
“Nah, kalau begitu, saya boleh pergi sekarang, ‘kan?” Ekspresi datar di wajah Nina berubah kilat setelah Komandan Gerald menyelesaikan daftar pertanyaan darinya hari itu.
“Anda tidak diperkenankan untuk meninggalkan tempat ini sebelum urusan kita selesai, Nyonya Nina!” Komandan Gerald dengan gesit beranjak menghalangi langkah Nina menuju pintu. Pria itu bahkan bersedekap di sana seperti pengganjal pintu.
Nina memajukan tubuh dan berjinjit hingga jarak wajahnya dan Komandan Gerald hanya sejengkal. “Ini di luar kesepakatan, Tuan Kepala Detektif.” Kilau pada bola mata bundar milik Nina malah membuat seluruh pancaindra sang komandan disergap badai la nina. Namun, Komandan Gerald berusaha menahan wanita itu lebih lama di sana. Ia tahu kalau Nina masih istri dari seseorang, tetapi sikap Nina yang menggertak itu malah tampak menggemaskan seperti kucing betina galak di matanya.
“Apakah Nolan Ricci, suami Anda, adalah seorang pria bodoh?” Pertanyaan langsung dari sang komandan bagai anak panah menusuk telinga Nina. Untung hatinya sudah diambil oleh Sindoorah. Jika tidak, pasti bagian dirinya itu telah hancur berkeping-keping akibat pertanyaan sang komandan.
“Saya hanya mengenal Nolan dalam seumur hidup saya, jadi saya tidak tahu bagaimana caranya untuk menjawab pertanyaan Anda tadi, Tuan Kepala Detektif. Asal Anda tahu saja, Nolan itu lebih pintar daripada Olivia dan Naomi, kalau saja ia tidak gegar otak karena jadi bulan-bulanan Naomi.”
“Tapi, jika dibandingkan dengan Anda ….” Nina makin menatap lekat wajah pria di hadapannya, sehingga badai la nina yang menyergap sang komandan tadi, lantas berubah menjadi gelombang el nino. Apakah Nina sadar kalau lengannya bisa membuat wanita itu lenyap dalam satu pelukan?
“Anda kelihatannya lebih kuat daripada Nolan, juga Naomi.” Komandan Gerald kemudian bisa merasakan tusukan telunjuk Nina pada otot bisep di balik seragam polisinya. “Apakah pertanyaan semacam ini berhubungan dengan kasus yang menimpa saya, Tuan Kepala Detektif?”
Komandan Gerald merasa bodoh sendiri ketika diserang oleh pertanyaan macam itu dari Nina. Tak lama, walkie talkie-nya pun berbunyi. Seorang petugas berbicara dan Nina juga bisa mendengarnya dengan jelas. “Sersan Andi melapor. Pak, sebenarnya apa yang Anda bicarakan dengan Nina Ricci? Semua orang menonton dengan heboh di ruang CCTV. Ribut sekali di sini. Ganti!”
Komandan Gerald kontan membeku. Rahangnya mengeras ketika sadar apa yang sedang dilihat oleh orang-orang--para pengintip kurang ajar--di dalam kamera saat itu. Ia dan Nina Ricci nyaris tidak berjarak. Sialnya lagi, posisinya seakan-akan telah dipojokkan oleh wanita itu hingga menempel di dinding.
Baiklah, Gerald memang jomlo, tetapi ini benar-benar merusak reputasinya sebagai laki-laki! Sang komandan segera mendorong Nina agar menjauh darinya. Barulah ia sadar kalau sikapnya barusan pasti terlihat kasar dan salah tingkah.
“Tidak apa-apa, Komandan. Saya pernah merasakan bagaimana berada di posisi Anda.”
Wajah Komandan Gerald memanas. Kata-kata Nina tidak membantu sama sekali. Pria itu pun kembali pada sikap penuh formalitasnya.
“Masih ada pertanyaan pribadi yang belum Anda jawab, Nyonya Nina,” ujar sang komandan kembali berkeras menahan Nina bersamanya.
“Selama itu bukan tentang suami saya,” kata Nina dengan nada datar penuh penekanan yang tidak wajar. Seakan-akan wanita itu patung yang tidak punya emosi.
"Kenapa Anda mencabut laporan Anda sendiri. Apakah keluarga suami Anda menekan Anda untuk menyembunyikannya?"
Pertanyaan yang sama. Komandan Gerald tidak bosan menanyakannya.
"Tuan Kepala Detektif," ujar Nina dengan nada tajam. Jika Anda butuh informasi tentang kasus Tuan Norman, saya bersedia untuk bekerja sama. Tapi, yang terjadi antara saya dan keluarga suami saya, itu semata-mata urusan pribadi saya."
"Apakah saya terlihat seperti seorang wanita lemah yang bersembunyi di belakang seorang pria?" tanya Nina sarkas.
Komandan Gerald tidak terima ia terus ditarik ulur oleh Nina. Maka, pria itu mendudukkan Nina di kursi, lalu mengurung tubuh wanita itu dengan sepasang lengannya yang kokoh, seolah menawan Nina dari keinginannya untuk kabur.
"Anda pasti punya alasan. Anda sangat mencintai suami Anda hingga rela menutupi semua kesalahan keluarganya?"
Dugaan Komandan Gerald tak disangka mendorong Nina ke dasar kegelapan. Nina jadi ingat kembali kenapa ia bisa jatuh ke dalam sumur, lalu harus menyerahkan hatinya untuk ditukar dengan kekuatan seorang makhluk dunia bawah. Sekarang, yang ada hanya dendam. Cinta yang diagung-agungkan dalam janji pernikahan yang Nina harap seindah cerita dongeng, ternyata hanya ilusi yang dibalut oleh kemunafikan para penghuni vila Ricci. Bodohnya, orang seperti dirinya justru menjadi tumbal dari bagian kegelapan tersebut. Nina tidak akan pernah menjadi bagian dari gemerlap keluarga Ricci, setulus apa pun hati yang ia punya dan segenap usaha yang ia coba.
"Nyonya Nina?" Komandan Gerald menarik Nina keluar dari kegelapan tersebut. Sesaat tadi, ia merasa Nina seolah sedang sekarat. Pupil mata wanita itu melebar.
Setelah kembali pada kenyataan, Nina menarik bibir hambar. "Apakah Anda sungguh ingin tahu alasan saya, Tuan Kepala Detektif?"
"Ya." Komandan Gerald kini bersimpuh di depan Nina Ricci.
"Kalau begitu keinginan Anda, kita butuh perjalanan yang jauh."
...***...
"Belum cukup jauh," kata Nina di belakang Komandan Gerald. Sang komandan tak banyak bicara, ia berikan saja apa yang Nina mau, yakni pergi menuju tempat yang jauh dari peradaban. Lebih jauh dari vila Ricci, bahkan puncak bukit. Nina seakan ingin membawanya pergi ke puncak dunia.
Ketika jalan setapak yang mereka lalui telah lama hilang di antara ilalang, barulah Nina meminta sang komandan menghentikan Ducati-nya. Nina menuntun mereka ke salah satu puncak bukit yang berhadapan langsung dengan hutan di kaki pegunungan. Pria itu seakan takjub karena tunggangannya mampu merintis ke jalur terpencil itu.
Nina turun lebih dulu melepaskan helm, kemudian disusul oleh sang komandan. Rambut mereka, terutama milik Nina yang panjang, berkibaran tertiup angin kencang. Wanita itu mengenakan stoking di balik roknya, yang Komandan Gerald yakin tidak mampu menahan udara dingin. Namun, Nina tampak baik-baik saja.
"Rahasia apa yang Anda punya hingga kita harus datang ke tempat sejauh ini, Nyonya?" tanya komandan polisi itu penasaran.
Nina melengkungkan bibirnya samar, sementara tangannya terkatup rapat di depan paha. Sikapnya itu tiba-tiba menggetarkan gelombang udara penuh misteri ke sekitar mereka. Wanita itu berdiri tegak seolah menentang terpaan angin. Seketika langit di atas mereka diselimuti oleh mendung. Angin kini berembus membawa uap air yang mengembun pada kulit mereka yang terbuka.
Barulah Komandan Gerald menyadari sesuatu hal. Nina Ricci tidak berbicara, tetapi wanita itu menjawab langsung dengan memberi pertanda lewat alam di sekitar mereka.
...***...