
Pagi sekali Putri sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk Reza sebelum kemudian ia berangkat kerja. Ia ingat Reza paling suka makan opor ayam jadi sejak subuh Putri sudah berkutat dengan santan dan ayam yang ia beli di tukang sayur di depan kos Pelangi. Usai menata makanan di meja, Putri bergegas mandi dan bersiap untuk berangkat.
Reza masih tertidur pulas hingga Putri pergi, ia kelelahan dan baru membuka mata saat sinar matahari menyelinap masuk melalui jendela kamar. Untuk beberapa saat Reza masih belum sepenuhnya sadar dan berpikir bila Putri juga masih tidur seperti dirinya. Namun saat hidungnya menangkap sebuah aroma masakan, seketika ia beranjak duduk dan menolehi ranjang Putri yang sudah rapi. Sial!! Putri pasti sudah berangkat kerja!
Hati Reza mendadak sakit lagi membayangkan Putri nanti akan bertemu dengan Toriq sepulang ia bekerja. Tubuhnya memanas, bukan karena suhu dikamar yang mulai menghangat karena sinar matahari yang masuk lewat jendela, tapi karena Reza sadar sepertinya tak ada tempat lagi baginya di hati Putri. Usahanya untuk datang kemari sepertinya sia-sia, tadinya Reza berharap Putri akan senang saat ia datang untuk menjemputnya namun sepertinya ia salah.
Perlahan Reza berdiri dan melihat beberapa makanan sudah tersaji di meja. Opor ayam lengkap dengan krupuknya. Reza bahkan belum mengganti uang karcis bis kemarin tapi Putri sudah memasakkan makanan semewah ini untuknya. Dari mana Putri mendapat uang?? Apa gajinya cukup?? Reza mendesah sedih. Putri tak harus bekerja, ia tak ingin Putri kelelahan seperti kemarin. Reza merasa tak becus menjadi lelaki bila ia membiarkan wanita yang ia sayangi bekerja.
Tunggu, Sayang?? Sejak kapan??
Reza juga tak paham sejak kapan rasa sayang itu tiba-tiba muncul. Mungkin sejak tanpa sengaja Reza melihat tubuh Putri yang seksi kala itu ... mungkin juga sejak malam di mana Putri merawatnya saat ia sakit ... atau, sejak Putri pergi meninggalkan rumahnya usai mereka bertengkar hebat.
Yang pasti Reza merasa nyaman berada di samping Putri, meski kenangan-kenangannya masih belum kembali namun ia tak bisa mengingkari bila sosok Putri sudah meluluh lantakkan hatinya.
Tiba-tiba suara ponsel Reza berbunyi, Reza menyimpan ponselnya di saku celananya sejak kemarin.
Mama is calling ...
"Hallo iya, Ma?" sapa Reza hangat.
"Sudah bangun, Nak? Bagaimana keadaan Putri? Kamu sudah ketemu dia, kan??"
Reza menarik nafasnya sejenak. "Iya sudah, Ma, ini Reza di kos Pelangi,"sahut Reza kelu.
"Putri ada? Mama pengen ngomong sama dia, dong!"
"Emmm, Putri kerja, Ma, dia sudah berangkat tadi pagi-pagi sekali."
"Kerja??" tanya Shelomita tak percaya.
"Iya, kerja," jawab Reza singkat.
Hening sesaat.
"Yaudah Reza mau mandi dulu ya, Ma, setelah ini Reza mau keluar sebentar."
"Yaudah, kamu hati-hati di sana ya, Nak!"
"Iya, Ma."
Reza meletakkan ponselnya di meja dan beringsut masuk ke kamar mandi. Entah mengapa tiba-tiba ia ingin mengunjungi tempat yang ia lihat kemarin. Tempat yang sepertinya memiliki kenangan penting baginya selama berada di kos Pelangi dulu.
Reza mengguyur tubuhnya yang kini lebih ceking dan tak terawat dengan air dingin. Ia membiarkan air itu membasahi setiap sela tubuhnya yang terasa panas. Suasana hatinya masih belum membaik pasca berselisih dengan Putri semalam. Reza ingin marah namun ia menahannya hanya karena takut kehilangan Putri lagi.
Usai mandi, Reza melahap sarapannya dan bersiap untuk keluar. Ia memasang topinya, memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, menarik tongkat lipatnya dan bergegas keluar dari kamar. Jam masih menunjuk angka 10, semoga belum terlalu pagi untuk datang ke tempat itu.
Dengan menaiki ojek yang stand by di halte, Reza mencoba mengingat ingat rute jalan yang ia lalui kemarin. Sepertinya ia butuh mobil agar bisa keluar dengan leluasa tanpa harus bingung menaiki angkutan umum. Nanti ia akan menelfon Pak Jodi agar mengantarkan satu mobil untuknya.
Cukup jauh dari kos Pelangi, akhirnya Reza sampai di sebuah toko yang ia lihat kemarin. Sebuah toko Buku di ujung jalan dekat lampu merah. Usai membayar ojek, Reza bergegas masuk ke toko itu tanpa babibu.
Aroma buku-buku yang khas seketika menusuk indra penciumannya, Reza memejamkan mata sejenak ... ia pernah mencium bau ini, bahkan ia pernah menyentuh buku di rak pojokan itu. Reza lekas membuka mata cepat, sebuah ingatan sempat terlintas dikepalanya. Ia mengamati rak yang tadi sempat muncul tiba-tiba di kepalanya, memang benar ada banyak buku tertata rapi di sana. Dada Reza berdebar hangat, apa ingatannya perlahan kembali??
"Selamat siang, ada yang bisa dibantu??" Suara yang berat tiba-tiba mengagetkan Reza, ia seketika menoleh pada asal suara.
Seorang lelaki berusia 70 tahunan yang masih sehat dengan rambut putih tengah berdiri di belakangnya. Ia tersenyum hangat dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Reza membuka topinya perlahan dan melepas masker yang menutup separuh wajahnya. Kakek itu tertegun saat melihat Reza, dua matanya membulat dan berkaca kaca haru.
"Reza!!!" Serunya serak dan reflek memeluk Reza cepat. Ia menepuk punggung ringkih Reza berkali-kali dengan hangat.
Reza menahan debar gugupnya dan membalas pelukan kakek itu. Benar dugaannya ... ada memorinya yang terjebak di tempat ini.
Kakek mengurai peluknya dan mengawasi Reza dalam. Reza hanya bisa tersenyum kikuk dan menunduk keki, ia tak tahu harus mulai dari mana ia menjelaskan tentang keadaan dirinya kini.
"Dari mana saja kamu selama ini? Kakek kangen sama kamu!" rutuk Kakek itu seraya mengajak Reza untuk duduk di sebuah kursi di tengah ruangan.
"Saya ... beberapa bulan lalu kecelakaan," terang Reza lirih saat ia sudah bisa menguasai diri.
Kakek masih diam menatap Reza, ia berharap Reza yang kini nampak sangat kurus dan tak terawat yang sedang duduk di hadapannya mau bercerita lebih banyak.
"Dan saya amnesia ..." lanjut Reza kelu, ia menunduk sedih.
Kakek Nun terbelalak kaget, ia sungguh tidak berpikir sejauh itu. Tadinya ia hanya mengira Reza sedang berbahagia dengan hidup barunya, tak pernah terbesit dan terpikir bila lelaki yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri mendapat musibah seberat ini.
Saat tak ada respon, Reza memberanikan diri menatap Kakek Nun yang masih syok tak bisa berkata-kata.
"Saya kehilangan banyak memori, bahkan saya gak mengenal istri saya sendiri, Kek," desis Reza serak, bagian yang terberat baginya adalah ia tak bisa mengingat semua hal tentang Putri.
"Lantas bagaimana kamu bisa ingat tempat ini, Reza?" tanya kakek Nun takjub.
"Kemarin saat menaiki bis, saya lewat dan melihat tempat ini, kepala saya tiba-tiba pusing. Tempat ini seolah sangat familiar, maka dari itu saya datang, berharap Kakek bisa membantu saya agar ingatan saya bisa kembali," jelas Reza penuh harap.
Kakek Nun tersenyum hangat. "Apa hubunganmu dengan Putri baik-baik saja??"
Reza terhenyak, ia menunduk sedih dan menggeleng pelan.
"Apa Putri tidak membantu agar ingatanmu kembali?"
Reza menggeleng lagi, hatinya tiba-tiba sakit. Putri seolah menyimpan segala sesuatu tentang hubungan mereka dulu. Reza tak pernah sekalipun mendapati Putri mau berterus terang kepadanya.
"Kakek akan membantu sebisanya, tapi sisanya silahkan kamu teruskan bersama Putri."
Reza tersenyum kecut, ia bahkan pesimis Putri akan membantunya.
"Apa kamu masih ingat tentang tempat ini?" tanya kakek Nun hati-hati.
Reza menggeleng dan mengawasi seluruh ruangan.
"Beberapa bulan yang lalu kamu datang kemari dengan istrimu, kamu suka sekali membaca Reza, dan memaksa Kakek untuk menerimamu bekerja di sini meski tanpa digaji," cerita Kakek Nun dengan mata berbinar, mengingatkan Reza pada mata Putri.
"Dari awal Kakek sudah curiga, kamu bukan dari kalangan biasa, tapi kamu adalah manusia paling introvert yang pernah Kakek temui."
Reza mendengarkan setiap kata yang Kakek ceritakan.
"Kamu selalu berkelakar bahwa kamu sebenarnya kaya raya, hanya saja sedang berakting menjadi orang miskin dan pada kenyataannya, kamu memang benar-benar berasal dari keluarga kaya raya," terang Kakek Nun tersenyum, ia ingat beberapa kali Reza selalu menggodanya dengan kata-kata itu.
Tanpa sadar Reza ikut tersenyum mendengarnya, benarkah ia sampai rela hidup jauh dari kemewahan?
"Apa saya masih boleh sering kemari, Kek?" tanya Reza hati-hati, ia ingin mengisi harinya dengan kesibukan, siapa tahu setelah itu ingatannya akan kembali.
Kakek Nun mengangguk senang. "Tentu, Reza! Kamu boleh datang kapan saja!"
************************
Karya baru Author, nih!
Sinopsis :
Pernah diam-diam mencintai sahabat hingga terasa sesak di dada karena tak sanggup mengungkapkannya? Mungkin cerita ini cocok untukmu.
Ryan dan Elysia adalah sepasang sahabat yang tumbuh bersama di Panti Asuhan. Hidup tak pernah adil bagi seorang Ryan. Terlalu lama menghabiskan waktu sebagai sepasang sahabat membuat Ryan memendam cinta diam-diam pada Elysia. Cinta itu perlahan mulai tumbuh di saat salah satunya mulai menjauh.
Ryan dan Elysia ibarat tanah tandus yang bersua dengan hujan, ibarat siang dan matahari, keduanya saling melengkapi kekurangan masing-masing. Namun, hanya satu yang tak bisa Ryan berikan padanya, materi. Karena bagi seorang Elysia, kemewahan adalah kiblat hidupnya. Elysia benci hidup melarat, ia tidak suka hidup kekurangan. Maka dari itu ia selalu mencari lelaki kaya yang bisa memberinya apapun yang ia inginkan.
"Jangan ikut campur, Ryan! Aku benci hidup melarat bersamamu selama puluhan tahun! Jadi untuk kali ini, jangan pernah campuri urusanku kecuali kamu bisa lebih kaya dari Ken!" -Elysia-
"Aku tidak pernah menyesal hidup melarat bersamamu, El. Aku hanya menyesal mengapa tak sempat membuatmu bahagia." -Ryan-