
Dua hari ini Putri merasa sangat kesepian tanpa Reza yang sedang sibuk mempersiapkan stand jualan Kakek Nun di Pameran Budaya. Kadang Putri berpikir bahwa Reza lebih baik sakit agar ia bisa berlama lama dengannya.
Putri masih tak paham akan perasaannya pada Reza. Selama ini ia selalu bergantung pada laki laki yang baru ia kenal setahun belakangan ini. Hanya Reza laki laki pertama yang dekat dengannya.
Beberapa kali dalam setiap kesempatan Putri berusaha untuk menunjukkan perasaannya pada Reza namun sepertinya Reza tak peka. Pernah sekali waktu saat Reza sakit kemarin hampir saja mereka berciuman. Saat itu Putri berpikir bila sampai Reza menciumnya maka itu berarti Reza memiliki perasaan yang sama terhadap Putri namun ternyata datanglah gangguan tiba tiba.
Reza adalah paket lengkap bagi Putri, ia bisa menjadi kakak, ayah, bahkan sahabat. Meski Putri tak tahu menahu akan jati diri Reza yang sebenarnya namun Putri percaya bahwa Reza adalah laki laki baik. Reza menjaga dan melayaninya dengan baik.
Berhubung besok adalah hari H bagi Reza, maka Putri berniat untuk memasakkan sesuatu yang simpel dan bergizi. Putri baru ingat bahwa ia kehabisan beberapa bahan makanan dan berniat untuk ke swalayan.
Tadinya Putri ingin menunggu Reza agar bisa menemaninya ke Swalayan tapi sampai jam setengah sepuluh malam ia tak juga datang. Putri khawatir Swalayan akan tutup bila tak segera kesana.
Ditengah perjalanan menuju Swalayan Putri baru menyadari bila Toriq membuntutinya. Akan tetapi tak sekalipun mereka mengobrol, Toriq hanya menemani Putri dari kejauhan.
Dan sialnya, Reza memergoki mereka seolah olah mereka keluar berdua. Padahal kenyataannya tak seperti itu.
Kini Putri merasa bersalah akan kecerobohannya sendiri. Harusnya ia menunggu Reza pulang. Harusnya ia ijin pada Reza.
Dan sekarang sudah hampir setengah jam Reza berada di kamar mandi. Air shower menyala sedari tadi dan tak berhenti hingga sekarang. Putri berkali kali mendesah khawatir. Sepertinya Reza marah besar, tatapan mata dan ekspresinya dingin menakutkan. Ini kali kedua Putri melihat ekspresi Reza yang seperti itu, sebelumnya Reza pernah memasang ekspresi seperti ini saat Toriq yang sedang mabuk mengganggu mereka berdua.
Tak berapa lama shower di matikan dan Reza keluar dari kamar mandi tanpa menolehi Putri. Seperti biasa Reza menggelar karpetnya dan bersiap untuk tidur. Ekspresinya masih dingin, Putri ingin bicara tapi ia takut.
"Bisa tolong matikan lampunya?" Pinta Reza saat Putri hanya duduk diam memperhatikannya.
Putri berdiri dengan sigap dan mematikan sakelar lampu. Reza mulai berebah dan memasang selimutnya. Melihat Reza yang acuh dan tak sekalipun memarahi Putri meski ia telah berbuat salah membuat Putri semakin merasa bersalah, kedua matanya memanas dan mulai berair. Putri menangis sesenggukan. Ia naik ke ranjang pelan dan merebahkan tubuhnya.
"Kak Reza maaf.." desis Putri menahan tangisnya yang semakin pecah.
Lebih baik Reza memarahinya, membentaknya atau memukulnya sekalian agar Putri tahu bila ia bersalah. Tapi tak sekalipun Reza meluapkan kemarahannya itu. Membuat Putri semakin sedih dan hancur.
Cukup lama Putri menangis di balik selimutnya sebelum kemudian sebuah pelukan membuatnya tersentak. Ia menoleh kaget dan melihat Reza sudah berada di belakang tubuhnya sambil memeluk Putri dengan erat.
Putri menangis semakin keras, tubuhnya bergetar menahan sedih dan senang secara bersamaan.
"Kamu sudah tahu kan kalau aku nggak suka sama Toriq, kenapa kamu masih pergi sama dia..!" ucap Reza menahan emosi.
Meski Reza marah namun ia tak sampai hati melihat Putri menangis karenanya.
Putri menggeleng cepat, "aku nggak pergi sama dia kak, Toriq yang buntutin aku..., kami bahkan nggak ngobrol apa-apa.." terang Putri ditengah tangisnya yang semakin deras.
"Tapi dia menyukai kamu Put, aku nggak suka..!" Rutuk Reza kesal, nadanya kembali menjadi dingin.
Putri berbalik, ia dan Reza kini berhadapan. Nafas Reza yang hangat menerpa wajahnya.
"Kenapa Kak Reza nggak suka? Apa karena Kak Reza suka sama aku??" Tanya Putri memberanikan diri, ia butuh kejelasan.
"Kalau aku suka sama kamu apa kamu mau menerima semua masa laluku??" Tanya Reza balik, lalu menatap Putri dalam.
"Jawab dulu pertanyaanku Kak!"
"Iya! Aku suka sama kamu!, aku cinta sama kamu Put... kenapa kamu nggak paham dan selalu membuat aku marah.." tukas Reza berapi api, ia beranjak duduk dan membelakangi Putri. Dadanya bergetar hebat.
Putri sudah mengira bila Reza menyukainya tapi ia tak menyangka bila harus dengan cara seperti ini Reza mengungkapkan perasaannya.
Reza menolehi Putri saat gadis itu tak bersuara untuk beberapa saat, ekspresi Putri nampak berbinar. Reza menghembuskan nafasnya kesal lantas memeluk Putri lagi. Baru kali ini Reza merasa begitu takut kehilangan seseorang, pelukan ternyaman yang pernah menenangkannya hanyalah pelukan Putri.
"Kamu milikku, aku nggak mau milikku juga dimiliki dan dinikmati orang lain..!" Ucap Reza dingin, ia mempererat pelukannya hingga Putri tak bisa bernafas.
"Kak.., ak-ku nggak bisa nafas!" Sela Putri tertahan,
Reza mengulur peluknya dan mengawasi Putri lekat lekat. Baru kali ini ia bisa sedekat ini dengan Putri, wajahnya..,hidungnya.. bibirnya bahkan nafasnya bisa Reza lihat dan rasakan. Reza mendekat ke bibir tipis itu dan menciumnya, hangat...manis...
Ini adalah kali pertama Reza mencium perempuan, di usianya yang ke 28 tahun!!Meski gugup dan berdebar namun Reza menikmatinya, pun demikian dengan Putri. Nafas Putri yang hangat dan memburu membuat Reza semakin bernafsu ******* bibir dan lidah Putri yang lembut. Ia tak peduli lagi pada egonya, Reza hanya ingin memiliki Putri seutuhnya.
Cukup lama mereka berciuman sebelum kemudian Reza merasakan 'miliknya' mulai mengeras dan berdenyut denyut. Reza melepas pagutan bibir Putri dan menahan nafasnya yang memburu. Ia tak ingin terlalu jauh. Reza tak ingin merusak Putri.
"Yaudah tidur gih..., besok aku harus berangkat pagi sekali.." terang Reza menahan degupnya yang seperti genderang perang.
Putri mengawasi wajah Reza yang memerah seperti udang rebus, tangannya bergetar entah mengapa.
Reza berdiri dan kembali ke karpetnya lantas merebahkan diri. Begini seharusnya sebelum mereka punya ikatan yang sakral.
"Kak Reza nggak mau tidur disini sama aku?"
"Nggak Put, tidurlah..!" Tukas Reza cepat sedikit frustasi, ia memasang selimutnya dengan tergesa gesa.
Reza harus cepat tidur agar pikirannya tidak melantur kemana mana.
Putri menghembuskan nafasnya bingung dan menuruti perintah Reza untuk segera tidur. Pelan Putri menyentuh bibirnya yang masih basah oleh ciuman Reza. Ciuman hangat namun panas. Putri hanya bisa melihat ciuman semacam itu di drama Korea namun malam ini ia merasakannya. Dalam hati Putri berjanji untuk tidak lagi mengecewakan Reza, ia kekasihnya mulai malam ini..
Dua jam berlalu namun Reza tak kunjung bisa memejamkan mata. Putri bahkan sudah tidur sejak tadi. Berkali kali Reza berguling di karpetnya namun masih belum bisa terlelap. Reza beranjak duduk dengan kesal. Ia mengawasi Putri yang sudah terpejam sejak ia menyuruhnya tadi. Reza jadi marah pada dirinya sendiri mengapa justru jadi dia yang tidak bisa tidur.
Ragu Reza berdiri dari karpet dan menarik bantalnya. Sepertinya ia harus tidur disamping Putri. Beruntung kasurnya lumayan besar jadi masih tersisa tempat agak lebar untuk Reza tidur disana.
Saat Reza merebahkan tubuhnya aroma rambut Putri tercium indranya, dada Reza berdesir hangat. Ia menahan degupnya yang tiba tiba berdetak keras lagi. Reza memeluk guling untuk menahan ‘miliknya’ yang kembali berdenyut.
Untuk beberapa saat Reza masih belum bisa memejamkan matanya namun saat Putri berbalik dan tangannya terulur memeluk Reza seketika itu juga Reza merasa mengantuk. Ia terpejam hanya dalam hitungan detik. Mulai malam ini Reza akan ketagihan tidur berpelukan..