
Langit biru di atas mereka mendadak mendung dan berembun. Angin bertiup semakin kencang, mengibarkan rambut hitam panjang Nina dengan liar. Mata cokelat terang wanita itu seakan menjadi kelam dalam suasana kelabu. Sesaat kemudian, petir menyambar. Ke bukit. Petir-petir itu seolah menyasar ke satu titik yang Komandan Gerald sadari adalah posisi Nina berada. Guntur bersahutan terdengar begitu dekat dan mengerikan jika diamati dari atas bukit. Ini pasti bukan suatu kebetulan. Wanita itu kini dikeliliingi oleh lingkaran yang mata serangannya berpusat pada diri Nina.
“Nina!” teriak Komandan Gerald cemas tatkala melihat Nina dikepung pasukan kilat dari langit.
Namun, Nina bergeming di tempatnya. Rentetan kilat itu hanya menyambar di sekitar Nina, seolah ada perisai takkasatmata yang melindunginya. Kemudian, suasana mendadak hening. Petir-petir menghilang, meninggalkan jejak rerumputan terbakar berbentuk melingkar dengan Nina di pusatnya.
“Sial. Barusan, apa yang terjadi?” Benak Komandan Gerald disebu oleh beragam pertanyaan. Dengan satu dorongan intuitif, ia bergegas mendekati Nina dan menarik wanita itu dalam dekapannya.
Ada sesuatu yang salah, pikir Nina setelah wajahnya menubruk dada bidang pria itu. Aroma maskulin langsung meracuni indra penciumannya. Malam tadi, pria ini mencuri ciumannya, lalu sekarang memeluknya?
Nina segera mendorong Komandan Gerald untuk melepaskan diri darinya. Namun, pria itu tidak mau melepaskannya. Maka, Nina pun mengerahkan energinya kepada sang komandan sehingga pria itu tersentak ke belakang sekian meter jauhnya. Wajah Komandan Gerald terperanjat kala Nina melakukannya.
“Berhentilah memperlakukan saya seperti wanita lemah, Tuan Kepala Detektif. Pikiran Anda tentang saya selama ini salah!”
Pria itu terperanjat lantas bangkit dengan sigap. Ia kini bersikap waspada seakan menjaga jarak dan membangun benteng pertahanan secara naluriah. "Siapa Anda, Nyonya Nina?"
Nina tertawa mendengar pertanyaan tersebut.
"Truth or dare kita sudah selesai kemarin malam. Kenapa Anda suka mengulang permainan, sih?"
"Saya mohon, jangan mempermainkan polisi, Nyonya."
"Apakah Anda lupa jika malam tadi Anda telah bermain api dengan istri tersangka Anda sendiri, Tuan Kepala Detektif?"
"Argh!" Gerald berteriak kesal. "Baiklah! Saya akui malam tadi telah kehilangan akal sehat karena Anda begitu manipulatif dan menarik! Puas?" Gerald melangkah, lalu berhenti di luar lingkaran rumput terbakar dan bersedekap tanpa melepaskan tatapan sejenak pun dari Nina. "Sekarang, kembali pada tujuan kita semula ke sini. Anda pasti punya alasan di balik pencabutan laporan yang telah Anda lakukan di telepon tempo hari! Anda juga tidak perlu terkejut dengan reaksi saya. Menurut dugaan saya, Anda berafiliasi dengan suatu kekuatan jahat yang menjadikan Anda sekarang kuat. Secara supranatural."
Alis Nina terangkat tatkala matanya melebar. Komandan Gerald balas terkekeh.
"Bukan hanya Anda yang punya rahasia, Nyonya Nina."
Sial! Nina berharap kemampuan membaca isi hatinya kembali sekarang juga.
"Jika saya tidak mau bercerita?" tantang wanita itu.
"Saya akan memaksa."
"Baiklah ...." Kepala Nina miring ke samping dengan bahu lemas sembari menghela napas lelah, seakan sedang mengintip pria di hadapannya. "Coba saja!" Tiba-tiba, tangan kanannya terangkat, lalu tanah di bawah kaki Komandan Gerald ke atas dengan cepat untuk menjungkal sang komandan.
Gerald terbang.
Persisnya, pria itu bersalto di udara dua kali putaran, lalu mendarat dengan mulus beberapa langkah jauhnya. Nina sukses dibuat terperangah. Tak menyangka jika sang komandan yang terlihat kaku itu ternyata seringan bulu dan lentur.
"Tidak usah pamer, Tuan Kepala Detektif. Saya tidak akan terkesan."
"Anda salah paham, Nyonya. Itu refleks."
Nina bisa merasakan darah dalam nadinya berdesir karena ia merasa dipermainkan. Bibirnya sampai berkedut saking kesal. Terlebih menyaksikan ekspresi serius di wajah pria itu seolah mereka sedang membahas wahana atau olahraga.
Tunggu. Bukankah ia sekarang tak punya hati? Kenapa ia bisa merasa kesal? Apalagi ketika mendengar perkataan Komandan Gerald. "Kelihatannya Anda bersekutu dengan sumber kekuatan yang berasal dari tanah. Ah, ya," Komandan Gerald kembali bersedekap sambil menggaruk dagu dengan telunjuk untuk menilai, "itu menjelaskan kenapa Anda bisa selamat setelah jatuh di lubang, sekaligus kekuatan yang Anda miliki sekarang. Pertanyaannya ... siapa nama iblis yang sudah melimpahi Anda kutukan ini, Nyonya Nina?"
"Saya tidak merasa dikutuk, Tuan Kepala Detektif. Saya merasa terlahir kembali dan rasanya luar biasa!"
"Nyonya ..., Anda tidak tahu konsekuensi apa yang akan Anda terima jika tetap menggunakan kekuatan ini."
"Anda mengancam saya?" Nina meradang. Hatinya sudah tidak punya kendali rasa takut. Gelengan kepala Komandan Gerald kian memantik amarahnya. "Apa pun perjanjian yang telah Anda buat, iblis itu pasti memanfaatkan kelemahan Anda demi tujuan lebih besar yang tidak Anda sadari."
"Diamlah, Komandan! Anda membuat saya hilang kesabaran!" Energi takkasatmata melingkupi tubuh Nina. Rambut panjangnya berkibar ke segala arah hingga wajahnya bagai terperangkap dalam bola badai. Nina menunjukkan pertanda siap menyerang.
"Konsekuensi? Tanyakan saja itu pada besan saya!"
"Apakah ini tentang dendam?"
Nina terdiam, sekalipun Komandan Gerald berteriak memanggil dirinya yang bergeming tanpa jawaban seraya melayangkan pertanyaan serupa. Sebaliknya, energi yang berpusat di kepala Nina bergerak turun ke kaki hingga menciptakan pusaran rumput kering di sekitar dirinya.
"Saya. tidak mau bertele-tele lagi. Kesempatan terakhir bagi Anda, Nyonya Nina. Siapa nama iblis yang sudah memberi Anda kekuatan agar kita bisa menelusuri jejaknya."
"Lalu?"
"Kita putus ikatan Anda dengannya."
"Tidak!"
...***...
Nina tidak bisa berhenti secepat ini. Ancaman Komandan Gerald sama sekali tak menjadikan nyalinya ciut. Ia bukan Nina Ricci pengecut yang dulu pasti lari terbirit-birit. Masa lalu telah menyerahkan tongkat estafet ke masa depan yang telah Nina susun dengan rapi.
Ia akan pulang, melupakan apa yang terjadi di bukit, lalu melanjutkan hidup di vila Ricci demi misi balas dendam.
Namun sebelumnya, Nina harus menaklukkan komandan polisi tangguh di depannya. Nina pun meregangkan otot-otot lengan hingga terdengar bunyi derak seperti kentang renyah tiap kali ia menekuk persendian.
Nina menyisir rambut panjang brunnette-nya yang sempat berantakan dan menebah-nebah rok di atas lututnya yang dikotori serpihan rumput hangus, lalu berjalan dengan lenggok menawan ke arah Komandan Gerald.
Nina menaruh satu tangan di pinggang. Satunya lagi telah mendarat di depan mantel kulit mengilat tanpa diantisipasi oleh pria itu. Agaknya, tidak keberatan. "Bagaimana kalau kita menjalin simbiosis mutualisme, Tuan Kepala Detektif?"
"Anda mencoba merayu saya, Nyonya?" Komandan Gerald menepis tangan Nina dari tubuhnya dengan halus. Tetap saja senyum manis di wajah mungil itu kembali membuatnya jatuh dalam pesona.
"Silakan coba lain hari, Nyonya. Setelah saya bertemu dengan suami Anda lebih dulu."
"Haha, Anda kaku sekali, sih?" Nina menabrak tubuh pria itu. Lantas kuping Komandan Gerald seakan menegak ketika mendengar bunyi gemerincing tidak asing. Tahu-tahu, tangannya telah terborgol di belakang badan.
"H-hei!"
"Sebaiknya Anda cepat pulang ke rumah, Tuan. Di sini dingin sekali saat malam tiba. Bukan begitu?" Nina mengedip sebelum berbalik dengan rambut terkibas indah. Beberapa langkah tanpa sempat dikejar, wanita itu hilang ditelan lubang yang mendadak muncul di tanah. Lalu, jejaknya pun raib tanpa bekas.
...***...