
Tidur bersama Putri yang seminggu lalu masih menjadi orang yang paling Reza benci adalah hal terbodoh yang pernah ia bayangkan. Sepertinya pengaruh suntikan dari Dokter Rio membuat otaknya sedikit bergeser.
Kebaikan dan kesabaran Putri pada sikapnya memang membuat Reza luluh, namun tak pernah terpikirkan ia akan tidur bersamanya malam ini. Beruntung Reza menenggak obat dari Dokter Rio sehingga rasa kantuknya tak tertahankan dan ia bahkan terlelap sebelum sadar Putri berebah di sampingnya.
Dan pagi ini.
Tadinya ia lupa bahwa ada perempuan yang terlelap tepat di sampingnya. Reza bahkan bangun dengan santainya hingga saat ia berbalik ternyata sudah ada Putri di sebelahnya. Reza kaget, namun detik berikutnya ia termanggu lama menatap wajah yang sedang terlelap itu…imut sekali.
Hampir satu jam Reza hanya diam dan menatap Putri hingga perutnya mulai terasa keroncongan. Dengan malas terpaksa Reza bangun dan bergegas mandi. Suster Anis pasti sebentar lagi datang, jadi Reza harus segera bangun sebelum suster senior itu mengetuk pintu kamarnya dan membangunkan Putri yang terlelap.
Dengan menggunakan kruknya Reza turun menggunakan lift. Kali ini ia merasa lebih segar setelah tidur dan beristirahat. Jam 7 pagi Reza sudah duduk di meja makan dan melahap bubur untuk sarapannya. Tapi bubur yang ia makan kali ini tak senikmat yang Reza makan semalam, apa karena kali ini ia makan tanpa disuapi?? Atau karena ia makan sendirian?? Atau mungkin karena bubur ini bukan buatan Putri??
Sesaat setelah menghabiskan sarapannya Reza mengayunkan kruknya menuju taman di samping rumahnya yang megah. Ia akan berjemur seperti biasa sambil menunggu Suster Anis datang.
"Kalo suster Anis datang bilang aja saya ada di taman, nggak perlu naik ke kamar saya," jelas Reza pada salah seorang staf yang ia temui.
Reza khawatir bila suster Anis masuk ke kamarnya maka ia akan menemukan Putri tidur di ranjangnya. Tidak boleh ada orang luar yang tahu kecuali para staf dirumah.
Di taman, entah sudah berapa lama Reza duduk termenung, lamunannya hilang saat Putri tiba-tiba muncul di hadapannya sambil berlari tergopoh-gopoh.
Mengenakan minidress biru dan rambut terurai membuat tampilan Putri sangat segar pagi ini. Kulitnya yang putih dan mulus semakin membuat Putri nampak bersinar. Sekilas dada Reza berdebar aneh saat melihat paha Putri yang terpampang bebas, Reza tak suka melihat Putri mengenakan pakaian mini karena itu membuat nafsu nakalnya seketika membuncah.
Reza sedang asyik mengobrol dengan Putri saat kemudian pak Jodi muncul dari dalam rumah. Ada seorang perempuan berjalan di belakang pak Jodi, Reza menajamkan penglihatannya untuk melihat lebih jelas. Dan saat wajah itu terlihat jelas oleh indranya seketika Reza termanggu, Zeyna??
Tunggu dulu..!
Bagaimana bisa ia ingat bila perempuan itu adalah Zeyna??
Ragu Reza mengawasi Putri yang nampak syok saat Reza menyebut nama yang entah mengapa tiba-tiba muncul di otaknya.
Reza sendiri tak paham dengan memorinya, bahkan Putri yang sudah beberapa bulan ini ada di sampingnya tak bisa ia ingat kenangan bersamanya.
Seolah mengerti bila Zeyna dan Reza butuh waktu untuk mengobrol, Putri meninggalkan mereka berdua di taman. Ada gurat kecewa di wajah Putri saat ia beranjak pergi tadi dan Reza sedih melihatnya seperti itu..
"Aku baru denger dari Pak Jodi kalo kamu kecelakaan beberapa bulan yang lalu, maaf baru sempat datang kemari," ucap Zeyna setelah ia duduk di bangku taman tepat di samping Reza. Biasanya suster Anis yang duduk di tempat ini sambil menunggui Reza berjemur dengan kursi rodanya.
Reza tak menyahut, ia pun tak mengawasi Zeyna yang sedari tadi tak lepas menatapnya.
"Reza, I miss you," sambung Zeyna lirih,
"Kamu sudah tahu kan kalo aku sudah menikah??"
"Yaaa, aku sudah tahu sejak beberapa bulan yang lalu, kamu sudah pernah cerita kok."
"Lalu kenapa kamu mengatakan kata kata tadi seolah kita—"
"I miss you, sejak kamu pergi hari itu aku ngerasa kalo hanya kamu yang tulus sayang sama aku."
"Kamu tahu kan kalo aku juga sedang amnesia??" tanya Reza lugu.
Zeyna tersenyum dan mengangguk, " but you still remember me…"
Reza menarik nafasnya dalam dan berpaling dari tatapan Zeyna yang tajam dibalik kacamatanya.
"Tapi aku tidak bisa ingat memori apapun tentang kamu, aku hanya ingat namamu tapi bukan kenangan bersama kamu."
"Itu karena jauh di lubuk hatimu kamu masih sayang sama aku," tukas Zeyna lirih,
"Kamu bahkan nggak inget kan sama istri kamu, itu karena cintamu sama dia nggak sedalam cinta kamu ke aku, Reza."
Reza tak menyahut, apa benar demikian? Lalu mengapa Zeyna baru datang disaat hatinya mulai bergetar melihat senyuman Putri. Bahkan Reza tak merasakan debaran itu meski Zeyna duduk sangat dekat di sampingnya.
"Kamu kerja??" tanya Reza mengalihkan topik saat ia baru sadar pakaian Zeyna sangat formal.
"Iya Reza, aku kerja di Departemen Kementrian Pariwisata, kita pernah bertemu saat kamu dan Putri dalam pelarian."
"Pelarian??" Reza mengawasi Zeyna heran, pelarian dari apa?? Mengapa Putri tak pernah menceritakan hal ini?
"Emang istrimu nggak cerita kalo kalian dulu kawin lari??" cecar Zeyna seraya tersenyum sumbang,
Reza menggeleng ragu, Putri tak pernah bercerita dan ia pun tak pernah bertanya. Atau mungkin Reza lupa?? Lalu siapa yang salah??
" kira kira 5 bulanan yang lalu kita ketemu, waktu itu kamu bilang kalo kalian baru aja menikah," terang Zeyna lugas seraya melipat kedua tangannya di dada.
"Aku ketemu kamu saat acara Pameran Kebudayaan dimana Departemenku yang mensponsori acara itu, kamu ngakunya sama aku sih kerja di Toko Buku.”
Reza menerawang kosong, mencoba mengais memorinya namun nihil. Tak ada apapun yang bisa ia ingat.
Seorang pelayan muncul sambil membawakan dua gelas minuman dan camilan untuk Reza dan Zeyna lantas pergi dengan sopan setelah menyajikannya di meja.
"Kamu belum menikah??" tanya Reza lagi penasaran. Bagaimana bisa Zeyna begitu lugas menyatakan perasaannya sementara status Reza sudah beristri.
"Belum, aku masih bertunangan dengan kekasihku semasa kuliah, tapi aku nggak mencintai dia."
Reza terkejut dan menolehi Zeyna cepat, "kalian bersama sekian lama tapi kamu ngak mencintai calon suamimu??"
"Yups, aku nggak bisa mencintai dia, entahlah rasanya berbeda dengan saat aku bersama kamu."
Reza menghembuskan nafasnya sedih, bukan karena mendengar perkataan Zeyna namun karena ia sendiri tak paham dengan masa lalunya.
Selama hampir 1 jam Reza dan Zeyna mengobrol. Putri tak sekalipun nampak dan ikut mengobrol bersama, Reza menjadi merasa bersalah. Tiba tiba ia khawatir bila Putri marah. Reza hanya tak ingin semakin membuat Putri salah paham padanya. Sungguh, mengingat Zeyna bukanlah hal yang ia duga sebelumnya…