
"Ide kamu kali ini cemerlang sekali, Nao! Haha!" Suara tawa menggema ke seluruh ruang tamu yang gelap. Hanya cahaya dari luar, masuk lewat pintu terbuka yang menerangi langkah dua pasang kaki di lantai. Bunyinya berketuk indah khas stiletto. Udara dingin membuat volume suara di ruangan seluas aula itu jadi lebih nyaring.
"Siapa dulu, dong ...."
"Naomi!" Terdengar suara serempak diakhiri tawa cekikikan dua orang wanita.
"Tapi ini berkat Kak Nolan juga kali, Mi. Dia yang kasih saran buat mengelus-elus ego cewek itu."
"Nolan emang pandai mengelus cewek. Anak siapa dulu, dong ...."
"Mami!" Suara serempak lagi, ditimpali tawa beresonansi lebih tinggi. Ketika salah seorang dari mereka menyalakan lampu, suara tawa berganti jeritan kaget memekakkan telinga. Tekak mereka terlihat jelas dari balik mulut yang menganga, disaksikan oleh Nina yang sedang duduk menyilang kaki di sofa.
"Kenapa Mami dan Naomi berhenti tertawa? Lanjutkan saja."
Dua perempuan beda generasi itu kembali berteriak melengking seakan tak puas menyiksa kerongkongan mereka hingga serak.
"Kenapa kamu di sini!" semprot Naomi gusar setelah berhasil menguasai keterkejutannya.
"Kenapa? Vila ini rumahku juga." Nina berucap seraya melayangkan tatapan masa bodoh.
"Nao! Mami pusing, Nao!" Olivia menyeka keningnya dengan punggung tangan. Andai Nina tidak menguasai sofa, ingin sekali wanita itu menghempaskan diri ke sana karena sepertinya ia mau jatuh pingsan.
"Ke kamar aja, Mi!" Naomi setengah menyeret paksa ibunya melewati ruang tamu untuk berjalan menuju koridor yang mengarah ke kamar. Sesampainya di kamar sang ibu, Naomi langsung membanting pintu.
"Najis, ih! Kenapa dia ada di sini? Mestinya Nina sekarang di kantor polisi kalau dia ketangkep di kasir tadi!" omel Naomi kesal karena harapannya ambyar. Pangkal hidung Nina jelas-jelas tidak memar--Naomi sudah membayangkan Nina kena hakim massa tadi. Namun, istri kakaknya itu kelihatan sehat wal 'afiat tidak kurang satu apa pun.
Naomi memelotot ketika Olivia malah terbaring lemas dengan separuh badan sampai lutut di tepi ranjang. Sikap lebay ibunya jika menemui masalah sedang kumat. Olivia bakal bersikap seperti orang paling tersiksa di dunia. Untung Olivia tidak sampai bergulingan segala seperti anjing sirkus kena setrap.
"Nao, kamu tau dukun santet paling sakti se-Indonesia, nggak?"
"Hellooo, Miii. Keren-keren gini, Nao dibilang punya jaringan dukun? Mami udah sinting?"
"Yah, kali aja ada, Nao! Kamu, 'kan, punya agen di mana-mana."
"Mami makin ngawur, ya .... Nao bukan agen tabung gas atau isi pulsa! Kenapa Mami nggak sekalian aja suruh Nao buka agen pembunuh bayaran?" Wajah cantik Nao murka seperti Wonder Woman kalap. Kata-kata ibunya bikin Naomi turun derajat.
"Mamii! Naomi!" Terdengar bunyi ketukan di luar. Keduanya terperanjat. Demi apa Nina menyusul mereka ke kamar.
"Jangan dibuka, Nao!" ujar Olivia bangkit dari ranjang dengan tampang kusut seperti mayat hidup. Bola matanya cekung dan terlihat amat lelah.
"Ya, nggak, lah, Mi. Naomi sedang malas ngeliat tampangnya. Bawaannya naik darah mulu!"
"Astaga! Kapan Mami pensiun? Mami bosan diganggu Nina terus!" Olivia kembali berbaring di kasur dengan mengenaskan.
Teriakan Nina di luar tiba-tiba berhenti dan lampu padam. Keributan segera mewarnai kamar Olivia.
"Loh, kok lampu mati?"
"Kamu belum bayar listrik, Nao?"
"Udah, dong, Mi! Masa iya, sih, listriknya jeglek? Perasaan baru kejadian kayak gini! Coba Nao periksa!"
"Nao!" panggil Olivia cemas.
"Aduh!" Naomi mengeluh kesakitan karena kakinya malah diinjak oleh Olivia. Wajah dan rambutnya pun kena jambak sang ibu yang berusaha menggapai dalam kegelapan.
"Mamiii .... Kenapa Naomi diserang?" protes gadis itu kalap.
"Gelap, Nao!"
"Udah, deh. Mami jangan ke mana-mana! Tunggu Nao di sini!" perintahnya.
"Jangan tinggalin Mami sendiri ...." Olivia malah merengek sambil bergelayut di lengan putrinya.
"Mami mau gelap-gelapan semalaman?"
"Senter HP Mami? Bateraiku HP-ku udah sekarat. Ogah!"
"Masa kamu nggak mau berkorban demi Mami, Nao?"
"Mi, aku cuma mau periksa trafo di depan, bukan minggat dari rumah!"
"Tapi Mami nggak mau gelap-gelapan sendiri!"
Untung Olivia tidak bisa melihat ketika Olivia memutar bola mata di hadapan sang ibu. Gara-gara Nina, ibunya menderita paranoia akut. Naomi pun tidak bisa ke mana-mana karena lengannya masih berada dalam capitan tangan ibunya.
"Udah, deh, Mi. Mami ikut aja kalo gitu. Kita keluar sama-sama," usul Naomi putus asa.
"Tapi di luar ada Nina."
"Sejak kapan Mami takut sama Nina?!" Suara Naomi meninggi.
"Sejak Nina hilang di sumur, balik-balik jadi mak lampir. Nao, kamu ngerasa nggak, sih, Nina itu belum mati aja udah gentayangin kita, apalagi kalo dia bangkit dari kubur, ya?"
"Ah, bodo!" Naomi berteriak kesal. "Kalau Mami nggak mau ikut, terserah! Naomi pergi sendiri!" Begitu Naomi berhasil terbebas dari Oliva, pintu kamar berderit dibuka dengan kasar. Tidak ia pedulikan lolongan pilu Olivia membelah malam. Naomi pun berdecak tak habis pikir karena sifat manja ibunya kian parah sejak Nina mulai agresif terhadap mereka. Apa sekalian saja, ya ia bereskan si sumber kekacauan malam ini juga.
Baru sedetik ditempeli pikiran jahat, Naomi langsung kena karma. Ketika ia membuka pintu depan untuk memeriksa trafo listrik di teras, lantai yang ia pijak amblas hingga Naomi meluncur jatuh ke lubang misterius di bawahnya.
...***...
"Mamiiii!"
Sementara di kamar, Olivia merasa gelisah karena Naomi tak kunjung muncul. Ia bahkan berhalusinasi mendengar suara Naomi berteriak minta tolong. Bukannya merasa khawatir, Olivia justru harap-harap cemas. Bagaimana kalau Naomi tidak kembali? Kenapa anak itu lama sekali memeriksa trafo di depan? Olivia akan menjewer telinga Naomi jika kembali!
Duk! duk!
Halusinasi Olivia semakin liar ketika telinganya mendengar suara seperti benda diketuk-ketuk. Ketika terdengar lagi, Olivia menajamkan pendengarannya. Ia mengernyit heran karena asalnya seperti dari lantai di bawahnya. Olivia meringkuk di ranjang dan menarik selimut saat bunyinya makin keras dan terasa nyata.
Lalu, dering HP mengagetkan wanita itu. Bagian dalam selimutnya menyala.
Oh, astaga! Olivia mengutuk diri sendiri karena ia lupa menaruh gawai di sana!
"Mamiii!"
Terdengar jeritan nyaring Naomi di gawai ketika Olivia menjawab panggilan. Ia langsung panik.
"Kamu di mana, Nao? Lama sekali, sih?"
"Tolongin Nao, Mi! Naomi jatuh dalam lubang!"
Hah?
"Jangan becanda, Nao! Nggak lucu!"
"Miii! Aku beneran dalam lubang. Gelap sekali di sini. Dingin, lagi! Banyak kangkung di mana-mana!"
"Kamu dalam lubang atau gudang sayur supermarket, sih, Nao? Kamu jangan cari-cari alasan kabur dari Mami, ya? Itu listrik kenapa belum nyala!" Olivia malah memarahi putrinya. Aneh banget cerita Naomi, ia tidak percaya. Naomi juga tidak mungkin merengek ketakutan seperti anak kecil kemarin sore. Naomi gadis pemberani. Ia pasti sedang bermimpi!
Olivia langsung mematikan gawai dan kembali meringkuk dalam selimut. Namun, lagi-lagi ia gagal memejamkan mata karena bunyi yang sama terdengar dari bawah lantai. Perasaannya mulai tidak enak. Iseng, ia coba hubungi nomor Naomi. Alangkah terkejutnya Olivia ketika mendengar nada dering gawai Naomi terdengar di bawahnya.
"Naomi!"
Olivia sampai jatuh terguling dari ranjang. Dengan penerangan seadanya dari layar gawai, ia menempelkan telinga ke lantai dan memastikan bahwa suara dering itu memang berasal dari sana. Jantungnya langsung berdetak tidak keruan setelah benar-benar yakin. Tangannya kini mulai menyusuri lantai, mencoba mencari apakah ada jalan masuk rahasia--seperti cerita almarhum suaminya, Norman Ricci, vila tua ini kemungkinan punya basemen yang sudah terbengkalai, tapi tidak tahu di mana.
Barulah Olivia merasa bodoh karena memikirkan bahwa jalan masuk tersebut tidak mungkin ada di kamarnya. Pasti ada di luar dan Naomi jatuh ke sana waktu hendak memeriksa trafo.
Olivia memegang gawai yang masih menyala di tangan, lalu lekas membuka pintu. Tepat di hadapannya, berdiri seorang wanita berambut panjang menutupi sebagian wajah menyapa, "Cilukba!"
"Aaa!"