
“Komandan, dia akan membunuhku!”
“Diam atau aku akan menghancurkan wajahmu, Nina!”
Sekejap saja timbul kegaduhan di ruang makan ketika Nina menodongkan pistol yang dioperkan Komandan Gerald ke arah Olivia. Mertuanya spontan mengangkat kedua tangan sambil merengek ketakutan meminta pertolongan si komandan polisi, sementara Naomi di seberang Nina telah mengambil ancang-ancang untuk melancarkan serangan.
Komandan Gerald cukup terkesan dengan perubahan situasi yang tidak terduga itu. Yang paling tidak ia duga tentu saja kecepatan gerakan Nina yang nyaris seperti sulap. Ia terlalu meremehkan wanita di balik tubuhnya yang mungil dan ringkih itu. Lalu, keputusan Nina untuk langsung menggertak Olivia dengan senjata, tidak terlalu mengejutkan baginya.
“Nina tidak mungkin serius, Nyonya Olivia. Ini hanya permainan. Dia pasti tidak bodoh untuk mengetahui bahwa pistol itu kosong, bukan?”
“A-apa?” Olivia dan Naomi berpaling pada Komandan Gerald dengan keseragaman yang mengagumkan.
“Saya tidak mungkin menyerahkan sebuah pistol berisi untuk digunakan sebagai alat dalam permainan. Saya ini polisi, bukan tukang jagal. Lagi pula, kenapa Anda berpikir Nina akan membunuh Anda, Nyonya Olivia? Bukankah dia menantu Anda? Dan Anda, Nona Naomi. Reaksi Anda terlalu mengancam untuk seseorang yang telah Anda kenal dan tinggal bersama selama bertahun-tahun. Apakah ada sesuatu dalam diri Nina yang Anda anggap membahayakan diri kalian?”
“Yang Terhormat Komandan Polisi, Anda sungguh tidak lucu!” Naomi mengumpat pada komandan tersebut masih dalam posisi siap menyerang Nina.
“Permainan ini bahkan belum dimulai, tapi saya sudah punya banyak pertanyaan untuk Anda bertiga, Nyonya dan Nona.”
Di antara mertua dan adik iparnya yang syok luar biasa, hanya Nina yang merasa ringan mendengarkan penjelasan Komandan Gerald tadi. Ia masih menodongkan pistol ke arah Olivia yang perlahan menurunkan tangan dan kembali menegakkan tubuhnya di kursi dengan angkuh. Sementara, Naomi merosot duduk dengan gerakan ragu, tetapi tidak punya pilihan. Gadis itu terlihat bisa menendang meja kapan saja andai situasi menjadi benar-benar terkendali. Namun, kepalanya bisa saja lebih dulu kena tembak--andaikan Nina selihai itu atau pistol itu ada isinya ….
“Bolehkah saya mulai, Tuan Kepala Detektif?” tanya Nina pada Komandan Gerald tanpa bergerak atau mengalihkan pandangannya dari Olivia.
“Tentu saja, Nyonya Nina. Silakan.”
Kedua sudut bibir Nina tertarik lebar dan di mata mertuanya, sikapnya itu terlihat kurang ajar. “Mami Olivia Ricci.” Nina memanggil nama mertuanya dengan lengkap. “Malam sebelum Nolan pergi, apa yang kalian rencanakan?” Nina sebenarnya sudah tahu semua yang direncanakan oleh suami dan keluarga suaminya, tetapi Nina bermaksud menguji mertuanya sembari memberikan umpan untuk mengungkap alibi wanita itu di depan Komandan Gerald.
“Bicara apa kamu? Omong kosong!” Olivia langsung menyesal telah mengucapkan kalimat itu karena malah mengundang delikan tajam penuh kecurigaan dari komandan polisi di seberangnya. Ia pun memberikan jawaban yang ia pikir masih aman.
“Nolan … menitipkan kamu pada Mami.”
Olivia tidak berbohong, tetapi pernyataan itu bukan sebuah rahasia lagi bagi Nina karena Nolan mengatakannya dengan jelas di depan mereka dan Nina saat makan malam. Nina sama sekali tidak tersentuh dengan sesuatu yang ia tahu dibalut oleh dusta. Ia tahu persis apa isi hati Olivia, Naomi, dan Nolan malam itu. Namun, Olivia sepertinya lupa akan sesuatu yang penting, hingga Komandan Gerald beranjak dari kursinya untuk mendekati Nina, lantas meraih tangan Nina untuk mengambil kembali senjatanya. Tentu saja Nina menyerahkannya dengan sukarela. Ia tidak butuh senjata untuk menakut-nakuti siapa pun, bahkan tidak untuk mencelakai seseorang karena yang ia butuhkan hanya satu kedipan mata. Nina hanya mengucapkan terima kasih sebagai formalitas ketika tatapannya bertemu dengan sang komandan polisi.
“Permainan selesai? Itu saja?” tanya Naomi tidak percaya, tetapi matanya segera membelalak ketika mengingat sesuatu. Olivia masih belum menyadarinya hingga detik itu.
“Itu ….” Olivia bagai tercekik selagi Naomi berusaha untuk tidak memelototi ibunya dari jarak jauh. Gadis itu tidak bisa menendang kaki sang ibu di bawah meja agar tidak salah bicara. Olivia segera teringat janjinya pada Nolan untuk tidak melibatkan sang putra dan membereskan semua urusan di sini.
Andai tidak ada komandan polisi sialan ini! Olivia memandang penuh dendam kesumat pada pria di seberangnya. Urusan untuk membereskan keberadaan Nina menjadi lebih rumit karena campur tangan Komandan Gerald.
“Nyonya.” Komandan Gerald mengerutkan alisnya yang tebal dan bisa terlihat dari posisi Olivia.
“Kenapa pertanyaan saya terdengar susah untuk dijawab? Ini hanya pertanyaan pribadi tanpa tendensi apa-apa. Putra Anda adalah suami dari Nyonya Nina. Sudah sewajarnya jika dia mengetahui kecelakaan yang menimpa istrinya.”
“Kakak saya sedang menemui kerabat saya untuk sebuah urusan yang sangat penting, Pak Polisi! Kami baru akan memberi tahu dia setelah urusan di sana sudah selesai!” Di saat genting itu, Naomi berbicara lebih tegas daripada Olivia yang memasang wajah seolah akan menangis karena terpojok. Ibunya memang punya ide cemerlang, tetapi Naomilah yang senantiasa membereskan setiap kekacauan.
“Urusan Nyonya Nina juga penting.”
“Bukankah sudah cukup jika Anda yang mengurusnya? Anda seorang polisi, bukan? Itu sudah tugas Anda.”
“Kasus ini sudah ditutup oleh Nyonya Nina, sayangnya. Jadi, saya tidak akan berbuat apa-apa sampai Nyonya Nina sendiri yang berubah pikiran.”
Kekesalan Olivia dan Naomi segera berbalik kepada sosok menantu keluarga mereka. Mereka memberi isyarat penuh intimidasi kepada Nina, tetapi hal itu justru terasa ironi sekarang. Nina yang biasa lemah, kini mendadak kuat oleh dukungan seseorang yang kuat bersamanya.
Hanya saja, Olivia dan Naomi tidak tahu fakta siapa dalang di balik kekuatan yang dimiliki oleh Nina sekarang. Nina tersenyum penuh kemenangan. Sedikit tidak adil memang bagi Komandan Gerald yang berbaik hati dan peduli padanya. Tapi, sungguh. Sang komandan itu hanyalah pion untuk mencapai tujuannya. Lagi pula, sosok pria itu tidak bisa disingkirkan begitu saja. Di dekat Komandan Gerald, Nina bagai Sindoorah dalam sosok kelinci. Berbahaya, tetapi tidak mengancam. Nina pun ingin membuktikan sebuah peringatan kecil dari Sindoorah.
Tiba-tiba, Komandan Gerald menodongkan pistol yang sedari tadi masih dipegangnya ke arah Nina. Namun sebelumnya, pria itu mengisi pistolnya dengan butiran peluru dan menarik kokang. Gerakannya begitu tangkas dan cepat hingga nyaris tidak disadari dalam beberapa detik. Nyawa Nina kini bergantung pada satu telunjuk Komandan Gerald yang sudah siap pada pelatuk.
“Truth or dare. Mana yang Anda pilih, Nyonya?”
Nina tersenyum. Dingin. Nina tidak tahu isi hati polisi itu, jadi ia harus berjaga-jaga demi keselamatannya. Cara sang komandan bermain-main dengannya sama sekali tidak lucu jika dibandingkan dengan yang berlaku pada Olivia dan Naomi sebelumnya. Maka, ia pun mengirim sinyal kepada para hantu untuk melakukan serangan gaib pada Komandan Gerald dan melucuti pistol di tangannya.
Komandan Gerald kemudian dikeroyok oleh para hantu takkasatmata dari berbagai jurusan. Namun, ketika para hantu mendekati pria tersebut, serangan mereka semua melempem seperti terkena oleh perisai takkasatmata dan makhluk-makhluk astral itu terpental ke segala arah. Komandan Gerald hanya merasakan sebuah sensasi seperti embusan angin menyambar tengkuk yang ia abaikan karena fokus perhatiannya kini tertuju pada satu titik imajiner, tepat di tengah dahi Nina.
Sial. Pria ini tidak mempan oleh kekuatan Sindoorah.
...***...