SINDOORAH PROPHECY

SINDOORAH PROPHECY
KESATRIA BERKUDA BESI



Bunyi bel menjerit nyaring ke seantero rumah, menggema hingga ke lantai dua dan bergetar pada dinding bak mandi. Nina mendengarnya, tetapi ia tidak berdaya menyongsong panggilan tersebut. Tangan dan kakinya terikat tali. Mulutnya pun dilakban. Orang-orang itu baru saja berniat melenyapkan jejaknya karena ada satu kekurangan pada dirinya yang mereka benci. Nina istri mandul tidak berguna.


Ia dan Nolan memang belum pernah meminta bantuan profesional sekalipun mereka belum dikaruniai anak setelah tiga tahun menikah. Nina tidak mampu mengelak atas semua tudingan buta tadi karena takut dicap menantu durhaka. Selama itu pula, hidup Nina bagaikan meniti jembatan di atas neraka.


Nina pikir, ia bisa mengubah pemikiran orang-orang itu tentang dirinya dengan berbuat berbuat kebaikan selangkah di depan mereka. Sayang, selangkah yang ia ambil tersebut ternyata malah menjadi dua tiga langkah mundur ke belakang hingga memberi mereka ruang lebih untuk menyiksanya.


Misalnya kemarin, Nina membantu Olivia memasak makan malam. Sedapat mungkin, ia menghindari 'kesalahan' sekecil apa pun di dapur. Nina tahu jika resep ibu mertuanya selalu kurang bumbu, tetapi ia tambahkan diam-diam agar Olivia tidak berpikir jika ia adalah menantu sok tahu yang kurang ajar seperti Olivia bilang--salah satu usaha dari sekian usaha yang ia coba.


Saat semua orang tampak diam menyantap makan malam yang diselamatkan rasanya oleh Nina, keheningan tak biasa menyergap. Hanya denting sendok mengalun sebagai lagu pengiring. Namun, Nina tahu sebabnya. Sejak ia menempati kursi di sisi Nolan, hatinya bergemuruh laksana badai. Malam itu, ia memang diundang makan bersama--perlakuan istimewa yang tak biasa ia terima karena Olivia dan Naomi, adik iparnya, tidak sudi makan satu meja dengannya--lantaran satu hal.


"Besok, aku titip Nina, ya?" Nolan menatap penuh arti pada Olivia dan disambut lirikan mata penuh kepura-puraan wanita berkulit putih di seberangnya. Mertua Nina tidak menjawab, tetapi Nolan selanjutnya mengusap rambut panjang sang istri di sebelahnya--yang terasa seperti sentuhan kematian bagi Nina. "Kamu baik-baik sama Mami dan Naomi, ya?"


Nina tidak menjawab, kerongkongannya didesak oleh gumpalan kesedihan. Aroma tajam dari ayam saus lada hitam dan asam selada menambah riak gelombang yang menghantam perutnya. Nina serasa ingin muntah.


Malam itu, Nina jadi tahu kalau suaminya bakal pergi hari ini. Dengan wanita lain, sedihnya. Inilah jawaban yang ia terima setelah Nolan pergi tanpa kabar berminggu-minggu. 'Cerita' yang dibawa Nolan mengejutkan bagai sambaran petir.


Ia bisa mengetahui betapa berhasrat sang suami di pagi hari. Selama menunggu Nina menyetrika rapi kaus polo lelaki itu, Nolan bersiul dan berdendang pelan selagi duduk bersilang kaki di tepi ranjang. Santai sekali kelihatannya dari cara kedua tangan Nolan menopang di sana dengan bahu lemas. Saat itu, Nolan juga tidak mengira kalau rencana rapi mereka akan berakhir menjadi skenario tak terduga.


"Sayang ..., kamu mau roti gulung keju, atau, telur puyuh rebus lezat?"


Alis brunette Nolan terangkat sejenak demi mendengar pertanyaan dari Nina yang berusaha menawarkan sarapan favoritnya. Sang istri memilin-milin rambut cokelat gelapnya--setingkat lebih gelap daripada rambut Nolan karena Nina memperoleh darah blasteran dari sang nenek, sementara kedua orang tua Nolan sama-sama bule--dan Nolan sadar Nina sedang berusaha merayunya. Namun, ia menggeleng dengan ekspresi berubah masam karena muak dengan skenario selanjutnya jika Nina ditolak. Betul saja, garis bibir Nina langsung melekuk turun dan mata wanita itu berkaca-kaca.


"Buat apa?" tanya Nolan datar. Ia merebut kaus dari tangan Nina yang mendadak gemetar akibat menahan laju emosi.


Nolan tidak tahu saja, Nina sekarang tahu sepak terjang Nolan di belakangnya! Bahkan, nama wanita yang selalu Nolan sebut-sebut dalam hatinya itu!


Naifnya, saat itu Nina berharap ia mampu membelokkan niat Nolan ke ranjang di kamar mereka dengan memakai lingerie terseksi--seperti kata hati Nolan saat itu--yang ia pakai sejak bangun tidur, kemudian tiba-tiba ia diserang. Semua itu berkat satu telepon di pagi hari.


"Lho, Mi!" Nolan terkejut ketika tubuh Nina dirubuhkan dengan satu hantaman di kepala oleh Naomi hingga nyaris pingsan dan tidak berdaya, tetapi ia masih mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Delissa telepon, ia hamil!"


Nolan kaget bukan main. Kabar menggembirakan itu mampu mengalahkan hasratnya yang sempat bergejolak akibat rayuan Nina.


"Jadi?" Pertanyaan Nolan terdengar bodoh.


"Kita hilangkan jejaknya sebelum orang-orang sadar. Dia tidak berguna dan hanya akan menghambat rencana pernikahanmu dengan Delissa, Nolan! Bawa Delissa sekarang ke kakekmu di Singapura!"


"Tapi ...."


"Tidak ada tapi-tapian!"


"Maksudku, jangan sampai rencana Mami gagal dan menyeret namaku!"


"Kapan rencana Mami pernah gagal?"


Air mata Nina mengalir dalam ketakberdayaan dan genangan luka dalam. Tangan dan kakinya diikat dengan tangkas oleh adik iparnya, Naomi, mantan atlet karate sabuk hitam. Berteriak sekeras apa pun juga, suaranya tidak akan didengar karena vila milik keluarga Nolan berada di atas bukit, jauh dari peradaban.


Hal-hal buruk sering terjadi di sini, kata Nolan dulu bercanda waktu melamar Nina di salah satu vila asri milik keluarga Ricci. Siapa sangka hal buruk itu malah menimpa dirinya karena merasa yakin seratus persen akan kemampuannya yang ternyata melempem di situasi semacam ini.


"Mami, Naomi, kumohon ...." Nina terisak ketika tubuhnya diseret tanpa daya menuju kamar mandi.


"Diam!" Naomi menendang pinggul Nina dengan gusar hingga wanita itu memekik kesakitan. Terdengar bunyi keras lakban ditarik oleh Olivia, lalu sebentar saja Nina tidak bisa bicara lagi. "Cocok buat kamu yang berisik dan bisanya cuma jadi parasit!" maki Olivia kejam.


Hanya sesenggukan sengau keluar dari kerongkongan Nina ketika mereka memasukkan tubuhnya ke bak mandi. Sebelum Naomi sempat memutar keran, tangannya tergantung di udara karena bunyi bel pintu. Olivia dan sang putri bertukar pandang heran. Bel itu jarang berbunyi dan Nolan baru saja pergi.


"Nolan punya kunci, 'kan, Mi?" Olivia tidak menjawab retorika putrinya. Tatapannya justru bergulir tajam ke arah Nina yang tampak membeku, seolah menunggu sesuatu. Tak lama, terdengar dering telepon Olivia menambah keriuhan. Segera saja terdengar suara cemas Nolan di seberang. "Aku berpapasan dengan polisi di jalan, Mi! Mereka menuju vila! Apa aku perlu kembali?"


"Kamu bawa saja Delissa sebelum saudara tirimu yang dapat saham Ricci!"


Olivia melempar gawai ke sebarang arah. Nina melenguh saat Olivia tiba-tiba menjambak rambutnya hingga tubuhnya makin merosot dalam bak mandi dan kepala wanita itu terantuk pinggiran porselen.


"Biar aku yang tangani, Mi! Mami jaga parasit ini saja biar tidak menginfeksi ke mana-mana!" Kelopak mata Nina melebar mengancam demi mendengar ejekan Naomi. Ia sudah mencapai batas kesabaran hari ini. Namun, gadis muda itu membalasnya dengan kerlingan merendahkan. Sebaliknya, Olivia berkata khawatir, "Hati-hati, Nao."


"Jangan ragukan kekuatan Nao," adik ipar Nina memamerkan biseps gemuknya, "kalau perlu, Nao bisa pakai jurus rahasia!" Gadis itu menepuk otot-otot bokongnya dengan tertawa, lalu berjalan keluar dengan tingkah dibuat-buat. Olivia tidak sempat merasa kesal dengan guyonan sang putri karena perhatiannya kini lebih terfokus pada Nina yang mungkin sekarang terbang di atas angin.


"Kamu harus bersikap baik!" Olivia melepaskan ikatan di tubuh Nina dengan terburu-buru sebelum polisi naik menggeledah. Sebelum itu terjadi, sang menantu dipaksa untuk bersandiwara. Nina pun seakan menemukan kekuatan baru lagi ketika tangan dan kakinya terbebas. Ia bahkan melepaskan lakban sendiri dari mulutnya. Hari ini bukan saat kematiannya.


"Ada apa ini?" Olivia membentak seorang polisi berpakaian preman dan berperawakan lebih besar dari Naomi yang tampaknya tidak berhasil dihalangi oleh gadis itu. Pria yang kelihatannya menguasai seisi dunia tersebut dengan cekatan bergerak menanti Nina dan Olivia turun di ujung tangga.


"Selamat pagi, Nyonya. Tengah malam tadi, kami menerima laporan ancaman terhadap Nyonya Nina." Pria itu menatap Olivia dan Nina yang berdiri agak ke belakang sambil memegangi handuk piamanya dengan gerak-gerik mencurigakan. "Siapa di antara Anda yang bernama Nyonya Nina?"


"Sudah saya bilang. Saya, Pak!" Naomi bersuara tinggi mendahului Nina yang mendadak bergeming tak menyangka.


"Anda kelihatan tidak berada dalam posisi terancam," sindir polisi itu. Fisik Naomi memang terlihat tangguh seperti versi Wonder Woman di dunia nyata.


"Tentu saja saya terancam suami saya diambil sama pelakor itu!"


Naomi menunjuk ke arah Nina sehingga Nina gelagapan dengan perubahan situasi tersebut. Olivia tersenyum senang dengan kecerdikan Naomi.


"Saya Nina, Pak! Dia bohong!"


"Apa Bapak tidak lihat penampilannya kayak gitu? Dia terciduk bersama suami saya pagi ini di kamar!" Naomi berteriak. Aktingnya sungguh meyakinkan hingga polisi itu terpengaruh.


"Mana suami Nyonya?"


"Sudah kabur!"


"Dia bohong, Pak! Dia adik suami saya!" Seluruh tubuh Nina bergetar didera amarah.


"Mana KTP kalian?"


"Dia menyuruh suami saya mencuri KTP saya lalu memalsukan identitas kematian saya, Pak!"


"Pak, saya bisa jelaskan--"


"Cukup!" Bentakan si polisi mengunci mulut Nina dan Naomi. Pria itu berpaling pada Olivia. "Ibu siapa?"


"Saya pemilik vila ini, saksi mata perselingkuhan mereka." Tangisan Naomi mendadak pecah. Nina tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gerungan Naomi, senyum licik Olivia, terutama ketika membaca isi hati si polisi.


Hati Nina terbelah. Jemarinya mencengkeram erat pinggiran handuk di depan dada. Di dunia ini, mungkin tidak ada yang bisa membantu Nina kecuali dirinya sendiri ....


......***......


Gerald berkeliling di sekitar vila dengan Ducati-nya untuk memantau TKP. Laporan tadi malam terdengar mencurigakan, datangnya dari seorang wanita bernama Nina Ricci. Gerald mengenal nama Ricci di belakang nama wanita itu--keluarga taipan pemilik saham mode kelas dunia, Moe Ricci yang menguasai pasar Asia.


Tiba-tiba, ia menerima laporan mengejutkan dari walkie talkie--seseorang melarikan diri. Gerald segera memutar balik ke sisi vila sesuai petunjuk anak buahnya.


"Awasi orang-orang di rumah itu!" instruksi Gerald cepat.


Motornya melewati mobil patroli yang terparkir di sisi jalan, tampak anak buahnya sedang mengamankan dua orang wanita di depan vila. Perhatian Gerald tidak tertuju kepada mereka, tetapi seorang wanita yang berlari lurus ke arah hutan di sekitar bangunan megah dua lantai tersebut. Ketika wanita itu menghilang di antara barisan pepohonan, Gerald berdecak gusar--secepat itu ia kehilangan jejak karena motornya tidak bisa menerobos ke dalam sana.


Akan tetapi, kasus ini belum selesai. Gerald meninggalkan motornya begitu saja dan menyusuri jalur yang ia duga dilewati oleh wanita tadi. Seorang wanita bertelanjang kaki dengan handuk piama polkadot merah muda tidak akan memiliki banyak kesempatan di hutan, pikirnya. Maka, saat ia menangkap objek berwarna pastel kontras itu bergerak di antara batang-batang coklat kehitaman dan ranting dengan daun hijau beruas, ia pun turut bergerak cepat berusaha memotong jalur si wanita. Lalu, terdengar sebuah jeritan nyaring dan sosok itu tertelan bumi.


Gerald pikir, ia berhalusinasi saja sewaktu menyaksikan wanita itu ditelan bumi dalam arti sebenarnya.


"Bertahanlah!" Gerald berteriak kepada wanita itu yang sekarang berpegangan rikuh pada tepian lubang bundar menganga di tanah yang sepertinya adalah sumur tua. Diameternya sempit dan tidak terdapat tumbuh-tumbuhan di atasnya.


"Tolong!" Wanita itu memohon lemah karena kehabisan tenaga. Tangan Gerald segera menggenggam erat tangan miliknya. Lalu, kejadian selanjutnya mencekam urat saraf. Bobot tubuh si wanita menjadi berkali lipat lebih berat seakan ada yang menarik jatuh dirinya. Hal terakhir yang Gerald lihat sebelum wanita itu menghilang adalah sorot mata bundar penuh kengerian pada sebingkai wajah bulat telur miliknya, lalu kegelapan pekat menunggu di bawah sana bagaikan mulut bumi tanpa dasar.


...***...