SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
KASUS LAMA RICCI



"Kami tidak menemukan dua wanita yang dimaksud Nyonya ini," ujar seorang satpam melapor pada manajer butik.


“Anda jangan coba-coba berbohong dan menutupi kejahatan Anda di depan saya, Nyonya,” kecam sang manajer pada Nina yang dipojokkan di kursi dalam ruangan manajer.


“Saya akan bayar gaun itu!” Nina membalas tak kalah sengit dengan mencondongkan tubuh bagian atasnya ke arah pria itu.


“Tidak semudah itu! Jika pengutil label seperti Anda dibiarkan tanpa tindakan hukum, suatu hari pasti Anda akan mengulanginya lagi!”


“Ya ampun!”


Sang manajer lantas mengungkungi Nina dengan lengannya, berupaya mengintimidasi, sehingga Nina sempat tergelitik sesaat untuk menerbangkan pria kurus itu ke dinding di seberang ruangan, andai ia tidak ingat pesan nomor dua Sindoorah--jangan menggunakan kekuatannya terang-terangan di depan umum atau keberadaannya bisa dilacak dengan mudah. Siapa peduli aturan payah macam itu? Namun, Nina tidak ingin tertangkap sebelum berhasil membalaskan dendamnya.


Haruskah Nina mengelabui manajer ini untuk membawanya ke suatu tempat terpencil lalu mematahkan hidung pria ini sebagai pelajaran setimpal? Kemudian, ia akan segera mencari Olivia dan Naomi yang telah menjebaknya dalam situasi merepotkan. Entah di mana keberadaan dua wanita itu sekarang. Mungkin mereka berpikir telah berhasil menyingkirkan dirinya dari kehidupan mereka untuk sementara. Namun, tidak akan segampang itu! Nina bukanlah gadis naif kemarin yang jatuh ke dalam sumur--sumur gelap kehidupan dalam artian sebenarnya.


Di puncak perdebatan antara sang manajer dan Nina sebagai tersangka, bunyi pintu terbuka menyela. Lalu, masuk seorang polisi berpakaian preman dengan perawakan buldoser yang langsung mengenali dan dikenali oleh Nina. 


“Astaga. Saya tidak menyangka akan bertemu Anda kembali secepat ini. Mana dua orang lainnya?” Sersan Andi seolah-olah sedang mencari keberadaan seseorang dengan ekor mata pemburunya. 


“Kabur,” jawab Nina singkat. “Keluarkan dulu saya dari sini dan selesaikan semua kesalahpahaman ini.” Alis Sersan Andi melengkung di satu sisi ketika mendengar cara Nina memerintahnya.


...***...


“Sudah saya bilang, ‘kan? Saya tidak bohong,” kata Sersan Andi ketika mengantarkan Komandan Gerald ke hadapan Nina Ricci. Wanita itu dikurung dalam salah satu sel sementara bersama dua orang tahanan lainnya. Ia dikeluarkan dari dalam sana setelah Komandan Gerald sendiri yang menjamin pembebasannya.


Nina pun memandang bosan pada dua pria tersebut. Mulutnya telah berbuih untuk menjelaskan kepada sang manajer, lalu kepada Sersan Andi tentang kejadian yang sebenarnya, tetapi alibinya tetap tidak diterima. Nina hanya berharap ia bisa menyingkrkan gangguan itu dengan cepat tanpa harus mengerahkan kekuatan sebelum waktunya. 


“Kenapa Anda di sini, Tuan Kepala Detektif?” tanya Nina menentang mata Komandan Gerald dengan berani. Sepasang mata teduh milik pria itu makin dinaungi mendung ketika berusaha menepis aroma permusuhan yang ditebarkan oleh Nina di antara mereka. “Apakah telah terjadi sesuatu dengan Anda dan Nyonya Nina, Pak?” selidik Sersan Andi menangkap kegelisahan sang komandan.


“Ya--”


“Tidak!” Nina menatap sengit Komandan Gerald. Jangan coba-coba komandan polisi itu memberi tahu urusan kecil yang dibesar-besarkan malam itu. Yah, bagi Nina, ia telah menukar hatinya dengan kemampuan Sindoorah, hingga hal semacam itu adalah batu kerikil yang baiknya ia abaikan di tengah jalan. 


“Maaf, Nyonya. Anda salah paham.” Komandan Gerald lekas meluruskan kecanggungan posisinya dalam pandangan Nina. 


“Mungkin Anda lupa waktu saya bilang bahwa saya adalah Kepala Satuan Reserse Kriminal, maka tentu saja saya berhak untuk menyelidiki kasus yang menimpa Anda sekarang. Namun, sesuatu yang saya maksudkan tadi adalah perbincangan pribadi kita di ruangan saya tempo hari."


"Maksud Anda?"


Komandan Gerald menghela napas sesaat. "Saya berjanji akan menutup kasus Anda. Tapi kenyataannya, kami tetap mengadakan penyelidikan. Lalu, insiden yang menimpa Anda sekarang jelas sebuah kemunduran besar yang bisa digunakan oleh lawan Anda untuk menghalangi penyelidikan kami.”


“Oh.” Mulut Nina membulat. Untuk pertama kalinya, ia berharap jika ia kembali memiliki kemampuan untuk membaca isi hati. Nina bagai ditampar telak oleh praduga bodohnya sendiri. Tentu saja sebuah ciuman yang dicuri darinya bukan menjadi suatu masalah bagi komandan polisi di hadapannya!


"Sersan Andi, bisa tinggalkan kami sekarang?"


Setelah tinggal mereka berdua duduk di depan meja di ruang sipir, perhatian Komandan Gerald teralih sepenuhnya pada Nina.


"Nyonya." Komandan Gerald menatap Nina penuh harap. "Apa yang sebenarnya Anda inginkan dengan menyembunyikan kejahatan keluarga ipar Anda? Saya yakin jika laporan Anda tempo hari bukanlah sebuah kesalahan seperti yang Anda akui."


Nina balas menentang dengan riak air yang tenang, tapi tersembunyi kedalaman di bawahnya. Dalam penglihatan sang komandan, Nina berkali-kali lipat lebih eksplosif dibandingkan malam tadi. Tiga hari yang cukup cepat untuk mengenal seorang Nina Ricci.


"Apa untungnya bagi Anda, Tuan Kepala Detektif?"


Pria itu pun tertegun sejenak, seolah mempertimbangkan suatu hal. Komandan Gerald mengunci tatapan Nina agar wanita itu tidak mengkhianati ucapannya. "Jauh sebelum mengenal Anda, saya pindah ke kota ini untuk menggantikan tugas ayah saya yang juga seorang Kareskrim. Waktu itu, ayah saya mencoba membuka sebuah kasus lama yang menimpa keluarga Ricci."


"Kecelakaan ayah mertua saya. Norman Ricci?"


"Ya."


"Jadi, Anda menduga bahwa seseorang dari keluarga Ricci terlibat?"


Komandan Gerald mengangguk tegas


"Lalu, apa hubungannya dengan saya?"


"Melihat usia Anda, kemungkinan besar Anda pernah bertemu dengan beliau waktu kecil."


Nina menelengkan kepala, lantas menyipitkan mata. "Bagaimana Anda tahu kalau saya tinggal di tempat itu sejak kecil?"


"Kami menelusuri dokumen yang berkaitan dengan Anda."


Kali ini, Nina menjadi benar-benar tertarik. "Tuan Norman memang pernah beberapa kali berkunjung ke sana. Tapi, tidak tinggal lama. Saya pun tidak boleh bertemu dengan beliau karena saya cuma putri seorang ...."


"Pembantu di vila keluarga Ricci." Komandan Gerald menyambung perkataan Nina. Ya, karena alasan itulah keluarga suaminya memperlakukan ia dengan sangat buruk. Pernikahannya dengan Nolan bisa dikatakan sebuah dongeng peri yang ternyata berakhir mimpi buruk.


"Apakah Anda pernah menangkap sebuah keganjilan di vila itu sebelum Tuan Norman mengalami kecelakaan? Maaf, mungkin Anda sudah tidak mengingatnya lagi karena kejadian ini sudah lama. Tapi, satu petunjuk kecil sangat penting untuk kemajuan penyelidikan kami.


Nina menggeleng.


"Sebuah pertengkaran atau sejenisnya?"


Nina kembali menggeleng sambil mencebik. "Tuan Kepala Detektif. Satu-satunya hal aneh yang terjadi di rumah kala itu adalah, mereka menghukum saya dengan mengunci saya di gudang karena satu kali kedapatan mengintip Tuan Norman di atas balkon."


Komandan Gerald tertegun. Teka teki yang meliputi kasus lama Ricci semakin rumit saja.


...***...