
Di luar sedang gerimis, saat Reza memperhatikan Putri pergi dari balik tirai jendela kamarnya yang gelap. Dadanya masih terasa sakit dan sesak, kedua matanya sembab dan masih basah, Reza benar-benar syok dan kecewa dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui.
Jadi selama ini semuanya adalah palsu. Perhatian, kesabaran dan senyum manis Putri padanya hanyalah sebuah kepura-puraan. Saat Reza sudah mulai luluh dan membuka hati malah seperti ini akhirnya. Bodohnya Reza berpikir bila Putri benar-benar bertahan karena tulus mencintainya, padahal semua hanya demi uang bukan?? Cih!!
Putri nampak berdiri lama di depan pagar sebelum kemudian sebuah sedan putih berhenti tepat di depannya. Reza tertegun, ia seperti pernah tahu mobil itu…
Seorang lelaki turun dari dalam dan membantu Putri membawakan tas besarnya, lantas memasukkan tas itu ke bagasi. Putri menoleh ke dalam mansion Reza sebelum kemudian laki-laki itu menariknya dan membukakan pintu mobil untuknya.
Reza mendengus kesal, apakah laki-laki itu Riq yang sering menelfon Putri?? Laki-laki yang membuat Reza seperti orang dungu? Jika benar mereka berkompromi untuk menipu Reza, maka mereka bermain-main dengan orang yang salah!!
Wajah Reza menegang seketika, dadanya bergemuruh marah. Seandainya ia tak lengah dan tetap bersikap dingin pada Putri mungkin Reza tak akan sesakit ini melihat gadis itu pergi bersama laki-laki lain. Justru mungkin inilah yang Reza inginkan, tujuannya sedari awal adalah berpisah dengan gadis itu bukan?? Mengapa ia jadi lemah sekarang?? Harusnya ia bersyukur gadis itu pergi dengan sendirinya tanpa perlu repot-repot di usir.
"Kita nggak pernah benar benar menikah!"
Reza memejamkan matanya sedih, kata-kata itu bagai belati yang menusuk hatinya. Mereka pernah tidur di satu ranjang yang sama bahkan mungkin lebih dari itu tapi ternyata semua itu terjadi karena status yang palsu. Cih!! betapa murahnya harga diri Putri!
Cukup lama Reza berdiri memperhatikan hujan yang turun semakin deras. Kakinya mulai pegal, entah sudah jam berapa sekarang, ia mulai mengantuk tapi sepertinya ia tak akan bisa tidur malam ini. Kejadian malam ini mengguncang jiwanya. Padahal tadi pagi semua masih baik-baik saja, bahkan Reza berencana membalas dendam dengan menciumnya karena Putri menertawainya, namun ternyata kenyataan tak seindah keinginan, Reza tersenyum getir.
**********
Sementara di dalam sebuah mobil sedan putih, Putri masih tak bisa menahan air matanya yang terus menetes. Semoga keputusannya untuk meminta dijemput oleh Toriq bukan keputusan yang salah. Ia tak memiliki siapapun lagi selain Reza, bahkan tak memiliki uang sepeser pun. Saat akan pergi tadi Putri meninggalkan semua barang pemberian keluarga Reza termasuk ATM dan ponselnya.
Putri menelefon Toriq dengan mempertaruhkan harga dirinya. Toh ia sudah tak memiliki harga diri sejak Reza menatapnya tajam seraya menghinanya tadi...
Beruntung Toriq segera mengangkat telefon itu dan membuat tangis Putri semakin pecah karena terharu, ternyata masih ada orang yang peduli padanya.
"Kamu mau dianter kemana, Put?" tanya Toriq bingung seraya sesekali memperhatikan Putri yang nampak kacau dan basah oleh air mata.
Putri menyeka air matanya pelan, entahlah ia tak memiliki tujuan. Kemanapun Toriq membawanya sepertinya tak jadi soal.
"Atau kita ke Kos Pelangi aja? Kamarmu masih rapi kok, tante Mirna masih menyuruh pak Ali membersihkan kamarmu seminggu sekali."
"Hiks.., terserah kamu aja.." sahut Putri kelu, ia ingin segera tidur. Tubuhnya terasa lelah sekali hari ini. Emosinya terkuras habis sejak tadi pagi.
Keluarga Reza sepertinya bukan orang biasa, dari rumahnya yang megah dan mewah Toriq bisa menilai seberapa kayanya mereka. Pantas saja saat itu dengan mudah Reza melunasi sewa kos selama setahun, uang sebanyak itu tak berarti apa-apa baginya yang konglomerat.
Namun demikian, Toriq tak akan minder untuk bersaing dengannya. Meski tak sekaya Reza namun Toriq memiliki lebih dari cukup harta untuk membahagiakan Putri.
Hampir 2 jam perjalanan akhirnya Putri dan Toriq sampai di Kos Pelangi. Bu Mirna menyambut Putri dengan bahagia, meski tak banyak berkata-kata namun Bu Mirna paham bila telah terjadi sesuatu antara Putri dan Reza. Semoga kali ini bukan karena Toriq penyebabnya.
Toriq membawakan tas milik Putri dan meletakkannya di atas meja. Putri masuk ke dalam kamar kosnya ragu, air matanya kembali menetes saat aroma kamar ini masih sama seperti saat ia meninggalkannya dulu.
"Istirahatlah, kamu berhutang cerita padaku besok," ucap Toriq seraya memberikan selembar tisu pada Putri.
Putri menerima tisu itu dan menghapus air matanya perlahan, Toriq keluar dari kamar dan menutup pintu.
"Huhuhu… Kak Reza.." desis Putri menahan sakit saat pandangannya tertuju pada karpet yang tergulung di samping lemari. Belum sehari dan Putri sudah sangat merindukannya.
"Maafin Putri..huhuhu.." rintih Putri seraya duduk bersimpuh di samping ranjang.
Tubuhnya lelah, jiwanya letih, ia butuh sebuah pelukan. Reza sebelum amnesia pasti akan reflek memeluk Putri bila ia sedang menangis dan Putri benar-benar sekarat karena merindukannya.
Entah karena terlalu lelah akhirnya Putri tertidur di lantai. Ia bahkan tak merasakan lagi tubuhnya yang kedinginan karena tidur tanpa beralas apapun.
Beberapa jam setelahnya.
Putri membuka mata saat merasa seseorang membopong tubuhnya naik ke tempat tidur. Rasanya dingin sekali dan Putri tak bisa menggerakkan tubuhnya yang terasa sangat lemas. Hanya suara Toriq yang samar-samar ia dengar, tapi Putri masih terpejam. Ia bahkan tak kuat untuk membuka mata. Tubuhnya mengigil kedinginan meski Toriq sudah memasangkan selimut. Apakah ia sedang sekarat? Apakah rindunya pada Reza akan membunuhnya pelan-pelan?? Inikah akhir dari hidupnya? Mati karena rindu pada Reza...
Sedikit panik Toriq menutupi seluruh tubuh Putri dengan selimut. Ia nekat masuk ke dalam kamarnya setelah gadis itu tak membukakan pintu meski Toriq menggedornya dengan keras berkali-kali. Dan benar saja saat Toriq masuk, Putri sudah tergeletak di lantai dengan tubuh gemetar dan mengigil, telat sebentar saja mungkin Putri tak akan bisa ia selamatkan.
Entah apa yang terjadi padanya, Toriq masih menduga-duga masalah apa yang membuat Putri begitu terpukul dan memutuskan untuk pergi dari rumah Reza.
Toriq mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor salah seorang temannya yang berprofesi sebagai dokter. Semoga temannya bisa datang dan membantu menyembuhkan Putri..