwa tempat sederhana itu adalah markas pertemuan yang biasa dilangsungkan jika ada beberapa insiden aneh terjadi di Bukit Halimun.
Petang tadi, Komandan Gerald menolak tawaran Sersan Andi yang kebetulan bebas tugas untuk makan di luar. Ada urusan lain menyita waktu pria itu. Ia tidak mungkin mencapai posisinya yang sekarang di usia teramat muda tanpa kerja keras. Bahkan, terkadang menangani pekerjaan yang tidak manusiaswi.
Akan tetapi, Gerald tampaknya sedemikian putus asa, hingga kebutuhannya untuk mendatangi tempat ini tidak bisa ditunda lagi. Hasil pemeriksaan forensik tulang-tulang yang dikumpulkan dari sumur tua sungguh meresahkan pikirannya, dan keresahan itu menjadi berlipat ganda setelah menghadiri pesta kebun di vila Ricci yang berakhir mencekam. Sialnya, ia hanya menerima laporan tidak jelas dari Sersan Andi setelahnya.
Gerald mengetuk pintu kayu pelan, sama pelannya dengan langkahnya dalam sepatu lars yang berderit.
"Masuk," sahut sebuah suara dari dalam, seolah menunggu kedatangannya.
Seorang pria tua dengan baju lusuh compang-camping duduk di lantai merapat dinding. Pria tua itu berpegangan pada sebuah tongkat dari ranting kayu yang diserut kasar. Sekilas, penampilannya mirip gelandangan renta yang sakit-sakitan. Namun, Gerald tahu bahwa wujud luar itu hanya menipu karena gelandangan ini dengan bebas berkeliaran di jalan-jalan untuk mengawasi secara diam-diam.
"Salam, Pengawas." Gerald menyapa dengan hormat, tetapi pria tua hanya menatap Gerald tajam dengan matanya. Gerald masih berdiri tegak di hadapan pria itu karena ia tidak diperintahkan untuk duduk dan memang begitu seharusnya. Ia tidak pernah disuruh duduk.
"Kabar apa yang kaubawa, Anak Muda?" tanya Pak Tua tanpa basa basi.
"Tidak lama ini, kami menemukan kuburan tulang dalam sumur di hutan." Gerald sengaja tidak menyebutkan soal vila Ricci dan Nina, ia bermaksud menyembunyikannya, dan berharap Pak Tua tidak menyadari hal itu.
"Lalu, apa yang kalian temukan?"
"Tulang-tulang ini saling bertumpuk, beberapa bagian tubuh bahkan tidak lengkap, hingga dibutuhkan waktu dan pemeriksaan lagi untuk mencocokkan dan mengumpulkannya. Namun anehnya, meskipun rata-rata usia korban tidak lebih dari dua puluh lima, usia tulang tulang ini bervariasi. Yang tertua berusia seratus lima puluh tahun, sedangkan yang terbaru, mati sepuluh tahun lalu. Ada pola yang sama seperti pembunuhan berantai, tetapi ... jelas tidak masuk akal dan saya tidak bisa memasukkan dalam laporan bahwa pelakunya kemungkinan orang yang sama."
"Kau tahu bahwa kemungkinan itu ada jika membicarakannya denganku. Apakah kau telah menemukan pelakunya?"
Gerald berusaha menguasai diri agar tidak bersikap mencurigakan, apalagi ketika menyadari bahwa tatapan pria itu seolah berusaha mengupas isi kepalanya. Jika ia tidak berhati-hati, Pak Tua bisa saja menggali fakta yang sedang ia rahasiakan mati-matian.
"Kasus kali ini sungguh berbeda. Saya tidak menemukan bukti keberadaan pelaku."
Pak Tua pun menukas cepat. "Sebuah kuburan massal berusia kuno yang masih kerap meminta korban, pasti meninggalkan jejak pelaku yang jelas. Apa yang sebenarnya sedang kau tutupi, Anak Muda?"
"Mungkinkah mereka sengaja dibuang di tempat itu?"
"Apakah kau meragukan para 'pengawas' yang menjaga Bukit Halimun?"
Tatapan serta tuduhan Pak Tua membuat Gerald tertegun sesaat. Tanpa dua perlakuan itu pun, ia telah merasa dihakimi setiap kali berhadapan dengan seorang Pengawas dari Dunia Atas. Namun, Gerald harus berhasil menelusuri identitas Tuan Sin yang tiba-tiba muncul di vila Ricci bersama Nina. Ia butuh dukungan informasi dari Kaum Pengawas.
"Saya tidak pernah meragukan Para Pengawas. Kalian telah banyak membantu kami mengatasi kekuasaan gelap di dunia tengah. Karena itulah, saya meminta petunjuk pelaku yang mungkin berada di balik kasus ini sebelum menyebar luas."
"Tunjukkan sumurnya."
"Tidak perlu!" sergah Gerald cepat. Sumur tempat Nina terjatuh sekaligus kuburan tulang-tulang berada dekat properti milik vila Ricci. Kaum Pengawas tidak boleh mengetahui ini sekarang. Pria itu pun berusaha meyakinkan Pak Tua. "Tidak ada jejak apa pun yang tertinggal di sana selain tulang-tulang."
Sang Pengawas mendadak bangkit secepat kilat, ia bahkan tidak membutuhkan tongkat. Pak tua itu menatap ke dalam mata Gerald dari jarak dekat. "Jika begitu, pelakunya berkeliaran di dunia tengah tanpa seorang pun dari kita tahu!" kecamnya, hingga Gerald menggemeletukkan gigi ketika merasakan energi yang begitu besar sempat menghantam dirinya. Namun, Gerald tidak mundur selangkah pun. Ia menentang tatapan sang pengawas dengan berani.
Setelah keheningan mencekam, Pak Tua akhirnya berbicara pelan. "Tidak ada makhluk dari dunia bawah yang berhasil lolos sebelum ini, kecuali seseorang dengan sengaja membebaskan dan memeliharanya. Selama ini, ia mungkin telah berada di sumur itu turun-temurun, lalu para korban mendatanginya. Atau ...."
"Dia menjebak seseorang agar masuk ke dalam lubang." Pupil berpinggiran keruh milik Pak Tua mengecil. Momen ini mengingatkan Gerald bahwa sang pengawas sedang mencari petunjuk tentang makhluk tersebut di antara gambaran yang cocok dengan cerita Gerald."
"Gerald," ujar sang pengawas dengan tatapan masih menerawang. "Ayahmu tidak pernah gagal mengungkap kasus kejahatan sebelumnya, hingga kematian seorang teman mengakhiri kariernya sebagai polisi. Namun, kau tidak perlu berambisi mengejar keinginan yang sama dengan ayahmu. Akan lebih mudah jika kau memilih salah satu dari pekerjaanmu sekarang: menjadi polisi atau salah satu dari kami."
Gerald pun tersengat. "Kenapa Anda membicarakan ini sekarang?"
Pupil mata sang pengawas pun bergerak-gerak menelusuri wajah Gerald. "Kasus ini mungkin saja akan membuat salah salah satu pekerjaanmu terancam. Seratus lima puluh tahun lalu, ada seorang pejuang muda sepertimu pernah dikubur hidup-hidup dalam lubang. Ia tidak pernah kembali dan jasadnya tidak pernah ditemukan."
"Kenapa dia dikubur?' tanya Gerald terkejut.
"Karena dia punya kesaktian yang ditakuti oleh penjajah. Seorang dukun bayaran pasti menyuruh mereka untuk mengelabuinya, lalu menimbunnya dalam lubang untuk mengunci kesaktian pemuda tersebut."
"Dia mati?"
"Tidak ada yang tahu setelahnya. Namun, laporanmu kali ini membawa pada petunjuk yang telah terlupakan. Tidak mengejutkan jika dalam waktu seratus lima puluh tahun dia berubah menjadi siluman. Apalagi jika dia punya dendam khusus terhadap keturunan seseorang."
Gerald nyaris tidak mampu menahan debar jantungnya yang tiba-tiba meningkat. Membayangkan orang-orang yang tinggal di dalam vila Ricci serta ancaman yang mungkin telah masuk ke dalam kediaman mereka terasa gila bagi sang komandan. Terutama saat memikirkan Nina dan Tuan Sin yang misterius tersebut.
"Apakah kau sanggup menangani kasus ini atau akan melimpahkannya pada pemburu lain?" Pertanyaan Pak Tua menyadarkan Gerald.
Sang komandan pun langsung menjawab tegas. "Saya yang menemukannya, saya juga yang akan mengatasinya. Saya tidak akan membiarkan makhluk itu memulai lingkaran balas dendam lama. Tidak, di Bukit Halimun yang seharusnya damai ini."
"Kalau boleh tahu, apa yang membuat pemuda sakti terkecoh hingga terjebak dalam lubang?" selidik Gerald penasaran.
"Wanita."
Jawaban singkat sang pengawas mampu membuat jantung Gerald mencelat dari rongga dada. Jawaban itu sama sekali tidak ia sukai karena terdengar sungguh mengintimidasi.
"Sejak dulu, kaum kalian memang lemah terhadap wanita."
Sial, Nina benar-benar dalam bahaya, umpat Gerald dalam hati. Seharusnya, ia langsung menangani kasus vila Ricci sejak awal dengan kategori khusus. Gerald sadar bahwa ambiguitas pekerjaan ini telah membuatnya lengah walau sekejap. Dan sekarang, ia juga mesti berhadapan dengan perasaannya sendiri.
Rentetan bunyi petir kemudian menyambar, kedengarannya berasal dari tempat yang lebih tinggi di atas bukit.
"Para pengawas turun?" tanya Gerald gusar, membayangkan misinya saja belum dimulai, tetapi para pengawas akan ikut bergabung memburu makhluk tersebut.
"Tidak. Kedengarannya seperti ada energi besar yang baru saja digunakan."
Pak Tua bergegas keluar rumah, diiringi oleh Gerald yang diam-diam menyimpan rasa cemas, lebih-lebih tatkala tatapan sang pengawas terarah pada langit malam, lalu menuju bukit tempat vila Ricci berada.
Gerald pun berharap Nina sedang tidak melakukan perbuatan bodoh.
***